
Beralih pada Kiran dan Dira yang kini sudah kembali pulang ke rumah Kiran, karena Dira tidak akan membiarkan Kiran tinggal sendirian di rumah sebesar itu dalam keadaan tengah hamil muda.
Apalagi kehamilan Kiran di nyatakan oleh dokter merupakan kasus kehamilan yang sangat rentan keguguran. Sehingga membuat Dira sebagai sahabatnya menjadi super protective dengan kondisi Kiran dan bayinya.
Namun siapa sangka, setibanya di rumah Bibi Han ternyata masih belum pulang. Dan begitu melihat Dira dan Kiran kembali, Bibi Han langsung menghampiri keduanya sembari menyerahkan sebuah Map coklat yang berasal dari pengacara Reksa.
“Nyonya, tadi siang ada seorang pengacara mengantarkan berkas ini untuk, Nyonya!” ujar Bibi Han yang membuat Kiran seketika terdiam.
“Kiran!” panggilan Dira menyadarkan Kiran dari kesedihannya.
“Terima kasih,” ucap Kiran yang menerima berkas perceraiannya itu.
“Kalau begitu Bibi pamit pulang sekarang, Nyonya!” pamit Bibi Han yang hanya di balas dengan anggukkan kepala saja oleh Kiran.
“Jangan pikirkan ini dulu! Biar aku saja yang menyimpannya,” ujar Dira yang merebut berkas perceraian itu dari tangan Kiran.
“Sebelum kau membicarakan tentang kehamilanmu dengan Reksa, maka jangan berpikir untuk menanda tangani surat perceraian ini!” lanjut Dira penuh penegasan, sedangkan Kiran hanya dia saja dengan sorot matanya yang di penuhi dengan kesedihan.
“Sudah jangan di pikirkan tentang perceraiannya dulu, tapi pikirkan tentang kondisi bayimu! Sebaiknya kau istirahat dan jangan terlalu stress atau bayimu yang akan menanggung akibatnya kalau kau tetap kerasa kepala,” imbuh Dira yang membawa Kiran menuju ke kamarnya.
Dira benar-benar menyimpan berkas perceraian itu, tapi bagaimanapun juga Kiran tidak bisa berhenti memikirkan tentang perceraiannya. Tentang perkataan Alka, ancaman Anya dan sikap Reksa yang kini sama sekali tidak memperdulikan dirinya sejak kecelakaan itu terjadi.
“Aku takut, jika Papamu juga tidak memperdulikan keberadaan mu, Nak! Jika itu terjadi Mama hany bisa terpaksa membesarkan mu tanpa kehadiran sosok Papah untukmu. Tolong maafkan Mamah, bila hal itu sampai terjadi ‘yah, Nak!” ujar Kiran yang bicara dengan bayi yang masih berada di dalam perutnya.
Meski merasa sedih dan kecewa, Kiran berusaha untuk tidak memikirkan semuanya terlalu jauh. karena kesehatan dan kondisi bayi di dalam kandungannya jauh lebih penting di bandingkan dengan apapun.
...****************...
Semenjak pembicaraannya dengan Alka dan Dira di restaurant, Kiran selalu berusaha mencari waktu yang pas untuk memberitahukan kepada Reksa tentang kehamilannya.
Setidaknya sejauh ini yang mengetahui tentang kehamilannya hanya di tiga orang saja yaitu Alka, Dira dan Dr. Zara.
__ADS_1
Di tambah dengan kesibukan mereka mempersiapkan pengambilan pertama untuk promosi produk baru mereka. Karena Seno sibuk memastikan tidak ada kerusakan produk pada masa produksi, sehingga Reksa sendiri yang harus turun langsung ke lapangan untuk memastikan semuanya berjalan lancar.
Sedangkan Kiran sendiri di bantu oleh sekretarisnya menangani masalah internal di perusahaan mengingat kondisi Kiran yang belum membaik karena morning sickness nya.
“Maaf, Nyonya Kiran! Saya mau meminta tanda tangan Nyonya pada berkas ini,” ujar Dani begitu masuk setelah terlebih dahulu mengetuk pintu.
“Emm, … Baiklah, letakkan saja berkasnya di sana kalau tidak terburu-buru,” perintah Kiran memberikan arahan.
“Tidak, Nyonya! Kalau begitu saya permisi,” pamit Dani yang berniat meninggalkan ruangan atasannya setelah meletakan dokumen yang dia bawa.
“Ouhya, … Dani! Dimana Tuan Reksa sekarang?” tanya Kiran yang sama sekali belum melihat keberadaan Reksa sejak dia datang ke kantornya.
“Tuan Reksa sedang berada di lokasi pengambilan gambar yang akan di lakukan hari ini, Nyonya!” jawab Dani memberitahukan lokasi Reksa.
“Ouhya, … Apakah Nyonya ingin melihat proses pengambilan gambarnya secara langsung? Kebetulan hari ini tidak ada pertemuan penting yang harus anda hadiri,"
"Siapa tahu Nyonya ingin melihat suasana baru agar merasa lebih baik,” ujar Dani yang mengira Kiran tengah bosan dengan kesibukannya di perusahaan, apalagi melihat kondisi atasannya itu yang beberapa hari ini raut wajahnya terlihat pucat.
“Baik, Nyonya! Akan saya siapkan sekarang juga,” sahut Dani.
Kiran pun membereskan semua berkas yang ada di atas meja kerjanya. Hingga tak lama kemudian, Dani kembali masuk ke dalam ruangan untuk memberitahukan bahwa mobil yang akan mengantar Kiran ke lokasi syuting iklan sudah siap di depan lobi perusahaan.
“Nyonya, apa anda yakin akan pergi sendiri kesana?” tanya Dani kembali memastikan sebelum Kiran masuk ke dalam mobil.
“Iya, lagipula di sana sudah ada Tuan Reksa! Kau tidak perlu khawatir dan lanjutkan saja pekerjaanmu di sini,” jelas Kiran yang melihat kekhawatiran di wajah sekretarisnya itu.
“Kiran! Kau mau kemana?”
Sebuah suara yang terdengar tidak asing mengalihkan perhatian Kiran dan Dani, ternyata suara itu berasal dari Alka yang datang dengan membawa sekantung makanan untuk Kiran. Terlihat
“Alka, kenapa kau datang kemari?”
__ADS_1
Bukannya menjawab, Kiran malah balik bertanya tanpa menyadari apa yang kini berada di tangan Alka.
“Tentu saja untuk memberi kalian asupan makanan yang bergizi. Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, bukan?”
Alka mengingatkan sembari memperlihatkan sekantung makanan dan buah-buahan di tangannya.
Sedangkan Kiran hanya menyunggingkan senyuman manisnya akan perhatian yang Alka berikan kepada dirinya serta bayi yang ada di dalam kandungannya.
Berbeda dengan Dani yang mengira bahwa kata ‘Kalian’ yang di maksud Alka adalah Kiran dan dirinya. Karena tidak ada orang lain lagi di sana selain Dani dan Kiran.
“Aku berniat melihat proses syuting iklan dan pengambilan gambar untuk pemasaran produk barunya. Dan terima kasih untuk semua makanan ini,” ujar Kiran yang tidak lupa mengucapkan rasa terima kasihnya atas perhatian yang Alka berikan.
“Apa aku boleh ikut menemanimu?” tanya Alka yang sebenarnya ingin menghabiskan banyak waktu bersama Kiran.
“Tentu, karena kau juga berhak mengawasinya secara langsung. Tuan Investor terbesarku,” canda Kiran.
“Ayo, gunakan mobilku saja!”
Alka hanya tersenyum dengan candaan yang Kiran lontarkan padanya. Kemudian, dia langsung mengajak Kiran untuk masuk ke dalam mobilnya saja. Sehingga dia bisa berduaan saja dengan Kiran selama dalam perjalanan.
...****************...
Sepanjang perjalanan, Kiran terus menikmati buah jeruk yang di bawakan Alka sebelumnya dan makanan serta buah yang lainnya. Alka yang melihatnya hanya bisa tersenyum dan terus memperhatikan Kiran yang sangat menikmati buah jeruk yang sekarang menjadi makanan favoritnya.
“Andai saja kalau saat ini status Kiran saat ini adalah istriku dan anak yang saat ini berada di dalam kandungannya adalah anakku. Maka aku menjadi pria yang paling beruntung di dunia ini,” batin Alka yang berharap suatu hari ini semua menjadi kenyataan sesuai harapannya.
Bersambung, .....
__ADS_1