
Aku mendelik pada Kenneth yang saat ini menampilkan ekspresi wajah tak berdosanya. Iya, dia memang terlihat imut. Bahkan lebih imut dari seorang cewek menurutku. Tapi bukan itu fokusku sekarang, melainkan pada Alya yang sedang tak sadarkan diri di pangkuanku.
"Al ... bangun sih," aku menepuk-nepuk pelan pipinya. "Jangan lebay deh, masa cuma melihat si Ken alay aja pake pingsan."
"Hush, siapa yang alay tuh?" orang yang kusebut malah tak terima dengan kata-kataku.
Tapi aku masa bodo. Aku tidak peduli dengan Ken saat ini.
"Ambilkan minyak kayu putih tuh di laci meja!" perintahku pada Kenneth. Segera cowok itu berjalan ke arah laci dan mengambil benda yang aku inginkan.
"Aku udah biasa menghadapi fans begini," katanya dengan jumawa. Dia memberikan minyak kayu putih kepadaku dan duduk kembali di kursi lainnya. "Malah sampai ada yang hampir naked loh, Ra."
Aku bergidik, "Hiiihh ... itu sih sakit jiwa namanya." aku membuka tutup minyak kayu putih dan meletakkan kepala botolnya yang terbuka di depan hidung Alya. "Tapi kamu pasti senang tuh dapet fans yang bersedia diapa-apain sama kamu," tuduhku.
"Ya nggaklah, Ra. Aku juga gak begitu aja senang melihatnya. Paling aku cuma merasa semakin bangga aja jadi seorang pria tampan most wanted, dan limited edition."
Aku terlalu biasa mendengar ucapan Kenneth yang narsisnya terlalu parah. Jadi aku tidak muak lagi, karena ucapan Ken itu masuk ke telinga kanan dan langsung keluar lewat telinga kiri.
Angin.
__ADS_1
Aku lega saat melihat mata Alya mengerjap beberapa saat kemudian. Dia bangun dari pangkuanku dan memandang takjub pada Kenneth sambil telapak tangannya menutupi mulutnya.
Dia pingsan sesaat setelah mendapati Kenneth yang berdiri di depan pintu rumah kontrakan kami. Untung aku di sampingnya, jadi aku segera menangkapnya tanpa ia cidera jatuh ke lantai.
"Dia manusia juga, Al. Bisa jelek juga. Jangan segitunya deh," ucapku sebal. Alya dengan kelebayannya.
"Rara ..." itu protes dari Ken.
"Gue nggak mimpi?" Alya menatapku dengan mata berbinar.
Yah ... sudahlah. Kenneth akan menjadi malaikat di mata Alya mulai sekarang.
Seketika Alya melompat ke dalam pelukan Kenneth dengan sangat erat. Hingga Kenneth menatapku dengan tatapan memohon.
Tapi Alya tidak peduli. Dia terus saja memeluk Kenneth seakan tidak bisa terlepas lagi.
"Nikahin aku Kenneth, hamilin aku juga boleh."
Aku menarik paksa tubuh Alya yang melekat di tubuh Kenneth itu. "Wah, parah lo, Al. Sadar, woi! Waras sedikit. Kenneth aslinya jorok tau, lo pasti bakalan ilfeel kalo tau keburukan dia."
__ADS_1
"Rara–" Kenneth hendak protes tapi aku melotot tajam ke arahnya. Dan itu berhasil, walaupun cowok itu misuh-misuh tanpa suara, tapi rupanya dia cukup mengerti maksudku.
Alya terlepas juga, tapi matanya masih saja menyorot mupeng pada Kenneth.
"Aku pulang dulu aja ya, Ra," kata Kenneth dengan kening berkerut. Aku yakin dia merasa tak leluasa sebelum temanku yang satu ini beradaptasi dengan keberadaan diri Kenneth yang akan selalu ada di dekatku.
Ya maklum juga sih, sudah lama kan Alya menggilai dan mengidolakan Kenneth.
"Jangan!" teriak Alya melarang keras. Sudah pasti dia tidak akan membiarkan idolanya itu kabur begitu aja. "Kamu tidur di sini aja. Kita berbagi kasur. Hehe ..."
"Parah!" ujarku. "Udah, sana pergi, Ken! Kamu bikin temanku jadi gak sehat."
"Kenapa jadi aku sih, Ra," Kenneth tidak terima disalahkan, tapi dia tetap berdiri juga. "Ya udah deh," Dia mencuri kecupan singkat di pipiku sebelum akhirnya melarikan diri keluar dari rumah.
Dan apa yang terjadi dengan Alya saat aku menoleh ke arahnya?
Dia syok sambil menganga. Kemudian dalam sekejap dia sudah mendekatiku lalu dengan bertubi-tubi dia mencium pipiku yang tadi dikecup oleh Kenneth.
"Kembaliin, Rajuuuu! Kembaliin ciuman Kenneth buat gueeee!"
__ADS_1
"Jorooooooook!"
...🌈🌈...