
Eh ada yang nanyain sih, update kan jadinya. 🙈
...\=\=\=\=...
"Hmmpp ..."
Reiki menciumku tiba-tiba setelah aku mengucapkan kalimat barusan. Aku tidak siap. Sungguh, aku tidak pernah siap. Segera kudorong keras dadanya agar terlepas dariku. Cukup sulit namun akhirnya berhasil juga.
"Jangan pernah katakan itu lagi! Karena aku tidak akan pernah melepaskanmu selamanya," ucapnya tajam.
Air mataku mengalir deras tanpa ku inginkan. Hanya satu bayanganku saat ini, bibirnya yang baru saja menciumku, tadi telah mencium wanita lain di saat aku masih berada di atap yang sama dengannya. Aku jijik. Aku benci menyadari hal itu.
"Jangan cium aku ... hiks ..." aku tutup bibirku dengan telapak tanganku. Berusaha menghapus jejak menjijikkan itu.
Matanya sekarang terlihat khawatir padaku, kalau aku tidak salah tebak. Mungkin karena ia melihat air mataku ini.
"Aku bukan wanita yang sama yang menciummu tadi ... hiks ...." ucapku sesenggukan.
Matanya menyiratkan bahwa dia cukup terkejut akan perkataanku barusan. Dia berusaha meraih tanganku, tapi aku menepis sekuat tenaga. Dan itu membuatku malah semakin terisak.
"Jangan pernah sentuh aku lagi!" teriakku kalap. Tanpa dapat kuhindari, sekarang dia malah berhasil membawaku ke dalam dekapannya. Meskipun aku memukul-mukul lengannya tapi dia bergeming. Bahkan diusapnya kepalaku dengan lembut dan sesekali kurasakan kecupan di sana.
"Itu bukan apa-apa, Sayang. Kenapa harus melihat hal sepele seperti itu?"
Kalimatnya membuatku semakin kesal. Hal sepele katanya?
Aku mencubit keras lengannya. Namun ia tak bereaksi apapun. Apa dia tidak merasakan sakit?
"Lepas!" desisku tajam.
Aku meronta-ronta tapi dia semakin erat memeluk tubuhku.
"Itu bukan apa-apa. Bahkan aku tidak menikmatinya sama sekali."
Penjelasannya malah membuatku semakin muak. Aku mendorongnya sekuat tenaga.
Menikmatinya dia bilang? Are you crazy?
__ADS_1
Aku manatapnya tajam. Dia masih belum mengerti juga rupanya. "Tapi aku jijik."
"What?"
"Mungkin buatmu itu hanyalah hal sepele, tapi buatku ... itu amat menjijikkan. Jangan pernah cium aku selagi kamu masih suka mencium wanitamu yang lain."
"Cuma kamu wanita cantikku," tekannya dengan tajam. "Dan bukan aku yang memulai. Dia yang menciumku duluan–"
"Tapi kamu tidak menolak!"
Matanya terpaku. Seakan kalimatku barusan telah menampar kesadarannya. Atau mungkin kebodohannya? "Jadi itu sebuah masalah?" tanyanya terlihat polos.
Jadi menurutnya itu bukanlah sebuah masalah? Bagaimana bila dia yang melihat aku berciuman dengan orang lain? Apa itu juga bukan sebuah masalah baginya?
Ingin rasanya aku memukul wajah tampannya.
"Tentu saja. Ah tidak–" aku meralat ucapanku sambil menggeleng cepat. "Tidak masalah untukku. Tidak ada hubungannya denganku. Yang membuatku tidak suka adalah kamu jangan pernah menciumku lagi. Aku tidak suka." Ya cuma itu. Mestinya aku tidak perlu menjadikannya sebuah masalah. Bahkan ia tidak pernah memperjelas statusku apa baginya.
Sudahlah, Zura ...
Dia menatapku seakan sedang memikirkan sesuatu. Entah itu apa. Kemudian dia memutus pandangannya dengan merubah posisinya. Diletakkan kepalanya di pahaku sekarang. Mencari posisi agar duduknya di lantai terasa nyaman. Dan kepalanya sudah tentu nyaman karena dia tak bergerak dari pahaku.
Dia kenapa?
Lalu kurasakan kalau ibu jarinya sedang mengelus lembut tututku yang terbuka. Oh jangan lupakan bathrobe yang masih kupakai ini keadaannya sedikit mengekspos bagian paha kiriku, dimana arah wajahnya berada. Ini terlalu membuat jantungku berdebar bersamaan dengan rasa kesalku atas ciumannya dengan wanita lain. Di samping itu adalah kenyataan kalau saat ini aku belum memakai sehelai benangpun pakaian dibalik bathrobe ini. Sejak selesai mandi kan aku sudah duduk di sini, sedangkan pakaian bersihku berada di walk in closet.
"Sorry ..."
Apa? Aku tidak salah dengar? Barusan suaranya kan?! Dia sedang meminta maaf atau aku hanya berhalusinasi saja?
"Ku pikir hanya berciuman itu bukan sebuah masalah ..."
Boleh kujitak kepalanya?
"Tapi aku keliru. Hampir saja aku mengalami kerugian besar hanya karena ciuman sialan itu."
Maksudnya?
__ADS_1
"Jangan pergi ... aku janji tidak akan menerima sentuhan apapun lagi dari siapapun, kecuali darimu, Sayang."
Jangan percaya, Zura.
Jangan luluh.
Plis ...
Aku harus kuat!
"Tidak perlu berjanji –aww–" aku merasakan pahaku sakit. "Kenapa digigit sih?"
Ku dengar Reiki terkekeh pelan. "Kalau begitu kamu yang harus berjanji untuk tidak pergi dari sisiku." dia mengangkat kepalanya, menghadap ke arahku dan dagunya berada di pahaku sekarang. Satu lagi, tangannya asik memainkan tali pada bathrobe yang sedang kugunakan.
Tatapan mata Reiki begitu hangat, lembut, dan teduh di saat bersamaan. Cukup lama kami saling tatap saat aku menyadari sesuatu.
Ya, aku mencintainya sekaligus membencinya.
Sudah kubilang aku ingin pergi, kenapa malah jadi begini sih? Kenapa aku luluh lagi? Kemana kemarahanku yang tadi?
Aku juga benci diriku yang lemah.
Namun aku tidak akan pernah berhenti berusaha untuk pergi darinya.
"Tadi kamu bilang hanya berciuman kan?!" aku belum memaafkannya. Ya, itu harus. "Berarti tidak masalah bila aku hanya mencium–"
"Jangan pernah berani, Sayang."
"Tuh kan, kalau aku saja tidak boleh. Tapi kalau Mas Rei yang melakukan itu adalah hal biasa? Bahkan laki-laki yang akan duduk di sampingku saat naik roller coster pun tidak boleh. Apa itu adil?" protesku.
"Jangan berani mencoba, Sayang. Atau kamu akan melihat seseorang yang sial itu kehilangan nyawanya." aku tahu dia serius saat mengatakannya. Lagi pula aku tidak berniat mencoba karena aku tidak ingin seseorang terluka karena aku.
Aku menghela nafas pelan.
Lalu bagaimana nasibnya tiket pesawatku besok, sedangkan sekarang saja hubungan kami sepertinya ....
"Ayo, Sayang, kamu sudah melewatkan makan siangmu!"
__ADS_1
...🍩🍩🍩...
Si Zura pengen dihujat sepertinya 😂🙈