
“Bukankah akan sangat lucu, jika aku hamil di saat ingin memutuskan hubungan pernikahan yang telah berjalan selama lima tahun ini. Tolong jangan katakan apapun yang bisa membuatku berharap lagi, Dira!” Kiran mengakhiri ucapannya.
“Maaf, Kiran! Aku tidak bermaksud, _....” Dira sejenak menggantung ucapannya.
“Baiklah, kalau sampai besok pagi keadaanmu tidak membaik! Maka mau tidak mau aku akan memaksamu untuk pergi ke rumah sakit dan mengobati asam lambungmu itu,” lanjut Dira yang segera mengalihkan topik pembicaraan.
“Baiklah, terserah kau saja! Aku ingin istirahat sekarang,” sahut Kiran yang membalikan tubuhnya membelakangi Dira.
Meski Kiran tidak berpikir bahwa dirinya tengah mengandung anak Reksa, anak yang bisa saja mempertahankan pernikahannya yang sebentar lagi akan hancur. Akan tetapi, tidak bisa Kiran pungkiri bahwa dia berharap kemunginan itu ada untuk dirinya.
“Jika kemungkinan itu ada! Aku berharap kau benar-benar sedang tumbuh di dalam sini, Nak!” batin Kiran sembari mengelus lembut perutnya yang rata dengan deraian airmata yang tidak bisa dia hentikan.
...****************...
Keesokan harinya, Kiran kembali merasakan mual yang luar biasa hingga memaksanya menghabiskan waktu paginya di dalam kamar mandi. Beruntung Dira menempati kamar yang berbeda dengan Kiran, sehingga tidak mengetahui bahwa rasa mual Kiran semakin bertambah parah pagi itu.
“Hoeek, … Hoeek, …”
“Aaaah, … Sepertinya aku memang harus pergi ke rumah sakit untuk memastikannya,” gumam Kiran setelah merasa lebih baik setelah memuntahkan isi perutnya.
“Aku harap kau memang sedang tumbuh di dalam sini, Nak! Meski aku tidak berani terlalu mengharapkannya,” lanjutnya sembari mengelus lembut perutnya.
Cukup lama Kiran menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi hanya untuk muntah-muntah. Setelah merasa lebih baik, Kiran lalu pergi membersihkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi bekerja.
Apalagi jadwal hari ini adalah pertemuan besar dengan para klien dan model yang akan memasarkan produk perusahaannya.
“Kiran, ayo sarapan!” ajak Dira yang tengah menikmati sarapan yang di buat oleh Bibi Han.
“Maaf, sepertinya aku akan sarapan di kantor saja, soalnya sudah hampir terlambat untuk mengikuti rapat penting hari ini,” tolak Kiran yang memang tengah terburu-buru.
“Baiklah! Tapi apa kondisimu sudah baik-baik saja sekarang?” tanya Dira yang harus memastikan keadaan Kiran sudah jauh lebih baik atau malah sebaliknya.
__ADS_1
“Seperti yang kau lihat!” jawab Kiran yang memutar tubuhnya layaknya seorang putri kerajaan.
“Baiklah, jika terjadi sesuatu kau harus menghubungiku!” Dira kembali menegaskan pada Kiran.
...****************...
Kiran dan Dira akhirnya berangkat bekerja ke tujuan mereka masing-masing. Seperti biasa Dira akan mengelola restaurant miliknya, sedangkan Kiran menuju perusahaan Damarwangsa Group.
Kali ini Kiran tidak hanya berpapasan dengan Reksa saja, tetapi ada Seno juga yang baru kembali dari perjalanan bisnisnya mewakili perusahaan.
“Kakak Ipar!” Sapa Seno yang sangat bersemangat ketika melihat Kakak Ipar kesayangannya turun dari mobil.
“Seno, kapan kau kembali dari perjalanan bisnismu?” tanya Kiran.
“Baru saja semalam dan sekarang malah harus mengikuti pertemuan dengan wanita tidak tahu malu itu,” jawab Seno yang melirik kesal pada Reksa yang tidak di anggap keberadaannya dan wanita yang di maksud Seno adalah Anya.
“Seno, tidak boleh seperti itu! Nanti ketika rapat berlangsung kau pun harus tetap menjaga sikap dan perkataanmu,” ujar Kiran memberikan peringatan pada adik iparnya itu, mengingat pada pertemuan sebelumnya Seno malah berdebat dengan Anya di depan para klien.
“Kakak!” bentak Seno pada Kakaknya yang telah membuat Kiran kembali merasa sedih lagi.
Sedangkan Kiran hanya diam saja sembari meremas ujung bajunya sebagai bentuk pelampiasan air matanya yang tidak bisa dia tunjukan saat itu.
Disaat Kiran tengah mengharapkan kebahagiaan datang padanya dan menyatukan kembali pernikahan mereka, Reksa malah menunjukan jalan yang jelas untuk perpisahan mereka. Bukankah semua itu sangat lucu, seolah takdir sangat senang mempermainkan hidup Kiran.
“Baiklah, aku tidak akan mempersulit mu lagi!” ujar Kiran yang setelah itu berlalu pergi menuju ke ruangannya, karena masih ada beberapa menit lagi sebelum pertemuannya di mulai.
Tak lama kemudian. Dani datang untuk memberitahukan pada Kiran bahwa meeting akan segera dimulai. Kiran pun sedikit merasa heran mengapa Reksa tidak mengikutinya, hingga dia mencoba menanyakan keberadaan Reksa pada Dani.
“Nyonya, sudah waktunya untuk pertemuannya di mulai,” ujar Dani begitu di ijinkan masuk oleh Kiran.
“Baiklah!” sahut Kiran.
__ADS_1
“Ouhya, Dan! Dimana Tuan Reksa? Apakah dia sudah berada di ruang pertemuannya?” tany Kiran yang mengira Reksa mengikutinya, tapi ternyata malah tidak.
“Aaah, … I-itu! Tuan Reksa sedang bersama dengan Nona Anya,” jawab Dani dengan penuh keraguan ketika mengatakannya.
“Hahahaaa, … Ternyata begitu! Bodohnya aku yang masih saja mengharapkan sebuah kemungkinan yang sangat kecil untuk bisa aku gapai.”
Kiran hanya bisa menertawakan harapannya sendiri, tanpa sadar dia mengelus lembut perutnya.
“Jika kau benar berada di sini! Apakah Mas Reksa memilihku di bandingkan wanita itu?” gumam Kiran tanpa sadar.
“Nyonya!”
Namun panggilan Dani lagi-lagi membuyarkan dan menyadarkan Kiran pada kenyataan. Seketika Kiran pun berusaha menyiapkan hati serta mentalnya untuk menghadapi Anya yang entah bagaimanapun pasti akan tetap membuat masalah dengannya.
Seperti yang di katakan Dani sebelumnya, Reksa memang tengah bersama dengan Anya. Bahkan mereka sudah tidak malu lagi menunjukan hubungan mereka di depan public.
Seno dan karyawan lainnya bahkan sudah terlihat muak dengan sikap Anya yang terlalu mempertontonkan kemesraannya di hadapan semua orang. Sedangkan Reksa hanya diam tanpa menolak atau menanggapi sikap Anya.
“Apakah semuanya sudah datang?” tanya Kiran yang berusaha bersikap setenang mungkin dan mengabaikan semua gossip dan tatapan kasihan orang-orang padanya.
“Kiran! Lihatlah bagaimana caraku membalas perlakuanmu sebelumnya. Akan aku buat kau lebih di permalukan di hadapan semua orang yang ada di pertemuan ini,” batin Anya yang tidak sadar diri bahwa kelakuan dirinya yang sekarang sudah mempermalukan dirinya sendiri.
“Aish, … Sialan! Apa yang di pikirkan di kepala bodoh Kakakku ini? Bagaimana bisa dia membiarkan wanita ulat keket itu melekat padanya di hadapan Kak Kiran! Ingin sekali aku membalikkan meja pertemuan ini, tapi aku tidak bisa mengingkari janjiku pada Kak Kiran sebelumnya,” batin Seno yang di penuhi amarah tapi tidak dapat melampiaskannya.
“Nyonya, masih ada Ceo dari Alastar Group yang belum tiba! Apakah anda mau menunggunya sebentar atau langsung memulai pertemuannya saja?” jawab Dani yang memberitahu Kiran.
“Kita akan menunggunya lima menit lagi! Jika sampai saat itu belum datang juga, maka kita segera mulai saja pertemuannya,” ujar Kiran memberi kesempatan.
Bersambung, .....
__ADS_1