Like Drama

Like Drama
Fourty Six


__ADS_3

"Elo yakin sama keputusan lo?" tanya Alya dengan cemberut. Mungkin sudah ratusan kali dia bertanya hal serupa seperti itu sejak kemarin. Tepatnya sehari setelah kami wisuda.


Saat ini aku telah selesai mengikat tali sepatuku dan menggendong ranselku dengan nyaman. Tak lupa koperku yang sudah siap dengan barang-barang pribadiku, di sisiku.


"Yakin, Al. Jangan tanya itu terus kenapa. Ini kan gue udah mau jalan. Masa gak yakin?"


"Ya udah, gue ikut ..." rengek Alya. Dia terus saja marah lalu merengek, marah lagi, merengek lagi sejak semalam.


"Gak boleh. Masih gak ngerti juga sih lo."


"Gue nangis nih, Ra ..."


"Ya udah nangis aja. Gak ada yang larang juga."


"Kejam banget sih lo ..."


"Kalo gitu gue aja yang ikut," sela Radit.


Ini lagi ... sama aja.


Sehari setelah wisuda aku memutuskan untuk melakukan perjalanan. Yah, sebuah keputusan yang tiba-tiba terlintas dalam benakku. Aku ingin pergi kemana saja yang aku mau. Yang penting aku ingin berdamai dengan takdirku. Karena percuma bila aku mulai mencari pekerjaan saat ini, di saat hati dan otakku terasa mati, maka yang ada hanyalah rasa enggan untuk menyadari dunia.


Oleh sebab itu, dengan mantap aku putuskan, akan lebih baik bila aku pergi berkelana. Travelling istilah sesungguhnya. Tapi rasa berkabungku tak ingin mengatakan kalau ini adalah jalan-jalan semata. Ya, aku masih berkabung. Maka kuanggap ini adalah bentuk lain dari usahaku dalam mengembalikan kewarasanku, mengembalikan semangat hidupku yang sempat redup. Dengan pergi ke tempat asing yang jauh dari Jakarta untuk menenangkan diri, rasanya itu akan terdengar cukup baik.

__ADS_1


Tidak mungkin aku kembali ke Jepang untuk saat ini. Terlalu berat aku mengingat semuanya, segala peristiwa yang telah terjadi di sana. Meskipun pada kenyataannya makam kedua orang tuaku berada di sana.


"Ayo antar gue," ucapku pada Radit sambil melangkah. "Dadah Alya!" aku menggoda Alya yang saat ini tengah kepengen level dewa untuk ikut bersamaku. Namun sayang, kedua orang tuanya, yakni om Sandi dan Tante Lia, tidak mengizinkan putri semata wayangnya untuk berada jauh dari mereka.


Dan aku amat mengerti itu.


"Enak aja! Gue ikut ke bandara lah." Alya buru-buru menaiki mobil dan menempati kursi penumpang di depan, di samping Radit yang mengendarai.


"Sampai bandara doang loh ya, gak sampai Bali."


"Lo nyuruh gue terbang buat nyusul Raju gitu? Secara, gue gak punya tiket pesawat," gerutunya sebal.


"Jalan kaki, Al. Punya kaki kan?!"


"Ngomong lagi bakalan gue sumpel mulut lo pake kaki gue, Dit."


Ya, aku akan ke Bali untuk seminggu, niat awalnya. Begitupun dengan yang kukatan pada dua sahabatku itu. Tapi ... sepertinya akan lebih dari seminggu kurasa. Entah beberapa lama aku juga tidak dapat memastikan. Itu keputusanku semalam yang langsung saja kupesan tiket pesawat ke sana segera.


Papa pernah mengutarakan keinginannya untuk mempunyai rumah di Bali. Dan aku kesana lantas bukan maksud untuk membeli rumah. Bukan. Aku belum mantap untuk tinggal seorang diri jauh dari Alya dan Radit. Bisa dikatakan, aku lebih merasa tenang bila ada Alya dan Radit yang dengan mudah kutemui segera bila aku menginginkannya. Termasuk kedua orang tua Alya dan Radit yang sudah kuanggap sebagai orang tuaku juga.


"Enak kali ya liburan sebentar," ujar Alya saat kami sudah dalam perjalanan menuju bandara. "Sayang sekali surat dinas gak turun dari bokap nyokap."


"Lo tuh suka amnesia kalo ada di tempat bagus, Al. Masih gak nyadar juga sih!" sahut Radit. "Ke Bandung aja kalo gak gue paksa pulang, lo bakal ilang di kebun teh, tau!"

__ADS_1


"Lo mah suka lupa diri sih, Al," tambahku juga. "Nanti kalo ilang di Bali, bisa gue yang repot."


"Tapi kan niat gue tuh mau nemenin lo, Raju. Bukan buat senang-senang doang. Ya gitu deh."


"Gue lagi butuh sendiri dulu, Al," suaraku memelan. Ada banyak hal yang harus kutahan hanya sampai di tenggorokan. Tak mampu untuk ku utarakan.


"Iya gue ngerti. Tapi kan gue hawatir sama lo ..."


"Doain aja. Biar minggu depan gue balik dalam keadaan hati yang sudah bahagia."


"Lo tuh gak sendirian, Raju sayang. Lo gak pernah sendirian. Selalu ada gue sama Radit tempat lo kembali pulang. Ngerti?!"


"Iya, ngerti."


"Kabarin setiap hari ya," sela Radit. "Gak boleh lupa laporan kabar setiap harinya."


"Iya-iya ...."


Ada perasaan hangat saat kedua sahabatku itu memperlihatkan rasa kekhawatiran mereka padaku. Aku kan jadi merasa tidak sendirian. Dan aku janji akan selalu ngobrol dengan mereka dimanapun aku berada.


"Yakin nih cuma seminggu?" tanya Alya lagi. "Cuan lo kan binyik bingit tuh, jangan-jangan lo beli rumah lagi di sana? Kok gue jadi iri ya?"


"Apa sih, Al?" elakku. "Gue juga gak tahu berapa lama. Minimal seminggu sudah pasti. Sebab gue emang pengen cari ketenangan. Pengen cari udara baru sambil gue berupaya mengikhlaskan kepergian kedua orang tua gue."

__ADS_1


"Iya deh iya ... gue doain lo baik-baik aja, selamet, dan bahagia. Jangan lupa pulang!"


🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠


__ADS_2