Like Drama

Like Drama
#Fourty Seven


__ADS_3

Sebenarnya aku pergi mengunjungi kampung halamannya Ami. Temanku saat di Jepang itu memberikan alamat rumahnya kepadaku. Ya, Ami berasal dari Bali. Sudah dua tahun ini dia tinggal di Jepang bersama keluarga kakak perempuannya yang menikah dengan orang sana.


Ami bilang, rumahnya yang berada di Bali itu hanya dihuni oleh ibunya bersama adik laki-lakinya yang masih kecil. Dan alamat itulah satu-satunya yang terbersit di kepalaku saat aku berniat menyendiri di tempat asing. Aku rasa ibunya Ami tidak akan keberatan bila aku menumpang menginap dua atau tiga hari saja di rumahnya.


Ami juga sudah memberitahuku kata kunci untuk menuju desanya untuk disebutkan kepada supir taksi yang akan membawaku menuju alamatnya.


Ternyata rumah Ami itu terletak di sebuah desa yang tak jauh dari kawasan ramai oleh turis biasa berada. Tentu saja, di Bali selalu terlihat banyak orang asing yang mempunyai banyak kepentingan di sana. Terutama saat liburan.


Tapi di daerah rumahnya Ami, agak sepi dan harus melalui jalan setapak yang cukup panjang untuk mencapai jalan raya. Taksi yang kugunakan tak mampu melewati jalan setapak yang memang hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki dan maksimal untuk kendaraan roda dua saja. Maka aku hanya menikmati jalan kaki saat mencari tepatnya letak rumah Ami.


"Permisi," sapaku saat tiba di sebuah rumah yang terlihat sederhana dan asri. Tak jauh di sisi kanannya, sejauh mata memandang terdapat sawah-sawah yang luas.


"Azzura ya?!" sambut wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dalam rumah itu dengan ramah. Padahal aku belum mengatakan apa-apa. "Ayo mari masuk! Ami sudah cerita dan mengirim fotomu ke Ibu. Biar Ibu gak salah orang katanya."


Ibu Ami benar-benar ramah orangnya. Dan itu mengingatkanku kepada almarhumah mama.


"Perkenalkan, saya Ratih, ibunya Ami." wanita itu mengulurkan tangan yang segera disambut olehku.


"Azzura."


"Ami sudah cerita termasuk tentang kepergian kedua orang tuamu, Nak. Ibu turut sedih ..."


"Iya, Tante–"


"Panggil saja 'Ibu'. Aku ini Ibumu juga. Jangan sungkan, Nak."


Hatiku menghangat seketika. Betapa baiknya Tuhan yang mempertemukanku pada orang asing yang berlaku sangat ramah kepadaku. Beliau sangat baik dan terasa seperti ... mama.

__ADS_1


"Itu adiknya Ami, Bagas namanya," tunjuk Bu Ratih pada seorang anak laki-laki yang sedang sibuk di meja belajar. Anak itu tak terusik sedikitpun dengan kedatanganku. "Anaknya agak cuek. Maklumin saja ya."


Aku mengangguk sambil tersenyum. "Bagas kelas berapa, Bu? Kok jaraknya dengan Ami kayaknya cukup jauh ya?"


"Bagas itu anak dari adiknya ibu yang sudah meninggal sebenarnya. Ibu rawat dia sejak anak itu berumur satu tahun. Sekarang dia sudah kelas empat SD. Dan dia sudah mengerti apa yang terjadi dengan hidupnya. Bagas semampu itu untuk berfikir secara dewasa."


Oh aku baru mengetahui cerita itu. Ami tidak terlalu banyak bercerita. Jadi aku pun tidak banyak tahu tentang keluarganya. Tapi sepertinya aku tidak perlu mengetahui lebih jauh lagi. Itu di luar batasanku yang hanya orang luar.


"Aku boleh izin menginap di sini selama dua hari, Bu?" kami sudah masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu.


"Tidak boleh."


Aku tersentak. Tapi Bu Ratih segera melanjutkan, "Tidak boleh hanya dua hari saja, Azzura. Tinggallah di sini selama kamu berada di Bali. Ibu akan dengan senang hati menerimamu. Ibu anggap kamu seperti Ami, yakni anak perempuan ibu. Ya, Nak?!"


Oh kufikir ...


...- - -...


Pagi hari di desa itu terlihat ramai. Orang-orang keluar rumah menuju sawah yang letaknya tak jauh dari rumah-rumah mereka. Tak terkecuali ibunya Ami. Beliau sudah siap dengan topi capingnya dan berjalan keluar dari rumah.


"Nah Azzura, sana sarapan. Ibu sudah masak. Kamu sama Bagas makan saja. Nanti siang ibu pulang. Ndak apa-apa kan kalau Ibu tinggal?"


"Gak apa-apa, Bu. Tenang saja. Aku memang ingin sendirian kok. Terima kasih sarapannya, dan apa Ibu sudah sarapan?"


"Sudah pastilah. Biar Ibu punya tenaga buat bekerja. Mari, Ibu jalan dulu."


"Iya, Bu."

__ADS_1


Semalam Bu Ratih bercerita lebih lanjut tentang keluarga mereka, meskipun tidak kupinta. Jadi  mereka sebenarnya adalah asli Solo dan pindah ke Bali karena saat itu ayah Ami telah meninggal dunia. Akhirnya, adiknya Bu Ratih aliasa om-nya Ami, yang menikah dengan orang Bali, mengajak Bu Ratih sekeluarga untuk pindah dan menetap di Bali. Lalu delapan tahun yang lalu, adiknya Bu Ratih itu beserta suaminya mengalami kecelakaan mobil yang menewaskan keduanya. Sejak itu Bu Ratih merawat Bagas untuk menjadi adik bagi kedua putrinya.


Harta peninggalan ayah Ami dan kedua orang tua Bagas mampu menghidupi mereka dengan kehidupan yang cukup, meskipun tidak mewah. Sejak kakaknya Ami, Salma, sudah mulai bekerja, kehidupan keluarga itu pun berangsur membaik. Tidak hanya mengandalkan usaha Bu Ratih yang hanya berjualan kue di sebuah pasar.


Setahun setelah Salma menikah dan memiliki seorang anak, maka saat itu dia membutuhkan seorang perawat anak sementara dia sendiri mesti bekerja. Sejak saat itulah Ami mengajukan diri untuk membantu merawat keponakannya sementara dia memang belum mendapat pekerjaan setelah lulus kuliah. Akhirnya Ami tinggal bersama sang kakak dan keluarganya di Jepang. Bukan berarti dia tidak sayang dengan ibunya. Ami selalu menjenguk ibunya itu setiap uangnya cukup untuk membeli tiket pesawat. Dan dia sudah terlanjur jatuh cinta dengan Jepang. Begitulah kurang lebihnya cerita mengenai keluarga Ami. Seorang gadis yang usianya dua tahun lebih tua dariku.


"Bagas, ayo kita sarapan!" ajakku saat melihat Bagas sudah mandi dan berjalan keluar dari kamarnya. "Ini kan hari minggu, libur kan sekolahnya?!"


Aku dan Bagas sudah duduk di meja makan yang berukuran kecil.


"Iya, Kak," jawab Oka datar. Dia memulai menyendok nasi ke dalam piringnya.


Aku rasa ada sifat Bagas yang hampir mirip denganku, selain cuek tentu saja. Bu Ratih bilang semalam, kalau Bagas itu tidak begitu peduli dengan apa yang sedang diributkan oleh anak-anak kota. Apa yang lagi hot, apa yang sedang viral. Itu sama sekali tidak mempengaruhi Bagas sebagai anak kecil zaman sekarang. Bahkan saat ponselnya rusak pun, dia tidak ribut untuk segera mengatakan pada Bu Ratih atau menelfon kakak-kakaknya. Bagas menjalani hidupnya tanpa pengaruh dunia luar yang mampu memaksa keadaan, kehidupan siapa saja untuk mengikuti arus perkembangan zaman. Bagas hanyalah Bagas.


Kurang lebih dia mirip denganku.


Selesai sarapan pagi yang terasa kaku bagiku dengan adiknya Ami, kini anak itu entah pergi kemana. Aku tidak melihatnya. Mungkin pergi bermain atau menyusul ibunya ke sawah. Atau kemana saja.


Sedangkan aku sekarang pergi mencari sebuah warung untuk membeli camilan. Rasanya akan nikmat bila hari ini dimulai dengan aku duduk di bawah pohon sambil memandangi sawah nan hijau, lalu ditemani camilan.


Aku ingin menyendiri. Membiarkan pikiranku tenang tanpa meratapi kenyataan yang sedang kujalani. Hidup sebatang kara tanpa orang tua. Kepedihan itu ... ingin segera kuredam.


Aku ingin menikmati alam di sini. Membuang jauh-jauh lara yang sedang menghuni hatiku.


Setelah mendapat beberapa makanan, maka akhirnya aku kembali ke rumah untuk menaruhnya beberapa yang kumaksudkan akan kuberikan nanti pada Bagas.


Namun saat aku baru saja memasuki pintu yang terbuka, aku melihat seseorang sedang berdiri di tengah ruangan.

__ADS_1


...* * * ...


__ADS_2