Like Drama

Like Drama
Fourty


__ADS_3

Aku menatap kosong pada pusara papa yang masih baru itu. Tak ada air mata anehnya. Aku tak ingin menangis. Seperti ada sesuatu yang mengganjal hingga membuat air mataku tertahan di suatu tempat. Aku hanya menatap dan menyaksikan semua prosesnya hingga papa dimakamkan hari itu juga.


Masih kudengar mama yang sesenggukan di sampingku. Bahkan tadi mama sempat dua kali pingsan saat jenazah papa dikafani dan saat papa sudah mulai memasuki liang lahat.


Jariku sedang memilin kelopak bunga yang ditabur di atas gundukan tanah itu, dengan menatap kosong tanpa suara. Ya, bahkan tak ada yang sedang kufikirkan. Aku hanya sedang mengulang kembali tiap kalimat yang papa ucapkan tadi, sebelum papa menghembuskan nafas terakhirnya.


Sesingkat itu?


Sungguh sesingkat itu. Aku marah sekaligus bersyukur karena aku masih sempat berbincang dengan papa meski hanya beberapa saat saja.


Aku juga sempat murka kepada mama yang selama ini menyembunyikan penyakit papa dariku. Mengapa mereka setega itu? Aku juga berhak untuk tahu segalanya. Dan yang terpenting adalah, aku ingin menghabiskan banyak waktu bersama papa. Apapun keadaanya.


Tapi kini ... semua telah terjadi. Yang tersisa hanyalah tinggal kenangan belaka. Kuhitung, bahkan tak lebih dari sejam saat aku akhirnya berbicara dengan papa sebelum papa menutup matanya. Selamanya.


Papaku tersayang.


Aku kehilangan separuh jiwaku sekarang. Kesatria dalam hidupku itu kini telah pergi untuk selamanya. Dan tak akan pernah kembali lagi. Kepergiannya seakan turut serta membawa sebagian jiwaku bersamanya.


Aku terpuruk. Amat sangat terpuruk dengan kepergian papa. Aku jatuh dengan keras menghadapi kenyataan bahwa hampir saja aku tidak sempat bertemu dengan papa untuk terakhir kalinya.


Namun masih ada setitik ke warasanku di tengah keterpurukanku ini. Yakni, mama. Ada satu kehidupan lagi yang aku harus jaga segenap jiwaku. Satu-satunya yang kumiliki dan aku amat menyayanginya. Aku harus jauh lebih tegar dibandingkan mama. Karena hanya mama-lah kini hartaku satu-satunya.


...🔷🔷🔷...


Hari-hari berat setelah kepergian papa tercinta berhasil aku lalui berdua bersama mama. Kenyataan untuk dapat bangkit dari keterpurukan itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Ada tahapan di setiap waktunya. Harus ada yang berperan berdiri disaat yang lain sedang terpuruk ... lagi. Begitulah antara aku dan mama dalam melewati masa-masa berkabung kami. Kami saling menguatkan, saling menjaga, dan saling memberi harapan.

__ADS_1


Kami masih berada di Jepang sekarang. Rupanya sebulan lebih berlalu sejak mama membuka sebuah usaha toko kue di Yokohama bersama sahabatnya yang warga asli sana. Pengalih fikirannya yakni dengan sibuk bersama sahabatnya itu di toko.


Sedangkan aku?


Aku bekerja sambilan di restoran kecil yang letaknya tak jauh dari toko kue mama berada. Bukan begitu cepatnya kami membutuhkan uang, bukan .. bukan begitu. Papa meninggalkan kami banyak tabungan yang dapat membiayai hidupku dan mama untuk setahun ke depan. Tapi baik aku maupun mama, sama-sama butuh kesibukan untuk pengalih fikiran dan menahan rindu kami pada sosok papa. Sosok yang nyatanya sudah tak ada lagi di dunia ini.


Seminggu lagi wisudaku akan dilangsungkan. Dan niatnya lusa aku akan terbang ke Jakarta bersama mama. Ya, hanya kami berdua. Tanpa papa. Aku sudah terbayang pasti akan menangis karena memikirkan papa yang tak sempat masuk ke dalam foto wisudaku, hari bahagiaku. Andai waktu berbaik hati sedikit lagi saja, maka aku pasti akan mendapatkan foto keluarga yang utuh di hari terindah dalam hidupku itu.


"Azzura, ada yang nanyain nomer hp kamu," bisik Ami padaku. Jadi selain aku, ada juga Ami, gadis Indonesia yang bekerja di restoran ini. Dia fasih berbicara bahasa Jepang, sehingga bantuannya itu amat memudahkan aku yang buta sama sekali terhadap bahasa Jepang. Karena dia yang selalu menjembatani antara aku dan pemilik restoran, juga antara aku dengan karyawan lain, bahkan dengan pengunjung. Meskipun hampir tak pernah aku berinteraksi panjang lebar dengan pengunjung yang datang.


"Siapa?" balas bisikku. Kami sedang sibuk sebenarnya, makanya kami hanya curi-curi waktu saja untuk mengobrol di luar pekerjaan.


"Pengunjung di meja delapan. Cowok Jepang, cuy."


Sudah beberapa kali aku mengalami hal seperti itu. Baik melalui Ami ataupun secara terang-terangan makhluk berjenis kelamin laki-laki seringkali mencoba berkenalan denganku. Hampir rata-rata warga sana asli, alias cowok Jepang. Tapi terkadang ada juga bule yang merupakan turis di sana dengan gamblangnya memintaku buat berkenalan.


Tak ada yang kutanggapi sama sekali. Selain karena aku belum berminat, yah ... mungkin aku masih belum melupakan sosok dia. Tapi aku akan selalu berusaha untuk mengubur dia dalam-dalam di sudut hatiku.


Hanya saja, aku akan selalu berlaku ramah kepada siapapun yang mengajakku untuk berkenalan. Garis bawahi, aku hanya mengerti bila mereka berbicara bahasa Inggris. Bila mereka tidak bisa berbicara bahasa Inggris, maka sudah pasti Ami yang akan mereka dekati lebih dulu.


Dasar laki-laki!


"Hai, my name is Ryu." si cowok pengunjung yang duduk di meja nomor delapan itu mengulurkan tangannya setelah aku meletakkan pesanannya.


Aku tersenyum ramah, seperti biasanya. Lalu kubalas tangannya. "Azzura."

__ADS_1


"that's a pretty name."


"thank you."


"can i have your number?"


To the point sekali.


"Maybe next time." aku undur diri dengan sopan. Tidak perlu menanggapi atau marah atas godaan pengunjung genit, cukup hanya menghadapi dengan senyuman, sebab itu adalah inti dari pelayanan restoran ini. Sudah pasti aku masih ingin melanjutkan untuk bekerja di sini setelah selesai wisuda nantipun.


Ya, aku sudah memutuskan untuk hidup bersama mama di negeri orang ini.


"Cakep tahu, Zura," sambut Ami di dapur.


"Semua cowok kamu bilang cakep, Mi." setiap ada yang menanyaiku seperti tadi, maka Ami akan selalu berkomentar bahwa cowok itu ... cakep.


Ami terkekeh. "Ya nyatanya memang mereka cakep-cakep. Gaet satu orang kan gak rugi, Ra. Pengalaman gitu pacaran sama cowok Jepang. Aku yang kepengen dapet sipit-sipit tapi yang nyantol malahan lokal Indonesia Raya lagi. Hhhh,"


"Yang penting kan baik, Mi."


"Iya sih,"


"Udah ah, lanjut kerja!"


...***...

__ADS_1


__ADS_2