
Sudah berlalu dua hari semenjak kedatangan Kenneth di rumah bu Ratih. Ya, kami menjadi akrab dalam waktu singkat saja. Begitupun dengan Bagas yang sudah mulai lebih banyak bicara denganku maupun dengan Kenneth. Kami terasa seperti tiga bersaudara.
Tuhan itu Maha Adil. Dia selalu mempertemukanku dengan orang-orang baik yang menganggapku sebagai saudara, disaat aku sesungguhnya tidak memiliki saudara sama sekali. Dan itu yang membuatku semakin dapat dengan mudah mengikhlaskan tentang kepergian orang-orang tersayangku.
Setiap menjelang tidur, aku selalu video call dengan dua sahabat tercintaku yakni Radit dan Alya. Kemarin aku mendapati keduanya yang malah masih asik nongkrong di cafe malah meskipun sudah malam. Selain itu, kabar Alya adalah besok dia sudah dapat panggilan interview kerja di sebuah perusahaan kecil yang ada di Jakarta. Hebat! Dewi keberuntungan sedang menaungi Alya. Dalam waktu singkat pasca sarjana, dia sudah dapat panggilan kerja.
Aku iri.
Sedangkan Radit masih asik kerja part time sambil menunggu panggilan kerja juga.
Ingin sih aku segera kembali ke Jakarta untuk mulai mengirim lamaran pekerjaan dan menata hidupku kembali. Tapi, rasanya aku masih enggan meninggalkan Bali dalam waktu dekat.
Di sini, aku bukan sekedar menumpang. Tentu saja aku memberikan uang pada bu Ratih untuk membantu biaya makan dan sebagainya, meskipun beliau menolak. Begitu juga dengan Kenneth. Cowok itu melarangku untuk mengeluarkan uang selagi dia masih bersembunyi di sini. Begitu katanya. Aku ragu apakah dia sedang bersembunyi atau malah sedang menyamar melakukan syuting reality show. Bisa saja itu terjadi, kan?! Secara, kalau dia memang seterkenal itu, mana mungkin tidak ada satupun wartawan yang mengejarnya? Apa dia bukan artis?
Terserahlah ... dan entahlah. Aku gak mau pusing mikirin si cowok manja itu.
Yang pasti dengan keberadaannya di sini, sedikit banyak malah menghiburku. Tingkah narsis, ceriwis, dan manjanya Kenneth sering membuatku kesal sekaligus lucu.
Hari ini kami berjalan di pinggir pantai. Sengaja Kenneth memilih pantai yang sepi karena khawatir akan banyak fans yang mengejarnya bila bertemu dengannya. Begitu katanya. Dia memakai masker, kacamata, dan topi sebagai bentuk menyamarkan dirinya.
Sebegitunyakah?!
Aku menghentikan langkah dan berdiri untuk memandang laut. Bayanganku tentang dia tidak rupanya pernah hilang jua. Setiap harinya aku masih saja mengingatnya, walaupun aku tak ingin. Hampir dua bulan sudah sejak aku pergi darinya. Dan aku hampir tak percaya bahwa kali ini dia benar-benar melepasku.
Sedih.
Itu kenyataannya.
Walaupun semua ini adalah keinginanku, tapi sudut hati terdalamku berharap bahwa diam-diam dia menyuruh anak buahnya untuk mengawasiku. Seperti waktu itu. Yang itu artinya dia masih peduli akan diriku, karena bahkan dia masih 'menjagaku' meski kami terpisah jauh.
Tapi sepertinya kali ini tidak. Harapan itu hanyalah sebatas keegoisanku yang masih mengharapnya.
Tak ada siapapun yang mengikutiku. Tidak ada lagi dia yang selalu mempertahankanku. Jelas bahwa ini memang keputusanku.
Jangan mengharapnya, Zura ...
No!
__ADS_1
Jangan seperti itu.
Kehidupan Reiki itu terlalu sulit untuk ku masuki. Aku tidak akan pernah sanggup untuk berdiri di sisinya.
Oh sudahlah, Azzura.
Begini sudah jauh lebih baik.
Aku hanya perlu bertahan, dan terus menjalani kehidupan dengan melupakannya. Perlahan saja, karena tak semudah itu menghapus paksa cinta yang telah bersemayam di hatiku.
"Melamun aja sih, –ayo!" Kenneth menarik tanganku untuk terus berjalan. Aku pun menurutinya.
Kembali pada hidupku dan kenyataanku, aku masih dapat bahagia meski harus tanpa pria itu. Pria yang telah mencuri hatiku.
Tiba-tiba saja Kenneth berseru di sisiku, "Lari, Ra!"
Dia menggenggam erat tanganku dan membawaku lari bersamanya. Kami menyusuri pantai lalu berbelok untuk mencari jalan keluar dari pantai itu.
"Kenapa sih? Lepas, Ken! Cape nih." aku terengah-engah dalam tarikan Kenneth yang memaksaku mengikutinya.
"Lari buruan! Ada wartawan infotainment!"
"Apa kita ketahuan?" bisikku pelan. Kami sudah berjongkok untuk bersembunyi di balik pohon besar setelah berlari cukup jauh dan tidak pelan. Nafasku saja masih ngos-ngosan.
"Nggak kayaknya. Aman," sahut Kenneth sambil mengintip.
Aku yang berdiri di belakangnya hanya berusaha tenang dan menormalkan nafasku.
Tapi setelah kupikir-pikir ...
"Ngapain aku mesti ikutan lari juga sih?" tabokku pada punggungnya.
Kenneth meringis kecil. "Aduh! apasih, Zura? Rara? Zuzu? Merah deh punggung tampan gue ..."
"Kamu yang artis, kenapa aku ikutan dibawa lari juga? Lari aja sana sendiri! Capek, tahu!" dengusku kesal.
Aku berjalan pelan meninggalkannya. Kenneth pun menyusul menyamai langkah pelanku. "Yee ... kamu sekarang pasti sudah jadi hot gosip juga, Rara. Sedikit banyak kamu itu pasti ikut terkena foto bareng aku."
__ADS_1
"Trus?"
"Ya trus kamu pasti bakal dicari juga sama wartawan, trus hidup kamu juga sekarang bakal lebih terkenal lagi. Yaa ... sekarang sih masih dalam tahap, kamu adalah kunci siapanya aku."
"Berarti?"
"Berarti mulai sekarang hati-hatilah kamu kalau berada di keramaian, atau kalau pergi kemana. Bisa ribet–"
"JADI KAMU BIKIN AKU RIBET?" seruku semakin kesal.
Kenneth tersenyum garing. "Kurang lebih sih git–"
"Kenapa kamu malah bikin hidup aku jadi gak tenang? Aku ke sini kan dalam rangka menenangkan diri. Ini malah kamu datang sambil bawa masalah. Boleh aku bunuh kamu?"
Kenneth mengerjapkan matanya. Bulu matanya yang lentik itu terlihat menggemaskan pastinya untuk fansnya. Tapi untukku? Dia malah terlihat semakin mengesalkan.
"Kamu jangan gitu dong, Zuzu. Aku ini milik banyak orang. Para fansku itu bakal menyerang kamu loh. Tahu sendiri kan kalo fans bergabung dengan netizen itu julidnya ampun-ampun. Kamu bakalan diserang dari berbagai sudut karena menganiayaku–"
"Membunuh kamu,"
Kenneth mendelik, "Itu apalagi. Kamu bakal jadi musuh semua manusia di muka bumi ini, terutama fans garis keras aku."
"Jadi fans kamu itu netizen yang julid?"
"Yaa ... nggak juga sih. Mereka kan mencintai aku begitu besarnya. Wajarlah bila mereka amat menyayangiku."
Kok terdengar di telingaku agak menjijikan ya.
Kenneth dengan sejuta kenarsisannya. Forever.
"Tenang aja, Ra. Aku bakal tanggung jawab deh apapun yang terjadi sama kamu."
"Awas ya,"
"Tenang aja."
"KEN!" tau kenapa aku berteriak? karena baru saja Ken mengecup singkat pipiku.
__ADS_1
...---...