Like Drama

Like Drama
Seventy Nine


__ADS_3

Aku merasa lega sekaligus khawatir. Memang, setelah bersikeras dengan segala kekuatan emosiku, akhirnya Reiki meninggalkan apartemen Ken dengan dingin. Ya, wajahnya seram sewaktu aku melirik sebentar pria itu sebelum benar-benar pergi dari sini. Tapi aku tidak peduli padanya.


Ah, bukan. Rasanya aku bukan tidak peduli. Aku hanya merasa perlu –lebih penting– untuk memberi penjelasan kepada Ken dibandingkan mengikuti keinginan Reiki. Walau nyatanya jauh di lubuk hatiku kalau aku memang masih memiliki rasa kepada pria dewasa itu.


Kedua tanganku saling terpaut di atas pangkuanku. Kepalaku merunduk karena aku merasa bersalah, atau mungkin lebih kepada merasa tidak enak kepada Ken. Entahlah. Yang pasti aku memang mesti segera memberi penjelasan kepada lelaki yang saat ini menduduki sofa tunggal yang memiliki jarak denganku.


"Jadi ini yang mau kamu ceritain tadi ya," ucap Ken dengan suara datarnya.


Aku mengangkat pandangan namun ternyata Ken sedang tidak menatapku. Oh ya ampun, entah kenapa rasanya aku sedih dengan jarak yang Ken ciptakan ini.


"Ken, aku–"


"Sejak kapan, Ra?"


"Ya?"


"Sejak kapan aku hadir di antara kalian? Sejak kapan kamu menyembunyikan ini dariku? Dan sejak kapan kamu mengetahui hubunganku dengan dia?"


Aku menggeleng sedih. "Ken ... aku baru tahu kalau kalian sepupu itu ya saat dia tunangan. 'Kan kamu yang ajak aku ke sana."


"Trus kenapa kamu gak cerita yang sebenarnya?"


"Cerita apa, Ken? Cerita bahwa akhirnya aku bertemu lagi sama dia yang ternyata adalah sepupu kamu? Aku sendiri gak tahu mesti menceritakan dia ke kamu itu sebagai apa. Karena memang antara aku sama dia sebelumnya itu gak pernah ada status. Sumpah, Ken. Susah payah akhirnya aku bisa lepas dari hidupnya tapi pada akhirnya aku malah ketemu dia lagi di pertunangannya," jelasku dengan frustasi. "Aku gak pernah tahu aku ini apa baginya. Semua cerita yang pernah ada antara aku sama dia itu gak pernah jelas. Bahkan terlalu menyakitkan."


"Tapi nggak seharusnya kamu menyembunyikan ini dariku,"


"Aku emang baru punya keberanian untuk cerita sekarang. Aku akui itu. Dan lagi, saat ini aku nggak sedang dalam kondisi memohon supaya kamu percaya, memaafkan, atau berpihak kepadaku, Ken. Aku nggak melakukan itu. Aku hanya ingin menceritakan ini tanpa berharap apa-apa sama kamu," putusku yang membuat Ken menoleh dan menatap mataku. "Sejak awal, aku nggak punya rencana sedikitpun untuk terlibat lebih dalam sama kamu. Nggak ketika aku telah memiliki cerita buruk dengan sepupu kamu. Dan orang-orang seperti kalian, sudah sepantasnya aku jauhi."


"Orang-orang seperti apa maksud kamu?" tanya Ken waspada.


"Orang-orang kaya, terkenal dan berkuasa. Aku cukup jera dengan mengenal Reiki tanpa ingin mencoba untuk mengenal kamu, Ken. Bukankah sejak awal aku memang nggak kenal kamu, walaupun ternyata kamu amat terkenal. Tapi kemudian aku sadar kalau aku sudah goyah. Rupanya kamu terlalu menyenangkan untuk ku lewatkan dalam hidupku. Pribadimu yang menyenangkan sekaligus menjengkelkan dan keluargamu yang hangat, cukup membuatku merasa nyaman dan mampu bertahan hingga hari ini." aku menyeka air mata yang baru saja lolos di pipiku. "Tapi kamu tenang saja, aku tekankan sekali lagi bahwa aku nggak pernah berniat apa-apa saat berada di sisi kamu."


"Ra ..." panggil Ken dengan lebih lembut dari sebelumnya.


"Pun sewaktu aku masih dekat dengan sepupu kamu, aku nggak pernah sedikitpun berharap banyak. Aku tahu diri aku siapa. Aku seberapa kecilnya di mata kalian. Maka aku lebih memilih pergi dari hidupnya dibandingkan bertahan tapi untuk direndahkan. Peduli apa dengan perasaanku. Itu nggak penting. Sama, begitu juga dengan kamu, Ken. Aku cukup tahu diri siapa aku. Makanya aku nggak pernah punya rasa lebih sama kamu itu semata-mata karena aku takut. Aku takut andai memiliki rasa yang salah–"


kalimatku terputus karena tiba-tiba Ken menghampiriku dan membawaku ke dalam pelukannya.


"Aku kecewa sama kamu, tapi aku juga percaya sama kamu, Ra ... aku amat paham bagaimana kepribadian kamu yang tulus."

__ADS_1


Aku menangis dalam diam, dalam pelukan Ken. Ku biarkan air mataku membasahi kausnya dan merasakan kenyamanan karena usapan hangatnya di kepalaku.


"Aku terima kasih karna kamu telah memilihku–" mendengar kalimatnya membuatku seketika melepaskan diri darinya. "Kenapa?"


"Aku di sini bukan untuk memilih kamu, Ken. Aku di sini hanya karena aku merasa memiliki kewajiban untuk menjelaskan sama kamu."


"Maksud kamu?"


"Sudah aku bilang, bahwa aku nggak ada niat untuk mendekati siapapun bagian dari keluarga Maheswara lagi."


"Aku Barata, bukan Maheswara."


"Tetap aja pada kenyataannya kamu seorang Maheswara juga, Ken. Makanya, setelah menjelaskan ini, aku berniat untuk pam–"


"Kamu lupa kalimatku tadi sewaktu masih ada Rei? Aku nggak akan pernah melepaskan kamu, Ra."


Tatapanku lekat kepadanya. Dia mesti tahu bagaimana pikiranku sekarang. "Sama. Reiki juga nggak akan melepaskanku lagi katanya. Dan aku tahu pasti bahwa dia akan melakukannya."


"Aku juga. Kamu harus tahu kalau aku juga akan–"


"Maka dari itu, Ken. Dari pada aku menjadi penyebab tidak baiknya hubungan persaudaraan kalian, jadi sebaiknya aku pergi."


Aku menghela nafas pelan sembari mengikutu Ken yang bersandar pada sofa kami. "Dengan adanya aku keadaan buruk kalian malah semakin buruk. Bertambah buruk."


"Kamu keras kepala banget sih, Ra."


"Nggak kebalik? Bukannya kalian ya yang keras kepala banget seenaknya memperlakukanku."


Ken menoleh tak terima. "Aku? Jadi aku masih kurang baik memperlakukanmu? ya terkecuali sewaktu kamu masih menjadi asistenku, dan menerima banyak perintahku, selebihnya aku baik banget, Ra. Aku sayang banget sama kamu, masa aku nggak baik dalam memperlalukanmu?"


Aku menatap balik matanya yang menatapku dalam posisi santainya. Ah, andai waktu dapat berhenti untuk saat ini saja. Tanpa aku repot memikirkan dampak apa saja yang terjadi bila aku memutuskan untuk bersamanya. Aku pasti bahagia. Tapi sayangnya, aku tidak punya kuasa. Aku sudah tidak memiliki kekuatan untuk memperjuangkan mereka yang amat jauh dari jangkauan.


"Bukan nggak baik, Ken. Tapi maksudku itu adalah semau kalian. Kalian memperlakukanku semau kalian."


Ken melebarkan matanya beberapa saat. Kemudian dia berpaling dan kembali menatap langit-langit. Itu membuatku bingung sampai akhirnya dia mengatakan, "Aku terima kamu apa adanya, Ra. Jiwa raga kamu. Apapun itu."


Nah, sekarang keningku berkerut. Sepertinya Ken memiliki maksud lain dari ucapannya itu.


"Aku berpikiran terbuka tentang hubungan dengan lawan jenis,"

__ADS_1


Ha? Dia bicara apa sih?


"Aku nggak akan menghakimi apapun yang sudah pernah kalian lakukan ketika masih bersama. Karena yang terpenting itu adalah masa depan, bukan masa lalu."


Jadi maksudnya ...


"Aku bukan laki-laki yang akan mempermasalahkan sebuah keperawanan–"


sial.


"Awww!" teriak Ken saat aku meraup mulutnya sekuat tenaga. "Sakit, Ra ..." keluhnya begitu aku melepaskan tanganku. Dia menatapku horror.


"Ya lagian, kamu!" dengan sewot dan sengit aku masih memukul lengannya. "Ngomongnya menjijikkan banget."


"Lah?"


"Aku nggak kayak gitu. Aku–" aku tergagap karena malu. Ya, topik tentang sebuah hubungan dewasa memang sangat sensitif bagiku. Walaupun aku tidak polos-polos banget Tapi untuk tahap yang satu itu memang aku belum pernah melakukannya.


Ken tertawa geli sekarang. Jarinya bahkan sesekali mencubit pipiku dengan gemas. "Kamu lucu banget sih, Ra. Aku tuh cuma nguji kamu tau nggak! Entah kenapa aku percaya kalau kamu bukan tipe cewek yang aktif secara se*sual dalam berhubungan. Ya walaupun aku yakin kamu gak sepolos itu, tapi kamu itu lebih banyak polosnya, dibandingkan nggaknya. Ya, 'kan?!"


Aku tak menjawab. Aku lebih memilih melengos dan pura-pura tertidur.


"Lagian kamu segalak itu, Ra. Belum diapa-apain, pasti udah nyakar duluan."


"Nggak tuh."


"HA?" sekarang Kenneth syok.


Aku menahan senyum saat meliriknya. Sepertinya dia sudah tidak terlalu marah lagi kepadaku. "Kalau nggak percaya, tanya aja sama sepupu kamu," godaku seraya bangkit.


Kenneth menelungkupkan tubuhnya di sofa sembari merengek, "Aku patah hati, Ra ... ya ampun ... sakitnya bukan cuma di hati, tapi di seluruh organ dalam tubuhku. Ya di ginjal, paru-paru, lambung ...."


"Komplikasi dong kamu."


"Itu tau ..."


"Udah ah, aku mau tidur. Ngantuk. Besok baru lanjut lagi ngobrolnya."


Laki-laki itu mengabaikanku. Dia masih berkeluh kesah seorang diri di sofa, sementara aku sudah berjalan menuju ke kamar yang lain untuk tidur.

__ADS_1


...***...


__ADS_2