
Happy reading!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Alya : elo lagi ngapain, Raju?
Syuting film bok3p ya?!
Wkwkwk
Bunyi chat dari Alya mengganggu keseruanku yang saat ini sedang bermain bermacam permainan. Dan lagi, isi chat nya itu nggak banget. Meski begitu, tetap saja aku balas.
Me : Gila.
Reiki sedang membelikanku es krim saat aku membalas pesan Alya.
Alya : wkwkwk ...
Serius lo lagi ngapain?
Mau gue beliin bakso, gak?
Me : Gue lagi main ke dufan sama
Reiki.
Tak butuh waktu yang lama saat kemudian Alya membalasku.
Alya : WATDEFAK!! CIYUS LO?
me : iyes
Alya : Kok bisa?
Me : why not?
Alya : Reiki? Ke Dufan? 😱
Aneh gak sih?! 😆😆
Dari mana anehnya?, pikirku. Namun belum sempat aku membalasnya, Alya telah lebih dulu mengirim pesan lagi.
Alya : gak cocok dia ke dupan.
Wkwk
Me : 😒
Jeda beberapa saat. Sekarang aku yang penasaran sebenarnya Alya sedang apa bersama Radit? Syuting film juga kah?!
Alya : wkwk. Lo persis sanchai, Ra
Ketawain aja terus ...
Alya : mirip banget, sumpah.
Ntar abis senang-senang,
taunya mau putusan deh.
Trus lo pergi ninggalin dia
deh.
Sanchai kan gitu bukannya?!
Eh?
Iya juga ya.
Aku kan memang sedang mencari cara agar bisa pergi dari hidup pria itu. Karena seberapapun jauhnya, dia pasti dapat menemukanku. Tapi bila dengan sebuah alasan, maka aku yakin akan membuat Reiki menjauhiku.
Apa selingkuh aja ya?
Ide buruk. Yang ada nanti peran si selingkuhanku malah habis di tangan Reiki.
Duhh, apa dong?
__ADS_1
.
.
Gara-gara Alya menawariku bakso, sekarang aku malah kepengen banget makan bakso. Tapi masalahnya, Tuan Besar Reiki tidak setuju. Dia mah maunya makan steak gitu loh.
Hari sudah malam, dan rencananya setelah makan malam kami baru akan jalan pulang. Hanya saja, masalah menu makan pun menjadi perdebatanku dengan pria yang suka mengatur itu.
"Makan itu harus memilih yang baik, Sayang. Kesehatan itu paling utama," katanya sok bijak saat kami sudah di dalam mobil. Tapi dia belum juga menyuruh sopir untuk menjalankan mobilnya karena kami belum sepakat dalam memilih menu makan malam, yang artinya mesti pergi ke restoran mana.
Tidak biasanya memang aku berusaha keras untuk mendebat setiap perkataan Reiki. Karena selama ini aku selalu kalah dan perdebatan adalah sebuah hal yang sia-sia untuk kulakukan terhadapnya. Tapi tidak dengan kali ini, hari ini, aku selalu dan terus menerus ingin merasakan kemenangan dan aku ingin dia menuruti setiap keinginanku. Aku ingin egois juga. Toh ini semua tidak akan lama. Aku ingin menjalani apa yang aku mau selagi bisa kan?!
"Memangnya bakso itu tidak sehat ya?!" balasku dengan sinis.
"Untuk jangka panjang, ya."
"Tapi aku tetap mau bakso, atau aku bakal mati penasaran."
"Stop, Sayang. Jangan mengatakan hal yang bisa membuatku marah."
Rupanya ucapan asal ku barusan mampu mempengaruhinya. Tapi yang aku kaget adalah ucapannya kemudian. "Oke, kita makan bakso di mana?" tanyanya seraya menyuruh untuk sopirnya berangkat.
Serius? Dia kalah dan aku menang? Wow ini keajaiban.
Aku menyebutkan sebuah nama lokasi yang menjual bakso. Tempat itu adalah langganan favorit ku bersama dengan Alya. Dan kami sudah menuju ke sana.
Hampir satu jam perjalanan yang terkadang macet itu, hingga kami sudah berada di tempat tujuan tak lama setelah perjalanan singkat.
Alangkah bahagianya aku saat tiba di kedai bakso itu. Bagaimana tidak, ternyata aku malah melihat kedua temanku sedang menghuni salah satu meja di sana. Tanpa bertanya pada Reiki, segera aku berjalan cepat menuju meja Alya dan Radit.
"Yey, kita bertiga emang berjodoh ya," ucapku cengengesan. Sebuah kursi kosong langsung aku tempati.
Radit dan Alya terbengong sebentar. "Kok lo bisa di sini?" tanya Alya heran. "Apa kabarnya Dufan?"
"Udah selesai kok," jawabku lalu menoleh pada Radit. "Lo udah sehat, kan?! Luka lo keliatannya–" baru saja jariku hendak menyentuh bekas memar di wajah Radit yang terletak di pipi kirinya, tahu-tahu jemariku ada yang menangkap sehingga urung mencapai wajah Radit.
Pelakunya siapa lagi kalau bukan Reiki.
"Lo hampir membahayakan jiwa gue, Ra," ujar Radit sambil melirik Reiki sepintas.
Seorang pelayan datang menanyakan pesanan. Rupanya Radit dan Alya pun baru tiba lima menit sebelum aku. Makanya, kami jadi memesan secara bersama.
"Mas Rei mau bakso apa?" tanyaku setelah aku lalu Alya dan Radit selesai memesan.
"Minuman saja."
"Kamu gak mau baksonya?"
Dia menggeleng singkat. Wajahnya datar sehingga aku tidak mampu menebak apakah dia sedang dalam mode marah atau tidak.
Akhirnya aku memesankan minuman saja untuk Reiki. Tanpa bakso. Aku fikir dia bakalan rugi, karena dia tidak ikut merasakan bakso yang enak itu.
Reiki sibuk dengan ponselnya sementara aku mengobrol dengan kedua temanku sambil menunggu pesanan bakso kami datang.
"Lo gak bawa oleh-oleh, Dit?" tanyaku. "Makanan apa kek gitu."
"Ada di rumah. Ke rumah aja kali, Eh–" Radit melirik pada Reiki. Begitupun aku. Dan kami mendapati Reiki sedang menatap tajam si Radit.
Radit menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, aku yakin. Dia hanya jengah sepertinya dengan respon pria dewasa di sampingku ini.
Mana mungkin kan Reiki membiarkanku ke rumah Radit secara terang-terangan?
"Kenapa tadi lo gak bawa sekalian sih, Al? Bukannya lo tadi dari rumah Radit ya?"
"Nggak. Kita ketemuan di distro-nya Egan."
"Yaelah, pantes."
"Masih ada besok kali."
"Ya deh."
Aku mendengar helaan nafas yang cukup keras berasal dari Reiki, tapi aku tidak memperdulikannya.
Bakso kami pun datang, plus minumannya. Ah, baru saja aku kepikiran kalau mungkin ini tidak sesuai dengan selera untuk orang seperti Reiki. Tapi terserahlah, aku akan melakukan dan makan apa saja yang aku suka.
Sedikit saus dan sambal tapi tanpa kecap, itu seleraku dalam menikmati bakso. Memotongnya lebih kecil dan mulai menikmatinya. Ahh ... rasanya masih enak seperti biasanya.
__ADS_1
"Minggu depan habis sidang skripsi gue mau ke Bandung sama Radit, Ra," kata Alya di sela-sela kunyahannya.
"Mau ngapain? Gue nggak diajak sih?"
Mata Alya melirik ke Reiki kurasa. "Emangnya lo suka sama El3on5?"
"Apaan tuh?"
"Nah kan. Yailah, gue udah pernah kasih tau lo kali, Inspektur Vijay!"
Aku pun sedikit ingat. "Oh ... yang itu."
"Sok inget, padahal nggak," tebak Alya.
Aku menyengir, menunda bakso yang sudah siap di garpu untuk menuju ke mulut. "emang. Hehe ... trus mau ke Bandung ngapain?"
Tiba-tiba aku merasakan tanganku disentuh. Refleks aku menoleh ke sisi kananku. Rupanya Reiki saat ini sedang membawa tanganku yang tengah memegang bakso menggunakan garpu. Kemudian segera ia melahap baksoku.
Tadi katanya nggak mau. Gimana sih?
Dan yang kurasa adalah ...
Baksoku menjadi berkurang. Tapi ya sudahlah, aku melihat saja reaksi Reiki setelah memakan baksoku. Tapi, ternyata dia kembali menatap ponselnya tanpa merespon apa bakso itu enak atau tidak. Aku jadi kecewa. Huh!
"Gue mau ketemu mereka, Ra," suara Alya mengalihkan perhatianku lagi.
"Siapa?"
"Idola gue, yailah."
"Oh si El ... emangnya mereka gak konser di Jakarta gitu?"
"Konser di Jakarta akhir bulan ini."
"Trus ngapain lo pakai nyamperin ke Bandung kalo mereka bakal konser di Jakarta juga?
"Kalo di Bandung bukan konser, tapi fanmeeting," jelasnya.
Aku hanya ber'oh' ria. Aku mencoba mengerti perasaan Alya yang hidup sebagai seorang fangirl. Iya in aja deh!
"Sayang ..." Reiki memanggilku. Dan saat aku menoleh, dia sedang membuka mulutnya lalu mengisyaratkan matanya kepada baksoku. Alias, dia minta disuapin!
Ketagihan dia rupanya.
Aku mengambil satu bakso kecil dan terpaksa menyuapinya. Ada sedikit rasa tidak ikhlas sebenarnya. Baksoku berkurang lagi.
"Radit, lo mau gue suapin juga?" aku paham kalau suara Alya sedikit menyindir sebenarnya. Dan itu membuatku menoleh padanya sambil menatap geli.
"Nggak usah suapin, tukeran mangkok aja langsung," sahut Radit cepat.
"Yee ... itu sih enak di lo, abis di gue. Bakso lo tinggal sedikit, bekatul! "
Sebenarnya aku ingin tertawa melihat mereka, tapi aku tahan. Aku kembali fokus makan sambil menyuapi si bayi besar. Ya ampun ... Ini benar-benar bikin kesel. Karena tidak terjadi hanya sekali dua kali, ini baksoku nyaris habis.
Aku melirik tajam pada pria itu. "Katanya tadi kamu gak mau bakso, sekarang malah punyaku hampir habis. Mas Rei gimana sih?"
"Nanti kita pesan lagi buat bawa pulang," ucapnya datar tanpa menoleh padaku.
Yeah. Dia bener kecantol sama nih bakso.
"Jadi lo naksir sama El juga, Dit?" tanyaku melanjutkan obrolan tadi.
"Mana mungkin! Gue masih naksir sama cewek lah."
"El3on5 itu grup, Rajuu. yang gue suka cuma satu orang." interupsi Alya. Dan aku tidak merasa perlu mendengar penjelasaannya deh.
"Trus lo ngapain ikut si Alya?" tanyaku lagi pada Radit.
"Disuruh nyokapnya si Alya, Ra, buat jagain si Alya biar nih anak masih inget pulang. Terpaksa gue tuh. Demi Tante Lia."
"Gue nggak marah walaupun lo bilang terpaksa, Dit, " sela Alya. "Gue emang kudu dikawal sih. Dan satu-satunya pengawal yang terpercaya jaminan mutu ya cuma lo, Radit Bachan!"
Aku tidak mengerti sih acara ketemu artis yang dimaksud Alya, tapi sekalian jalan-jalan tidak ada salahnya kan. Baru setelah itu aku akan pesan tiket pesawat ke Jepang untuk mengunjungi kedua orang tuaku. Sepertinya itu semua mudah saja dalam wacana otakku, tapi nyatanya ... ada rintangan besar yang harus aku lewati.
"Gue ikut dong?" pintaku yang membuat kedua sahabatku itu menoleh. Kemudian mereka melirik pada Reiki tentunya. Dan aku hanya menelan lagi hasrat yang tak dapat kuwujudkan itu.
...•••...
__ADS_1