
Reiki bergerak untuk memeluk ibunya. Dia mendekap erat wanita yang melahirkannya itu. Berupaya memberi ketenangan Sang ibu yang terisak membuat suasana semakin hening. Benar, di sini sedang terjadi drama kehidupan yang disaksikan banyak orang, termasuk Kenneth.
Menyaksikan bagaimana sedihnya wajah Tante Widia membuatku berpikir jauh. Bagaimana, seandainya aku berada di posisi wanita itu yang berstatus sebagai seorang ibu. Andai aku yang menghadapi anakku seperti itu, apakah aku sanggup menahan sesak di dada?
Tidak, Zura. Syurga anak laki-laki tetaplah ada pada ibunya. Lalu bagaimana mungkin aku tega membuat Reiki menyakiti hati ibunya sedemikian rupa?
Kedua tangan yang sedari tadi kutautkan kini kulepaskan pada kedua sisi tubuhku. "Mas Rei–" kuberanikan diri untuk mengeluarkan suara. Benar, maksudku adalah mundur. Sungguh aku setakut itu membuat Reiki dibenci oleh ibunya.
"Sayang, tenanglah. Kita selesaikan ini seperti rencana awal," potong Reiki menenangkanku meski posisinya kini masih sedang memeluk ibunya.
"Rei," Widia mendongak tanpa melepaskan pelukannya dari sang putra. "Maafkan Mama."
Reiki menatap lekat mata wanita pertama yang amat disayanginya itu. Dikecupnya lembut kening Widia, kemudian dia berkata, "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ma. Seharusnya akulah yang meminta maaf karena tidak mampu mengikuti segala keinginan kalian."
Widia menggeleng pelan.
"Aku menyanyangi kalian semua." Lagi-lagi Reiki mengecup lembut kening sang ibu. "Namun aku akan bertanggung jawab sendiri atas hidupku. Aku tidak akan mempermalukan kalian semua–"
Widia membekap mulut sang putra dengan sebelah tangannya. "Dengarkan Mama, Rei. Mama akan menerima apapun keputusanmu." Kemudian wanita itu menoleh kepadaku. "Kemarilah, Zura," pintanya.
Lantas aku meminta pendapat kepada Reiki melalui tatapan mataku. Dan lelakiku itu mengangguk pelan sembari mengulurkan sebelah tangannya agar aku menyambutnya. Sudah pasti segera aku melangkah kepada Tante Widia setelah menerima uluran tangan Reiki dan menggenggamnya kembali. Aku merasakan ketenangan ketika tangannya memegangku dengan erat.
"Maafkan Tante," ucap Widia dengan tatapan tulus kepadaku. Aku yakini itu. Hanya gelengan yang sanggup aku berikan atas ucapannya. "Nadhifa ... aku bersalah kepada Mamamu. Aku bersalah kepada sahabatku." Mata wanita di hadapanku nampak berkaca-kaca sekarang. Entah mengapa itu malah membuatku jadi teringat Mama dan mulai merasakan panas pada mataku.
Tante Widia tiba-tiba membawaku ke dalam pelukannya. "Maafkan Tante, Zura. Maafkan Tante yang tidak berhasil menjaga amanat Nadhifa. Tante amat menyesal ...." wanita itu menangis dan membuatku tak mampu lagi membendung air mataku sendiri. Entah perasaan apa yang kurasakan sekarang. Setelah beberapa saat yang lalu hatiku sudah mengikhlaskan ini semua, tapi kini malah perasaan bahagia yang kudapatkan. Kenapa bahagia? Karena sepertinya aku merasa disayang oleh wanita yang sedang memelukku sekarang. Apa aku salah? Atau aku terlalu berharap? Entahlah. Nyatanya hatiku menghangat sehangat pelukannya kepadaku.
"Om sama Tante sudah merestui kalian, Zura. Maafkan kalau ini semua terlalu terlambat ...."
"Apa-apaan kalian semua?" sela grandma, masih dengan suaranya yang menggeram. "Widia?"
"Bu," sela Mandala yang kini posisinya bersimpuh di depan sang ibu, menggantikan Reiki tadi. "Aku dengan Widia memang sudah meretui Reiki dan Azzura. Helena juga amat mendukung dengan kebahagiaan Kakaknya."
"Jadi prinsip keluarga kita tidak kalian hargai? Kamu tidak peduli dengan pendapat Ibu?"
"Prinsip apa, Bu? Baik tidaknya seseorang, bermartabat atau tidaknya seseorang itu bukan dilihat dari kedudukannya. Bukan dilihat dari dia anak siapa, keturunan siapa. Bukan begitu. Akan tetapi akhlak dan kebaikan hatinyalah yang menjadi ukuran. Azzura adalah anak yang baik dalam sepenglihatanku selama ini. Dia tidak pernah berbuat salah selain kita yang menyatakan kalau dia salah karena membuat anak kita menyukainya. Bukan aku tidak peduli dengan pendapat Ibu. Bahkan selama ini hanya pendapat Ibu yang kami dengarkan.
"Namun kalau apa yang menurut kita baik nyatanya sungguh tidaklah baik untuk Reiki, kita bisa apa selain menerimanya. Tidak selamanya orang tua itu selalu benar. Ada waktunya kita mengalahkan ego dengan menerima keinginan anak yang tidak sejalan dengan kita. Apalagi ini masalah jodoh, masalah pilihan hidup. Seperti aku yang memilih sendiri Widia untuk menjadi ibu dari anak-anakku, maka sekarang aku pasrahkan Reiki untuk memilih wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Asal dia bahagia. Asal mereka bahagia, maka kita sebagai orang tua juga akan bahagia."
...----------------...
Dua jam yang lalu...
"Rajuuuuu...," Alya menangis haru saat akhirnya kami bertemu kembali. "Gila gue kangen berat sama lo."
"Iya ... gue juga kangen sama lo. Sama Radit juga."
"Kok bisa akhirnya tuh laki ngelepasin lo dari penjara cintanya?" tanya Alya setengah berbisik sembari mengintip ke arah Reiki yang kini berdiri di dekat mobilnya sembari menelpon seseorang.
__ADS_1
"Apaan sih, lebay banget bahasa lo."
"Serius lo baik-baik aja, 'kan?! Terakhir kita ketemu waktu itu di Bandung dan lo hilang bagai ditelan bumi. Bener-bener deh penculik lo itu kelas kakap. Gak mungkin banget gue lapor polisi kalo penculiknya sekelas dia."
Aku meringis saja mendengar kalimat Alya yang gemas dengan Reiki tapi juga dia lega karena akhirnya melihatku kembali dalam keadaan utuh.
"Gue nggak diculik."
"Iya, paham. Tapi gue ngerasanya lo diculik. Gregetan banget sebenernya gue sama dia. Seenaknya bawa lo pergi dari hidup gue sama Radit. Mestinya dia sungkem dulu sama gue biar gue kasih restu."
"Udah ah," ucapku sembari menatapnya sayang. "Jangan khawatirin gue segitunya. Doain aja gue biar sehat di manapun gue berada."
"Iya, sayong. Gue selalu doain yang terbaik buat lo."
"Bagus. Eh– Radit mana?" tanyaku sembari melongok ke dalam rumah Alya.
"Ya di rumahnya. Masa gue umpetin di rumah gue?"
"Kalian masih akur, 'kan?!"
"Masih. Cuma dia lagi di luar kota sekarang. Ada gawean yang lumayanlah. Semoga kalau diterima kerja kali ini, maka tahun depan rencananya dia mau ngelamar gue." Alya tak mampu menyembunyikan kebahagiaannya.
Mendengar itu sontak membuatku memeluknya karena merasakan bahagia juga. Bahkan air mataku lolos begitu saja, terharu sekaligus mengaminkan doa terbaik bagi kedua sahabat terbaikku, sahabat seumur hidupku.
Beberapa saat kami menangis oleh rasa bahagia. Hingga kemudian Alya berkata, "Ayo ih masuk ke rumah gue. Masa di sini terus dari tadi. Nggak capek apa sih lo? Lo, 'kan datang dari jauh. Ayo gue kasih makan dulu deh," bujuknya kepadaku.
"Sayang!" Reiki memanggilku. Lebih tepatnya mengingatkanku bahwa ada hal yang mesti kami lakukan segera. Aku pun mengangguk menanggapinya.
"Mau kemana lagi lo? Jangan hilang lagi, Ra. Radit aja belom ketemu sama lo."
"Ada urusan penting banget, Al."
"Apaan? Cerita dong,"
"Nggak ada waktu, Al. Nanti kapan-kapan gue ceritain."
"Kenapa harus kapan-kapan? Kok feeling gue mengatakan kalo lo bakal menghilang lagi sih, Raju? Nggak boleh! Lo nggak boleh pergi jauh-jauh lagi. Lo di sini aja, Raju."
Lagi-lagi aku memeluk mesra sahabatku itu. Tak dapat dibohongi kalau aku juga merasakan apa yang Alya rasakan. "Sabar, Al. Gue sedang memperjuangkan hidup gue, kebahagiaan gue. Suatu hari kita bakal berkumpul lagi. Gue janji."
"Raju, lo bikin gue mewek banget ini."
...----------------...
"Grandma, aku pergi dulu." Kenneth berpamitan, menyusul kedua orang tuanya yang beberapa saat lalu melangkah meninggalkan rumah ini terlebih dahulu.
Om Damar dan Tante Kirana pamit setelah menyaksikan adegan kami tadi. Aku tidak berharap semua orang keluarga ini tiba-tiba memberikan restu. Mendapatkan restu dari Om Mandala dan Tante Widia saja bagiku sudah amat berharga. Terlebih ada sedikit kisah yang pernah kutoreh dalam hidup Kenneth, maka tidak heran bagaimana sikap orang tuanya seperti itu.
__ADS_1
Kenneth sekilas menatapku dengan pedih sebelum melangkah keluar. Maaf, aku sama sekali tidak pernah berniat untuk menyakitinya.
"Lihat, tidak semua orang merestui kalian."
Grandma masih bersikeras dengan sikapnya. Dan Om Mandala tidak lagi mengatakan apa-apa, apalagi sampai memaksa.
Aku menoleh kepada Reiki bertepatan dengan pria itu yang melihat ke arahku juga. Sepertinya pikiran kami sama. Dan keputusan yang sejak awal kami buat kini sudah dapat dipastikan akan berjalan seperti seharusnya.
"Ma, Pa, kami pamit." Reiki menatap kedua orang tuanya sembari sebelah tangannya merangkul bahuku.
"Mau kemana, Mas?" tanya Helena yang berdiri di sisi satunya sang ibu. "Ini, 'kan rumah kita juga,"
Reiki tersenyum tipis menanggapi adiknya.
"Di sini dulu, Rei," pinta Widia. "Sebulan lebih kamu tidak ada kabar. Mama kangen sama kamu. Ajak Zura tinggal di sini lagi,"
"Sekarang belum waktunya, Ma. Nanti, akan ada hari dimana aku akan pulang lagi."
"Kenapa begitu?"
Reiki tersenyum menenangkan.
Memeluk kedua orang tuanya bergantian, lalu kepada sang adik juga, Reiki berniat pamit seperti rencana awal kami. Aku menyalami Om Mandala dan Tante Widia dengan penuh rasa hormat terhadap orang tua, serta rasa sayang yang tiba-tiba memenuhi hati. Bahkan aku semakin tersentuh saat Tante Widia juga Helena yang seperti berat melepasku dari pelukan mereka.
"Terima kasih, Tante, Om, dan Helena ..." ucapku dengan air mata yang mengalir tanpa permisi. Sungguh, ada sebagian beban hatiku yang hilang karena mendapati kenyataan bahwa Om Mandala dan Tante Widia sudah memberikan restu. Sungguh itu amat sangat berharga.
"Jaga Reiki ya, Zura," kata Tante Widia.
Aku mengangguk pelan.
"Aku pamit, Grandma." Reiki masih mengatakannya dengan penuh kesopanan. "Tadinya aku mau memberikan grandma hadiah istimewa, tapi tidak jadi. Nanti saja, kapan-kapan ... kalau grandma sudah mau menerimaku dengan Azzura."
Tak ada sahutan sedikitpun dari Fatma. Itu membuat Reiki segera menarik tanganku untuk mulai berjalan bersamanya keluar dari rumah ini.
Kita tidak bisa membuat semua orang menyukai diri kita. Akan ada beberapa orang dan hal-hal yang menjadi bagian dalam badai-badai kehidupan, yang mesti dilalui. Tidak apa. Semua butuh waktu. Bahagia adalah proses. Dan perjalanan menuju bahagia tidak akan semudah harapan setiap orang.
Menjadi dewasa karena keadaan telah membuatku mengerti kapan harus berjuang, kapan harus berhenti, dan kapan harus mengikhlaskan. Dengan sendirinya bahagia itu akan datang setelah kita telah tiba pada titik di mana berserah diri kepada Tuhan adalah jalan satu-satunya dari sebuah masalah.
"Let's go home, my wife."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...SELESAI...
...----------------...
Tamat? Iya dong. Setelah perjalanan panjang akhirnya Zura tamat, Oyy! Aku tuh lega banget. 😭
__ADS_1
Tengkyu buat yang udah setia baca ini, nunggu ini sampe akhir. Love you sekebon ❤