
“Tuan, apakah pesanan anda berdua masih sama seperti sebelumnya?” tanya salah satu pelayan yang tengah melayani pesanan mereka.
Hampir saja Reksa langsung memberikan jawabannya, beruntung dia segera menyadari arti tatapan yang tengah Kiran tunjukan kepadanya.
Seketika Reksa menunjukan raut wajah kebingungannya seolah dia tidak mengerti apa maksud dari perkataan pelayan itu.
“Iya, berikan saja kami menu seperti biasanya,” jawab Kiran.
“Baik, Nyonya!” sahut pelayan itu yang segera menyampaikan pesanan keduanya pada sang Koki.
Akhirnya Kiran yang menjawab pertanyaan dari pelayan tersebut. Meski dirinya kembali di buat akan sikap Reksa, karena terlalu berharap suaminya itu bisa mengingat semuanya kembali.
Walaupun perceraian sudah berada di depan mata, rasa cinta Kiran kepada Reksa tidak berkurang sedikitpun dan berharap ada sebuah harapan untuk mempertahankan pernikahan mereka.
“Apa kita dulu sering makan di tempat ini?” tanya Reksa memecahkan keheningan yang tercipta.
“Iya, seperti itulah!” jawab Kiran sekenanya.
“Besok aku akan menemanimu lagi ke rumah sakit,” ujar Kiran mengalihkan pembicaraan.
“Tidak perlu! Aku akan pergi bersama dengan Anya,” tolak Reksa yang membuat Kiran tidak bisa memaksa Reksa lagi untuk pergi dengannya.
“Aku dengar kau bertengkar dengan Anya setelah pertemuan itu selesai. Apakah sampai sekarang kalian masih tidak saling menghubungi?” tanya Kiran mengubah topik pembicaraan.
“Anya memang masih sulit di hubungi, tapi aku akan tetap berusaha membujuknya. Karena apapun yang terjadi aku tidak ingin kehilangannya,” jawab Reksa yang berhasil melukai perasaan Kiran dengan sangat baik.
“Apa kau begitu sangat mencintainya?” tanya Kiran lagi memastikan.
“Ya, aku sangat mencintainya!” jawab Reksa dengan penuh percaya diri akan perasaannya.
“Tidak bisakah kita perbaiki hubungan ini, Mas?” pinta Kiran dengan airmata yang telah membasahi wajahnya.
“Maaf, Kiran! Kita sudah sering membahas tentang ini dan aku juga sudah menyerahkan segalanya agar perceraian ini tetap berlangsung. Aku sungguh ingin tetap bersama Anya sekarang,” ujar Reksa yang tetap pada keputusannya untuk memilih Anya di bandingkan Kiran.
“Baiklah, aku akan berusaha untuk melepaskan mu meski semua itu sangat berat untuk aku lakukan,” ucap Kiran sembari berusaha menekan rasa sakit di hatinya.
__ADS_1
“Aku sudah menghubungi seorang pengacara untuk memproses surat perceraian kita! Kau tidak perlu melakukan apapun, karena aku yang akan mengurus semuanya. Kau hanya perlu menandatangani berkas perceraiannya,” terang Reksa yang berhasil membuat hati Kiran semakin hancur.
“Ya, aku tidak akan mempersulit mu lagi! Semoga kau hidup bahagia bersama dengan Anya,” ucap Kiran yang berusaha menghapus sisa air matanya.
“Tentu! Kau juga harus berbahagia dengan orang lain, Kiran!” balas Reksa sembari menyunggingkan senyuman termanisnya.
“Jadi, semuanya benar-benar berakhir seperti ini? Kau lebih memilihnya di bandingkan dengan diriku, maka aku harus segera melepas mu!” batin Kiran yang kini di penuhi dengan kekecewaan.
“Maaf, Kiran! Aku tidak ingin menyiksa hatimu lebih jauh lagi dari ini. Sebaiknya kita memang harus berpisah seperti ini agar kau bisa mendapatkan kebahagiaan yang kau inginkan,” batin Reksa yang terpaksa melepaskan Kiran.
Kiran tidak menjawabnya lagi, dia lebih memilih untuk mengalihkan pandangan matanya kearah lain. Hingga seorang pelayan datang dan membawa makanan pesanan mereka. Baik Reksa maupun Kiran memakan makanan tersebut dalam diam.
...****************...
Tidak ada pembicaraan lagi di antara keduanya bahkan sampai mereka kembali di perusahaan. Kiran menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang ada.
Begitu juga dengan Reksa yang membantu menyelesaikan pekerjaan sambil sesekali memberikan penjelasan pada dokumen penting yang harus Kiran ketahui.
Dalam sehari perubahan hubungan Kiran dan Reksa kembali terlihat jelas, Dani yang selalu menjadi saksi semua itu.
“Kau duluan saja! Masih ada beberapa dokumen penting yang harus aku selesaikan hari ini juga,” jawab Kiran tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun.
Reksa diam sejenak dengan terus memperhatikan Kiran, lalu kembali berkata, “Baiklah, kalau begitu aku akan pulang duluan! Jangan terlalu memaksakan dirimu.”
“Emmm, ….”
Kiran hanya menyahutinya dengan dehaman, tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari berkas di tangannya. Terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki Reksa yang berjalan meninggalkan ruangan itu. baru saat itulah, Kiran menghentikan aktifitas kerjanya dan menatap pintu yang baru saja tertutup.
“Haaah, … Sepertinya aku butuh tempat curhat sekarang,” gumam Kiran yang merasa sangat tertekan dengan semua kenyataan ini.
Kiran lalu membereskan semua berkas yang berantakan di meja dan langsung beranjak dari tempat duduknya begitu terlintas nama seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesahnya.
Ketika Kiran berjalan masuk ke dalam mobilnya, dia tidak sadar bahwa sebenarnya Reksa sama sekali belum meninggalkan perusahaan. Setelah memastikan Kiran sudah pulang, baru setelah itu Reksa juga pergi untuk kembali ke apartemennya.
“Syukurlah, dia masih mendengarkan perkataanku!” gumam Reksa yang tersenyum lega melihat Kiran yang akhirnya meninggalkan perusahaan.
__ADS_1
...****************...
Siapa lagi kalau bukan Dira yang menjadi tempat Kiran untuk bersandar. Dira yang tidak mendapat apapun dari Kiran sebelumnya tentu saja terkejut melihat kedatangan sahabatnya itu di larut malam begini.
Meski begitu Dira tetap mempersilahkan Kiran untuk masuk ke dalam apartemennya yang cukup mewah.
“Dir, bolehkah aku menginap di tempatmu malam ini!” pinta Kiran dengan wajah yang sudah menangis ketika Dira membuka pintu apartemennya.
“Hay, ada apa denganmu? Ayo, masuk dan ceritakan semuanya di dalam,” ujar Dira yang langsung membawa Kiran masuk ke dalam kamar apartemennya.
Dira segera mendudukkan Kiran di salah satu sofa yang terdapat di depan tv. Kemudian dirinya langsung menuju ke dapur untuk mengambilkan minuman yang bisa membuat Kiran merasa lebih tenang.
Dengan sabar dan penuh perhatian Dira menunggu Kiran untuk merasa lebih tenang dan bisa bercerita kepadanya.
“Terima kasih, Dira!” ucap Kiran yang kini berhenti menangis.
“Apa sekarang sudah merasa lebih baik?” tanya Dira memastikan keadaan Kiran lebih dulu.
“Emmm, …” sahut Kiran dengan dehaman.
“Lalu apa kau sudah siap untuk bercerita padaku? Apa yang membuatmu menjadi wanita selemah ini, Kiran?” Dira mulai membuka percakapan utama mereka.
“Hubungan pernikahanku sama sekali tidak bisa di perbaiki lagi, Dira! Mas Reksa sudah mengurus semua perceraiannya,” ujar Kiran yang kembali menumpahkan air matanya.
“Aku tidak ingin berpisah dengannya! Seharusnya saat itu, aku tidak memintanya untuk menggunakan rahim pengganti. Aku sangat menyesali semuanya sekarang,” imbuhnya disela isak tangisnya.
“Aku tahu kau sangat mencintainya, Kiran! Namun takdir mungkin berkata lain, sehingga kalian harus terpisahkan dalam cara seperti ini. Kau harus mencoba mengikhlaskannya bersama dengan orang lain dan menata kembali hidupmu tanpa dirinya,” ujar Dira.
Bersambung, ....
^^^...◦•●◉✿Mohon maaf! Kemarin dua hari Author demam, jadi tidak sempat update. Untuk pengertiannya Author ucapkan Terima kasih. 🙏🙏🥰✿◉●•◦...^^^
__ADS_1