Like Drama

Like Drama
Seventy Four


__ADS_3

...Happy Reading!...


"Oke, gue menunggu loh, Raju khan."


Alya seperti sedang menyidangku. Matanya mengintimidasi dan tak beralih sedetik pun. Aku tahu bila aku mesti menjelaskan apa yang baru saja terjadi di kontrakan kami.


"Gue juga gak ngerti gimana dia bisa masuk ke kamar gue, Al," setelah helaan nafas, aku mulau bersuara lagi. "Secara, 'kan kontrakan kita bukan rumah dia, sampai dia punya kunci duplikat segala. Ya, 'kan, gimana mungkin?"


"Siapa yang tahu, Ra. Laki lo itu, 'kan bisa melakukan segala cara."


Entahlah. Aku mengendikkan bahu karena tak tahu mesti berkata apa. Memang Reiki itu terlalu ... berkuasa menurutku.


"Trus lo udah dijebol sama dia nih?"


Pertanyaan Alya yang wah tapi kelewat santai itu membuat mataku mendelik tak setuju. "Ya nggaklah!"


"Yakin?"


Mengingat kondisi atasanku yang tak berbusana, aku jadi ragu akan pemikiranku sendiri. Tapi berulangkali otakku mengingatkan apa saja perkataan Reiki tadi pagi. Bahwa dia masih menahan ...


Haduh, entah kenapa wajahku terasa memanas.


"Yakinlah. Celana gue masih utuh di tempatnya."


"Nggak terkoyak atau porak-poranda?"


"Utuh, Al. Masih normal ... kayaknya." aku menelan saliva karena merasa ragu pada kata terakhir barusan. Bagaimana bisa sekarang hatiku berdebar tak karuan. Ya, tentu saja aku takut dengan kenyataan sudah berapa banyak dia menyentuhku.


"Nah loh ..." Alya malah menambah was-was hatiku.


"Dan gue kehilangan baju," cicitku sembari merunduk lemas. Aku yakin Alya masih mendengar kalimatku dengan jelas walau kurasa aku hanya menggumam pelan.


"Ehm, itu artinya wilayah atas sudah terjamah ..." lagi, Alya berkata dengan santainya. Dia yang biasanya pasti akan heboh dan berisik. Tapi kenapa sekarang tidak?

__ADS_1


"Kok lo santai banget bilang begitunya?"


"Ya trus, gue mesti gimana? Jebol ya udah, dia pasti mau tanggung jawab. 'Kan sejak lama juga gue udah merestui lo sama Om Rei."


Kalimat asalnya itu membuat mataku menyelidik tak terima.


"Ya– itu artinya gue bisa tikung ayank Keken gue, 'kan?! hehe ..."


Jadi itu alasannya. Pantas.


"Selain itu ... laki lo itu sebenarnya adalah bos gue."


"Kok bisa?"


"Ya bisa. Gue juga baru tahu kemarin."


Memang sih, aku tidak pernah bertanya sekalipun nama perusahaan dimana Alya bekerja. Selain itu, aku juga tidak pernah tahu persis lokasi kantornya setiap kali kami memiliki janji temu makan siang bareng seperti ini sebelumnya.


"Trus, dengan dia bos lo, maka lo jadi mendukung aksi bejatnya ke gue, gitu?"


"Dia sudah punya tunangan, Al. Dan semua orang sudah merayakannya, kalo lo lupa." satu fakta itulah yang membuatku patah hati. Ya walaupun Reiki bilang kalau dia akan membatalkan pertunangannya, tapi masalah tidak hanya di satu titik itu saja.


"Bilang aja ke keluarganya kalo lo hamil, Raju!"


"Ide yang cemerlang. Gue belum segila itu, Al, sampai mesti melakukan segala cara. Gue tuh udah gak mau maksain apa-apa lagi sama dia. Kalo nyatanya udah gak jodoh ya udah. Gak perlu ngotot. Fokus gue mestinya ke pacar gue sekarang. Iya, 'kan?! Kenneth sudah lebih dari sempurna buat gue."


"Setuju. Keken gue emang yang terbaik."


"Tadi lo mau tikung gue bukannya?"


Alya cengengesan. "Gue sih fleksibel, Ra. Antara kita berdua aja pokoknya jodohnya si Kenneth itu seharusnya. Baru deh gue ikhlas."


Aku membuang nafas frustasi. Ku sedot minumanku yang masih separuh itu.

__ADS_1


"Tapi lo jahat ih, dianu-anu sama si Om di belakang Ken. Nanti gue aduin loh ke Keken."


Aku mengerutan di keningku. "Tapi gue belum–"


"Separuh. Baru separuh lo dianu-anunya."


"Apa sih, Al? kalo gue bisa nolak Kenneth juga, udah lama gue tolak dia."


"Kok?" Alya melotot tak terima.


"Ya, 'kan gue merasa gak pantas buat Ken. Dia berhak dapat cewek yang lebih baik dari gue. Tapi lo tahu sendiri, kalo Ken juga sama keras kepalanya kayak Reiki. Dan lagi, dia selalu bikin gue ketawa karena tingkahnya."


"So ... nona Raju Singh binti ladusingh, lo sukanya sama yang tua apa sama yang ideal tanpa cela?"


"Kok gitu nyebutnya?" protesku. "Reiki juga tanpa cela, selain satu kasus yaitu udah tunangan."


"Nah 'kan, lo mihak si Om itu."


Aku hanya mencebik singkat. Entahlah. Sebenarnya aku tidak menyukai keadaan ini. Keadaan dimana aku mesti terlibat dengan laki-laki kelas atas, di saat aku sendiri hanyalah masyarakat kelas bawah yang tidak sepadan dengan mereka.


"Lo mesti kasih tahu Ken secepatnya, Ra."


Pandanganku kembali pada sahabatku itu. "Hah?"


"Hubungan lo sama Reiki, lo mesti kasih tahu ke Kenneth secepatnya, segera, ASAP. Baik itu hubungan beberapa waktu lalu, maupun sekarang. Intinya lo mesti terbuka, jujur, dan pasrah. Karena kalau setelah lo cerita trus Ken berpaling dari lo ke gue, maka lo kudu pasrah. Oke?"


"Gitu, ya?"


"Iya, begitu."


Alya benar. Aku mesti segera menceritakan kisah yang Kenneth belum tahu tentangku dan sepupunya. Walaupun ada rasa khawatir di sudut hatiku akan reaksi Ken setelahnya, tapi mau tak mau aku memanglah mesti bercerita. Dengan resiko aku akan menyakiti Ken dan membuatnya menjauhiku.


Jangan. Aku harap Ken tidak akan pernah menjauhiku dalam artian memusuhiku. Jauh tidaklah mengapa. Asalkan pertemanan kami tidak musnah.

__ADS_1


...****...


sorry for typo


__ADS_2