
Plakkk, ….
Sebuah tamparan keras Papah Ibnu daratkan di salah satu pipi Reksa. Hingga seketika membuat suasana di sana menjadi hening dan menegangkan.
Semua orang hanya terdiam tanpa berani mencegah atau menghentikan Papah ibnu yang menarik paksa Reksa untuk mengikutinya.
Karena takut terjadi sesuatu yang di luar kendali, mereka semua pun mengikuti kemanapun Papah Ibnu menarik Reksa. Benar saja, pertengkaran hebat antara Ayah dan putra sulungnya itu tidak dapat di hentikan oleh siapapun.
“Dasar anak bodoh! Kiran adalah wanita terbaik yang sangat cocok sebagai istrimu. Bagaimana kau bisa menceraikannya hanya karena wanita tidak tahu malu sepertinya, Hah!” bentak Papah Ibnu yang sangat menentang penceraian Reksa dan Kiran.
“Bukankah Papah sendiri yang waktu itu bersedia mau menghargai keputusan kami untuk bercerai, tapi kenapa Papah sekarang malah menentang keputusan kami seperti ini!” balas Reksa yang tidak mau kalah.
“Aku juga sudah melakukan semuanya yang Papah perintahkan! Memberikan semua kartu kredit dan rumah itu, posisi Ceo dan bahkan membantu Kiran menjalankan perusahaan. Sekarang yang aku minta hanya perceraian dan kalian masih saja menentangnya seperti ini,” lanjut Reksa meluapkan segala amarah yang dia tahan sejauh ini.
“Kau dasar anak yang tidak tahu bersyukur! Kami melakukan semua ini demi kebaikanmu sendiri, Reksa!”
Kali ini Mamah Syifa yang bersuara dengan lantang, dia tidak habis pikir bisa membesarkan anak sebodoh Reksa. Seno dan yang lainnya sebenarnya sudah sangat geram sejak tadi, tetapi mereka masih menghargai orang tua yang sedang mencoba menasehati anaknya.
Berbeda dengan Anya yang tersenyum puas, karena melihat Reksa yang selalu berusaha untuk tetap melindunginya dan mempertahankan hubungan mereka.
Apalagi melihat betapa terpuruknya Kiran yang bahkan tidak bisa berbuat apapun lagi untuk mempertahankan rumah tangganya.
“Cukup! Hentikan semua ini!” seru Kiran yang akhirnya buka suara meski dengan iringan air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya.
“Kiran!”
Semua orang pun langsung menatap kearah Kiran dengan berbagai ekspresi yang bisa Kiran baca dengan jelas, bahwa mereka merasa kasihan dan ikut sedih untuknya. Tapi berbeda dengan tatapan Reksa yang lebih sulit di artikan, sedangkan tatapan Anya penuh dengan kemenangan.
“Mas, … Kau benar-benar ingin bercerai denganku?” tanya Kiran untuk terakhir kalinya dia memastikan keputusan Reksa.
“Ya, jadi berikan dokumen perceraian yang sudah kau tanda tangani padaku sekarang!” jawab Reksa yang bahkan meminta dokumen perceraian yang beberapa hari lalu sudah di kirimkan kepada Kiran.
__ADS_1
“Hahaha, … Hiks, ….”
Kiran hanya bisa tertawa dalam tangisnya, menertawakan dan menangisi dirinya sendiri yang tampak bodoh di depan semua oran. Kali ini kekecewaannya kepada Reksa sungguh tidak bisa dia maafkan lagi.
Hingga semua orang dapat merasakan betapa pilunya Kiran saat itu. berharap pernikahannya dalat di selamatkan, tapi pada akhirnya perpisahan tetap menjadi keputusan terakhir.
“Baiklah, mari kita bercerai! Semoga ini menjadi hadiah ulang tahunmu yang terindah, Mas!” ucap Kiran dengan deraian air mata yang semakin mengalir deras dan berhasil membuat Reksa seketika tersadar bahwa sekitar danau sudah di hias dengan indah.
“Dira, kau yang menyimpan dokumen perceraiannya, bukan? Bisakah sekarang kau mengambilkan dokumen itu untukku,” pinta Kiran pada sahabatnya.
“Tapi Kiran bagaimana dengan, _....”
“Aku mohon! Sudah tidak ada lagi yang bisa aku pertahankan, Dira!” potong Kiran dengan tatapan yang sudah penuh dengan rasa putus asa.
“Baiklah, aku akan mengambilkannya untukmu sekarang!”
Akhirnya Dira hanya bisa menuruti permintaan Kiran dan bergegas pergi untuk mengambil dokumen perceraian tersebut. Kiran pun segera menjauh dari orang-orang untuk menenangkan dirinya sendiri.
Kiran berjalan menuju tepi danau, dimana ada sebuah jembatan kayu yang yang berada di tengah danau tersebut. Alka pun segera mengikutinya, sebab dia tahu Kiran sedang membutuhkan tempat untuk bersandar.
Dimana Seno mencoba berbicara dengan Reksa untuk mempertimbangkan kembali keputusannya untuk bercerai dengan Kiran.
Akhirnya kejutan ulang tahun yang seharusnya penuh kebahagiaan seperti yang Kiran bayangkan. Namun hasilnya berbanding terbalik dengan apa yang Kiran harapkan.
Perceraiannya tidak bisa dia hindari lagi, bahkan Reksa sendiri yang mendesak Kiran untuk segera menandatangani surat perceraian mereka.
“Kiran!” panggil Alka dengan lembut.
Kini Alka sudah berdiri tepat di samping Kiran yang masih menangis sesenggukan. Jujur saja, Alka ingin meraih tubuh Kiran ke dalam pelukannya.
Akan tetapi, Alka tidak ingin membuat Kiran terlihat buruk di mata keluarga Reksa. Sehingga dia memberi batasan pada dirinya sendiri untuk menjaga jarak dengan Kiran.
__ADS_1
“Apa kau yakin tidak akan memberitahu mereka tentang keberadaan anak di dalam perutmu itu?” tanya Alka.
“Emm, … Aku takut, Mas Reksa akan menolak keberadaan anak ini seperti dugaanmu sebelumnya,” jawab Kiran yang tertunduk sedih dengan semua yang terjadi.
“Kau lihat sendiri ‘kan?” ujar Kiran lemah.
“Bagaimana dia tetap memutuskan untuk bercerai denganku. Lebih baik aku mengabulkan keinginannya dan menyembunyikan keberadaan anak ini. Sebelum dia juga menolak dengan kehadiran bayi ini,” lanjut Kiran dengan penuh kepedihan.
“Kiran, setelah aku pikirkan! Sepertinya Reksa akan menerima keberadaan anak kalian begitu mengetahui. Mengapa kau tidak mencoba untuk memberitahukannya sekarang?” ujar Alka menyarankan pada Kiran untuk tidak mengambil kesimpulan sendiri.
Namun Kiran hanya diam dan menatap kosong pada danau yang menampilkan pantulan sosoknya sendiri. Sosoknya yang tampak rapuh dan tidak terlihat adanya kebahagiaan sama sekali di sorot matanya. Alka pun tidak bisa berkata apapun lagi, dia hanya diam menemani Kiran di sana.
“Aku haus!” ujar Kiran tiba-tiba.
“Tunggu di sini! Aku akan mengambilkan minum untukmu atau kau mau ikut aku saja,” tanya Alka yang tidak ingin meninggalkan Kiran sendirian di saat seperti ini.
“Tidak! Aku masih ingin berada di sini sebentar lagi,” jawab Kiran tanpa mengalihkan pandangannya pada pantulan dirinya.
“Baiklah, aku akan segera kembali!” ujar Alka yang dengan terpaksa tetap meninggalkan Kiran sendirian di tepi danau itu.
Alka pun pergi mengambilkan air minum yang tersedia di meja yang sudah tertata rapi dengan berbagai jenis makanan. Alka mencoba untuk mengabaikan pertengkaran Kakak beradik yang tidak jauh dari tempatnya mengambil itu.
Akan tetapi, siapa sangka pertengkaran yang awalnya hanya beradu mulut. Kini malah berubah menjadi baku hantam satu sama lain, bahkan lebih terlihat sebagai perkelahian antar musuh. Hingga mau tidak mau Alka harus memisahkan keduanya.
“Aish, … Berhenti! Kenapa kalian berdua malah berkelahi seperti ini,” seru Alka.
Namun seketika terdengar suara dari arah danau yang berhasil menarik perhatian ketiganya.
Byuurrr, ….
Bersambung, .....
__ADS_1