
“Jadi, kau berpikir bahwa Kiran tidak mampu menangani pertemuan para klien ini. Sehingga aku harus ikut turun tangan sendiri begitu?” desak Reksa yang tidak percaya sekretarisnya sendiri meragukan kemampuan istrinya.
“Bu-bukan begitu, Tuan! Hanya saja mereka mengatakan ada beberapa kerjasama yang harus di bicarakan ulang! Jika anda tidak menghadiri pertemuan ini, maka Nyonya Kiran malah akan mengalami kebingungan ketika rapat berlangsung,” jelas Dani yang tidak Tuannya menjadi salah paham.
“Yang Dani katakan tidak ada salahnya! Sebaiknya kau memang harus ikut dalam pertemuan ini. Bukankah kau juga harus mengajariku bagaimana caranya menghadapi pertemuan dengan para klien.” Kata-kata bujukan kembali Kiran lancarkan.
“Haaah, … Baiklah, tapi ini untuk terakhir kalinya!” ujar Reksa yang akhirnya pasrah mengikuti kemauan Kiran.
“Kita lihat saja nanti,” sahut Kiran yang langsung menarik tangan Reksa untuk segera pergi ke pertemuan itu.
Dani pun tersenyum bahagia, dia jadi teringat tentang masa lalu kedua bosnya itu sebelum kecelakaan itu terjadi. Perlakuan Reksa akan selalu penuh perhatian dan juga cinta yang hanya akan di tunjukan kepada Kiran seorang.
Begitu juga dengan Kiran yang selalu menjadi tempat bermanja Reksa ketika lelah dan masalah melanda.
“Sungguh sangat di sayangkan! Pasangan yang begitu sempurna antara Tuan Reksa dan Nyonya Kiran malah harus berakhir karena sebuah kecelakaan yang membuat satunya hilang ingatan dan yang satunya di lupakan,” gumam Dani menyayangkan hubungan bosnya itu.
Setelah bergumam pada dirinya sendiri, Dani segera menyusul kedua bosnya sembari membawakan beberapa dokumen yang di perlukan dalam pertemuan itu.
Mereka bertiga pun berangkat dengan menggunakan mobil Kiran, dimana ada sopir yang akan mengantar mereka kemanapun.
...****************...
Sementara di rumah sakit, terlihat seorang dokter muda nan tampan sedang gelisah menanyakan tentang kabar salah satu pasiennya.
Siapa lagi kalau bukan Dr. Aiden yang tengah berusaha mencari tahu tentang keberadaan Reksa yang seharusnya melakukan pemeriksaan rutin yang telah di jadwalkan beberapa hari yang lalu.
“Apa pasien yang bernama Areksa Reano Damarwangsa belum juga bisa di hubungi?” tanya Dr. Aiden pada bagian Administrasi.
“Tidak, Dok! Tuan Areksa selalu saja menolak panggilan dari kami,” jawab petugas Administrasi.
“Aish, … Dasar pasien yang menyusahkan!” geram Dr. Aiden mendengus kesal.
__ADS_1
“Bisakah aku meminta nomor dari salah satu keluarganya yang bisa di hubungi. Biar aku saja yang menghubungi mereka secara langsung,” ujar Dr. Aiden yang terpaksa harus ikut turun tangan.
“Silahkan, Dok! Sepertinya ini nomor dari istrinya yang terdaftar di data diri pasien.”
Petugas Administrasi menyerahkan dokumen yang berisikan identitas Reksa dan keluarga yang bertanggung jawab saat itu. Dr. Aiden pun segera memasukan nomor atas nama Kiran dalam daftar kontaknya.
Setelah itu, dia mengembalikan dokumen pada pihak administrasi dan berjalan kembali ke ruangannya.
...****************...
Sesampainya di ruangannya, Dr. Aiden langsung menghubungi nomor Kiran. Saat itu bertepatan dengan Kiran yang baru saja selesai dengan pertemuan bisnisnya. Tepat sekali di saat Alka menghampiri Kiran untuk mengajaknya makan siang bersama.
“Kiran!” panggil Alka sembari memberikan senyuman terbaiknya.
Reksa yang melihat keberadaan Alka di sana, memilih menyibukkan diri membahas tentang hasil pertemuan itu dengan Dani. Meski Reksa bersikap seolah tidak peduli, nyatanya hatinya bagai teriris sembilu melihat pria lain mencoba mendekati Kiran.
Berbeda dengan Kiran yang merasa tidak enak hati dekat dengan pria lain di saat pria yang masih berstatus suaminya tepat duduk di sampingnya.
“Aaah, … Tunggu sebentar! Aku akan mengangkat panggilan ini dulu,” ujar Kiran yang memiliki alasan untuk mengatasi dilemanya saat itu dan Alka pun menganggukkan kepala pertanda dia mengerti.
“Hallo! Maaf ini dengan siapa ‘yah?” tanya Kiran begitu menerima panggilan nomor yang tidak di kenal itu.
“Hallo, selamat siang! Saya Dr. Marcellino Aiden Bagaskara dari rumah sakit XX. Benarkah ini nomor Nyonya Kiran istri dari Tuan Areksa?”
Dr. Aiden tidak lupa memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Kemudian baru memastikan bahwa dia tidak menghubungi nomor yang salah sebelum dia menyampaikan tujuannya menghubungi nomor tersebut.
“Iya, benar! Apakah ada masalah?” tanya Kiran yang terlihat merubah raut wajahnya menjadi khawatir dan sekilas menatap kearah Reksa yang juga saat itu sedang menatapnya.
“Baguslah, kalau saya sudah menghubungi orang yang tepat,” ujar Dr. Aiden merasa lega.
“Begini Nyonya Kiran saya hanya ingin menanyakan mengapa Tuan Areksa tidak datang pada jadwal pemeriksaan rutin yang sudah saya tentukan ‘yah? Takutnya muncul gejala lain pada luka di kepalanya dan jika tidak segera di tangani akan sangat berbahaya untuk keselamatan Tuan Areksa sendiri,” terang Dr. Aiden menyampaikan kekhawatirannya.
__ADS_1
“Aahya, … Maafkan kami! Sepertinya kami lupa tentang jadwal tersebut, karena banyak kesibukan yang harus kami urus! Aku akan segera membawanya kesana,” ujar Kiran yang lagi-lagi menatap lekat pada Reksa, hingga membuat pria itu merasa tidak nyaman dengan tatapan wanita yang masih berstatus istrinya itu.
“Bisakah anda membawa suami anda ke Rumah sakit sekarang, Nyonya Kiran?” tanya Dr. Aiden yang kebetulan siang itu tidak ada jadwal apapun.
“Baiklah, tentu saja! Terima kasih sudah mengingatkan kami,” ucap Kiran.
“Tentu, kalau begitu saya tunggu kedatangan anda berdua!” balas Dr. Aiden, setelah itu sambungan telepon itu terputus dari keduanya.
Kiran terus menatap tajam kepada Reksa, hingga membuat Reksa menjadi salah tingkah sendiri karena dia tidak melakukan kesalahan apapun sampai membuat Kiran marah. Bahkan tanpa sadar, Kiran mengabaikan keberadaan Alka yang masih berdiri di samping tempat duduknya.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Reksa yang tidak nyaman dengan cara menatap Kiran yang tajam padanya.
“Aish, … Kau ini!” geram Kiran yang berusaha menahan emosinya.
"Aku kenapa?" tanya Reksa bingung sendiri.
“Kiran! Apakah kau ada waktu untuk makan siang bersama?” tanya Alka yang berhasil mengalihkan perhatian Kiran dari Reksa.
“Aah, … Maafkan aku, Alka! Sepertinya tidak bisa, karena aku dan Mas Reksa harus pergi mengunjungi suatu tempat.”
Kiran menolaknya secara halus, tapi tetap meninggalkan kesedihan dan kekecewaan di hati Alka. Reksa sendiri kembali terkejut, karena seingat dia mereka tidak mengatakan janji apapun untuk mengunjungi suatu tempat. Tapi mengapa Kiran menjadikan dirinya sebagai alasan untuk menolak ajakan makan siang dari Alka.
“Jadi, begitu! Mungkin lain kali kau bisa meluangkan waktumu untuk makan siang bersamaku?” ujar Alka yang berusaha menyembunyikan kekecewaannya.
“Tentu! Aku akan menghubungimu lagi jika sudah ada waktu. Kalau begitu kami pamit undur diri dulu,” sahut Kiran yang langsung beranjak dari tempat duduknya dan kembali menggenggam tangan Reksa untuk mengikutinya.
Sementara Alka hanya bisa diam memperhatikan kepergian Kiran dan Reksa yang semakin jauh dari pandangan matanya.
Bersambung, ....
__ADS_1