
Begitu keluar dari dalam mobilnya, Reksa langsung di cecar dengan berbagai pertanyaan tentang kondisinya. Akan tetapi, Reksa mengabaikan semua pertanyaan itu dan langsung memasuki sebuah taksi untuk mengantarkan pergi ke suatu tempat yang saat itu ada di dalam pikirannya.
“Tuan, haruskah saya mengantar anda ke rumah sakit?” tanya sang supir taksi yang melihat wajah pucat Reksa.
“Tidak! Antarkan saja aku ke taman Sky Dream,” jawab Reksa lirih, karena masih merasakan sedikit sakit pada kepalanya.
“Baik, Tuan!” sahut sang supir taksi.
Taman Sky Dream merupakan sebuah taman terindah yang berada di pinggiran kota dekat dengan Villa mewah milik keluarga Damarwangsa.
Dimana di tengah taman tersebut terdapat sebuah danau yang sangat indah di kelilingi dengan berbagai jenis bunga yang menambah kesan keindahan pada taman tersebut.
...****************...
Setibanya di tempat yang di tuju, Reksa langsung berjalan menuju danau yang menjadi tujuan kedatangannya.
Jangan salah sangka, Reksa sama sekali tidak berniat untuk bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya di danau tersebut. Reksa hanya ingin sedikit mengenang tentang masa lalunya yang tersimpan di sana.
“Tempat ini masih sama seperti dulu! Dan entah sejak kapan aku melupakan tentang tempat ini dan tentang janji yang aku berikan padanya,” gumam Reksa yang tersenyum kecut pada dirinya sendiri.
Reksa berdiri tepat di ujung jembatan yang ada di tengah danau sembari menatap sekelilingnya dengan tatapan sendu.
Beberapa kali Reksa menghela napas berat seolah berusaha mengeluarkan semua beban pikiran yang ada di kepalanya saat itu.
“Haah, … Sepertinya semua sudah terlambat! Lebih baik tetap seperti ini untuk seterusnya.” Reksa kembali bergumam.
Seharian Reksa habiskan waktunya untuk duduk seorang diri di tepi danau. Hingga sampai sore menjelang Reksa baru memutuskan untuk kembali, tapi bukan ke apartemennya melainkan ke rumahnya yang kini menjadi hak Kiran sepenuhnya.
Bukan alasan Reksa kembali mendatangi rumah itu, tetapi dia ingin mengambil sisa barang-barangnya yang masih tertinggal di sana.
...****************...
__ADS_1
Setibanya di rumah itu, langit malam sudah di penuhi dengan cahaya bintang. Bertepatan ketika Reksa ingin memasuki rumah itu disaat yang bersamaan Kiran juga keluar, hingga akhirnya mereka bertemu di depan pintu.
Namun yang membuat Reksa sukup terkejut ketika melihat penampilan cantik Kiran yang sepertinya ingin pergi ke suatu tempat.
Jujur saja, Reksa penasaran dengan siapa Kiran akan pergi malam itu tetapi dia memilih untuk mengurungkan niatnya untuk bertanya.
“Mas, kau pergi kemana saja? Aku dengar kau hampir mengalami kecelakaan lagi di jalan. Apakah kau baik-baik saja?”
Akhirnya Kiran yang membuka suara, sebab dia tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya lebih lama lagi. Apalagi melihat raut wajah Reksa yang terlihat pucat dan tak bertenaga membuat Kiran semakin bertambah gelisah. Namun ketika Kiran ingin mendekat, Reksa langsung mundur untuk menjaga jarak keduanya.
“Terima kasih atas belas kasihanmu! Seperti yang kau lihat sekarang aku baik-baik saja. Aku datang untuk membereskan sisa barang-barangku yang ada di sini,” ujar Reksa dengan tatapan datar dan nada dinginnya.
“Sepertinya kau akan pergi makan malam dengan seseorang!” lanjut Reksa sembari memperhatikan penampilan Kiran malam itu.
“Mas, _....”
“Tenang saja! Aku hanya akan mengambil barang-barang milikku, aku tidak akan mencuri apapun,” potong Reksa yang mencoba untuk membuka pintu tetapi tangan Kiran tiba-tiba menggenggam tangannya.
“Mas, aku sungguh khawatir dengan keadaanmu? Tapi kenapa Mas malah bersikap sedingin ini padaku?” cecar Kiran dengan dengan tatapan sendunya yang penuh kesedihan.
Tiba-tiba sebuah suara mengalihkan perhatian keduanya. Ternyata suara itu berasal dari Alka yang datang untuk menjemput Kiran sesuai janjinya. Reksa yang melihat kehadiran Alka langsung melepas genggaman tangan Kiran.
“Sebaiknya kau pergi dan seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku hanya ingin mengambil barang-barang miliki saja,” ujar Reksa sebelum masuk ke dalam rumah mewah itu.
“Alka, bisa kau tunggu sebentar! Ada beberapa hal yang harus aku bicarakan dengan Mas Reksa sekarang,” pinta Kiran yang menyuruh Alka untuk menunggu di luar.
Dan tanpa menunggu jawaban dari Alka, Kiran langsung mengikuti Reksa masuk ke dalam rumahnya. Dapat Alka lihat dengan jelas bahwa di mata Kiran hanya ada sosok Reksa, hingga harus Alka akui dia merasa sangat iri dengan Reksa.
“Kau bahkan langsung mengejarnya begitu saja tanpa menunggu jawabanku lebih dulu, Kiran! Betapa bodohnya Reksa yang tidak menyadari begitu besar cintamu untuknya. Jika aku menjadi Reksa, maka aku akan menjadi pria yang sangat beruntung di cintai wanita sepertimu,” gumam Alka yang yang menertawakan dirinya sendiri.
...****************...
__ADS_1
Sedangkan di dalam rumah, Kiran segera menyusul Reksa yang tengah membereskan semua pakaiannya yang ada di sana. Kiran kembali memegang lengan suaminya hingga Reksa terpaksa menghentikan aktivitasnya memasukan pakaiannya kedalam koper.
“Kenapa kau di sini? Bukankah seharusnya kau sudah pergi dengannya?” tanya Reksa yang kembali melepaskan tangan Kiran dari lengannya.
“Mas, _....”
“Apa kau masih belum puas mengambil semua yang aku miliki. Lalu menghancurkan hubunganku dengan Anya. Dan sekarang apalagi yang kau inginkan dariku?” cecar Reksa yang dengan sengaja melontarkan kata-kata yang cukup kejam pada Kiran.
“Benar! Aku belum puas dengan semua ini dan aku ingin kau selalu di sampingku. Apa kau juga bisa melakukannya?” balas Kiran yang sangat mengetahui bahwa suaminya saat ini tengah mengatakan kebohongan.
“Aku hanya mencintai Anya! Selamanya akan tetap seperti itu,” ujar Reksa penuh keyakinan.
“Aku tidak peduli yang terpenting kau berada di sisiku, selamanya!” sahut Kiran yang tak mau kalah begitu saja.
“Kau benar! Aku sudah memiliki segalanya sekarang. Sebentar lagi aku pasti bisa memiliki dirimu dan cintamu lagi, Mas Reksa!” imbuh Kiran yang penuh percaya diri.
“Besok dan seterusnya tetaplah bekerja di perusahaan! Jika Mas Reksa tidak datang, maka aku akan melaporkan hal ini pada Papah dan Mamah!” sambungnya yang membuat Reksa semakin melongo dengan Kiran yang sekarang berdiri di hadapannya.
“A-apa yang kau, _....”
“Santai saja membereskan barang-barangmu! Aku juga sudah ada janji makan malam dengan temanku, jadi kau tidak perlu terburu-buru,” potong Kiran yang menepuk pundak Reksa sekilas sebelum dia pergi.
Reksa hanya bisa terdiam menatap kepergian Kiran dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang di hadapinya barusan.
Kiran yang beberapa hari lalu hanya pasrah dia perlakukan semaunya, sekarang malah terlihat jelas tengah membalikan keadaan seakan sedang balas dendam kepadanya.
“Haaah, … Benarkah dia Kiran yang aku kenal selama ini? Kenapa aku merasa seperti sedang berhadapan dengan Kiran yang berbeda?” gumam Reksa yang masih tidak percaya.
“Semoga kau mendapatkan kebahagiaanmu sendiri, meski bersama orang lain!” imbuh Reksa tersenyum tipis.
Bersambung, .....
__ADS_1