Like Drama

Like Drama
Thirty Four


__ADS_3

Di dalam taksi air mataku berderai lagi. Aku tidak peduli bila sopir taksi menjadi bingung karenaku. Yang aku pikirkan sekarang adalah kenapa harus seperti ini jadinya hidupku? Sekarang aku harus lari kemana? Dan aku harus pulang kemana?


Inginnya aku berlari ke pelukan Mama sekarang juga. Atau kalau tidak, memeluk Tante Vera atau Tante Lia pun aku sudah cukup bahagia. Tapi bila aku pergi ke rumah Radit atau rumah Alya, otakku langsung berfikir bagaimana bila Reiki malah mencelakakan kedua temanku itu? Keluarga mereka? Astaga ... jangan sampai itu terjadi. Atau aku tidak akan sanggup untuk hidup lagi.


Akhirnya aku putuskan untuk pergi ke rumah Cika saja. Dia adalah salah seorang sahabatku di kampus juga. Meski tak sedekat dengan Alya dan Radit, tapi dengan Cika aku merasa cukup nyaman juga untuk bercerita.


Kebetulan di rumahnya itu Ika hanya tinggal bersama kakak laki-lakinya. Sedangkan kedua orang tua mereka sedang pergi keluar negeri.


Cika termasuk sahabat yang care tapi sayang dia terlalu pendiam untuk saling berbagi cerita layaknya aku dan Alya. Makanya aku agak sungkan bila harus cerita tentang hidupku kepadanya seperti aku bercerita kepada Alya dan Radit. But it's okay, Cika dapat kupercaya.


Aku hanya ingin sebuah tempat untuk singgah sementara, sebelum aku terbang ke Jepang esok harinya. Tapi masalahnya, sekarang aku baru ingat kalau keperluanku untuk pergi ke Jepang masih tertinggal di kamar apart Reiki. Pakaian dan beberapa barang pribadiku tentu saja.


Ya Tuhan ... sudah susah payah kabur dari sana masa aku harus kembali lagi? Itu namanya mengantar nyawa ke kandang singa.


Perjalanan menuju rumah Cika ternyata tidak mulus. Macet sana sini. Aku hanya mampu memejamkan mataku saat taksi ini terjebak di lampu merah dua season. Mengapa kukatakan demikian? Karena setelah mendapati lampu merah yang panjang, lalu berubah lampu hijau tapi kendaraan berjalan lambat hingga lampu kembali menjadi merah lagi. Terjebak lagi.


Mengesalkan.


Sungguh aku sangat terkejut saat tiba-tiba pintu taksi di sisi satunya terbuka. Lalu masuklah seseorang yang amat paling tidak ingin aku temui saat ini di dunia, Reiki.


Dia mengejarku. Dia mampu menemukanku. Tidak heran mengingat bagaimana hebatnya keluarga Maheswara, tapi ... wow! Ini terlalu cepat untukku ditemukan olehnya. Kenapa aku tidak bisa terbang saja agar dia tidak mampu menangkapku lagi dan lagi?


Aku kembali memejamkan mata tidak peduli kepadanya. Tanganku kusilangkan di depan dada. Lalu kepalaku miring bersandar pada keca di sebelah sisiku.


Sudah tak ada air mata lagi. Aku muak. Hidupku terlalu sial karena mengenal pria gila di sampingku ini.


"Sayang."


Abaikan dia. Abaikan.


Setelah dia selesai bermesaraan dengan wanita lain mengapa dengan mudahnya dia mendekatiku lagi? Memangnya dia tidak bisa melihat bahwa aku tidak sebanding dengan wanitanya?


Sampai kapan dia akan menjadikanku mainannya?


Sentuhan tangannya di pipiku membuatku menggerakkan kepala untuk menghindar. Perasaan jijik itu datang lagi. Jahatnya dia memperlakukanku yang masih polos ini. Untung aku belum menyerahkan hal paling berharga dalam hidupku.


Sekarang dia merapatkan tubuhnya padaku. Aroma parfumnya yang sangat kuhafal telah menyeruak masuk ke dalam indra penciumanku. Aku tahu, tidak ada gunanya aku melawan di tempat sempit ini. Akhirnya aku pasrah saat dia menarik lembut kepalaku agar aku bersandar di dadanya. Selalu seperti itu kan?! Aku bisa apa? Tubuhku seperti bukan milikku.


Tapi tangan dan mataku tidak berubah posisi sedikitpun.


...---...


Mataku terbuka perlahan. Cahaya lampu membuatku memejamkan mata lagi sebentar. Dan saat aku sudah terbiasa, maka yang kudapati dalam pandanganku sekarang adalah aku yang telah kembali ke apartementnya lagi, ke sarang penjahat lagi.


Sial.


Percuma kabur kalau akhirnya akan tertangkap lagi. Sudah susah payah keluar dari sini malah terjebak lagi.


Aku memijat kepalaku yang terasa pening. Hampir dua jam rupanya aku terlelap. Dan betapa bodohnya aku yang selalu tidak sadar bila Reiki memindahkanku di saat aku tertidur. Dan ini ... di kamarnya.


Aku ingin mandi saja sekarang. Siapa tahu dengan kepalaku yang dingin maka suasana hatiku yang sedang buruk ini menjadi lebih baik. Setidaknya tubuhku lebih rileks.

__ADS_1


Maka setelah selesai mandi aku yang masih menggunakan bathrobe duduk bersandar di sofa yang ada di balkon kamar Reiki. Entah kemana pria itu, aku tidak peduli. Aku hanya ingin menikmati senja sambil berfikir lagi. Memikirkan caranya agar aku bisa pergi dari sini. Kabur dari sini sesuai dengan jadwal terbangku besok.


Haruskah aku lapor polisi bahwa aku sedang diculik?


Otakku sedang berdrama.


"Sayang."


Aku enggan menoleh. Hanya desahan perlahan yang aku hembuskan. Lalu kulirik dia sudah duduk di dekatku dan hendak menyentuh tanganku.


"Don't touch me!" bisikku sambil menarik jauh tanganku.


"Lihat aku, Sayang!"


Aku mengabaikannya. Selanjutnya, tahu-tahu dia sudah berlutut di hadapanku sehingga wajahnya berada sejajar tepat di depan wajahku.


Dia menatapku lembut. Namun aku tidak peduli. Hidupmu terlalu rumit, Mas. Kalau aku memaksakan diri untuk mengikutimu, maka duniaku juga akan menjadi lebih rumit lagi.


"Katakan padaku, ada apa sebenarnya, hm?" tanyanya dengan lembut juga.


Dia tidak marah dengan ulahku?


Seharusnya dia marah saja, supaya aku jadi membencinya dan akan berupaya melawannya lagi.


Hampir saja aku luluh saat melihat mata dan ucapannya yang penuh kelembutan itu. Tapi aku masih teringat jelas bagaimana dia dan wanita itu berciuman. Sungguh amat sangat menjijikkan.


"Aku ingin pergi dari sini," jawabku tanpa menatap matanya. Karena sekarang aku alihkan tatapanku pada langit saja. Aku sudah terlalu menyerah menghadapi nasibku di sini. Dan tak terasa setetes air mata malah jatuh di pipiku. Buru-buru aku menghapusnya.


"Katakan padaku yang sebenarnya,"


Ketika aku menatap marah pada matanya, ternyata netranya itu masih menatapku. Sepertinya dia membacaku melalui matanya.


"Tidak boleh. Kamu tidak akan pergi kemana-mana."


"Kenapa? Kenapa tidak boleh? Aku masih memiliki orang tua yang lebih berhak atas diriku dibanding kamu."


Sekarang tatapan matanya menajam. "Kamu ingin menikah? Malam ini pun bisa aku lakukan semuanya untukmu, kalau itu yang kamu mau."


Kamu tidak mengerti.


"Menikah itu bukan main-main, Mas. Tidak semudah lidahmu mengatakannya. Dan lagi pula siapa juga yang meminta menikah? Aku tidak mengharapkan itu."


Reiki mencengkram kuat kedua bahuku. "Kamu tidak mau menikah denganku?"


"Mengapa aku harus mau menikah dengan orang yang bahkan tidak mengerti artinya menikah?" balasku tajam. "Beruntung aku tidak mengiyakan waktu kamu mengatakan ingin menikah denganku beberapa waktu lalu. Karena bila itu terjadi, maka hari ini kita sudah bercerai."


"Azzura–"


"Menikah itu untuk setia dengan pasangan. Kalau Mas Rei belum mampu untuk memiliki komitmen dengan satu wanita saja, buat apa Mas Rei selalu membual tentang pernikahan?"


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


Aku menggeleng pelan dan menghapus air mata yang mengalir lagi. "Aku mohon biarkan aku pergi."


"Tidak akan."


"Di sini aku sulit bernafas. Aku terlalu lemah untuk menghadapi semuanya."


"Menghadapi apa?"


"Menghadapi Mas Rei misalnya,"


Dia diam sebentar sebelum melanjutkan, "Saat ini aku hanya memilikimu, Sayang."


Janeta?


Wanita sexy tadi?


Dasar playboy!


"Apa mungkin kamu melihat Amanda tadi?" tanyanya dengan mengangkat sebelah alisnya. Aku memalingkan wajahku. Malas menatapnya. "Dia bukan siapa-siapaku," lanjutnya. "Satu-satunya wanitaku saat ini adalah kamu, Sayang."


Aku enggan mendengar penjelasannya. Biarkan hatiku yang sudah sakit ini menjadi alasan untukku pergi dari sini. Maka aku hanya diam saja.


"Amanda ... yeah dia hanya bagian dari kehidupan masa laluku waktu di LA dulu," aku merasa wajahnya semakin mendekat. "Jangan cemburu," bisiknya di dekat pipiku.


"Aku bukan cemburu. Aku hanya muak padamu–"


"Jangan katakan itu, Sayang,"


Aku tersenyum kecut saat dia berhasil sudah mengecup pipiku. "Aku muak menjadi mainanmu. Tolong lepaskan aku, Mas ..."


"Kamu bukan mainanku, Azzura," desisnya, masih di dekat telingaku. "Kamu milikku."


"don't touch me.." lirihku.


"Jadi ini tentang pernikahan? Benar?" dia masih menyusuri pipiku dengan hidungnya. Dadaku berdebar atas perlakuannya ini. Tapi bayangan wanita itu lagi mampu membuatku merasakan kesal kembali.


"Tidak perlu bahas apapun tentang pernikahan," sahutku ketus sambil berusaha menjauhkan tubuhku darinya. Tapi itu sulit. Dia memegang tengkukku sekarang.


"Dengan menikah atau tidak, kamu akan tetap menjadi milikku."


"Kan! Mas Rei itu memang tidak akan pernah mengerti tentang pernikahan–"


"Mau kamu gimana memangnya, hm?"


"Mauku?"


"Yaa ..."


Aku menatap matanya dalam. Begitupun dengan matanya yang selalu menatapku dengan dalam. Jarak kami hanya beberapa centi saja. Bahkan dapat kurasakan nafasnya yang berhembus di dekatku.


Dengan penuh keyakinan aku berkata, "Aku ingin pergi dari sini."

__ADS_1


...💐💐💐...


Raju aja teroooos aku update. Si Mimir kuhempas dulu ya. 😆😆😆


__ADS_2