Love Me Again, My Husband!

Love Me Again, My Husband!
Menyembunyikan Sesuatu


__ADS_3

“Hay, kita mau pergi kemana?” tanya Reksa dalam keadaan tangannya di tarik Kiran untuk mengikutinya.


“Diamlah! Nanti kau juga tahu sendiri aku mau membawamu kemana,” tukas Kiran yang tak mau menjawab pertanyaan Reksa saat itu.


“Tidak apa-apa, kalau sekarang di hatimu masih ada Reksa! Aku cukup percaya diri untuk merebut posisi Reksa di hatimu dengan perlahan, karena aku tidak ingin memaksakan perasaanmu padaku,” gumam Alka yang tersenyum penuh percaya diri bisa menenangkan hati Kiran.


...****************...


Beralih pada Kiran dan Reksa yang masih berdebat akan tujuan kepergian mereka kali ini. Apalagi Kiran menyuruh sopir untuk mengantarkan Dani kembali ke perusahaan. Sedangkan Kiran menariknya untuk menaiki taxi yang kebetulan saat itu melintas di depan mereka.


“Sebenarnya kita mau kemana?” tanya Reksa mengulang pertanyaannya lagi, setelah beberapa kali bertanya tapi tidak mendapatkan jawaban.


“Diam dan duduk dengan tenang saja!” Lagi-lagi Kiran tidak berniat menjawabnya.


“Jangan bilang kalau kau berniat menculik ku agar proses perceraian kita di batalkan?” tebak Reksa asal, hingga berhasil membuatnya mendapat tatapan tidak percaya dari Kiran.


“Jika cara ini berhasil, maka aku bersedia menculik mu saat ini juga,” ujar Kiran yang kemudian tersenyum mendengar perkataan Reksa yang tidak masuk akal.


“Kiran, aku serius menanyakan tujuan kita saat ini! Masih banyak pekerjaan yang harus segera di selesaikan dan banyak dokumen penting yang harus kau pelajari untuk, _....”


“Jika saja kau pergi melakukan pemeriksaan sesuai jadwal dari Dr. Aiden, mungkin kita tidak perlu pergi ke rumah sakit sekarang,” potong Kiran yang tidak ingin mendengarkan perkataan tidak masuk akal dari mulut suaminya lagi, karena hal itu membuatnya merasa gemas dan ingin memeluknya saat itu juga.


“Aah, … Jadi Dokter itu menghubungimu juga,” ujar Reksa dengan santainya.


“Apa kau mengabaikan telepon darinya selama ini?” cecar Kiran menuntut penjelasan dari reksa.


“Bukan seperti itu, aku hanya tidak sengaja melupakannya karena terlalu banyak hal yang terjadi belakangan ini pada hidupku,” terang Reksa yang mengalihkan tatapannya dari Kiran.


“Kau tidak boleh mengabaikan kesehatanmu,” ucap Kiran sembari menghela napas panjang.


“Yaa, … Aku akan mengingatnya mulai sekarang,” balas Reksa lirih.

__ADS_1


...****************...


Tak lama kemudian, taxi yang mereka naiki sudah tiba di depan lobi rumah sakit. Setelah membayar ongkos taxinya, Kiran langsung membawa Reksa masuk dengan sedikit paksaan. Karena sudah membuat janji dengan Dr. Aiden secara langsung, Kiran dan Reksa pun langsung di arahkan untuk pergi ke ruangan Dr. Aiden.


“Permisi, Dok!” ucap Kiran begitu membuka pintu ruangan yang teradapat nama Dr. Aiden di depan pintunya.


“Ouh, … Nyonya Kiran dan Tuan Reksa, silahkan masuk saja!” balas Dr. Aiden yang kemudian mempersilahkan keduanya untuk duduk di kursi yang tersedia di sana.


“Tuan Reksa, mengapa anda beberapa hari ini selalu mengabaikan telepon dari rumah sakit? Jujur saja pemeriksaan rutin ini sangat penting, apalagi untuk kasus langka seperti anda ini,” terang Dr. Aiden yang tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya pada pasiennya yang satu ini.


“Bukankah sekarang aku sudah berada di sini? Lalu kau mau memeriksaku atau mengomeliku seperti ini?” Dengan santainya Reksa semaki menyulut emosi Dokter tampan di depannya.


Sejenak Dr. Aiden menghela napas panjang untuk mengurangi sedikit emosinya. Lalu berkata, “Baiklah, mari kita mulai pemeriksaannya Tuan Reksa.”


Dr. Aiden pun mulai memeriksa Reksa dengan teliti dan hati-hati. Beruntung semua hasil pemeriksaannya tidak ada masalah. Namun untuk lebih memastikannya, Dr. Aiden harus menanyakan beberapa pertanyaan penting kepada Reksa.


“Tuan Reksa, apakah belakangan ini anda merasa sakit kepala?” tanya Dr. Aiden.


“Yaa, … Bahkan belakangan ini semakin parah rasa sakitnya,” jawab Reksa dengan jujur.


Reksa diam sejenak, tidak langsung menjawab seperti pertanyaan pertama tadi. Mendengar pertanyaan dari Dr. Aiden tanpa sadar membuat harapan Kiran bahwa Reksa bisa mengingatnya lagi kembali tumbuh begitu saja.


Namun pada akhirnya dia tetap menjawab, “Tidak sama sekali!”


Dan jawaban Reksa itu berhasil membuat Kiran berakhir dengan sebuah kekecewaan besar. Berbeda dengan Reksa yang berusaha bersikap setenang mungkin dan terus menghindari tatapan Kiran serta Dr. Aiden.


Dr. Aiden perlahan menganggukkan kepalanya seolah sudah mengerti akan perkembangan dari pasiennya itu.


“Baiklah! Sepertinya aku perlu melakukan pemeriksaan CT Scan kembali pada anda supaya mendapatkan hasil yang lebih pasti,” ujar Dr. Aiden.


“Aku tidak mau! Berikan saja resep obat untuk mengurangi sakit kepalaku.” Namun siapa sangka reaksi Reksa sangat tidak terduga dan langsung menolaknya saat itu juga.

__ADS_1


“Saya Dokter anda sekarang, Tuan Reksa! Seharusnya sebagai pasien yang baik anda cukup mengikuti perkataan dari Dokter yang tengah menangani kondisi anda sekarang,” terang Dr. Aiden yang merasa ada yang di sembunyikan dari pasiennya, sehingga berhasil membuat Kiran juga mulai merasa curiga.


“Baiklah, tapi tidak hari ini,” ujar Reksa yang akhirnya mengalah.


“Tentu saja! Saya juga harus menyiapkan jadwal dan alatnya lebih dulu. Bagaimana kalau besok anda datang kembali lagi kemari?” tanya Dr. Aiden memastikan jadwalnya bisa diikuti dengan baik oleh pasien spesialnya ini.


“Atur saja sesukamu! Kalau sudah tidak ada yang perlu di periksa lagi, maka kami akan pamit sekarang!” ketus Reksa yang tidak ingin berlama-lama bertemu dengan Dokter pribadinya itu.


“Tentu, terima kasih sudah meluangkan waktunya datang untuk melakukan pemeriksaan rutin ini. Lalu ini resep obat yang bisa mengurangi sakit kepalanya,” ujar Dr. Aiden sembari menyerahkan resep obatnya pada Reksa.


“Emmm, … Terima kasih!” ucap Reksa setelah menerima resep obatnya.


“Terima kasih, Dok! Dan maaf atas sikap tidak sopan suami saya,” ucap Kiran yang mewakili Reksa kepada Dr. Aiden.


“Tidak masalah, Nyonya! Saya bisa mengerti,” sahut Dr. Aiden yang tidak lepas dengan senyumannya yang penuh dengan keramahan.


Setelah itu, Kiran segera menyusul Reksa yang sebelumnya sudah keluar lebih dulu dari ruangan Dr. Aiden. Kiran langsung melontarkan tatapan tajamnya, ketika melihat Reksa yang tanpa rasa bersalah sedikitpun sedang menunggunya sambil memainkan ponsel.


“Mas, kau ini, _...”


“Ayo, pergi ada hal yang penting di perusahaan untuk segera di selesaikan,” potong Reksa yang sudah menduga bahwa Kiran akan mengomelinya.


“Tidak mau! Aku mau makan siang dulu sebelum pergi ke perusahaan,” tolak Kiran yang langsung berjalan mendahului Reksa.


“Kiran, kau tidak bisa bersikap seenaknya!” seru Reksa.


Pada akhirnya Reksa kembali mengikuti kemauan Kiran dan berakhir dengan mendatangi salah satu restaurant yang dulu sering mereka kunjungi.


Bahkan para pelayan pun sudah sangat mengenali mereka, kecuali pelayan yang baru bekerja di sana.


Bersambung, ......

__ADS_1




__ADS_2