Love Me Again, My Husband!

Love Me Again, My Husband!
Adanya Keraguan


__ADS_3

“Kau tidak perlu terlalu baik padaku! Apalagi aku sudah terlalu banyak menyakitimu selama ini,” ucap Reksa yang semakin menyesal karena telah menyakiti wanita sebaik Kiran.


“Aku sudah memaafkan mu, Mas! Dan akan selalu memaafkan mu,” ujar Kiran yang tampak sebuah ketulusan dari sorot matanya.


“Ugh, …”


Lagi-lagi kilasan sebuah kejadian yang kemungkinan besar berasal dari ingatan masa lalunya kembali di lihat oleh Reksa bersamaan dengan sakit kepala yang semakin parah.


Berbagai kilasan wajah Kiran mulai dari yang tersenyum bahagia, menangis, marah, cemberut dan lain sebagainya terus bermunculan di kepala Reksa tanpa bisa dia hentikan.


“Mas, kau kenapa?” tanya Kiran dengan raut wajah yang penuh kekhawatiran.


“Akhhh, …”


Bukannya menjawab Reksa malah semakin merintih kesakitan ketika rasa sakit kepalanya semakin kuat dia rasakan.


“Mas, katakan padaku? Apanya yang sakit? Ayo, kita ke rumah sakit sekarang!” cecar Kiran yang terlihat semakin panik melihat Reksa yang tampak sangat kesakitan sembari memegangi bagian kepalanya.


“Kepalaku rasanya sakit sekali, Kiran!” rintih Reksa yang tidak bisa berpikir jernih, karena sakit kepalanya yang tak kunjung mereda.


“Hiks, … Ayo, kita ke rumah sakit, Mas!” ujar Kiran tanpa sadar meraih Reksa ke dalam pelukannya seolah dia tengah merasakan sakit yang saat ini sedang suaminya rasakan.


“Haaah, … Haaah, ….”


Begitu Kiran memeluknya, kilasan itu mulai berhenti begitu juga dengan sakit kepalanya yang menderanya. Deru napas Reksa terasa begitu berat, keringat dingin sudah mengucur dari tubuhnya. Semaksimal mungkin Reksa menormalkan kembali napasnya tanpa berniat mendorong pelukan Kiran.


“Mas, Ayo kita ke rumah sakit? Hiks, …”


Kiran masih saja membujuk Reksa untuk pergi ke rumah sakit sambil memeluk tubuhnya erat, menangis ketakutan menandakan bahwa wanita yang akan segera dia ceraikan itu memang sangat mengkhawatirkan keadaannya.


Namun Reksa tidak memperdulikannya yang ada di pikiran dan hatinya saat itu adalah mengapa wajah Kiran terus bermunculan di dalam ingatannya.


“Ingatan apa tadi? Kenapa wajahnya tiba-tiba bermunculan dalam ingatanku? Dan mengapa aku langsung merasa tenang ketika berada dalam pelukannya seperti ini? Benarkah? … Benarkah dia memang istriku dan wanita yang aku cintai selama ini? Lalu kenapa Anya yang ada dalam ingatanku dan aku merasa masih mencintainya?”

__ADS_1


Reksa terus bertanya-tanya dalam hatinya sendiri, tanpa memperdulikan perkataan Kiran yang membujuknya untuk pergi ke rumah sakit.


Melihat suaminya yang hanya diam, Kiran pun melepas pelukannya untuk memastikan Reksa masih sadar atau sudah pingsan dalam pelukannya sejak tadi.


“Mas, syukurlah kau masih sadar? Ayo, kita ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaanmu,” bujuk Kiran dengan tatapan khawatir yang dapat Reksa lihat dengan jelas.


“Aku sudah merasa lebih baik sekarang! Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku,” ucap Reksa yang merasa canggung ketika mata mereka saling bertemu.


“Kau yakin sudah baik-baik saja?” Kiran masih saja tetap khawatir melihat wajah pucat suaminya yang di penuhi keringat dingin.


“Emm, … Aku baik-baik saja sekarang,” jawab Reksa mencoba menyakinkan, meski kepalanya masih sedikit pusing.


“Apakah Mas sering merasakan sakit kepala seperti ini?” tanya Kiran masih menatap suaminya dengan perasaan cemas dan khawatir.


“Uhmm, … Tidak sesering itu, hanya terkadang saja di waktu tertentu,” jawab Reksa dengan jujur.


“Sebaiknya Mas memeriksakan kembali pada Dr. Aiden! Bukankah besok jadwal Mas untuk di periksa lagi, beritahu Dr. Aiden tentang sakit kepala Mas ini,” ujar Kiran yang tidak bisa menyembunyikan kepeduliannya untuk Reksa.


“Sebaiknya Mas istirahat saja sekarang! Tidurlah di kamar utama, aku akan tidur di kamar lain,” ujar Kiran lagi.


“Biar aku saja yang tidur di kamar lain, lagipula rumah ini nantinya akan menjadi milikmu!” sahut Reksa yang langsung berjalan dengan sempoyongan menuju kamar kosong yang ada di rumah itu.


Kiran pun hanya bisa melihat kepergian suaminya itu yang terlihat begitu mantap untuk berpisah dengannya. Bahkan rela kehilangan kehidupan mewah yang selama ini Reksa miliki sejak kecil hanya untuk bisa bercerai dengannya dan hidup bersama dengan Anya.


“Mas, aku berharap hubungan kita masih bisa di perbaiki seperti dulu! Aku bisa memaafkan perlakuan kasarmu sebelumnya. Tapi tidak bisakah kau belajar mencintaiku kembali seperti dulu dan meninggalkan Anya?”


“Aku tidak masalah kau tidak mengingat tentang kebersamaan kita selama ini. Kita bisa membuat kenangan indah yang lainnya, tapi kenapa? Kenapa kau memilih untuk kita berpisah dengan cara seperti ini, Mas?” ujar Kiran hanya lelehan air matanya saja menjadi saksi betapa putus asa dirinya akan hubungan rumah tangganya ini.


Cukup lama Kiran duduk sendirian di ruang tamu sambil menangis. Begitu merasa lelah, Kiran pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


...****************...


Sedangkan di dalam kamar lain, Reksa masih terus memikirkan tentang ingatannya yang perlahan kembali tentang Kiran.

__ADS_1


“Aku yakin wanita dalam ingatanku adalah Kiran seolah aku pernah melihat semua ekspresi wajahnya dengan sangat jelas. Jika memang Kiran adalah istri yang benar-benar aku cintai selama ini, lalu kenapa ingatan sebelumnya aku merasa sangat kecewa padanya?”


Reksa terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan mencoba kembali mengingat lagi, tapi rasa sakit yang menyerang kepala akan muncul jika dia terlalu memaksakan diri.


Keraguan untuk berpisah dengan Kiran terus muncul di hatinya, tapi di sisi lain Reksa juga memikirkan hubungannya dengan Anya.


...****************...


Keesokan harinya, seperti yang di katakan oleh Papah Ibnu bahwa dia akan mendengar kepastian akan keputusan yang di ambil oleh Reksa dan Kiran.


Kini mereka berempat kembali duduk di ruang tamu yang semalam. Suasana hening dan penuh ketegangan sangat terasa di ruangan itu, apalagi pada Papah Ibnu dan Reksa.


“Jadi, apa keputusan akhir kalian?” tanya Papah Ibnu langsung pada intinya.


“Kami tetap sepakat untuk berpisah, Pah!” jawab Reksa, sedangkan Kiran masih diam sembari menundukkan wajahnya yang ingin sekali menangis saat itu juga.


“Apa keputusanmu juga sama dengannya, Kiran?” Papah Ibnu ingin mendengar secara langsung dari mulut Kiran.


“Iya, Pah! Mungkin ini yang terbaik untuk kita berdua,” jawab Kiran sembari menguatkan hatinya.


“Apa kalian berdua sudah sama-sama yakin akan keputusan ini? Ingatlah, keputusan bercerai ini kalian buat dalam keadaan Reksa yang masih hilang ingatan.”


Kali ini Mamah Syifa yang memastikan keputusan keduanya, baik Reksa dan Kiran hanya bisa terdiam.


“Reksa, apa kau yakin ingin menceraikan istrimu sendiri di saat kau sedang tidak bisa mengingatnya? Apa kau yakin tidak akan pernah menyesali keputusanmu saat ini di kemudian hari nanti?” tanya Mamah Syifa dari hari hati ke hati.


Pertanyaan yang sederhana, tapi berhasil menusuk sampai ke lubuk hati Reksa yang paling dalam.


Bersambung, .....



__ADS_1


__ADS_2