
Lanjut! Selamat membaca buat yang suka sama novel ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aku mengajak Reiki ke Dufan. Aku tidak bercanda. Meskipun tampilan dan aura Reiki amat sangat tidak pantas untuk berada di arena bermain itu, tapi aku memang sengaja mengajaknya kemanapun aku mau.
Namun ternyata Reiki tak pernah mengunjungi Dufan. Serius pria itu belum pernah menginjakkan kakinya ke Dufan sama sekali setelah dewasa, katanya. Selain karena tidak ada urusan pekerjaan di sana, pria itu juga tidak tertarik dengan permainan anak-anak. Bisa kubayangkan betapa membosankannya hidup Reiki selama ini.
"Mau apa kita di sini?" tanyanya sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya. Tampilan pria itu terlihat casual sekarang. Dia sempat-sempatnya mengganti pakaian dulu di rumahnya yang bahkan belum selesai direnovasi itu. Dan kini tentunya selain tampan dia juga terlihat lebih ... muda.
Jujur saja aku merasa bangga bisa berdiri dan berjalan berdampingan di sisinya. Rasa-rasanya semua mata perempuan melirik pada pria di sampingku ini.
Ingat, Zura ... ini hanya sementara. Aku memperingatkan diriku yang mudah terlena ini. Sangat sangat payah.
Hanya saja, sisi egoisku selalu berkata; izinkan aku merasakan bahagia ini sebentar lagi aja. Hingga akhirnya nanti aku menemukan sebuah cara untuk pergi dari hidupnya. Dari pria yang kini terasa istimewa di mataku
Aku menggeleng untuk mengusir semua yang ada di kepalaku. "Ya mainlah, Mas. Serius Mas Rei gak pernah main di sini?"
Reiki mengangguk sekali. "Aku hanya bermain golf, berkuda, bowling, wall climbing, dan banyak lagi."
Ah yaa ... kita tuh jelas sekali berbeda kelas. Aku mah diajak main roller coster saja sudah bahagia kayak apa.
"Ayo!" ajakku sambil menarik tangannya.
Dia tersenyum kecil melihat tingkahku yang kegirangan. "Tidak. Aku melihatmu saja."
"Takut?" aku menantangnya. Tapi sepertinya dia tidak terpengaruh.
"Tentu saja tidak, Sayang," sahutnya santai. "Aku hanya tidak berminat."
"Oh ya sudah." aku melepaskan genggamanku dari tangannya. Kemudian aku berjalan menuju roller coster favoritku yang letaknya tak jauh dari tempat kami berdiri. Antrian terlihat tidak begitu panjang sehingga tak butuh waktu lama saat aku sudah mendapat giliran untuk menaikinya.
Aku menempati kursi paling depan pada permainan itu. Seorang lelaki muda terlihat duduk di kursi sampingku.
__ADS_1
"Turun!" aku sangat terkejut saat menoleh dan tahu-tahu mendapati Reiki yang telah berdiri di dekat roller coster sebelah kursiku. Dia sedang menatap tajam pada lelaki di sampingku.
Dia tuh kenapa sih?
"Ngantri, bro!" sahut si lelaki tak terima.
Reiki yang kata-katanya tidak dituruti itu terlihat perubahan pada raut wajahnya yang menjadi kaku secara jelas. Oh no! Sebelum Reiki melakukan sesuatu yang besar, keributan besar lebih tepatnya, maka lebih baik aku segera turun dari arena permainan ini, meninggalkan dia dengan langkah yang terburu-buru.
Kulirik dia sudah mengejarku yang telah berjalan mendahuluinya. Kesal dan sebal rasanya aku tuh. Bisa-bisanya Reiki ingin menciptakan keributan di tempat umum.
"Sayang, katanya mau naik?" suaranya memanggil di belakangku.
Masa bodo.
Aku mengabaikannya untuk terus menuruti langkah cepatku pergi dari sana. Kemudian aku berhenti di dekat sebuah pohon yang rindang, yang ada di sana. Lalu aku menoleh tajam padanya, sembari mendelik sebal. "Mas Rei tuh kenapa sih? Masalahnya apa? Tadi aku ajak naik gak mau. Tapi setelah aku naik, malahan resek."
"Aku tidak mau siapalah itu duduk di dekat kamu."
"Karena dia laki-laki."
"Apa–" ya Tuhan ... jadi aku harus menghindari semua laki-laki kecuali dia, begitu? "Mas Rei fikir bisa mengatur siapa saja yang boleh duduk di dekatku, gitu?"
"Bisa. Aku selalu bisa mengatur segalanya," jawabnya penuh percaya diri.
Oke, aku tidak perlu meragukan kemampuan penerus Maheswara. Siapapun itu. Karena hanya akan berakhir sia-sia belaka.
Aku menghela nafas dan diam. Terserahlah dia mau apa. Aku jadi tidak mood untuk terus berada di tempat ini.
Namun tiba-tiba kurasakan tanganku sudah digenggamnya dan dia membawaku kembali ke arena roller coster tadi.
Hanya saja ...
Dia melewati begitu saja pada orang-orang yang sedang mengantri. Astaga! Wow! Aku jadi malu pada orang-orang yang sedang mengantri, hingga kututupi wajahku sesaat sebelum aku menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Ku tarik tangannya seketika hingga dia menoleh dan bertanya, "Kenapa?"
"Antri dulu."
"Tidak perlu–"
"PERLU!" sambarku cepat.
Bagaimana bisa tidak perlu mengantri? Aku saja yang antriannya seringkali disela orang, aku merasa kesal setengah mati. Maka aku juga tidak berniat untuk menyela antrian siapapun.
Ku lawan tatapan matanya tak mau dibantah itu. Biarkan saja. Sekali ini saja aku ingin dia yang menurutiku.
Kemudian ternyata Reiki memandang datar padaku. Aku tahu kali ini dia mengalah, dan aku yang menang. Segera saja aku putuskan kontak mata dengannya, dan menarik tangannya untuk kembali ke antrian paling belakang.
Ini orang berat banget yaa ... ditariknya susah.
"Ini buang-buang waktu namanya, Sayang," ucapnya menahan kesal begitu kami sudah berada dalam posisi mengantri. Paling belakang tentu saja. Dia melirik pada jam tangannya dan mendengus pelan.
"Ini namanya antri, Mas Rei sayang," ups– what did I just say?
Aku malu.
Reiki menyentuh tengkukku dan mengecup singkat bibirku. Aku yang sedang dalam mode lemot karena menyesali perkataanku barusan, sehingga tidak mampu bereaksi apapun atas ciumannya beberapa detik yang lalu di tempat umum. "Sering-seringlah memanggilku begitu," bisiknya lembut di telingaku.
Aku keceplosan. Sumpah itu tidak sengaja. Tapi Reiki terlihat bahagia sekali. Sambil tersenyum dia menggenggan erat tanganku. "Antri ... ternyata tidak buruk juga," gumamnya bahagia.
--
Bersambung.
Jangan tanyain Althar ya. Aku nunggu yang komenannya banyak dulu, baru deh update. hehe ....
*
__ADS_1