
Kemana perginya Alya?
Ya ampun. Hariku rasanya menjadi bertambah buruk setelah tidak menemukan sahabatku itu di kosan. Ponselnya pun tidak aktif. Maka satu-satunya yang kulakukan adalah segera menghubungi Radit. Memangnya siapa lagi kan?
Ternyata Alya pulang ke rumah orang tuanya, begitu isi pesan Radit setelah aku menanyakan keberadaan si Alya. Lalu tentang ponsel Alya yang tidak aktif, Radit pun tidak mengetahui alasannya.
Aku berniat untuk menemui Radit saja, tapi temanku itu saat ini sedang bekerja part time.
Apa temanku hanya Alya dan Radit? Tentu saja tidak. Banyak yang lain juga. Tapi saat ini aku hanya ingin curhat. Dan teman yang kupercaya untukku berbagi cerita mengenai hidupku lebih dalam hanyalah Alya dan Radit saja. Itulah aku.
Akhirnya aku putuskan untuk pergi sebentar ke toko buku yang letaknya tak jauh dari kosan. Aku harus membeli beberapa buah novel supaya fikiranku dapat teralihkan dari semua hal yang berhubungan dengan dunia Reiki. Duniaku yang terseret pada dunia Reiki. Begitu kurang lebih.
Mendapat pilihan beberapa cerita komedi untuk kubawa pulang dan menghibur hariku yang buruk ini. Sepertinya hanya itu yang akan aku lakukan. Tenggelam bersama novel di kamar apartemen Reiki yang wah itu untuk sementara waktu. Aku belum memikirkan akan menyiapkan lamaran pekerjaan kemana. Tentu saja, karena sebelum aku melakukan itu semua, ada hal lebih penting dulu yang hendak kulakukan dalam waktu dekat.
Begitu tiba di apartemen, aku segera mengambil minuman dan cemilan untuk kubawa ke kamar. Menikmati hariku yang terasa suram, karena aku tahu mesti melakukan apa lagi.
Tak terasa dua jam sudah aku tenggelam dalam novel yang cukup menghibur itu. Tahu-tahu perutku terasa lapar. Memang ini sudah jam makan siang.
Aku keluar kamar dan berniat membuat mie instan yang telah kusembunyikan sejak seminggu yang lalu. Alasan mengapa ku sembunyikan adalah karena Reiki tidak mengizinkanku untuk memakan mie instan sama sekali. Sekarang, ketika pria itu sedang berada di kantornya, maka aku akan memasak mie instan yang telah lama kurindukan dengan aman. Maybe!
"Kamu masak apa?"
Astaga! Sejak kapan pria itu sudah berada di belakangku? Bukankah dia sedang berada di kantornya?
Manusia? Setan?
"Hehe ..." aku menggigit garpu karena gugup. Tertangkap basah sedang memasak makanan yang dibenci oleh Reiki membuatku takut juga. "Itu ..."
Reiki menyilangkan tangannya di dada dan menatapku penuh intimidasi. Itu kebiasaannya. Atau lebih tepatnya, aku sudah biasa ditatap dengan tatapan seperti itu.
__ADS_1
"Harus berapa kali kubilang, Sayang ... bahwa tidak.ada.mie instan.selamanya."
"Sekali doang, Mas ... pliiis ...."
"No."
Aku mencebik sambil memainkan garpu di bibirku. Kulirik air yang kurebus sudah mulai mendidih. Langsung saja aku berbalik badan dan memasukkan mie ke dalam panci. Masak jalan terus. Terlanjur ngeces. Aku kepengen banget. Sudah kepalang tanggung begini, terserah dia mau marah atau apa. Aku gak peduli.
"Sayang ..."
"Sekali ini doang, Mas ..." sahutku santai yang memunggunginya. Tanganku mulai memasukkan telur, sayuran hijau dan cabe rawit. Mie instan dengan cabe rawit adalah sahabat sejati menurutku.
Dan saat itu bel pintu berbunyi. Ku dengar langkah Reiki yang sudah berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.
Lalu mie instan special 2 telorku pun matang. Wuihhh ... harumnya menggoda. Sudah sebulan sepertinya aku tidak memakannya.
Aku meletakkan mangkuk mie di meja makan. Siapapun tamu yang datang itu aku sangat berterima kasih, karena berkat kedatangannya mampu mengalihkan perhatian Reiki pada mie instan kesukaanku ini.
Hanya saja, ada rasa penasaran juga siapa tamu tersebut. Aku pun berniat untuk mengintip tamu yang datang siang ini, bertepatan dengan Reiki yang mendadak pulang dari kantornya. Hanya sedikit intipan tanpa niat aku untuk menunjukkan diri apalagi mengganggu. Tidak sama sekali.
.
.
Seorang wanita dewasa yang seksi terlihat dari penampilannya cukup untuk membuat mata setiap pria melotot, kini sedang duduk manis di sofa. Cantik, seksi, dan dewasa. Satu kesatuan yang sempurna yang dimiliki olehnya. Wanita cantik berambut coklat itu ... sangat sangat cantik. Hanya itu yang mampu kujabarkan. Kalau Janeta terlihat cantik versi lokal, maka wanita yang sedang berbicara bersama Reiki sekarang adalah wanita cantik versi bule. Mungkin blasteran. Ya ampun, jika melihat diriku sendiri, aku hanya remahan rengginang dibandingkan dia yang mungkin adalah seorang model. Body goals itu ... amat sangat membuat semua kaum sejenisnya iri. Termasuk aku.
Ah cukup-cukup. Aku minder bila menilai penampilannya. Sekarang aku akan fokus pada pembicaraan mereka saja.
"Rei, aku tidak mau tahu. Aku harus bertemu Tante Widia!" suara wanita itu agak meninggi.
__ADS_1
Ah rupanya masih Indonesia juga. Hanya saja, dia berasal dari jenis bibit terbaik kurasa. Hihi ...
"Tidak bisa," itu jawab Reiki datar.
Aku semakin memasang telingaku baik-baik. Entah mengapa aku malah kepo. Ini bukan gayaku, tapi ... aku memang kepo kali ini. Oke, lanjut menguping!
"Aku merindukanmu, Rei." wanita itu menggeser duduknya menjadi lebih merapat pada Reiki sambil mengelus pelan punggung tangan Reiki yang berada di lututnya dengan menggoda. Dan kulihat Reiki tidak bergeser menjauh ataupun mencoba menghindari kontak fisik yang sedang wanita itu coba lakukan kepadanya. Sama sekali.
Rasanya nafasku menjadi berat menyaksikan tangan wanita itu semakin ke atas, tepatnya sedang meraba dada bidangnya Reiki dan berlama-lama di sana. Lalu jemari itu menaik lagi, menelusuri leher Reiki hingga tiba di pipi itu. Pipi yang setiap malam menempel di pipiku.
Lalu nafasku seakan terhenti tatkala kusaksikan wanita itu mencium bibir Reiki.
Ya ampun.
Mereka berciuman.
Masih kusaksikan bahwa Reiki tidak menghindar apalagi mendorongnya.
Mereka masih berciuman.
Oh refleks aku membalikkan badan dan berjalan sedikit goyah ke arah meja makan. Entah dari mana asalnya saat kurasakan air mataku menetes. Hanya setetes. Tak kubiarkan lebih dari itu.
Hatiku sakit?
Iya. Hatiku terasa sakit melihatnya. Amat sangat sakit.
Mungkin ... inilah rupanya alasan terkuatku untuk pergi darinya. Ya, Tuhan memberiku sebuah alasan untuk dapat lepas dari pelukan seorang Reiki Maheswara.
...¤¤¤¤¤...
__ADS_1