Love Me Again, My Husband!

Love Me Again, My Husband!
Tidak Pulang


__ADS_3

“Mas, andai saja kau sedikit peduli tentangku. Hiks, … Kau pasti akan tahu kalau semua barang-barangku berada di dalam mobilmu. Hiks, …”


Kiran mencoba menjelaskan, meski rasanya semua penjelasan itu tidak berguna lagi.


“Ditengah keputusasaan ku, karena sikap tidak peduli mu. Hiks, … Hanya dia, … Hiks, Hanya Alka yang datang sebagai penolongku. Hiks, …”


Reksa hanya bisa terdiam bagaikan patung, seketika perasaan bersalah memenuhi hati dan pikirannya setelah mendengar apa yang sebenarnya terjadi.


Sebab apa yang Kiran katakan memang benar, dirinya sama sekali tidak peduli tentang Kiran. Bahkan ketika dia meninggalkan Kiran begitu saja, Reksa hanya memikirkan tentang Anya.


“Hiks, … Baiklah, mari kita akhiri hubungan toxic ini sesuai yang kau inginkan! Hiks, ….”


“Mari bercerai dan kau sudah bebas dariku sekarang! Hiks, ….”


Perkataan terakhir Kiran sungguh bagaikan sebuah badai yang tiba-tiba menerjang perasaan Reksa saat itu. Sejak terbangun di rumah sakit setelah kecelakaan yang dia alami, Reksa memang sangat ingin bercerai dengan Kiran yang mengaku sebagai istrinya.


Akan tetapi, ketika Kiran yang memintanya sendiri dia malah tidak ingin melepaskan Kiran begitu saja.


Tanpa mengatakan apapun, Reksa langsung meninggalkan Kiran begitu saja. Bahkan Reksa menutup pintu kamar itu dengan begitu kuat, hingga terdengar bunyi nyaring yang memekikkan telinga.


Kiran hanya bisa menangisi dirinya sendirinya yang di tinggalkan begitu saja setelah tubuhnya di nikmati seolah dirinya wanita pelacur.


“Hiks, … Semuanya kini telah berakhir! Hiks, … Bukan hanya tak mampu membuat Mas Reksa mengingatku kembali, Hiks, … Aku bahkan tidak bisa membuatnya mencintaiku lagi! Hiks, … Hiks, …”


Kiran hanya bisa merintih meratapi nasibnya. Kini bukan hanya hatinya saya yang Reksa sakiti, tetapi tubuhnya juga. Kiran sudah tidak bisa mempertahankan hubungan yang akan menyiksanya fisik dan mentalnya, meski dari dalam lubuk hatinya dia masih sangat mencintai Reksa.


Beralih pada Reksa yang kini mencoba memastikan perkataan Kiran dengan menggeledah mobilnya. Rasa penyesalan semakin Reksa rasakan ketika dia menemukan tas, ponsel dan barang-barang Kiran yang memang berada di kursi penumpang belakang.

__ADS_1


Detik itu juga, Reksa menyesali perbuatan kasarnya yang telah dia lakukan kepada Kiran. Bayangan bagaimana bingung dan ketakutan Kiran ketika dia tinggalkan begitu saja tanpa adanya ponsel dan uang di tempat yang asing.


“A-apa yang sudah aku lakukan kepadanya?” gumam Reksa dengan rasa penyesalan yang semakin memenuhi hati dan pikirannya.


“Jika aku tidak mencintainya, kenapa aku harus merasa sangat marah ketika melihatnya bersama laki-laki lain? Kenapa?” teriak Reksa frustasi menghadapi kenyataan yang dia temukan.


“Akhh, … Sialan! Kenapa aku harus melakukan ini semua!”


Reksa kembali berteriak merutuki kebodohannya sendiri. Setelah itu, Reksa mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa tujuan.


Bahkan nama Anya sama sekali tidak terlintas di pikiran Reksa saat itu, hanya perlakuan kasarnya pada Kiran yang terus terngiang di hati dan pikiran Reksa malam itu.


...****************...


Malam itu dan malam-malam berikutnya, Reksa sama sekali tidak kembali lagi ke rumah. Begitu juga dengan Kiran yang hanya mengurung dirinya di dalam kamar dan hanya keluar ketika dia merasa haus, tapi tidak dengan rasa lapar yang dia rasakan.


Tiga hari telah berlalu sejak kejadian malam itu, tidak ada kabar sama sekali dari Reksa yang di dengar oleh Kiran. Hanya saja Reksa memerintahkan Dani untuk mengembalikan ponsel dan barang-barang Kiran yang ada di mobilnya. Selama itu juga Kiran tidak lagi datang ke kantor sebagai sekretaris Reksa lagi.


Selama itu juga, Reksa selalu menghabiskan waktunya selepas kerja bersama dengan Anya hanya untuk berusaha mengalihkan pikirannya dari Kiran.


Hingga Reksa tidak sadar bahwa bahwa Anya tengah memanfaatkan hartanya saja. Seperti sekarang, ketika Anya meminta mereka malam malam di sebuah restaurant mewah yang per-menunya berharga puluhan juta.


“Sayang, bagaimana makanannya? Bukankah semua makanan yang ada di restaurant ini sangat enak?’ tanya Anya dengan manjanya.


“Emm, …” Reksa hanya menanggapinya dengan dehaman saja, sebab hati dan pikirannya terus tertuju pada Kiran meski di hadapannya sekarang sudah ada Anya.


“Untuk makan di sini aku bahkan sudah reservasi dari sebulan yang lalu dan sampai sekarang belum ada tanggapan lagi. Tapi kau hanya reservasi beberapa jam yang lalu sudah langsung di terima! Kekasihku ini sungguh hebat,” puji Anya sembari menikmati makanan yang telah tersaji.

__ADS_1


“Bagaimana kalau lain kali kita makan malam di sini lagi,” ujar Anya.


“Emm, … Tentu!” sahut Reksa sekenanya, sebab meski tubuhnya berada di samping Anya tetapi hatinya terus tertuju pada Kiran.


“Bagaimana keadaan Kiran sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Apakah lukanya sudah membaik? Aku sungguh ingin melihat keadaannya, tetapi aku merasa tidak pantas untuk menemuinya lagi,” batin Reksa yang selalu di penuhi perasaan gelisah.


...****************...


Sedangkan yang terjadi pada Kiran, kondisi kesehatannya semakin memburuk. Apalagi Kiran selalu mengabaikan waktu makannya dengan mengurung diri di kamarnya.


Hal itu membuat Bibi Han tidak tega meninggalkan Kiran sendirian di rumah besar itu. Namun pada akhirnya Kiran tetap menolak untuk di temani siapapun, bahkan melarang Bibi Han memberitahu orang lain perihal kondisinya.


“Nyonya, saya sudah siapkan makanan kesukaan anda untuk makan malam. Jadi, tolong kali ini makanlah dengan baik,” ujar Bibi Han yang menghampiri Kiran yang dengan berbaring di ruang tamu dengan televisi yang menyala.


“Kau tidak perlu menyiapkan apapun, Bi! Aku sedang tidak nafsu makan sama sekali saat ini,” sahut Kiran terdengar begitu lirih.


“Bila anda terus melewatkan makan seperti ini anda bisa jatuh sakit, Nyonya!”


Terdengar jelas bahwa Bibi Han sangat mengkhawatirkan keadaan Kiran seolah mengkhawatirkan putri kandungnya sendiri.


“Semenjak kecelakaan itu terjadi aku memang sudah merasakan sakit di hatiku, Bi! Mungkin sekarang aku sudah terbiasa akan rasa sakit itu,” lirih Kiran dengan lelehan air mata yang kembali mengalir membasahi wajahnya.


“Nyonya, tolong jangan seperti ini! Bibi akan mengabari Tuan kalau anda, _....”


“Tidak perlu mengabari siapapun, Bi! Hiks, … Aku dan Mas Reksa akan segera bercerai, dia tidak memiliki kewajiban untuk merawatku lagi. Hiks, … Dan mungkin aku harus segera pergi dari rumah ini, karena rumah ini bukan milikku,” terang Kiran yang kembali terisak mengingat perpisahannya dengan Reksa.


“Nyonya, kenapa hubungan kalian menjadi seperti ini?” tanya Bibi Han yang ikut prihatin akan keadaan Kiran.

__ADS_1


Bersambung, .....



__ADS_2