Love Me Again, My Husband!

Love Me Again, My Husband!
Suasana Berbeda


__ADS_3

Setibanya di perusahaan Papah Ibnu, Mamah Syifa dan Kiran di sambut oleh semua karyawan yang bekerja di sana. Pada saat itu juga Papah Ibnu membuat pengumuman yang sangat mengejutkan bagi Seno dan seluruh karyawan yang hadir.


Pagi itu perusahaan menjadi sangat heboh atas pengumuman yang di lontarkan Papah Ibnu dengan lantang di hadapan semua orang.


“Ouh, … Rupanya kalian datang bersama?” tanya Seno yang melihat kedatangan orang tuanya yang bersama dengan Kiran yang beberapa hari yang lalu cuti sakit.


“Apa keadaan Kakak Ipar sudah membaik sekarang?” Kali ini pertanyaan Seno tunjukan khusu untuk Kakak Ipar tercantik nya.


“Seperti yang kau lihat sendiri, Bocah!” jawab Papah Ibnu dengan santainya.


“Aish, … Papah ini, tidak bisakah Papah perhatian sedikit sama anak sendiri,” gerutu Seno yang hanya sebatas candaan seperti biasanya.


“Terima kasih atas perhatiannya, Seno! Sekarang Kakak sudah baik-baik saja sekarang,” ujar Kiran yang bersyukur masih memiliki adik Ipar yang menganggapnya sebagai Kakak kandung sendiri.


“Syukurlah, kalau Kakak Ipar sudah baik-baik saja sekarang! Maaf, aku tidak sempat menjenguk soalnya banyak sekali pekerjaan yang Kak Reksa serahkan padaku,” ucap Seno dengan raut wajah penuh penyesalan.


“Tidak apa-apa,” balas Kiran yang tidak mempermasalahkannya, lagi pula dia juga mengerti posisi seno di perusahaan.


“Sesibuk apapun jangan lupa jaga kesehatanmu, Seno!” ujar Mamah Syifa mengingatkan putra bungsunya itu.


“Iya, Mamahku sayang!” balas Seno dengan sikap manjanya.


“Seno, apakah seluruh karyawan kita sudah berkumpul?” tanya Papah Ibnu memastikan langsung pada Seno.


“Emmm, … Papah bisa melihat sendiri betapa penuhnya halaman perusahaan yang sebenarnya bisa muat lima puluh mobil sekaligus,” jawab Seno dengan santainya, sebab kelakuan Ayah dan anak bungsunya itu memang rada-rada.

__ADS_1


“Bagaimana dengan Reksa? Apakah dia belum datang atau tidak datang?” tanya Papah Ibnu yang tidak melihat keberadaan putra sulungnya sejak tiba di perusahaan.


“Aku juga belum melihatnya, Pah! Mungkin Kak Reksa sedikit terlambat datang kekantor hari ini,” jawab Seno yang belum mengetahui apapun termasuk tujuan kedatangan kedua orang tuanya dan perintah untuk mengumpulkan seluruh karyawan yang ada.


“Mungkin dia memutuskan untuk tidak datang ke perusahaan lagi,” gumam Papah Ibnu yang membuat Seno menatapnya dengan raut wajah kebingungan sendiri.


“Maksud Papah?” tanya Seno menuntut penjelasan.


Namun Papah Ibnu mengabaikan pertanyaan itu dan langsung berjalan menaiki podium yang sudah tersedia di sana. Dengan gerakan jari tangannya, Papah Ibnu mengisyaratkan Kiran dan Istrinya untuk ikut naik ke atas podium. Padahal Seno tidak termasuk, tetapi dia ikut-ikutan berdiri bersama dengan Mamah dan Kakak Iparnya itu.


“Kalian semua mungkin bertanya-tanya mengapa saya datang dan mengumpulkan kalian semua seperti ini!” ujar Papah Ibnu dengan penuh wibawanya.


“Hari ini saya akan mengumumkan hal yang sangat penting kepada kalian! Bahwa secara resmi saya Mahesa Ibnu Damarwangsa menyatakan bahwa posisi Ceo yang selama ini di jabat oleh putra sulung saya, Areksa Reano Damarwangsa akan di gantikan oleh menantu kesayangan saya yaitu Kiran Naditya Chandrawinata,”


Ungkap Papah Ibnu yang seketika berhasil membuat seluruh karyawannya saling berbisik satu sama lain menyebarkan gossip yang tidak-tidak.


“Sepertinya pengumuman ini sudah cukup jelas untuk kalian terima! Jadi, mohon kerjasamanya dengan Ceo baru kalian ini. Hormati dia sebagaimana mestinya,” ujar Papah Ibnu yang menyadari kehadiran putra sulungnya di sana.


Namun, di saat yang bersamaan Reksa juga tiba di sana. Dia yang mendengar semua yang Papahnya katakan hanya bisa berdiam diri. Benar, seharusnya dia tidak datang hari ini mengingat posisinya yang sudah di gantikan oleh Kiran.


Akan tetapi, sayangnya Reksa malah melupakan hal sepenting itu yang mengakibatkan dirinya harus mendapatkan tatapan kasihan dari karyawannya sendiri.


Tatapan yang dulu memuja dan menghormatinya penuh kagum, sekarang lebih terasa sebagai tatapan kasihan orang-orang kepadanya. Reksa juga tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari bahwa suasana langsung berubah begitu para karyawan yang lain menyadari kehadirannya di sana.


“Sial, kenapa aku harus melupakan hal sepenting ini. Seharusnya aku memang tidak datang ke perusahaan lagi,” batin Reksa yang menyesali keputusannya tatap datang ke perusahaan.

__ADS_1


Belum sempat Reksa melarikan diri, Papah Ibnu sudah berdiri tepat di hadapannya. Disusul dengan Mamah, Syifa, Seno dan Kiran sendiri sehingga tidak memungkinkan Reksa untuk menghindar lagi. Lagipula dia juga penasaran apalagi yang ingin Papahnya katakan kepada dirinya.


“Melihat kau yang datang hari ini, sepertinya kau masih mau menerima tawaran yang Papah berikan padamu! Jadi, mulai sekarang bantu Kiran memimpin perusahaan itu. Lalu perlahan kenalkan Kiran pada para klien dan investor kita,” ujar Papah Ibnu tanpa menanyakan keadaan Reksa sama sekali.


“Ingin sekali rasanya aku tidak menginjakan kaki lagi di perusahaan ini! Akan tetapi, rasa tanggung jawabku untuk menyerahkan posisiku selama ini dengan layak kepadanya,” balas Reksa yang tidak ingin terlihat lebih menyedihkan lagi di mata keluarganya dan juga Kiran.


“Kau tahu akan rasa tanggung jawab pada pekerjaanmu? Lalu kenapa kau tidak tahu rasa tanggung jawab kepada istrimu. Ck, … Sungguh sangat mengagumkan putra sulungku ini,” sindir Mamah Syifa yang seketika langsung terdiam.


“Pah! Mamah, sebenarnya ada apa ini? kenapa tiba-tiba Kakak ipar menggantikan posisi Kak Reksa? Tolong siapapun jelaskan apa yang tengah terjadi di sini.” Seno yang tidak mengetahui apapun tentunya menuntut penjelasan dari keluarganya itu.


Mereka bahkan tanpa sadar mengabaikan keberadaan para karyawan yang masih berada di sana memperhatikan mereka dengan rasa penasaran yang semakin tinggi. Sampai pada akhirnya, Seno menyadari bahwa keluarganya sedang menjadi pusat perhatian semua orang.


“Yakh, … Apa kalian semua tidak ingin bekerja di sini lagi, Hah!”


Teriakkan Seno berhasil membubarkan semua karyawan yang ada di sana. Kemudian, Seno langsung saja menarik tangan Papah dan Mamahnya untuk mengikutinya keruangan yang lebih nyaman untuk mereka membicarakan hal yang sangat mengejutkan pagi itu.


“Apa maksud Papah Kakak Ipar yang akan menjadi Ceo di perusahaan kita mulai sekarang?” tanya Seno menuntut penjelasan begitu mereka semua sudah berada di ruangan kerjanya.


“Kakakmu akan segera bercerai dengan Kiran,” jawab Papah Ibnu dengan santainya.


Namun berbeda reaksi yang di tunjukkan oleh Seno yang tampak sangat terkejut untuk kesekian kalinya pada pagi itu. Sebab Seno pikir kehidupan rumah tangga Kakaknya baik-baik saja selama ini.


Seno sungguh tidak menyangka bahwa hubungan pernikahan kakaknya yang dulu sangat harmonis sekarang akan berakhir dengan sebuah perceraian.


Bersambung, ....

__ADS_1




__ADS_2