
“Apakah aku bisa melakukan semua itu, Dir? Padahal hatiku masih sangat mengharapkan Mas Reksa kembali padaku?” tanya Kiran kembali yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya bahwa dia sebenarnya tidak ingin kehilangan Reksa.
“Untuk sekarang kau sudah cukup berusaha, Kiran! Namun sepertinya takdir memang berkata lain. Jika kalian berdua memang berjodoh, maka meskipun harus ada perpisahan sementara, kalian akan dipersatukan kembali di lain waktu,” terang Dira memberikan sedikit kata-kata yang bisa menghibur Kiran.
“Aku yang sekarang lemah sekali, bukan? Seakan aku tidak bisa hidup tanpa Mas Reksa di sisiku, padahal dulu aku sebelum mengenalnya aku bisa melakukan apapun sendiri dan bisa hidup dengan baik. Tapi sekarang aku sangat bergantung padanya,” ujar Kiran dengan deraian air mata yang tak mau kunjung berhenti.
“Dari dulu maupun sekarang kau tidak pernah sendirian Kiran? Apa kau lupa bahwa masih ada aku yang akan selalu ada untukmu?” protes Dira yang seolah tak di anggap oleh sahabatnya itu.
“Kau jangan tinggalkan aku seperti yang Mas Reksa lakukan ‘yah! Aku takut, jika aku kehilangan sahabat terbaik sepertimu juga. Maka aku tidak akan bertahan untuk hidup di dunia ini lagi,” pinta Kiran yang kini juga takut kalau semua orang meninggalkannya.
“Kau jangan bicara seperti ini! Lebih baik kau istirahat sekarang, wajahmu sudah tampak pucat. Apakah selama ini kau tidak bisa istirahat dan makan dengan baik?” cecar Dira begitu menyadari bahwa wajah Kiran makin tirus hanya dalam beberapa hari saja mereka tidak bertemu.
“Aku baik-baik saja,” sahut Kiran sekenanya.
“Apa kau sudah makan malam?”
Dira bertanya dengan tatapan penuh menyelidik dan Kiran pun menggelengkan kepalanya perlahan. Melihat tatapan yang di tunjukan Dira padanya, Kiran sadar bahwa dia tidak bisa berbohong kalau dirinya sudah makan.
“Astaga! Kenapa kau menyiksa dirimu sendiri seperti ini, Kiran?”
Dira tampak begitu kesal mengetahui bahwa sahabatnya itu sama sekali tidak menjaga dirinya, ditambah dengan pikirannya yang tertekan dengan masalah perceraiannya.
Jika dia berada di posisi Kiran, sepertinya dia memang akan melakukan hal yang sama. Karena itulah Dira sedikit menyesal sebab tidak menaruh perhatian khusus pada sahabatnya yang tengah dalam masalah itu.
“Tunggu di sini! Aku akan membuatkan makan malam special untukmu,” ucap Dira yang beranjak menuju dapurnya, lalu dengan sigap menyiapkan bahan makanan untuk membuat menu makan malam kesukaan Kiran.
Tak perlu memakan waktu lama, Dira akhirnya telah selesai membuat sepiring nasi goreng special untuk Kiran. Dia bahkan menemani Kiran yang terlihat tidak nafsu makan, sehingga dengan terpaksa Kiran harus menghabiskan nasi goreng tersebut untuk menghargai usaha sahabat baiknya itu.
“Tinggal saja bersamaku di sini! Aku tahu kau pasti selalu merasa kesepian tinggal di rumah mewah itu sendirian, sedangkan kalau di sini ada aku yang bisa menemani dan mendengarkan semua kisahmu,” ujar Dira menawarkan untuk tinggal bersama.
__ADS_1
“Apa kau tidak keberatan?” tanya Kiran yang tidak ingin merepotkan sahabatnya kalau dia menerima tawaran itu begitu saja.
“Yakh, … Aku yang menawarkan dirimu untuk tinggal di sini! Aku malah senang memiliki teman sekamar, sehingga aku tidak perlu makan dan tidur sendirian,” jawab Dira yang sama sekali tidak keberatan.
“Terima kasih, Dira! Dan maaf aku selalu merepotkan mu,” ucap Kiran.
“Kau akan merepotkan kalau tiba-tiba menghilang dan menyimpan masalahmu sendiri! Kau harus selalu mengingat bahwa kau tidak sendirian, ada sahabat terbaikmu di sini yang akan selalu ada untuk memelukmu di saat kau sedih! Sahabat terbaik yang bisa kau jadikan sebagai rumah tempatmu kembali,” ujar Dira sembari memeluk erat tubuh Kiran.
“Dira, kau adalah keberuntunganku di tengah setiap kesialan yang aku hadapi!” batin Kiran yang merasa sangat bersyukur menemukan dan memiliki sahabat seperti Dira.
...****************...
Keesokan harinya, Dira terpaksa membuka keduanya matanya yang masih mengantuk ketika mendengar suara orang yang tengah muntah- muntah di dalam kamar mandinya.
Awalnya dirinya mengira bahwa suara itu berasal dari mimpinya, tetapi dia seketika sadar bahwa suara itu nyata saat tidak menemukan Kiran di samping tempat tidurnya.
“Aish, … Siapa ‘sih yang muntah sampai seperti itu pagi-pagi buta begini?” gumam Dira sembari meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku.
“Loh? Dimana Kiran?”
Dira langsung membulatkan kedua matanya ketika tidak menemukan Kiran yang semalam tidur di sampingnya. Lalu Dira segera bergegas menuju ke kamar mandi, dimana dia kembali mendengar suara orang muntah di dalam sana.
“Kiran! Ada apa denganmu? Apakah kau sakit?” tanya Dira yang langsung menghampiri sahabatnya, lalu memijat pelan tengkuk Kiran agar merasa lebih baik.
“Emm, … Sepertinya begitu.” Kiran menjawabnya dengan suara lirih, karena dirinya merasa sangat lemah.
“Kita periksa saja ke rumah sakit sekarang!” ujar Dira yang terlihat jelas sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.
“Tidak perlu! Sepertinya ini hanya masuk angin dan asam lambungku kumat lagi, karena belakangan ini aku mengabaikan pola makan dan istirahatku! Kau punya obat untuk masuk angin dan asam lambung, bukan?” tanya Kiran yang memilih untuk meminum obat dari apotek saja agar Dira juga bisa tenang akan kondisinya.
__ADS_1
“Aku akan minum obat itu saja setelah sarapan!” imbuhnya.
“Kau yakin?” tanya Dira memastikan.
“Iya, aku yakin akan baik-baik saja setelah sarapan dan minum obat,” jawab Kiran menyakinkan.
“Kalau begitu sekalian saja kau cuti sakit hari ini,” ujar Dira menyarankan Kiran untuk tidak perlu bekerja dulu.
“Tidak bisa, Dir! Tanggung jawabku saat ini sangat besar, lagipula hari ini juga ada beberapa meeting penting yang harus aku hadiri sebagai Ceo,” tolak Kiran yang tidak mau mengabaikan tanggung jawabnya sebagai seorang pimpinan hanya karena sakit kecil yang di alaminya.
“Baiklah! Tapi kalau terjadi sesuatu saat kau sedang bekerja, kau harus menghubungiku sesegera mungkin!” pinta Dira menegaskan.
“Iya, kau pasti menjadi orang pertama yang aku beritahu jika terjadi sesuatu padaku!” sahut Kiran yang menyunggingkan senyuman manis di bibir pucat nya.
Akhirnya Dira tetap saja tidak bisa membujuk Kiran untuk mengambil cuti sakit. Dengan menahan sakit kepala dan rasa mualnya, Kiran memaksakan makan sarapan yang di buatkan oleh sahabatnya itu dan setelah itu langsung minum obat. Tak ingin membuang waktu, Kiran lalu pergi ke perusahaan dengan di antar oleh supir pribadinya.
...****************...
Setibanya di perusahaan, lagi-lagi Reksa dan Kiran datang di waktu yang bersamaan. Awalnya Reksa berniat untuk bersembunyi lagi dan membiarkan Kiran masuk ke perusahaan lebih dulu.
Akan tetapi, Reksa mengurungkan niatnya ketika melihat wajah pucat Kiran dan tubuhnya yang hampir ambruk jika dia tidak menangkapnya tepat waktu.
“Kiran! Kau kenapa?”
Bersambung, .....
__ADS_1