
“Memang apa urusanmu, sebaiknya kau focus saja dengan berkas yang perlu kau tangani. Masalah model untuk produk baru sudah aku tangani,” ujar Reksa yang secara tidak langsung membenarkan tebakan Kiran.
“Mas, dia model bermasalah! Belum lagi kalau masalah perceraian kita di ketahui public, bukan hanya kita yang terkena dampaknya tapi perusahaan akan mengalami banyak kerugian!” seru Kiran yang tidak habis pikir dengan suaminya itu.
“Sebenarnya apa maumu, Hah?” tantang Reksa yang tidak ingin berdebat lagi.
“Ganti modelnya, aku tidak akan pernah membiarkan wanita murahan itu juga menghancurkan perusahaan. Cukup rumah tangga kita saja yang hancur seperti ini,” jawab Kiran dengan penuh penekanan.
“Tidak bisa! Aku tidak mau melakukan itu,” tolak Reksa yang bersikeras.
“Mas, _....”
Tok, … Tok, …
Perlahan pintu terbuka dari luar menampilkan sosok Dani yang ingin memberitahu kepada Reksa dan Kiran bahwa sebentar lagi waktunya bertemu dengan Ceo dari Alastar Group.
Namun melihat suasana di dalam ruangan itu yang terlihat sangat tegang, Dani pun mengurungkan niatnya untuk masuk.
“Maaf, Tuan Reksa dan Nyonya Kiran! Anda berdua harus segera bersiap untuk jadwal pertemuan dengan Ceo Alastar,” ujar Dani yang hanya masuk sedikit di depan pintu.
“Kita akan bicarakan ini nanti, tepat pada pertemuan dengan kekasih murahanmu itu!”
Kiran langsung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Reksa begitu saja setelah mengatakan hal yang membuat Reksa cukup terkejut begitu mendengarnya.
Dani pun bereaksi hampir sama dengan Reksa. Pasalnya Dani tidak pernah melihat Kiran yang bersikap dingin seperti itu bahkan ucapannya cukup kasar untuk di lontarkan kepada suaminya sendiri.
“Tuan, _....”
“Tidak apa-apa, Dan! Lakukan saja yang menjadi tugasmu,” potong Reksa yang segera menyusul Kiran yang sudah lebih dulu keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Dani yang tidak ingin terlalu terlibat dengan permasalahan, dia lebih memilih diam dan segera mengikuti kedua atasannya sembari membawa beberapa dokumen yang nantinya di butuhkan dalam pertemuan itu.
Dan seperti yang Dani perkirakan sepanjang perjalanan menuju tempat pertemuan suasana di dalam mobil itu rasanya sangat menyesakkan.
“Mas, kau sudah menghancurkan rumah tangga kita karena wanita itu! Aku tidak akan pernah membiarkan kehadiran wanita itu juga menghancurkan perusahaan yang sudah dengan susah payah Papah bangun ini,” batin Kiran yang sekilas menatap Reksa yang terus menatap ke luar jendela.
“Haaah, … Sepertinya aku bisa membaca apa yang sedang dia pikirkan! Tapi aku tidak bisa memperkirakan apa yang akan Kiran lakukan saat pertemuan nanti dengan Anya. Aish, … Cara menghadapi Anya juga belum aku pikirkan, sekarang di tambah lagi dengan apa yang tengah Kiran rencanakan,” batin Reksa yang diam-diam juga melirik terus kearah Kiran.
...****************...
Keduanya masih sama-sama diam, hingga membuat Dani juga tidak berani mengatakan apapun. Sampai tidak terasa kini mereka telah sampai di tempat pertemuan yang berada di sebuah restaurant mewah.
Alka yang saat itu memang datang lebih awal bersama sekretarisnya sangat terkejut dengan kedatangan Kiran yang penampilannya berbeda jauh dari pertemuan terakhir mereka.
“Kiran!” seru Alka yang terlihat sangat antusias dan bahagia bisa melihat cinta pertamanya kembali.
“Bagaimana kabarmu, Alka?” tanya Kiran sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangannya.
Terlihat Reksa cukup terkejut dengan interaksi keduanya, begitu juga dengan Dani. Seketika hati dan pikiran Reksa di penuhi amarah melihat kedekatan Kiran dengan Alka seperti yang dia rasakan pada malam itu.
Reksa segera mengalihkan padangan matanya ke tempat lain dan berusaha menekan perasaan amarah yang semakin memuncak di lubuk hatinya.
Kiran langsung menarik tangannya dari genggam Alka ketika melihat Reksa yang berusaha mengalihkan pandangan matanya.
Kiran segera sadar bahwa bagaimanapun saat ini posisinya masih sebagai istri Reksa. Sebelum adanya surat cerai sebisa mungkin dia harus menjaga jarak dengan pria lain.
“Ouh, … Maafkan aku!”
Alka pun segera meminta maaf ketika menyadari sikapnya, meski jujur saja dia tidak menyukai Reksa sama sekali. Apalagi setelah melihat perlakuan kasar Reksa pada malam itu yang menyeret Kiran tanpa perasaan sedikitpun.
__ADS_1
“Mungkin mulai sekarang kita akan sering bertemu, Alka!” ujar Kiran dengan senyuman manisnya yang tanpa sadar membuat Alka kembali jatuh hati padanya untuk kesekian kalinya.
“Maksudmu?” tanya Alka yang masih tidak mengerti arti dari perkataan Kiran.
“Tuan Alka, perkenalkan ini Nyonya Kiran yang menjadi Ceo baru dari Damarwangsa Group. Mulai sekarang Nyonya Kiran yang akan mengatur dan memimpin segala pertemuan penting tentang kerjasama yang akan kita lakukan,” terang Dani yang memperkenalkan secara resmi posisi Kiran sekarang.
“Apa?” Terlihat jelas bahwa Alka sangat terkejut begitu mendengarnya.
“Benarkah sekarang yang menjadi Ceo?” Alka kembali memastikan dengan menanyakan langsung pada Kiran.
“Benar, mulai hari ini aku yang memimpi Damarwangsa Group! Mohon kerjasama baiknya, Tuan Alka.” Kiran membenarkan dengan penuh percaya diri.
“Waahh, … Kalau kau yang menjadi Ceonya, sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Bagaimana kalau kita langsung saja menanda tangani kontrak kerjasamanya dan sisa waktunya kita gunakan untuk makan siang bersama,” ujar Alka yang tampak semakin bersemangat, sedangkan Reksa dianggap seolah tidak ada di sana.
“Maaf menyela tapi masih banyak yang harus di lakukan Kiran! Bukan hanya sekadar menemani klien kerjasamanya untuk makan siang.” Reksa yang tidak tahan terus di abaikan oleh kedua orang itu.
“Aah, … Maafkan saya, Tuan Reksa! Karena lupa menyapamu, sebab dengan kehadiran Kiran saja semua orang jadi tidak terlihat apalagi orang seperti anda,” sindir Alka disertai senyuman yang membuat Reksa semakin naik darah.
“Anda sungguh tidak sopan, Tuan Alka! Apa anda lupa bahwa saat ini yang sedang anda coba dekati adalah istri orang?” balas Reksa yang tak mau di rendahkan seperti itu.
“Umm, … Memang sayang sekali Kiran masih menjadi istri orang! Aku berharap suaminya tiba-tiba menjadi bodoh dan menceraikannya dengan begitu, aku bisa mencoba untuk memperjuangkannya menjadi milikku.” Bukannya merasa bersalah, Alka malah semakin memprovokasi Reksa.
“Kau, _....”
“Tuan Alka, kedatangan kita untuk membahas maslaah bisnis bukan masalah pribadi! Bisakah anda bersikap professional dan mari kita bicarakan tentang kerjasama yang akan kita jalankan bersama,” sela Kiran yang menyadari keadaan semakin tidak kondusif.
“Aah, … Benar! Karena saking bahagianya bertemu denganmu, aku jadi lupa akan segalanya. Baiklah, mari kita langsung tanda tangani saja kontrak kerjasamanya,” ujar Alka yang langsung meraih kontrak yang di berikan Dani dan langsung menanda tanganinya.
Bersambung, ....
__ADS_1