
Aku hanya sekedar membasahi kedua telapak tanganku saja. Itu yang kulakukan sejak beberapa saat yang lalu setelah menjauhi pusat pesta menuju toilet. Bahkan Kenneth belum kembali sejak ia pamit tadi.
Sudah pasti aku memerlukan ketenangan hatiku sebentar saja. Karena kejutan yang baru aku dapatkan tak pelak membuat hatiku kacau balau. Aku bukan berniat kabur hingga menimbulkan kecurigaan pada Kenneth, namun aku juga tidak berniat untuk bertemu dengan Reiki. Itu sudah jelas.
Aku hanya harus bertahan sebentar lagi saja di pesta ini. Lalu aku juga sudah bertekad kuat untuk tidak akan mendekat lagi pada kehidupan Kenneth, setelah semua kenyataan ini terpampang jelas di depan mataku.
Tak berapa lama aku kembali lagi ke dalam pesta dengan mataku yang mencari-cari keberadaan Kenneth. Aku harap segera menemukan lelaki itu dan mengajaknya pulang.
Eh, tapi ini kan acara keluarganya. Apa aku pulang saja ya sendiri? Tapi di depan pasti ada banyak wartawan. Mana sanggup aku menghadapi ketenaran mendadak gegara affair dengan artis yang sedang naik daun sekelas Kenneth? Aku tidak sanggup.
Payah.
Oh Tuhan ...
Tidak bisakah dunia ini lebih sempit lagi?
Bathinku menjerit-menjerit.
Karena apa? Baru saja, saat mataku mencari-cari sosok Kenneth di antara banyaknya tamu di tempat ini, tapi tatapanku sekarang malah bersirobok dengan mata yang rasanya sudah lama sekali aku tidak pernah melihatnya lagi.
Itu Reiki.
Dia sedang menatapku dengan sorot matanya yang tajam seperti dulu kala.
Tidak, matanya dia sama sekali tidak menyiratkan keterkejutan anehnya. Dia hanya menatapku tajam dengan arti yang aku tidak mengerti sama sekali.
Jantungku berdegup. Tidak, ini seperti memutar film lagi tentang kami di masa lalu di dalam otakku. Tentang kedekatan kami ... tentang semua yang telah terjadi.
'Dan seterusnya rasa itu selalu terjadi dan tak pernah berkurang ...'
Seperti itu kurang lebih gambaran hatiku yang aku sadari sekarang. Aku sudah berupaya melupakannya, tapi aku belum mampu. Bahkan rasa itu malah semakin besar sehingga membuat hatiku terasa sesak.
Tuhan ...
Aku harus apa?
"Hei, cantik!" Kenneth mencium ringan pipiku sambil tersenyum manis saat aku menoleh.
"Ken, banyak orang ih! Jangan cium-cium sembarangan!"
"Biasa aja kali, Ra. Apalagi aku udah umumin pada dunia kalau kamu itu pacar aku, so itu sangat wajar, 'kan?!"
"Nggak!"
"Ngegas sih, Ra," protesnya.
"Biarin. Emang gak wajar. Kan aku belum terima kamu."
"Yah, Rara ... udah terlanjur nih. Kita tuh udah jadian di mata Indonesia dan sekitarnya. Udah ya jangan bahas lagi. Kita udah resmi kok. Kamu tenang aja."
Aku mengerutkan keningku. Apa-apaan lelaki manja satu ini? Kenapa seenaknya dia yang mutusin begitu? kok aku merasa ditipu ya sama bocah alay ini?
"Matanya jangan gitu deh, Ra. Nyeremin! Udah ah, ayuk kita makan aja."
"Lupa, kalo tadi aku bilang aku pusing?"
"Tapi wajah kamu gak mencerminkan kalau kamu pusing deh, Ra?"
Oh iya lupa. "Gara-gara kesel sama kamu, aku jadi lupa kalo aku lagi pusing."
"Ish, Rara. Aku berpotensi bikin kamu sembuh tapi kok ya agak gak enak juga alasannya."
__ADS_1
"Ah tau ah! Aku mau pulang sekarang, Ken–"
"Azzura!"
Suara tante Kirana membuatku menoleh dengan bibir harus auto tersenyum. Mau gimana lagi, aku harus bisa akting seperti Kenneth demi menahan semua perasaanku agar tidak nampak jelas di muka umum. Semua mesti terlihat baik-baik saja dan wajar-wajar saja.
"Iya, tante?"
"Ayo sini, dari tadi Tante cariin kamu loh,"
"Masa, Tan?"
Tante Kirana menarik lenganku untuk mengikutinya. Aku menatap horor pada Kenneth yang berjalan mensejajariku dan ibunya. Dia di sisi kananku, sedangkan Tante Kirana si sisi kiriku. Lalu aku bertanya 'kenapa?' tanpa suara kepadanya. Tapi dia hanya tersenyum sepolos mungkin yang membuat aku menahan kesal.
Rupa-rupanya kejutan jantungku belum berhenti saat aku tak sengaja bertubruk pandang dengan Reiki tadi. Kesialanku seolah bertubi-tubi. Dan doa-doaku untuk segera pergi dari sini belum terkabul.
Ternyata tante Kirana membawaku ke hadapan keluarga Maheswara.
Bayangkan ... keluarga Maheswara!
Rasanya aku ingin ditelan bumi sekarang juga. Tapi apa daya, takdir ini terasa buruk seketika.
Kulihat mata tante Widia, om Mandala, dan terutama grandma Fatma terbelalak menatapku. Tentu saja. Bagaimana tanggapan tidak terkejut saat menemukan kembali masa lalu mereka dalam diriku setelah berbulan-bulan lamanya.
Sama, aku juga. Aku lebih-lebih terkejut juga dari mereka. Aku tak pernah berniat sekalipun untuk bertemu dan bernafas di tempat yang sama dengan mereka semua.
Tak berlangsung lama saat saling keterkejutan kami dalam diam, hingga tante Kirana mengeluarkan suaranya memecah kekakuan.
"Kenalin, Mbak, Mas, Ibu ... gadis ini kekasihnya Kenneth. Namanya Azzura."
"Iya, betul," sambar Kenneth penuh semangat.
Aku rasanya mau pingsan. Kakiku sudah lemas, tapi aku tidak bisa apa-apa kalau mataku saja nyatanya masih dapat terbuka dengan baik.
"Azzura." itu suara om Mandala. Pria itu menatapku hangat. Dia lebih dapat mengontrol ekspresinya dibandingkan ibu serta istrinya.
"Iya, Om."
"Apa kabarmu?"
"Baik, Om."
Sekarang Kenneth dan tante Kirana yang menoleh ke arahku dengan terkejut.
Oh Tuhan, kapan malam ini berakhir?Andai aku bisa kabur seperti Cinderella ...
"Azzura ini anaknya temanku, Kiran." tante Widia memberitahu ibunya Kenneth. "Nadhifa. Kamu pasti ingat?!"
"Oh, mbak Nadhifa. Iya aku ingatlah. Kalian sering main bersama waktu dulu."
"Rara, kamu kok gak cerita?" Ken bertanya padaku.
Kapan aku mesti ceritanya, Ken? Sedangkan ini semua baru saja terjadi di depan mataku. Dan gara-gara kamu tentu saja!
"Ken, kamu pacaran dengan wanita ini?" tanya grandma. Nada suaranya tidak enak di dengar telingaku. Ada penghinaan, ada meremehkan, dan ada ketidakpercayaan.
"Iya, grandma. Azzura pacarku."
Gawat. Aku tidak akan sanggup kalau-kalau wanita paruh baya itu mengeluarkan perkataan buruknya. Sumpah, aku tidak siap menanggung segala hasilnya. Rasanya aku tidak sanggup untuk berdiri di sini lagi. Aku harus segera pergi dari sini.
"Maaf, tante," aku menoleh pada ibunya Kenneth. "Aku izin pulang sekarang ya. Aku lagi kurang enak badan sebenernya."
__ADS_1
"Iya, sayang. Gak apa-apa," ibunya Kenneth menyahut dengan penuh pengertian.
"Om, Tante, Grandma ..." ucapku dengan susah payah kepada mereka semua. "Aku permisi." aku bahkan tak perlu menunggu jawaban dari ketiganya.
Sesingkat itu sebelum aku berbalik badan diikuti oleh Kenneth yang pastinya masih penasaran padaku.
"Rara–"
Aku merentangkan jemariku ke hadapan wajah lelaki itu, supaya dia mengerti bahwa aku sedang tidak ingin bicara.
"Rara dengar dulu," dia masih mencoba.
"Apasih, Ken?" bisikku nyaris frustasi. Aku inginnya berteriak, tapi aku sadar, di sini bukan tempat yang tepat untuk aku berdebat dengan Kenneth.
"Kamu pucat banget,"
"Ya makanya, ayo pulang!"
"Iya, sebentar dulu." tanpa kuduga Kenneth malah mendudukkanku pada sebuah kursi lagi. Padahal inginku adalah segera pergi dari tempat ini.
"Diam dulu sebentar aja, aku mau ambilkan kamu air putih supaya kamu tidak ambruk sebelum masuk ke mobil. Karena kemungkinan kita akan dicegat lagi oleh wartawan, dan aku tau kamu akan semakin stres, makanya aku gak mau kamu jatuh sebelum berada di tempat yang aman. Kamu gak suka viral, 'kan?!"
Aku menggeleng pelan.
"Bagus. Makanya tunggu sebentar, biar kamu gak pingsan di depan wartawan, dan kamu gak jadi viral. Ngerti?!"
Aku mengangguk.
"Anak pinter!" Kenneth mengecup keningku sebelum berjalan menjauh mencari air putih.
Dan beberapa menit berlalu tapi Kenneth belum juga kembali. Dia bukan mencari air dari sumbernya langsung, 'kan?! Dia nggak pergi ke pegunungan, 'kan?!
"Azzura ..."
deg
Sebuah suara masuk ke dalam pendengaranku dengan mengerikannya. Itu adalah suara terakhir yang ingin aku dengar lagi dalam hidup ini. Atau mungkin ... tidak?
Oke ... itu suara yang masih kurindukan. Suara yang sudah lama sekali rasanya tidak aku dengar. Dan suara itu yang dulu selalu berbisik mesra di telingaku. Apa aku sedang berhalusinasi? Pastinya tidak. Karena memang dia sedang berada di sini juga. Di tempat yang sama denganku. Jangan bilang kalau sekarang dia berniat bicara denganku. Jangan! Aku tidak sanggup.
Aku menoleh dengan susah payah. Karena jantungku berdegup tak beraturan dengan segala rupanya perasaan.
Nah ... benar itu Reiki. Dia berdiri dengan jarak beberapa langkah saja dariku.
Dia masih saja terlihat tampan.
Aku mendapatinya sedang menatap padaku dengan ...
Ah tidak! aku tidak berfikiran apapun.
Kami saling tatap untuk waktu yang lama kurasa. Entahlah seberapa lama. Yang pasti, hanya tatapan yang berbicara diantara kami berdua. Tanpa suara. Karena sulit sekali mengeluarkan apa yang sedang bergejolak di hatiku sekarang.
Rasanya aku hampir ambruk saat Kenneth akhirnya sudah membawa mata air yang dicarinya sejak tadi.
"Rara! Ini minum!"
Aku langsung meneguk gelas berisi air putih yang Kenneth berikan. Rasanya aku memang membutuhkan air untuk menyiram kerongkonganku yang gersang dan getir. Tentu untuk mengurangi kegelisahanku saat ini.
Kemudian aku mendengar suara Kenneth berbicara.
"Mas Rei, kenalin ... ini pacarku."
__ADS_1
...*****...