Like Drama

Like Drama
sixty six


__ADS_3

Happy reading!


* * *


Aku turun dari ojek online beberapa saat yang lalu. Mataku mengamati bangunan tinggi yang menjulang di hadapanku sekarang. Masih ada waktu lima belas menit sebelum pukul delapan yang diminta oleh om Damar— papanya Kenneth.


Ngomong-ngomong soal Kenneth, artis tampan satu itu saat ini kemungkinan sedang dalam perjalanan ke Bogor untuk syutingnya. Atau mungkin dia sudah sampai malah. Aku tidak tahu. Dia pun belum mengabariku lagi. Dia juga tidak memberitahuku detail lokasinya. Hanya bogor. Subuh tadi saja dia hanya mengabariku bahwa dia sudah siap untuk menuju lokasi. Dan masih sempat-sempatnya dia menanyaiku apakah aku berubah fikiran atau tidak. Tentu saja tidak. Meskipun aku belum tau apakah keputusanku ini benar atau tidak, tapi ya sudahlah. Aku harus mencobanya. Toh buat apa gelar sarjanaku bila tidak mulai dimanfaatkan. Ilmunya maksudku. Merupakan sebuah kesempatan yang sepertinya tak akan ku lewatkan begitu saja.


Singkat saja, masuk ke dalam sebuah perusahaan melalui seorang boss a.k.a yang punya perusahaan, amat sangat mulus jalan yang kulalui. Tak banyak prosedur atau tunggu sana-sini, rupanya aku langsung dipersilahkan menuju sebuah ruangan. Di sana telah menantiku salah seorang bagian dari HRD dan menyambutku dengan cukup baik. Setelah menyerahkan berkas-berkas yang diperlukan, wawancara formalitas, maka aku langsung diterima bekerja hari ini juga.


Wow.


Kekuatan orang dalam begitu hebatnya. Ditambah orang dalam yang membawaku adalah petinggi perusahaan ini, dan aku sedang dekat dengan anak semata wayangnya pula. Tak mengejutkan bila perlakuan ini yang ku dapat. Eh tapi jangan salah, aku sama sekali tidak akan pernah berniat untuk merasa special sedikitpun. Tidak akan pernah. Itu bukan gayaku yang suka memanfaatkan keadaan. Sudah diberi jalan mudah untuk mendapatkan pekerjaan saja aku amat bersyukur. Jadi aku akan berusaha menerima ini dengan niat baik dan perilaku yang baik pula.


Entah sudah berapa puluh kali aku mengirimkan lamaran pekerjaan, namun semua tak ada hasilnya. Belum, lebih tepatnya belum membuahkan hasil meskipun itu hanya sebuah panggilan interview. Ck, begini banget ya nasibku. Susahnya mencari pekerjaan padahal sudah menjadi seorang sarjana. Dan aku pernah turut menjadi bagian dari para pencari loker yang lapar.


Tapi sekarang ..., akhirnya rezekiku datang juga. Mendapatkan sebuah pekerjaan meskipun hanya seorang pegawai biasa. Memangnya aku berharap langsung punya jabatan apa? Calon menantu bos begitu? Eh?


Apa sih, Zuraa ...


Begini pun aku sudah bahagia. Sumpah. Akan tetapi ... rasa bahagia di hari pertamaku diterima bekerja, dengan mudahnya menguap begitu saja. Bagaimana tidak, sekarang mendadak rasa resah yang menyelimuti hatiku.


Dunia itu memang sempit ya. Aku yakin mataku belum salah mengenali seseorang yang saat ini ku lihat sedang duduk di meja sana. Setelan jas mahalnya, rambut tertata rapi dan kaca mata baca adalah paketan sempurna untuk seorang pria dewasa yang— cukup segitu aja penjabarannya. Lupakan! Lupakan bahwa aku pernah sedekat itu dengannya. Lupakan, Ra! Itu masa lalu.


Seketika mataku melebar tak percaya. Lantas aku segera turun dari kursi dan berjongkok di kolong meja dengan sedikit tidak nyaman. Itu karena aku menggunakan rok selutut saat ini.


"Kamu ngapain, Azzura?"


Abel, rekan sesama karyawan baru di sini yang kini terlihat heran menatapku. Bedanya, Abel sudah mulai bekerja sejak seminggu lalu. Dan kebetulan kami berada di divisi yang sama.


"Ah— oh ... nggak apa-apa sih," aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. "I-ini cuma–" apa ya? Mikir cepet, Ra. "Jempol kaki aku kayaknya digigit semut. Hehe ... iya begitu." semoga alasan bodohku barusan dapat diterima gadis itu.


Rupanya Abel mengangguk kecil.


Aku mengehela nafas. "Aku ke toilet dulu ya, Bel,"

__ADS_1


"Oke."


Dengan terburu-buru aku segera melenyapkan diri dari area kantin ini. Dan tujuanku memang benar-benar ke toilet.


Mengapa dia ada di sini?


Itu renunganku setelah tiba di depan cermin yang ada di toilet wanita. Ku cuci tanganku yang tidak kotor, dan berfikir keras dengan nasibku.


Kenapa aku bisa menemukan Reiki di sini?


Aku masih ingat dengan pasti letak kantor Reiki berada. Dan sudah jelas itu bukanlah di sini. Lalu mengapa sekarang aku malah melihatnya di sini juga? Takdir macam apa ini?


Sekalipun pria itu sedang ada urusan di perusahaan ini —kemungkinan besarnya— tapi kenapa mesti di kantin ini? Abel bilang kalau kantin ini biasanya hanya didatangi para karyawan bawah seperti mereka yang masih butuh banyak harga miring dalam membeli makanan. Istilah yang mereka pakai adalah kantin rakyat jelata. Lain halnya dengan para petinggi atasan yang lebih sering menggunakan kantin yang berada di lantai 31. Kantin para sultan merupakan julukan untuk kantin kelas atas itu. Sesuai dengan isi dompet para pengunjungnya tentu saja.


Ini mengerikan. Aku merinding. Bisa-bisanya dia ada di sini? Bertemu dia lagi? Aku benar-benar tidak berharap sama sekali. Lalu bagaimana aku bisa move on kalau dia wara wiri di dekatku lagi?


Oh jangan pernah lupakan statusnya dia, Ra ...


Oke, cukup. Aku hanya perlu bertingkah seperti biasa saja, kan?! Tidak perlu terlihat seolah aku mengenal, dan hanya perlu sopan andai tak sengaja bertatap mata, lalu hormat seperlunya. Apapun jabatan dia di sini, atau apapun urusan dia di perusahaan ini. Karna aku tidak akan lupa kalau Reiki adalah keponakan dari om Damar.


Kembali ke kantin aku sebisa mungkin mencari celah agar tidak terlihat oleh Reiki yang saat ini tengah menempati sebuah meja dengan dua orang lainnya. Kebetulan kursi yang tadi ku tempati sekarang sudah di isi oleh mas Anjas, salah seorang karyawan lama di divisi pemasaran. Dia duduk di sisi Abel, sedangkan yang satu lagi mas Alvin duduk di sebrang Abel. Maka aku mengisi kursi satu yang tersisa.


"Oh silakan, Mas," jawabku seramah mungkin. Lain dengan mas Anjas yang tipe penggoda wanita, maka mas Alvin adalah kebalikannya. Lelaki yang terlihat tampan itu lebih kalem dan dewasa dibanding temannya. Itu penilanku sejak pagi tadi. Dan mas Alvin pun hanya tersenyum singkat padaku.


"Mas Anjas, kalo yang cakep di sana itu siapa?" tanya Abel agak pelan. Tapi itu berhasil membuatku penasaran pada sosok yang dimaksud oleh Abel.


Anjas menoleh pada arah yang ditunjuk oleh temanku itu. Namun aku urung menoleh. Karena arah yang ditunjuk oleh Abel adalah di arah yang aku punggungi. Aku jelas khawatir bila menoleh dan mendapati Reiki yang menemukan keberadaanku.


Aku kege-eran? Anggap saja begitu.


"Oh itu. Salah satu pemegang saham di sini," sahut mas Anjas dengan suara lebih pelan, seolah khawatir bila suaranya mampu terdengar pada orang yang dibicarakannya. Padahal keadaan kantin cukup ramai saat ini. "Itu pak Reiki namanya,"


Rupanya Abel menanyakan Reiki. Ya ampun.


"Masih keponakan dari bos besar pak Damar Barata," lanjut mas Anjas. "Dia mah jarang banget datang kesini. Gak tau kenapa hari ini dia datang dan malah nongkrong di kantin rakyat jelata macem kita. Ck, aneh banget. Gak biasanya. Aneh gak sih, Vin?"

__ADS_1


Alvin hanya mengendikkan bahunya. "Terserah dia kali."


"Ya iya. Emang terserah dia. Cuma kan gak biasa aja gitu."


Aku menelan susah payah soto yang sudah ada sejak aku kembali dari toilet. Aku tidak akan menduga yang tidak-tidak. Hanya saja ... keberadaan pria itu dalam jarak yang tak jauh dariku selalu mampu membuat hatiku ketar-ketir.


Tobat, Zura ... jangan pikirin dia terus. Tunangan orang tuh!


*


*


 


Pukul lima lewat dua puluh lima menit aku sudah menunggu lift untuk turun ke bawah. Ya sekarang adalah saatnya pulang. Terlepas dari keberadaan Reiki siang tadi di kantin— yang untungnya tidak ada drama pertemuan antara aku dengan dia— maka sisa yang kulalui hari ini cukup melegakan dan menyenangkan. Dalam artian, pada akhirnya aku telah mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan sekarang. Meskipun yang namanya bekerja itu tidak ada yang tidak melelahkan, tapi aku bersyukur tentang hari ini.


Lift terbuka. Aku yang berada di barisan terdepan pun segera melangkah masuk menuju bagian belakang. Sebagai karyawan baru, sudah semestinya aku agak menepi karena belum mengenal karyawan lain dengan baik.


Tapi, setelah aku berada di dalam lift,


Loh, kenapa mereka tidak masuk juga?


Aneh, beberapa orang yang mengantri bareng denganku tadi tidak jadi melangkah memasuki lift. Kenapa? Apa ada yang salah?


Aku bingung. Tapi aku tidak tau harus bertanya pada siapa? Atau sekedar mengobrol sesuatu. Karena nyatanya di antara mereka tidak ada yang aku kenal. Orang-orang divisiku sudah pulang lebih dulu pastinya. Karena aku cukup lama mampir ke toilet dan sibuk membersihkan noda kuah soto di kemejaku. Oke, itu cerita memalukan untuk hari pertamaku bekerja. Aku yang ceroboh malah tak sengaja mengenai kuah soto di bajuku sendiri.


Refleks aku menunduk untuk memastikan noda di pakaianku pada bagian dada apakah cukup menarik perhatian orang lain atau tidak. Padahal aku sudah berupaya membersihkannya tadi, tapi noda kuning itu memanglah masih ada.


Oh, aku tidak akan menggunakannya lagi untuk seterusnya. Tapi bukan berarti aku akan membuangnya juga. Ini akan menjadi baju dalam kategori kenanganku di hari pertama bekerja.


Kuangkat kepalaku saat menyadari bahwa pintu lift tertutup. Aku hanya sendirian? Ah rupanya tidak. Ternyata ada seseorang yang saat ini tengah berdiri memunggungiku, selangkah di depanku.


Tak butuh waktu lama saat kemudian pemilik tubuh tegap itu pun berbalik untuk menghadapku.


Mati aku.

__ADS_1


...•••...


...😜...


__ADS_2