Love Me Again, My Husband!

Love Me Again, My Husband!
Diam-Diam Perhatian


__ADS_3

Kiran pun menatap tak percaya pada pria yang kini tengah mendekap tubuhnya dengan erat. Raut wajah khawatir dan sorot mata yang penuh ketakutan, mengingatkan Kiran pada suaminya yang dulu begitu sangat mencintainya.


“Mas, apa kau sudah ingat tentang aku sekarang?” tanya Kiran lemah sembari membelai wajah Reksa lembut.


“Tidak! Hanya saja aku tidak bisa membiarkanmu jatuh pingsan di hadapan seluruh karyawan,” jawab Reksa yang segera melepas dekapannya pada tubuh Kiran.


“Kalau begitu terima kasih atas niat baikmu,” ucap Kiran yang lalu berjalan pergi meninggalkan Reksa masih mematung melihat kepergiannya.


Namun tak lama kemudian, Reksa segera menyusulnya. Bahkan ketika Kiran masuk ke dalam lift khusus seorang diri, Reksa juga tetap mengikutinya tanpa memperdulikan tatapan semua karyawan yang diam-diam sudah pasti menggosipkan hubungannya dengan Kiran lagi.


“Jika kau sedang sakit, kenapa tidak ambil cuti sakit saja?” tanya Reksa yang tidak bisa mengabaikan perasaan khawatirnya melihat wajah pucat Kiran yang sudah seperti hantu.


“Aku hanya masuk angin biasa! Aku masih bisa bekerja dengan baik, kau tenang saja!” jawab Kiran tanpa menatap wajah Reksa sedikitpun, karena tengah menahan rasa pusing di kepalanya.


“Kau tidak perlu terlalu memaksakan diri seperti ini. kau cuti sampai bulan pun tidak akan membuat perusahaan ini bangkrut selama masih ada Seno yang bisa menanganinya,” ujar Reksa yang terdengar kesal karena Kiran mengabaikan kesehatannya dan lebih mementingkan perusahaan.


“Cerewet sekali!” gumam Kiran.


Tingg, …


Ketika Reksa sudah mau menceramahinya lagi, pintu lift tiba-tiba terbuka yang menandakan bahwa mereka sudah sampai di lantai yang di tuju.


Kiran langsung berjalan keluar dari lift menuju ke ruangannya. Reksa pun segera mengikutinya dari belakang, hingga Dani menghampiri mereka yang kini sudah berada di dalam ruangan Ceo.


“Nyonya, _....”


“Dani, bisakah kau keluar dulu! Ada beberapa hal yang harus aku bicarakan dengannya,” potong Reksa ketika Dani ingin membacakan jadwal pertemuan seperti biasanya.


“Baiklah, Tuan! Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Dani yang segera meninggalkan ruangan atasannya itu.


Kiran pun menatap bingung pada Reksa dengan wajah pucatnya. Jujur saja dia tidak ingin memaksa kepalanya yang tengah di landa rasa pusing itu untuk menebak apa yang ingin Reksa bicarakan dengannya. Di tambah aroma tubuh Dani barusan membuat perutnya kembali merasa sangat mual.


“Pergilah ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisimu! Biar aku yang menangani semua pertemuan dan pekerjaan hari ini,” ujar Reksa yang tidak tahan melihat Kiran yang bersikeras memaksakan dirinya untuk tetap bekerja.

__ADS_1


“Jangan pedulikan aku! Kau lakukan saja tugasmu sendiri seperti biasanya,” tolak Kiran bersikeras pada keputusannya untuk tetap bekerja.


“Dani, masuklah!”


Perintah Kiran yang kembali menghubungi Dani melalui telepon kantor yang bisa langsung terhubung dengan ruangan Dani. Reksa hanya bisa menghela napas kasar menghadapi sikap keras kepala Kiran yang seperti itu.


Tak lama kemudian, Dani pun kembali masuk ke dalam ruangan tersebut dan berjalan menghampiri Kiran untuk membacakan jadwal.


Namun baru saja beberapa langkah Dani mendekat, perut Kiran dilanda rasa mual yang tak bisa tertahankan lagi. Tanpa memperdulikan tatapan bingung Reksa dan Dani, Kiran langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi yang berada di ruangannya.


“A-apa yang terjadi? Ke-kenapa Nyonya mual saat melihatku?”


Dani bertanya-tanya pada dirinya sendiri dan juga Reksa yang masih mematung di tempatnya.


“Houeek, … Hoeeekk, ….”


Sampai Reksa mendengar Kiran terus memuntahkan isi perutnya di dalam kamar mandi, dia mengabaikan pertanyaan Dani.


Lalu segera menyusul Kiran dan membantunya memijat tengkuknya, sedangkan Dani memperhatikan dari kejauhan bagaimana perhatian dan lembutnya Reksa memperlakukan Kiran.


“Aku tidak mau!” tolak Kiran sambil mendorong tangan Reksa untuk berhenti memijat tengkuknya lagi.


“Jangan memaksakan diri, _....”


“Aku tidak pernah memaksakan diri, Mas! Kau yang terus memaksaku sampai sejauh ini.” tukas Kiran yang menepis tangan Reksa yang ingin membantunya berdiri.


“Tidak pernahkah kau berpikir bahwa aku sampai seperti ini karena dirimu, Hah?” bentak Kiran entah mengapa emosinya tidak bisa dia kendalikan.


“Maafkan aku, … Tapi kita memang tidak bisa seperti dulu lagi Kiran! Aku yang sekarang lebih mencintai Anya,” ucap Reksa lirih.


“Kalau begitu abaikan saja aku! Jangan pedulikan aku seolah kau sedang memberi harapan palsu kepadaku,” sarkas Kiran yang berniat meninggalkan Reksa begitu saja, tetapi pusing kepalanya kembali melanda hingga Kiran hampir jatuh kalau Kiran tidak menangkapnya lagi.


“Haaah, … Kau keras kepala sekali!” gumam Reksa yang semakin mendekap erat Kiran dalam pelukannya.

__ADS_1


Lalu tanpa meminta ijin lebih dulu, Reksa langsung membawa tubuh Kiran dalam gendongannya. Kemudian membaringkannya di atas sofa panjang yang ada di sana.


Dani pun segera keluar dari ruangan itu untuk mengambil sebuah selimut yang sering Reksa gunakan jika tengah beristirahat di kantor.


“Tuan, ini selimutnya! Saya akan segera memanggilkan Dokter untuk, _....”


“Tidak! Jangan panggil siapapun, aku hanya perlu beristirahat sebentar seperti ini,” potong Kiran yang tidak ingin sampai melibatkan dokter karena menurutnya dia hanya sakit ringannya ini.


“Kau yakin? Wajahmu terlihat begitu pucat Kiran, sebaiknya kita periksakan saja di rumah sakit,” ujar Reksa berusaha membujuk Kiran agar mau melakukan pemeriksaan di rumah sakit saja.


“Aku hanya ingin tidur sebentar, setelah itu pasti akan membaik.” Namun Kiran masih pada keputusannya.


“Dan, batalkan untuk semua pertemuan hari ini dan bicarakan semua masalah padaku saja,” ujar Reksa yang mengalah untuk menuruti keinginan Kiran.


“Jangan di batalkan! Kau saja yang menghadiri pertemuan itu, aku akan tetap beristirahat di sini,” sela Kiran yang tidak ingin menimbulkan masalah dalam perusahaan hanya karena dirinya sakit.


“Tapi Kiran, _....”


“Tidak apa-apa! Aku akan lebih membaik ketika kau kembali nanti. Di dalam tasku juga sudah ada obat yang aku minum,” potong Kiran menyakinkan Reksa.


“Baiklah! Kalau seperti itu maumu!” Reksa kembali mengalah.


“Dan, belikan beberapa makanan untuk Nyonya!” perintah Reksa yang menyadari bahwa tadi Kiran sudah memuntahkan semua isi perutnya ketika melihat cairan bening yang keluar ari mulut Kiran saat muntah.


“Baik, Tuan!”


Dani segera pergi untuk mencari makanan kesukaan Atasannya itu sebelum waktu jam pertemuan di mulai. Sedangkan Reksa masih merawat dan menemani Kiran yang terlihat memejamkan matanya dengan lelah.


Tanpa sadar Reksa mengelus lembut perut Kiran seperti kebiasaan dulu setiap Kiran jatuh sakit dia akan mengelus perutnya.


Bersambung, .....


__ADS_1



__ADS_2