
Aku selesai membuat secangkir kopi saat kutemukan Mas Alvin sedang menatapku di depan pintu pantry.
"Mas Alvin?" tanyaku bingung karena lelaki itu nampak tajam tatapannya. Sekalipun begitu, masih ada kesopanan dibaliknya. "Mau bikin minuman juga?"
Dia mengangguk. "Ayo, kita duduk di sini." maksudnya adalah di dalam pantry.
"Aku–" aku mau minum di mejaku saja, begitu niat awalku.
"Sesekali kita nongkrong berdua aja." suara Mas Alvin yang sedikit memaksa itu baru pertama kali ku dengar. Dan sudah pasti aku tidak enak untuk menolaknya.
"Kamu pacaran sama Kenneth, anaknya bos besar?" tanyanya saat kami sudah duduk bersisian di depan meja.
"Ha?" Pertanyaannya itu tak pernah kuduga. Dapat dikatakan kalau selama ini kami tidak akrab. Walau acapkali bersama dalam satu meja tongkrongan kala jam istirahat, tapi kami bersikap kaku satu sama lain. Baik dia yang pendiam, ataupun aku yang memang terlalu malu karena masih karyawan baru, sama-sama jarang berinteraksi kalau bukan hal yang penting sekali. Dan aku hanya bersikap sopan kepadanya.
Namun, rasanya sekarang aku paham kemana arah pembicaraannya. Hanya saja aku masih belum bisa menebak berdasarkan apa sampai dia atau bahkan mungkin orang-orang satu kantor mengetahuinya.
"Aku lihat kamu masuk ke mobilnya kemarin. Dan aku tahu pasti kalau itu mobil Kenneth."
Oh begitu.
Aku menanggapinya dengan senyum tipis. Sebaiknya aku harus memberikan konfirmasi segera bahwa aku dan Kenneth hanyalah teman dekat saja. Ya, biarlah begitu. Sampai hatiku jelas nanti inginnya bagaimana. Sebab pembicaraanku dengan Ken sepertinya adalah hal yang sia-sia saja. Baik Ken maupun Reiki keduanya sama-sama menginginkanku. Apa aku terlalu kepedean? Aku harap ya. Tapi nyatanya aku melihat kesungguhan pada keduanya.
Baru saja aku hendak membuka suara, lelaki itu berkata lagi, "Aku juga lihat kamu sewaktu dia jemput kamu ..."
Aku menunggu kalimatnya yang terdengar menggantung itu. Tapi kemudian dia terlihat canggung sembari memegang tengkuknya dan melayangkan senyum kepadaku.
"Hm, maksud aku, apa benar kabar itu?"
"Aku ..." seharusnya aku tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan apapun kepadanya. Tapi, "Aku deket sama Ken," sahutku datar. oke, segitu aja cukup.
Dia mengangguk paham dan tak mengatakan lebih lanjut apa yang ada di dalam kepalanya saat ini.
Keheningan menyelimuti kami sehingga hal yang baik aku maupun dia lakukan adalah hanya fokus kepada minuman kami masing-masing.
"Kalau begitu ..." suaranya tak lama kemudian menyita perhatianku dari cangkir kopi milikku sendiri. Aku menatap dan menunggunya melanjutkan kalimatnya. "Aku juga mau jadi teman dekat kamu."
Bagaimana deh?
Ya, aku mencerna dan terpaku akan kalimatnya. Aku menduga-duga kiranya apa makna dibalik pertanyaannya barusan. Atau jangan-jangan aku kepedean lagi?
"Boleh?"
Tentu saja aku mengangguk. Kenapa kami tidak boleh berteman –dengan mengabaikan kata 'dekat'– karena nyatanya kami rekan sekantor, 'kan?!
"Boleh, Mas. Aku senang bisa dianggap teman sama–"
__ADS_1
"Maksud aku ... aku pengen mengenal kamu lebih dekat, Ra. Jujur aku tertarik sama kamu sejak pertama jumpa."
Serius, lagi-lagi aku terpaku dibuatnya. Ini gimana maksudnya? Mas Alvin naksir aku?
Kalau boleh kujabarkan, lelaki di sampingku ini terlihat cukup manis. Sosoknya yang kalem berkebalikan dari Ken yang ceriwis dan nggak bisa diam. Hidungnya mancung, dan matanya bulat. Warna kulitnya agak gelap bila dibandingkan dengan Ken, tapi tidak bisa disebut coklat juga.
Aissh, kenapa aku selalu membandingkannya dengan Ken? Jelas jauh. Ken itu artis yang butuh dan selalu banyak perawatan. Sedangkan Mas Alvin hanya pegawai kantoran biasa.
Kalau kuperkirakan, Mas Alvin ini mungkin sama tingginya dengan Ken. Tuh, 'kan ... Ken lagi.
Tapi ...
Itu hanya penilaian biasaku terhadap orang-orang yang ada di kantor. Bukan karena aku tertarik melihat cogan atau sejenisnya. Kalau ternyata dia naksir aku, lalu aku mesti bagaimana sekarang? Haduh.
Bagus dong, Ra, ada pilihan lain yang rakyat jelata. Siapa tahu sukses!
Nah, itu barusan suara hati kecilku yang kuanggap genit. Iya, genit. Bagaimana bisa aku memikirkan lelaki lain lagi di saat masalahku dengan dua orang Maheswara belum juga beres.
Ya ampun.
Aku menghela nafas lalu meneguk lagi sisa kopi yang masih dapat ku nikmati.
Namun, suara langkah seseorang memasuki area pantry membuatku dan Mas Alvin menoleh. Mataku langsung melebar seketika karena mengenali orang itu. Orang yang selalu menggunakan setelan hitamnya dan berdiri siaga di hadapanku. Masih tersimpan dengan baik dalam ingatanku akan sosoknya yang sering menguji kesabaranku beberapa waktu lalu.
"Siapa?" bisik Mas Alvin di dekatku.
Kenapa laki-laki itu ada di sini? Ini bahkan bukan gedung kantor milik bosnya. Ya Tuhan, firasatku tidak enak.
.
.
"Mana bisa seenaknya begini?" aku tak terima saat laki-laki itu sudah menggiringku berjalan menuju lift. Bahkan tasku sudah ditentengnya dan aku sampai malu saat Abel tadi sempat bertanya namun kuabaikan. Bahkan Mas Anjas dan yang lain juga tak mampu ku jelaskan mengenai siapa laki-laki yang sedang memaksaku dengan sopan ini.
Ya, Johan amat sopan dengan membawa nama Om Damar yang katanya sudah memberikanku izin untuk pulang.
Johan tak menyahut. Dia pastinya hanya selalu menjawab bahwa dia hanya menjalankan tugas.
Ya ampun, entah kapan tenangnya hidupku ini.
"Kalau sampai aku dipecat, itu salah Mas, Om, Pak Johan," bisikku tajam. Aku sudah tidak punya muka untuk menjadi pusat perhatian semua orang. Aku juga masih tidak konsisten untuk memanggil orang kepercayaan Reiki ini dengan apa yang tepat. Masa bodo.
"Tidak akan, Non."
"Memang nggak. Tapi aku bakalan resign karena malu. Punya skandal sama anak bos sekaligus sepupunya. Oh ya ampun, ini bikin kepalaku sakit."
__ADS_1
Pintu lift terbuka. Johan menungguku memasukinya lebih dulu. Lalu dia menyusul di belakangku.
"Memangnya kita mau kemana?" tanyaku kesal. Tapi aku tahu kalau laki-laki itu tidak akan menyahut. Maka aku melanjutkan gerutuanku. "Kalaupun ada perlu sama aku, seharusnya bos Pak Johan itu bisa mengerti kapan jam pulang kerja aku." aku bersandar pada dinding lift dengan pasrah. "Ini masih pagi buta. Ini seharusnya baru masuk jam mulai kerja, dan dia malah menghancurkannya. Bagus. Setelah ini tambah aja si Ken juga datang. Perang dunia deh mereka! Biarin."
Hidup macam apa sih ini? Rasanya akan selalu kacau bila aku terus berada di dekat Maheswara itu. Cara terbaik agar hidupku normal lagi ya mesti menjauh. Menjauhi sumber masalah adalah solusinya.
Tapi,
hatiku keberatan.
Mungkin, agar supaya hatiku tidak merasa keberatan, aku mesti menyelesaikannya. Ya, sepertinya begitu. Satu persatu masalah ini harus ku selesaikan sebelum para tetua Maheswara mengetahuinya dan membuat hidupku lebih sengsara lagi.
...---...
Apa-apaan ini? Si bos besar itu dengan santainya sedang duduk di sebuah resto untuk sarapan, kalau aku tidak salah sangka. Sebab di tangannya saat ini ada secangkir minuman –yang ku pastikan kopi– juga beberapa piring menu sehat breakfast khas Reiki.
Dia menatapku dengan tenang saat wajah kusutku membalasnya sembari menempati sebuah kursi dengan kasar.
"Aku mau bersekutu sama grandma aja," kataku dengan ketus. "Aku mau jadi mata-mata supaya tunangan Janeta ini nggak selingkuh."
Reiki tersenyum kecil sebagai tanggapan. Dia menatapku lekat saat menghirup minumannya kemudian dengan perlahan
Apa? Aku sudah minum kopi tuh.
Seorang pelayan meletakkan secangkir teh dan sepiring sandwich di hadapanku.
"Aku sudah sarapan."
"Aku belum."
"Bukan urusanku."
"Sayang, sarapan," suruhnya dengan lembut. Dia mengabaikan kekesalanku. Dan itu semakin membuat kepalaku serasa berasap.
Aku mulai berfikir untuk pindah negara agar tidak terlibat dengan Maheswara sekeluarga. Tapi sayangnya aku miskin. Dari mana biaya hidup untuk berada di negara orang, 'kan?!
Uhh, aku frustasi.
Ku gigit kasar roti dengan sebelah tanganku menopang pipiku. Karena aku enggan untuk menatap pria yang sialnya masih mendapat tempat teratas di dalam hatiku.
Gila. Zura gila.
...****...
Bersambung, pemirsah .... 😂
__ADS_1