
Sontak penyataan Kiran yang ingin bercerai dengan Reksa sangat membuat kedua orang tua itu terkejut bukan main. Pasalnya, mereka sudah sangat mengenal Kiran yang pantang menyerah untuk berusaha membuat Reksa kembali mengingatnya.
Baik Papah Ibnu maupun Mamah Syifa pun seketika menyadari bahwa putra mereka telah melakukan sesuatu yang amat sangat menyakiti Kiran.
“Kiran, bisa jelaskan pada Mamah dan Papah lebih dulu apa yang Reksa lakukan padamu sampai kau setuju untuk bercerai seperti ini?” tanya Mamah Syifa selembut mungkin.
“Benar, Nak! Kami tahu kau tidak akan mengambil keputusan sebesar ini tanpa alasan. Anak itu pasti sudah melakukan sesuatu yang buruk padamu, bukan?” imbuh Papah Ibnu yang membuat Kiran tak kuasa menahan air matanya lagi.
Kiran kembali menangis terisak, dia tidak ingin menceritakan perlakuan buruk yang di dapatkan dari Reksa kepada kedua orang tua dari suaminya itu.
Namun, dia juga memerlukan sebuah alasan yang cukup agar kedua orang tua yang sudah Kiran anggap sebagai orang tua kandungnya sendiri menerima keputusannya untuk bercerai.
Mamah Syifa segera berpindah tempat duduk di samping Kiran, memeluk dan mencoba menenangkan menantu kesayangannya itu. Begitu juga dengan papah Ibnu yang membelai kepala dan punggung menantunya untuk memberikan kekuatan.
“Ceritakan semuanya pada kami, Kiran? Kau tidak sendirian, bukankah Papah dan Mamah sudah menjadi orang tuamu juga!” bujuk Papah Ibnu agar Kiran tidak menutupi perbuatan yang telah putranya lakukan pada Kiran.
“Benar, Kiran! Kami tidak akan membenarkan perbuatan putra kami sendiri, jika dia memang menyakitimu! Kami juga tidak akan memaksamu untuk tetap bersama dengan putra kami, jika kau tidak menginginkannya.”
Mamah Syifa membenarkan bahkan menambahkan agar Kiran merasa merasa nyaman untuk bercerita dengannya.
Namun tetap saja Kiran tidak bisa menceritakan perlakuan buruk yang reksa berikan kepadanya. Tidak bisakah kedua mertuanya itu hanya menerima keputusan mereka untuk bercerai tanpa menanyakan alasannya ataupun mencari tahu apa yang terjadi.
“Pah, panggil Reksa untuk datang sekarang!” perintah Mamah Syifa pada suaminya.
“Jika Kiran tidak mau membongkar kelakuan buruk putra kita, maka kita tanyakan langsung pada pelakunya!” sambung Mamah Syifa yang terlihat sangat marah pada putra sulungnya.
“Benar, kita sidang saja anak itu secara langsung!” sahut Papah Ibnu yang langsung menghubungi Reksa.
Kiran pun terlihat panik, jika Reksa menceritakan semua yang terjadi pada Papah Ibnu dan Mamah Syifa. Maka bukan hanya omelan saja yang akan Reksa terima, tetapi bisa jadi Papah Ibnu akan melakukan hal yang sama seperti yang Reksa lakukan.
Memukul dan menarik semua fasilitas yang di miliki oleh Reksa selama ini. Meski semua itu adalah hasil kerja keras Reksa sendiri, tetapi sebagai orang tua Papah Ibnu dan Mamah Syifa masih memiliki peranan penting untuk mendidik anaknya sendiri ke jalan yang benar.
__ADS_1
...****************...
Reksa yang saat itu sedang menikmati makan siang bersama dengan Anya. Tiba-tiba di kejutkan oleh penggilan masuk dari Papahnya. Seketika Reksa sadar bahwa Kiran sepertinya sudah mengutarakan tentang perceraian mereka kepada kedua orang tuanya.
“Sayang, siapa yang menelpon?” tanya Anya yang menyadari perubahan wajah Reksa yang kini terlihat sangat tegang.
“Dari Papahku!” jawab Reksa sekenanya dan Anya seketika terdiam, dia masih ingat jelas bagaimana kedua orang tua Reksa menolaknya dulu.
Dengan perasaan cemas akhirnya Reksa mengangkat panggilan telepon itu. Benar saja tebakannya, Papahnya terdengar begitu marah kepadanya. Dengan suara yang begitu lantang, Papah ibnu menyuruhnya untuk segera pulang detik itu juga.
“Pulang sekarang juga atau Papah akan menyuruh orang untuk menyeretmu pulang!” bentak Papah Ibnu penuh perintah dan penegasan, setelah itu sambungan di putus begitu saja.
“Maaf, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang! Aku akan menelpon manager mu agar bisa menjemputmu di sini,” ujar Reksa penuh penyesalan.
“Apakah ada hubungannya dengan perceraianmu dengan Kiran?” tanya Anya yang penasaran.
“Sepertinya begitu dan ini tidak akan mudah! Kau mau menungguku menyelesaikan semua ini, sayang?” tanya Reksa memastikan perasaan Anya.
“Aku pergi dulu!” pamit Reksa sembari mengecup kening Anya sekilas.
Selepas kepergian Reksa, tiba-tiba seorang pria tampan menghampiri Anya. Steven Gerrard Mavendra seorang Ceo dari perusahaan hiburan ternama yang bernama Gerrard Entertainment.
Dia ‘lah kekasih Anya yang sesungguh, sang kekasih yang menyuruh Anya untuk memanfaatkan Reksa agar mau berinvestasi pada perusahaanya yang tengah mengalami penurunan.
“Waah, … Kekasihnya siapa ini yang di tinggalkan begitu saja sendirian di sini?” goda Steven sembari mengecup bibir Anya sekilas.
Anya tidak menolak atas kecupan itu, dia malah terlihat sangat bahagia akan kedatangan pria yang di cintainya itu.
“Sejak kapan kau berada di sini juga?” tanya Anya penasaran.
“Mungkin sejak kalian makan di sini, aku sedang memperhatikan kalian dengan perasaan cemburu di pojokan sana,” jawab Steven sembari menunjuk tempatnya makan tadi.
__ADS_1
“Kenapa tidak berpura-pura menyapa saja?” tanya Anya yang sedikit kesal.
“Jangan terlalu gegabah! Kita bisa melakukannya nanti kalau kau memperkenalkan kami secara resmi.” Steven mencari alasan yang masuk akal.
“Apakah sejauh ini rencana kita berjalan lancar?” tanya Steven balik.
“Emmm, … Setelah ini aku akan meminta Reksa untuk berinvestasi pada film yang akan aku mainkan! Kau tenang saja, kita bisa memanfaatkan dia semaksimal mungkin untuk memajukan perusahaanmu dan menaikan karirku di dunia hiburan ini!” terang Anya dengan segala rencana liciknya.
“Kau memang wanita licik yang sangat mempesona, karena itulah aku mencintaimu!” puji Steven yang sama liciknya dengan Anya.
“Bagaimana kalau kita bermain sekarang? Bukankah sudah lama kita tidak bermain di atas ranjang?” ajak Steven yang di sambut dengan antusias oleh Anya.
...****************...
Sementara di sisi lain, akhirnya Reksa sudah tiba di rumahnya setelah beberapa hari menginat di hotel hanya untuk menghindari Kiran.
Begitu masuk bukan sambungan hangat yang Reksa dapatkan, tetapi pukulan berkali-kali pada wajahnya yang di layangkan oleh Papahnya sendiri.
“Dasar anak kurang ajar! Bagaimana bisa kau menyakiti istrimu sendiri, Hah!” bentak Papah Ibnu penuh dengan kemarahan.
Yap, … Papah Ibnu dan Mamah Syifa telah mengetahui apa yang di lakukan Reksa pada Kiran. Namun mereka tidak mengetahuinya dari Kiran secara langsung, tetapi dari cerita bibi Han yang mendapati Kiran terbaring di ranjang dengan beberapa luka di kening, tangan dan bagian tubuh lainnya.
Meski tidak mengetahui kejadiannya secara mendetail, apalagi Kiran yang memilih untuk tutup mulut karena berusaha melindungi Reksa.
Akan tetapi, Papah Ibnu dan Mamah Syifa tidak sebodoh itu dengan tidak bisa menilai apa yang di lakukan putranya kepada menantu kesayangan mereka.
Bersambung, ....
__ADS_1