Love Me Again, My Husband!

Love Me Again, My Husband!
Tidak Mempan


__ADS_3

Leo langsung saja menandatangani kontraknya, karena sudah sesuai dan tidak merugikan kirinya. Akan tetapi, tidak dengan Anya yang terlihat tidak mau menandatanganinya tapi managernya terus mendesak Anya untuk mengikuti rencananya.


“Anya, tanda tangani saja! Aku sudah memiliki rencana yang sangat bagus untuk membalas penghinaan yang kau terima ini sekaligus menyingkirkan wanita itu dari hidup Reksa selamanya,” bisik Lisa agar tidak ada orang lain yang bisa mendengarnya.


“Apa kau yakin kali ini akan berhasil?” tanya Anya memastikan keberhasilan rencana yang di pikirkan managernya itu.


“Pasti! Kau hanya perlu terus memprovokasi dia lebih dari ini,” jawab Lisa penuh keyakinan.


“Baiklah! Aku akan percaya dengan rencanamu kali ini,” ujar Anya yang langsung menandatangani kontrak kerjasamanya.


Akhirnya pertemuan itu berjalan lancar dan terus di lanjutkan dengan pembahasan cara pemasaran serta lain sebagainya.


Pertemuan yang cukup panjang dan berlangsung hingga beberapa jam membuat kepala Kiran kembali merasa pusing, perutnya terasa sakit dan wajahnya mulai berubah pucat.


Apalagi dia melewatkan sarapannya, karena rasa mual di pagi hari yang terus menyiksanya beberapa hari ini.


“Sshhh, … Kenapa kepalaku pusing sekali? Perutku juga semakin terasa sakit,” batin Kiran yang berusaha menahan semua itu dan terus memegangi perutnya.


“Apa yang terjadi? Apakah sakitnya belum kunjung membaik? Dasar keras kepala, sudah aku peringatkan untuk tidak memaksa diri masih saja di lakukan! Sebaiknya nanti aku suruh Seno untuk mengantarnya melakukan pemeriksaan di rumah sakit,” batin Reksa yang sejak awal selalu memperhatikan Kiran secara diam-diam.


“Ada apa dengan Kakak Ipar? Kenapa wajahnya terlihat pucat? Apakah dia sedang sakit tapi memaksakan diri untuk tetap bekerja?” batin Seno yang menyadari Kiran terasa tidak nyaman dan wajahnya berubah pucat.


“Wajahnya terlihat pucat, apakah Kiran sedang sakit? Sebaiknya aku akhiri pertemuan ini lebih cepat,” batin Alka yang mengkhawatirkan Kiran.


Namun sebelum Alka bertindak, Seno dan Reksa sudah lebih dulu melakukannya. Tapi karena sebelumnya Reksa yang menjadi pemimpin di sana, akhirnya Seno pun mempersilahkan untuk Reksa saja yang mengakhiri pertemuan itu hingga membuat Kiran bingung dan hanya bisa terdiam.


“Kita akhiri pertemuannya untuk hari ini! Untuk setiap perkembangan rencananya akan kami beritahukan kepada kalian setiap satu minggu sekali. Sekali lagi terima kasih atas kehadiran dan kepercayaannya,” ujar Reksa.


Satu persatu orang-orang pun meninggalkan ruang pertemuan. Sebelum Alka, Seno dan Reksa datang menghampirinya. Kiran sudah terlebih dahulu meninggalkan ruang pertemuan dan langsung menuju ke salah satu toilet terdekat.

__ADS_1


Sejujurnya Kiran sudah tidak bisa lagi menahan rasa mual di perutnya, sehingga dia segera melarikan diri untuk memuntahkan isi perutnya lagi.


“Kak, apakah Kak Kiran sedang sakit? Tadi wajahnya terlihat sangat pucat?” tanya Seno pada Reksa yang selama ini sudah pasti Reksa selalu berada di sisi Kiran.


“Kenapa kau malah bertanya padaku? Seharusnya kau tanya langsung pada orangnya,” jawab Reksa yang terkesan tidak peduli sama sekali, tetapi di balik semua itu dia juga mengkhawatirkan kondisi kesehatan Kiran.


“Dasar suami yang tida bertanggung jawab! Lebih baik kau secepatnya menceraikan Kiran, sehingga aku bisa menggantikan posisimu itu!” sindir Alka secara langsung pada Reksa.


“Kau tenang saja, surat pengajuan perceraiannya sudah turun. Kau suruh saja Kiran untuk segera menandatanganinya,” balas Reksa yang kemudian berlalu pergi begitu meninggalkan Seno dan Alka.


...****************...


Sementara itu melihat Kiran yang masuk ke salah satu toilet wanita, Anya pun segera mengikutinya. Dari balik pintu kamar mandi yang tertutup dapat Anya dengar dengan jelas bahwa Kiran tengah memuntahkan isi perutnya.


Tak lama kemudian suara muntahan itu terhenti dan Kiran dengan lemas keluar.


Sejenak Kiran terkejut melihat keberadaan Anya yang juga berada di sana. Namun Kiran lebih memilih mengabaikannya dan berjalan menuju wastafel untuk membenarkan penampilannya.


“Apa kau sedang mengandung anak Reksa?” tanya Anya, tapi Kiran masih memilih diam dan mengabaikannya.


“Sayang sekali anak itu harus terlahir tanpa seorang ayah! Mungkin kelak ketika dia sudah besar teman-teman sebayanya akan mengatai anakmu itu sebagai anak haram atau anak yang tidak di inginkan oleh Ayahnya,” imbuh Anya yang membuat Kiran seketika melontarkan tatapan tajamnya.


“Tutup mulutmu! Jika semua itu terjadi, maka aku sendiri yang akan membuat perhitungan sendiri padaku yang membuat anakku menjadi bahan cacian semua orang! Aku juga akan membuatmu lebih parah dari itu,” ujar Kiran menegaskan pada Anya.


“Kalau begitu gugurkan saja anak itu! Sebelum Reksa sendiri yang melakukannya, membunuh anak itu dengan tangannya sendiri.”


Bukannya mendengarkan ancaman, Anya malah balas mengancam Kiran akan menyuruh Reksa membunuh anak kandungannya sendiri.


Kiran pun semakin geram akan kelakuan Anya yang semakin tidak tahu malu, tanpa peduli apapun Kiran langsung mengayunkan tangannya dan menampar keras pipi Anya.

__ADS_1


Plakk, ….


“Berani kalian melakukannya, maka aku tidak akan segan lagi menghancurkan hidupmu!” geram Kiran penuh dengan penekanan.


“Aish, … Sialan!” umpat Anya sembari memegangi pipinya yang bekas tamparan Kiran.


“Apa kau pikir aku takut dengan ancamanmu ini, Hah! Tidak Apan pernah, Kiran!” imbuhnya.


“Lebih baik, kau segera kembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Reksa dan tinggalkan dia secepatnya! Jika kau memang menyayangi anak yang ada di dalam perutmu, sebelum aku melakukan hal gila lainnya untuk membunuh bayi yang ada di dalam perutmu itu,” ancam Anya.


“Jangan harap aku akan melakukan semua itu! Berani yang membuat masalah denganku, maka aku akan membalasnya berkali-kali lipat!” balas Kiran yang tidak akan pernah takut menghadapi ancaman Anya dan berjalan pergi begitu saja.


“Kau lihat saja! Bagaimana aku akan menghancurkan hidupmu dan memaksamu pergi menjauh dari kehidupan Reksa selamanya,” gumam Anya yang sudah semakin membenci Kiran.


Begitu keluar dari toilet, Kiran langsung mengelus perutnya lembut. Entah mengapa sekarang Kiran semakin yakin bahwa kini buah cintanya bersama dengan Reksa memang tengah tumbuh di dalam perutnya.


Hingga Kiran pun memutuskan untuk segera melakukan pemeriksaan di rumah sakit seperti saran dari Dira semalam.


“Kak Kiran!”


“Kiran!”


Hingga tiba-tiba suara panggilan Seno dan Alka yang secara bersamaan menyadarkan Kiran dari lamunannya. Kiran lalu melihat ke sumber suara, dimana Seno dan Alka tengah berjalan menghampiri dirinya dengan raut wajah khawatir.


“Kakak Ipar, kau baik-baik saja ‘kan?” tanya Seno dengan penuh rasa cemas dan khawatir.


“Iya, Kiran! Wajahmu sangat pucat dan sepanjangan pertemuan tadi kau terlihat tengah menahan rasa sakit! Kau sakit apa?” Begitu juga dengan Alka.


Bersambung, .....

__ADS_1




__ADS_2