
"Gila, ini apart gak kalah cakepnya ya sama rumahnya ..." Alya berdecak kagum saat kami sudah tiba di apartement Reiki sejam kemudian. Aku lega karena akhirnya Alya mau juga kubujuk untuk ikut denganku kesini.
Sudah pukul sepuluh tapi Reiki belum kembali ke apart. Atau mungkin dia memang tidak berencana pulang? Baguslah!
Hanya sekali dia menelponku tadi siang sewaktu aku berada di rumah keluarganya. Dan sudah pasti dia mengetahui keberadaanku, ketika dia hanya menanyakan apakah aku sudah makan siang atau belum, lalu teleponnya berakhir.
"Itu rumah orang tuanya. Rumahnya dia sih beda lagi katanya."
Aku langsung berjalan menuju kulkas untuk mengambil air seperti biasa dan membawanya ke kamar. Alya mengekor di belakangku.
"Dasar orang kaya ya, rumah dimana-mana ada. Enak bener calon istrinya nanti, tinggal ongkang-ongkang kaki, hidupnya sejahtera seumur hidup. Jadi envy nih gue sama lo,"
Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalaku. "Alya, gimana kalo lo jadi orang ketiga aja ya?! Lo godain gih si Reiki," kataku setelah mengunci pintu. Minuman sudah ku letakkan di nakas, sedangkan tas kulempar di sofa. "Buat dia jatuh cinta sama lo."
Alya melotot. "Lo waras?"
"Kenapa? Reiki kan cakep," kataku. "Lo pasti naksir kan?! Tikung gue ya, Al ..."
"Lo bener-bener gak waras! Mana ada orang sengaja minta ditikung?"
"Ada. Itu gue."
"Iya, karena lo sudah gila."
"Gue nggak gila. Kalo lo jadi orang ketiga, seenggaknya kan gue punya alasan buat jauhin dia, Al. Karena ada orang ketiga gitu. Kayak di sinetron apa drama-drama,"
Alya menatapku jengah. Dia sudah bersandar manja di bawah selimut. Sebelah tangannya menopang kepalanya.
__ADS_1
"Dasar Raju jahat! Lo pengen lepas dari kandang Singa tapi ngorbanin gue?"
Aku terkekeh. "Bukan begitu Al," aku turut melempar tubuhku di sisinya. "Ini cuma drama aja."
"Drama dari Hongkong! Mana berani gue godain si Reiki yang nyeremin itu. Udah gitu ada maksud buat jauhin lo dari dia lagi. Yiuuh ... yang ada gue jadi korban kalian. Gak mau. Gak sudi gue. Ogah!"
"Tolongin gue kenapa sih, Al ..."
"Gak bisa. Kalo lo anggap gue jahat, biarin. Mending gue jahat duluan dari pada lo yang jahatin gue dengan melempar gue ke kandang Singa."
"Bukannya lo naksir kan sama Reiki?"
"Naksir dari mananya? Gue tuh dukung lo sama dia. Mana ada gue naksir segala. Suka melihat cowok ganteng itu beda sama naksir."
"Ya udah, naksir aja napa, Al ... ayo tikung gue ... frustasi banget tau gue tuh."
"Makanya, lo mestinya tolongin keribetan gue napa, Al ..."
"Dengan godain Reiki? Enak aja. No! Mending gue minta dinikahin Radit aja."
"Kok Radit?"
"Ya siapa lagi cowok terdekat kita selain Radit?"
"Ya jangan Radit juga."
"Lah kenapa emangnya?"
__ADS_1
"Nanti gue jadi orang ketiga diantara lo berdua lagi."
"Orang ketiga lagi, orang ketiga lagi ..."
Kami tertawa bersama. Aneh memang, biasanya kan ditikung itu amat sangat menyakitkan, tapi aku sungguh berharap itu terjadi. Aku benar-benar ingin lepas dari Reiki sebelum aku menyesal nanti.
"Ini serius gue boleh nginep di sini?"
"Udah tidur aja napa, Al. Ngantuk gue."
"Biasanya Reiki tidur di kamar yang satunya lagi kan?!"
"Nggak."
"Trus?"
"Biasanya dia tidur di sini."
"Di sini?"
"Hm ..."
"WHAAT?"
...• • • • •...
Jangan lupa mampir di AL to the THAR ya. 😉
__ADS_1