Like Drama

Like Drama
Fourty two


__ADS_3

Happy reading!


"Hai!" si cowok Jepang itu sedang tersenyum menyambutku. Ryu. Cowok yang kemarin mengajakku berkenalan, kini telah nampak lagi di depan pintu masuk restoran.


Aku yang baru saja akan berjalan memasuki restoran, terpaksa haruslah berhenti sesaat. Masih ada dua jam sebelum restoran akan mulai menjalankan bisnisnya seperti biasa.


Aku tersenyum singkat kepadanya. "Hai!" balasku menyapa.


"Azzura, boleh aku minta nomor ponselmu? Nanti sore aku akan menjemputmu. Bagaimana?" tanyanya dalam bahasa Inggris yang lumayan fasih.


Dia gigih juga rupanya. Setelah kemarin aku menolak memberikan nomorku, kini cowok bermata sipit itu mencoba mengulang kembali.


"Aku pulang dengan ibuku," tolakku secara halus.


"Aku akan mengantarmu pulang dan juga ibumu."


Ya ampun.


"Tidak, Ryu, terimakasih."


"Kau masih mengingat namaku?" tanyanya dengan wajah semringah. Nampak sekali kalau ia bahagia hanya karena aku menyebut namanya.


So, mengapa tidak? Baru kemarin berkenalan masa aku sudah lupa.


"Tentu."


"Oh senangnya!" dia tersenyum lebar. Manis juga. Tapi sebatas itu saja. Aku tidak tertarik.

__ADS_1


"Boleh aku lewat?" dia berdiri di depan pintu, sehingga menghalangiku untuk memasuki restoran.


"Jam berapa kamu pulang? Aku akan menunggu." cowok itu belum menyerah juga rupanya. Entah mengapa penolakan halusku tak mampu membuatnya mundur.


"Tidak. Jangan, Ryu! Tidak perlu menungguku."


"Aku tetap akan menunggu." dia mengedipkan sebelah matanya dan pergi meninggalkanku begitu saja. Sedangkan aku memandang pasrah saat perlahan cowok itu menghilang setelah berbelok meninggalkan wilayah restoran. Kemudian aku masuk ke dalam restoran untuk segera menjalankan kewajibanku.


"Akhirnya Azzura telah memilih satu," sambut Ami yang sedang menggelung rambutnya agar tidak berantakan. Kami masih di dekat loker penyimpanan barang untuk bersiap-siap, sebelum pekerjaan dimulai sebentar lagi.


"Apaan?" tanyaku cuek seraya meletakkan tasku di sebuah loker.


"Cowok Jepang."


Lalu aku mengambil sebuah ikat rambut dari dalam tas dan segera menguncir rambutku agar tidak mengganggu. "Aku belum mau memikirkan hal seperti itu dulu, Mi. Masih banyak yang ingin aku capai beberapa tahun ke depan."


"Kamu kenal sama Ryu?"


"Jangan jealous dulu! Tadi sebelum kamu sampai, aku lebih dulu ketemu sama dia. Dan dia nanyain kamu ke aku, Ra."


"Siapa yang jealous?"


Ami tertawa menggoda. "Cie ... cie ..."


"Serius, aku nggak tertarik sama dia."


"Kenapa?"

__ADS_1


Aku mengendikkan bahu enggan menjelaskan.


Ami terlihat sedang berfikir. "Kamu pasti baru saja putusan?" tebaknya. "Benarkan?!"


Tanpa aku menyahut rupanya Ami lebih dulu menyimpulkan. Akhirnya aku hanya mampu tersenyum saja.


"Kalo gitu, pas dong. Sekarang adalah waktunya kamu untuk move on, Ra. Lupakan siapapun itu di masa lalu kamu. Saatnya mencari yang baru dan melanjutkan hidup dengan bahagia. Karena hati kamu itu berhak untuk bahagia, Ra."


Kalimat Ami membuatku sedikit tertegun. Aku jadi mengingat ucapan mama semalam. Dan itu menjadikan otakku berfikir bahwa perkataan mereka ada benarnya juga.


Aku pantas bahagia. Benar, kan?!


-


-


Masih ada setengah jam lagi sebelum waktunya aku mendapat jatah istirahat setiap harinya. Aku sedang menyiapkan beberapa minuman sebelum membawanya menuju meja pelanggan. Sang pemilik restoran memanggilku dengan keras dari dalam ruangannya. Belum sempat aku berjalan untuk menghampiri bosku itu, tahu-tahu dia sudah keluar dari ruangannya dengan tergesa-gesa.


Raut wajahnya terlihat panik dan berusaha berbicara dengan setenang mungkin saat menghampiriku.


"Azzura ..."


"Ya?"


"Your mother had an accident. The taxi she was in fell into the river."


...💠💠💠...

__ADS_1


__ADS_2