
Lanjut ya! Kalo yg ini emng upnya lama, walaupun draft sudah sampai end. Prioritas utama memang Althar saat ini. So, buat kalian yang sabar aja baca ceritaku ini ya, Makasih.
Kalaupun rajin up, aku ga dpt apa2 ko dr Nt π Gak ada yang ku kejar di Nt.
Aku nulis cuma karena aku suka. Sebab aku juga sabar kok kalau baca novel on going di WP. Berbulan-bulan mereka gak update, aku gak hapus dr list-ku. Ya karena emng aku suka ceritanya.
Jadi karena aku pribadi bukan readers yang suka protes, maka aku bakalan menghargai kalian yang tetep setia sama ceritaku walaupun updatenya lama.
Aku bakalan terima apapun kritikan selagi masih belum berbentuk hujatan.
Terima kasih buat dukungan kalian yang suka sama ceritaku ini. β€β€
...****...
...----------------------------------------------------------------------...
"Raju, bangun!"
Aku malas sekali menyahuti Alya yang sedang bawel itu. Berkali-kali ku dengar ia memanggil-manggil namaku dengan berisiknya. Alhasil, meskipun aku sudah bangun sejak pukul 5 tadi, aku masih bergelung di bawah selimut padahal waktu sudah menunjukkan pukul 6.30 sekarang.
"Raju Kapoor bangun, jailah! Lo gak kerja? Tuh, hape lo nyala terus sekalipum udah lo bikin bisu."
"Biarin aja ..." sahutku dengan enggan.
"Eh lo utang cerita sama gue ya. Buruan bangun, cerita gimana semalem? Beruntung banget deh lo, Ra. Gue envy parah sama lo yang ketiban rejeki nomplok. Sedangkan gue yang berharap itu terjadi dalam hidup gue ya berakhir cuma sebagai mimpi. Walaupun, seenggaknya mimpi gue jauh lebih beruntung kali lipat dibanding fans yang lain,"
"...."
"Raju, bangun! Dengerin gue dong!"
Lagi, aku membuka mata dengan terpaksa. Kulihat Alya sedang senyum sembari berhayal yang nggak-nggak.
"Apasih, Al? Lo gak kerja?"
"Ditanya malah balik tanya. Gue sih kerja sebentar lagi. Nunggu Radit jemput."
"Ngapain Radit jemput lo? Kan bukannya cafe dia arahnya berlawanan ya sama kantor lo?"
"Radit hari ini interview di kantor gue."
"Serius?" aku tak mampu menahan rasa terkejutku hingga bangun dari posisi rebahanku. "Kok bisa? Beneran?"
Alya mengangguk dengan mantap.
"Ah curaaaang ... gue juga pengen dong kerja di tempat lo ...."
"Kan lo udah masukin lamaran ke sana, sisanya itu urusan Tuhan, Raju sayang."
Aku mencebik. Kembali kuhempaskan tubuhku agar berbaring lagi. "Tetep aja gue iri."
__ADS_1
"Woi, Ra, itu nama Kenneth Love Alya lagi nelfon lo," tunjuk Alya pada ponselku yang terbaring di nakas.
"Bodo ah!" sahutku. "Perasaan gue gak namain dia kayak gitu deh di hp gue. Gak pake love Alya, cuma Kenneth ... doang."
"Itu tuh adalah sebuah doa, Ra. Suatu hari Tuhan mengabulkan kalo Kenneth beneran love Alya, lo bisa apa, hah?"
Alya si ratu halu.
Suara klakson mobil menginterupsi Alya untuk menghentikan ucapannya. "Ah si Radit udah datang tuh. Gue pergi dulu deh ya. Pokoknya lo masih punya utang cerita sama gue."
"Kenapa Radit gak masuk sih?"
"Udah telat ini, bege! Babaaaay ..."
Alya pergi.
Aku mengumpulkan nyawa dan semangat untuk menghadapi hari ini. Rasanya seperti hari ini adalah saatnya eksekusi, di mana aku harus memberikan jawaban pada Kenneth atas perasaannya kepadaku.
Sekarang semestinya aku sudah sedang dalam perjalanan menuju kantor Kenneth. Lelaki itu sudah pasti menungguku untuk menemaninya dalam menjalani kegiatan hari ini. Akan tetapi ..
Kejadian semalam sudah membuatku memasang kembali pertahanan hati yang hampir saja tak pernah kugunakan lagi sejak Kenneth datang dalam hidupku. Entah perasaan apa, yang pasti aku sangat nyaman dan riang begitu Kenneth mengisi hari-hari dalam hidupku.
Lalu ketika takdir malah mempertemukanku kembali pada Reiki adalah sebuah palu yang menghantam kesadaranku secara besar-besaran.
Kenyataannya, bahwa Kenneth bukanlah orang biasa. Bahwa Kenneth masih menjadi bagian dalam keluarga Maheswara. Bahwa Kenneth akan selalu terhubung dengan Reiki.
Orang yang mesti kuhindari, yang artinya aku juga mesti menghindari Kenneth.
Maka sudah tidak ada lagi harapan untukku menjalani kehidupan yang nyaman lagi seperti saat sebelumnya. Itu terlalu bodoh. Mana mungkin aku mengulang kesalahan yang sama? Move on jilid 2 saja aku belum berhasil, masa sudah harus siap menghadapi move on jilid 3?
-
Setelah sejam yang berlalu penuh dilema, akhirnya aku sudah berada di lokasi syuting Kenneth untuk iklan komersil, yaitu di sebuah pantai. Tentu saja itu iklan yang akan Kenneth bintangi seorang diri. Aku heran, mengapa dia lebih sering mendapat job sendiri dibandingkan dengan teman-temannya yang lain? Bukankah dia selalu membanggakan grupnya yang sedang naik daun itu?Β
"Rara nakal ya ..." Kenneth menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Matanya menatapku tajam tapi nada suaranya masih terdengar manis. "Berani-beraninya nyuekin aku."
"Sorry ... kepalaku masih sakit." hanya alasan tentu saja. Aku sedang berfikir keras sebenarnya. Bagaimana caranya aku pergi dari lelaki itu. Atau lebih tepatnya, mampukah aku lepas darinya yang sudah terlanjur lengket padaku.
Bisa.
Aku pasti bisa, 'kan?!
Dulu pada Reiki yang sudah berhasil mengambil hatiku saja, aku mampu. Apalagi Kenneth yang perasaanku baru sebatas nyaman saja.
Dari pada aku kabur dan malah membuat masalah dengan Kenneth, maka lebih baik aku segera menyelesaikan ini baik-baik dengannya. Agar supaya move on dari rasa persahabatanku dengan Kenneth berjalan lebih mudah.
"Kamu istirahat aja kalo gitu, ngapain kesini?" dia melangkahkan kakinya mendekatiku. Nada suaranya lebih lunak lagi. Aku tau dia sebenarnya khawatir padaku.
"Gak apa-apa. Aku udah mendingan sekarang." senyumku kuharap dapat menenangkannya.
__ADS_1
"Yakin?"
Aku mengangguk. Aku yakin Kenneth pasti lebih senang kalau aku berada di dekatnya.
"Tenang aja, ini gak akan makan waktu lama kok."
Benar, 'kan.
Selama syuting Kenneth tak henti-hentinya mencuri tatap padaku dan tersenyum penuh arti. Dia itu kenapa ya? Apa karna hari ini aku akan memberikan jawaban padanya? Andai dia tau kalau aku akan menolaknya dan mengakhiri semua ini, mungkin senyumnya tak akan semanis itu. Atau sekarang malah aku yang memiliki rasa tak tega untuk menghancurkan perasaannya?
"Kita mau kemana?" tanyaku saat kami sudah dalam perjalanan begitu Kenneth menyelesaikan pekerjaannya.
"Dinner-lah."
"Di?"
"Suatu tempat."
"Di mana?"
"Kejutan."
Aku menghela nafas. Aku harap Kenneth tidak melakukan hal yang sia-sia. Misalnya dengan memilih restoran istimewa atau romantis. Tidak. Aku harap tidak. Karena semua itu tidak sesuai dengan apa yang akan aku ungkapkan.
Aku sudah membuat keputusan, berikut dengan kata-kata apa yang akan aku ucapkan nanti, dan alasan-alasan apa saja yang akan aku ungkapkan untuk penolakanku.
Sekali lagi kutegaskan bahwa bukan Kenneth yang tidak baik. Justru sebaliknya, Kenneth cukup baik dan menyenangkan. Aku menyukainya. Pasti. Setiap orang yang sudah mengenal pribadinya yang walaupun seringkali absurd, tapi dia baik hati. Lebih dari baik hati untuk mengungkapkan seorang Kenneth yang saat ini memiliki banyak penggemar sejagat Indonesia Raya.
Hanya saja, hatiku tidak akan pernah sanggup untuk mengulang drama percintaan san chai yang tidak akan pernah berhasil dalam episode kehidupanku. Kehidupan seorang Azzura yang hanya gadis yatim piatu dari kalangan rakyat jelata.
Tunggu,
Rupanya Kenneth tidak membawaku ke restoran, "Katanya mau dinner?"
Kenneth tersenyum kecil.
"Iya kita bakalan dinner dong, Ra."
"Tapi iniβ"
Mobil Kenneth sudah memasuki gerbang sebuah rumah mewah. Perasaanku sudah penuh dengan dugaan-dugaan, hingga membuat hatiku berdebar tak karuan.
Jangan bilang kalau ...
Aku menoleh pada Kenneth. Dan yang kudapati adalah senyumnya yang semakin lebar saja, "Welcome to my home!"
...******...
Thx for reading! π
__ADS_1