
Setelah itu, Kiran juga menanda tangani kontrak kerjasama itu. Reksa hanya bisa diam dengan tatapan tajam dan tidak suka dengan keberadaan Alka yang terus menatap istrinya penuh cinta.
Sedangkan Dani dan sekretaris Alka hanya bisa diam merasa terjebak dengan situasi yang tidak menyenangkan itu.
“Aku akan menjelaskan tentang kerjasama kita sedikit, _....”
“Abaikan saja soal penjelasan kerjasamanya, aku akan memeriksanya nanti. Bagaimana kalau kita langsung makan saja sambil mengobrol santai,” potong Alka yang tidak memperdulikan tentang bisnisnya lagi setelah kehadiran Kiran.
“Maaf, Tuan Alka! Kalau anda tidak perlu penjelasan dari saya secara langsung, maka saya akan pamit undur diri sekarang. Karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan dan banyak dokumen penting yang harus segera pelajari dnegan baik,” jelas Kiran yang merasa tidak nyaman akan situasinya.
Dimana Alka secara terang-terangan berusaha terus mendekatinya tepat di depan Reksa yang masih berstatus sebagai suaminya. Kiran tidak ingin seperti Reksa yang berhubungan dengan wanita ketika status pernikahan mereka masih tertera jelas sebagai suami istri.
“Akhirnya kau sadar diri juga,” celetuk Reksa dengan nada ketusnya untuk menyindir Kiran.
“Tentu saja, aku sadar diri! Karena aku tidak ingin menjadi sepertimu,” balas Kiran dengan nada ketusnya juga.
“Kiran kau, _....”
“Apa?”
Sentak Kiran yang terdengar semakin ketus seolah menantang Reksa untuk melanjutkan ucapannya dan dia akan membongkar semuanya di hadapan semua orang tanpa ragu.
Jujur saja, Kiran masih kesal dengan keputusan Reksa yang menjadikan Anya sebagai model produk baru perusahaan hanya karena hubungan pribadinya.
Melihat pertengkaran Kiran dan Reksa, Alka dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa hubungan keduanya sedang mulai retak. Namun, dia tidak akan ikut campur dan lebih memilih untuk menunggu sampai keduanya telah resmi berpisah.
“Jadi, kalian benar-benar akan berpisah?”
Pertanyaan yang Alka lontarkan sontak berhasil mengalihkan pandangan semua orang padanya. Terlihat sekali Reksa ingin menghajar wajahnya, tetapi dia terpaksa harus mengurungkan niatnya ketika tiba-tiba Kiran beranjak dari tempat duduknya.
“Sepertinya pertemuan ini cukup sampai di sini saja dulu, Tuan Alka! Kalau begitu saya akan pamit sekarang, sampai berjumpa di pertemuan selanjutnya,” ucap Kiran yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Alka.
Reksa pun ikut pergi begitu saja dan sekilas melontarkan tatapan tajamnya pada Alka sebelum dia benar-benar pergi. Dani yang melihat atasannya pergi segera ikut beranjak.
Dia sempat membungkuk dan berpamitan dengan sopan pada Alka dan sekretarisnya. Setelah itu, baru menyusul keduanya sambil sedikit berlari.
__ADS_1
“Tuan, apakah, _....”
“Dia wanita yang menjadi cinta pertamaku! Bahkan sampai sekarang aku masih tidak bisa melupakannya dengan mudah,” terang Alka yang bisa menebak apa yang ingin Sekretarisnya itu tanyakan.
o
“Kali ini aku akan memperjuangkannya sebaik mungkin,” imbuhnya penuh percaya diri.
“Semangat, Tuan! Anda akan menjadi pria yang sangat beruntung kalau bisa memiliki wanita secantik dan sebaik Nona Kiran.” Siapa sangka sekretaris itu malah mendukung niat atasannya.
...****************...
Beralih pada Reksa dan Kiran yang saling diam sepanjang perjalanan kembali ke perusahaan. Dani bahkan beberapa kali sempat ragu untuk buka suara dan memecah keheningan yang tercipta dari pasangan itu.
Namun, Dani tetap memberanikan diri untuk memberitahu bahwa semua orang sudah menunggu untuk pertemuan selanjutnya yaitu membahas soal model yang akan mempromosikan produk perusahaan mereka.
Dan salah satu orang yang hadir dalam pertemuan itu adalah Anya dan managernya yang bernama Lisa.
“Maaf, Tuan Reksa dan Nyonya Kiran! Sepertinya pertemuan selanjutnya akan langsung di mulai setibanya kita di perusahaan,” ujar Dani memberitahu jadwal pertemuan selanjutnya.
“Apakah ini pertemuan kali ini membahas tentang model yang akan mempromosikan produk kita?” tanya Kiran memastikan.
“Baiklah, aku mengerti!” sahut Kiran sekenanya, tapi berhasil membuat Reksa merasakan firasat yang tidak enak akan sikap tenang yang Kiran perlihatkan.
“Apa yang sedang kau rencanakan?” tanya Reksa yang tidak bisa memendam perasaan buruknya lebih lama lagi.
“Apa? Tentu saja melakukan hal yang terbaik untuk perusahaan,” jawab Kiran dengan ketusnya.
“Jangan pernah batalkan kontrak yang aku sudah disepakati dengan Anya,” ujar Reksa penuh penekanan.
Namun, Kiran mengabaikannya dia malah memilih berbicara dengan Dani dengan berkata, “Dani, bisakah kau laporkan apa saja yang sudah Tuan Reksa berikan kepada wanita murahan itu?”
“Kiran!” bentak Reksa dengan suara yang keras.
“APA?” balas Kiran yang akhirnya ikut meninggikan suaranya.
__ADS_1
“Aku sedang bertanya pada Dani, bukan padamu! Jadi, diam saja dan jangan ikut campur!” imbuh Kiran dengan tatapan penuh menegaskan.
“Dan, jelaskan sekarang!” desak Kiran pada Dani.
“Selain tentang menjadikan sebagai model eksklusif di perusahaan, Tuan Reksa juga menjadi sponsor utama untuknya dengan nominal uang yang cukup fantastis, _....”
“Apakah itu mengatasnamakan perusahaan?” potong Kiran dengan cepat dan Dani hanya menganggukkan pelan kepalanya.
“Baiklah, sepertinya aku sudah bisa memutuskan untuk melakukan apa sekarang!” ujar Kiran yang menatap tidak percaya pada Reksa yang kini menatapnya balik dengan penuh kemarahan.
“Kiran!”
“Jangan bicara apapun lagi, Mas!” sahut Kiran penuh penekanan.
Setelah Kiran mengatakan itu, keduanya pun kembali diam. Hingga tak lama kemudian mereka tiba di perusahaan, Kiran dan Reksa langsung berjalan menuju ke ruang pertemuan yang hanya tinggal menunggu kedatangan mereka saja.
...****************...
Disisi lain, Seno yang lagi-lagi tidak mengetahui tindakan Kakaknya sangat marah sekaligus terkejut karena Anya yang di jadikan model eksklusif di perusahaan keluarganya.
Ingin sekali rasanya Seno menyeret wanita ular yang tidak tahu malu itu keluar dari perusahaan milik keluarganya.
Akan tetapi, Seno masih bisa menggunakan akal sehatnya bahwa jika dia melakukan itu maka citra baiknya sendiri yang akan rusak di mata semua orang.
“Seharusnya tadi pagi aku menghajar Kakak tidak berguna itu! Setidaknya sampai otaknya geser lagi kembali seperti semula bahkan akan lebih baik. Bagaimana bisa dia menjadikan wanita ular jadi-jadian ini sebagai model dari produk baru yang akan segera di luncurkan,” geram Seno yang terus bergumam menatap penuh kebencian dan Anya yang dengan angkuhnya duduk di salah satu kursi pertemuan itu.
“Aish, … Kenapa Kakakku menjadi dungu sekali setelah ingatannya tentang Kak Kiran hilang,” umpatnya dengan kesal.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan lebar. Dengan langkah yang mantap, Kiran memasuki ruang pertemuan itu dengan penuh percaya diri berjalan menuju kursi utama.
Kursi milik Ceo yang kini sudah resmi menjadi miliknya, hingga berhasil membuat kejutan yang sangat tidak terduga bagi Anya sendiri.
“Kiran?”
Bersambung, .....
__ADS_1