
Drrrt, … Drrrtt, ….
Disaat yang bersamaan ponsel miliknya juga berdering, menampilkan nama Anya yang tengah mencoba menghubunginya. Dengan perasaan malas, Reksa pun menerima panggilan telepon tersebut.
Entah mengapa dia teringat dengan perkataan semua orang yang mengatakan bahwa Anya itu wanita yang licik dan hanya menginginkan hartanya saja.
“Hallo, _....”
“Sayang, bagaimana pertemuan dengan keluargamu? Kenapa kau tidak memberiku kabar apapun dari semalam?” tanya Anya dengan suara manjanya.
“Maaf, kepalaku terasa sakit belakangan ini! Jadi, aku tidak sempat menghubungimu semuanya berjalan lancar, mereka juga menghargai keputusanku dan Kiran untuk bercerai,” terang Reksa yang ragu mengatakan tentang dirinya yang kini tidak memiliki apapun.
“Benarkah? Bagus kalau begitu, kita bisa bersama tanpa ada halangan lagi,” ujar Anya yang terdengar sangat bahagia.
“Emm, … Aku akan segera mengurus surat perceraiannya,” kata Reksa dengan penuh keraguan.
“Tentu, Sayang! Lebih cepat proses perceraian kalian, maka akan semakin baik pula hubungan kita!” sahut Anya tanpa tahu kenyataan bahwa sekarang Reksa sudah tidak memiliki apapun.
“Ouhya, …. Bagaimana kalau besok kita makan siang bersama setelah rapat untuk membicarakan tentang sponsor mu dalam film yang akan aku mainkan sekaligus membicarakan tentang menjadi model dari produk baru perusahaanmu?”
Anya dengan semangat menawarkan makan siang bersama. Namun, hal itu malah mengingatkan Reksa tentang sponsor yang dia buat untuk Anya dan pemilihan model iklan yang belum sempat dia bicarakan dengan anggota eksekutif lainnya.
“Astaga, aku lupa memberitahu Seno dan para eksekutif lainnya tentang ini. Aku bahkan memutuskan semua itu tanpa meminta persetujuan siapapun. Bagaimana ini? Apalagi mulai besok Kiran yang akan menggantikan posisiku?” batin Reksa yang tampak mulai kebingungan dengan semua hal tak terduga yang akan menunggunya besok.
“Sepertinya tidak aka nada masalah! Lagi pula aku sudah menanda tangani semua berkasnya dan semua itu sudah di proses,” lanjutnya yang mencoba berpikir positif bahwa tidak akan ada perdebatan yang di perlu.
“Sayang, ada apa? Kenapa kau diam seperti ini, kau belum tidur ‘kan?” Suara Anya yang sedikit meninggi membuat Reksa kembali dari dari lamunannya.
“Tidak ada apa-apa, tapi kepalaku terasa sakit lagi! Kita bicarakan nanti lagi ‘yah? Aku ingin beristirahat saja sekarang,” ujar Reksa yang sedang membutuhkan ketenangan sementara waktu.
“Baiklah, sebentar lagi aku juga ada pemotretan! Sampai bertemu besok, sayang!” ucap Anya yang terdengar masih sangat bahagia.
__ADS_1
“Emm, … Sampai ketemu besok!” balas Reksa dengan penuh keraguan.
Setelah itu, sambungan telepon itu pun terputus. Reksa kembali membaringkan tubuhnya yang terasa begitu lelah, apalagi pikiran hatinya yang di kini malah di penuhi berbagai keraguan setelah dia berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan yaitu perceraiannya dengan Kiran.
Jujur saja, Reksa saat ini membutuhkan teman untuk menceritakan segala pikiran dan perasaannya. Namun, dia tidak dengan dengan siapapun karena hanya Seno dan sekretarisnya saja yang selama ini bisa menjadi teman bicaranya.
Akan tetapi, Reksa tidak mungkin menceritakan soal perceraiannya dengan adiknya, mengingat betapa dekatnya Seno dengan Kiran selama ini. Yang ada dia malah akan di hajar dan diceramahi habis-habisan oleh Seno seperti yang di lakukan papahnya.
Dan tidak mungkin juga Reksa memanggil sekretaris pribadinya pada hari libur seperti ini, apalagi hanya untuk mendengar masalah pribadinya.
“Aish, … Sial! Kenapa semuanya menjadi serumit ini,” umpat Reksa yang merasa seolah seluruh dunia kini tengah mengecam dirinya karena meninggalkan sosok Kiran.
...****************...
Waktu dengan cepat berlalu, Reksa yang dalam keadaan pikiran yang kalut tanpa sadar dia tertidur hingga hari berganti. Reksa di kejutkan dengan bunyi alarm di ponselnya yang menandakan dirinya harus bersiap untuk pergi bekerja.
...Like an echo in the forest...
...haluga dol-aogessji...
...Yeah life goes on...
...Like an arrow in the blue sky...
...tto halu deo nal-agaji...
...On my pillow, on my table...
...Yeah life goes on...
...Like this again...
__ADS_1
“Ugh, … Jam berapa memangnya sekarang? Kenapa alarm di ponselku sudah berdering?” gumam Reksa mencoba mencari keberadaan ponselnya masih dengan mata yang tertutup.
“Astaga, aku sudah hampir terlambat ke kantor!” seru Reksa yang segera beranjak dari tempat tidurnya setelah melihat jam menunjukan hampi waktunya berangkat ke kantor.
Dengan terburu-buru Reksa langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mempersiapkan keperluannya untuk berangkat kerja.
Dia cukup terkejut dengan perubahan hidupnya yang harus melakukan semuanya sendiri. Padahal sebelumnya ada Kiran yang mempersiapkan semua keperluannya dengan sebaik mungkin.
Dan satu hal lagi, Reksa melupakan fakta bahwa dia sudah setuju bahwa posisinya sebagai Ceo telah di gantikan oleh Kiran atas permintaan Papahnya.
...****************...
Berbeda situasi dengan Kiran yang kini sudah siap menjadi Nyonya Ceo Damarwangsa Group. Hari pertamanya Kiran langsung di temani oleh Papah Ibnu dan Mamah Syifa sekaligus untuk memperkenalkan Kiran sebagai Ceo baru pengganti Reksa putra sulungnya. Bahkan saat itu, Seno juga tidak mengetahui tentang posisi Reksa yang di gantikan oleh Kiran.
Kini mereka bertiga sudah berada di dalam mobil yang tengah melaju menuju ke perusahaan. Papah Ibnu sudah memberitahu Seno bahwa dia akan datang mengunjungi perusahaan.
Dan Seno langsung mengerti serta segera memberitahu semua karyawannya untuk berkumpul menyambut kedatangan sang pemilik perusahaan tempat mereka bekerja.
“Kau sudah siap untuk hari ini, Kiran?” tanya Mamah Syifa sembari menggenggam erat tangan Kiran.
“Siap tidak siap, kau harus tetap menghadapai semua ini dengan baik, Nak! Tunjukan pada Reksa betapa menyesalnya dia telah menceraikan istri sepertimu. Mulai sekarang jangan pernah menunjukan sisi lemahnya di hadapan anak kurang ajar itu, kau lebih baik dalam segala hal darinya,” ujar Papah Ibnu memberikan sebuah pesan yang cukup membuat Kiran dan Mamah Syifa terkejut.
Pasalnya Papah Ibnu seolah tengah mengibarkan bendera perang kepada putranya sendiri. Bahkan Mamah Syifa seolah tidak mau mengingatkan akan sikap suaminya itu. Meski terkejut, tetapi Mamah Syifa malah terlihat seperti mendukungnya.
“Benar, Kiran sayang! Buat Reksa menyesali keputusannya, jika semua ini masih belum cukup untuk membuatnya menyesal. Maka Mamah dan Papah akan siap membantumu lebih dari ini,” ujar Mamah Syifa.
“Iya, Mah! Pah, Kiran mengerti sekarang! Kiran akan melakukan yang terbaik agar membuat Mas Reksa menyesal, karena telah menceraikan Kiran dengan mudahnya,” sahut Kiran menyakinkan kedua orang tua suaminya yang selalu menjadi pendukungnya apapun keadaannya.
“Benar, aku harus menggunakan kesempatan ini untuk menunjukan siapa Anya sebenarnya di mata Reksa dan di mata orang lain! Baik, Kiran mari lakukan yang terbaik yang kau bisa. Kau bukan wanita lemah!” batin Kiran menyemangati padar dirinya sendiri.
Bersambung, ....
__ADS_1