Love Me Again, My Husband!

Love Me Again, My Husband!
Menuntut Penjelasan


__ADS_3

Kali ini Papah Ibnu yang bertanya, “Seno, kau masih ingat bukan perjanjian yang pernah Kakakmu ini buat dengan Papah ketika ingin menikahi Kakak Iparmu?”


“Haaah, … Jadi, seperti itu! Apa Papah sudah menghajar Kak Reksa dengan benar, kalau belum aku bisa mewakili Papah melakukan itu,” ujar Seno begitu memahami keadaannya.


“Terima kasih, tapi aku sudah mendapatkan semua itu! Bisa kau lihat sendiri bekas memarnya masih terlihat jelas di wajahku, bahkan sebelum itu aku sudah mendapatkan pukulan yang lebih kerasa dari seorang wanita gila,” terang Reksa dengan raut wajah cemberutnya.


“Haish, padahal aku ingin sekali menghajar wajah Kakak itu!” ujar Seno yang harus menahan diri, karen tidak tega dengan kakaknya sendiri.


Meski tidak bisa di pungkiri bahwa dia sangat kecewa dengan keputusan Reksa yang bersikeras bercerai dengan Kiran. Padahal Kakak Iparnya itu sudah berusaha keras untuk mempertahankan hubungan rumah tangga itu, walau dalam keadaan Reksa yang sama sekali tidak mengingatnya.


“Seno, Papah akan mempercayakan Kiran padamu! Ingat, jika Reksa kembali menyakitinya maka kau harus menjadi benteng pertahanannya. Mengerti?” sela Papah Ibnu yang masih memiliki urusan lain.


“Baik, Pah! Papah dan Mamah tenang saja, aku pasti akan menjaga Kak Kiran selama di perusahaan,” sahut Seno dengan penuh antusias.


“Kalau begitu Papah dan Mamah harus pergi sekarang,” pamit Papah Ibnu.


“Kiran, nanti setelah pulang kerja kami akan menjemputmu lagi ‘yah, sayang!” ujar Mamah Syifa sembari membelai lembut wajah Kiran.


“Baiklah, Mah!” sahut Kiran yang membalasnya dengan sebuah senyuman manis.


Setelah mendapat sebuah pelukan hangat, Papah Ibnu dan Mamah Syifa pun meninggalkan perusahaan. Mereka benar-benar mengabaikan keberadaan Reksa di sana, begitu juga Seno yang kini selalu menunjukan tatapan tajamnya kepada sang kakak yang dulu sangat dia hormati dan banggakan.


“Ayo, Kak Kiran! Aku antar sampai di ruanganmu,” ujar Seno mengarahkan Kiran untuk menuju ke ruangan Ceo yang sekarang telah menjadi miliknya.


Sontak saja, Kiran langsung menatap kearah Reksa yang dengan sengaja mengalihkan tatapannya kearah lain.

__ADS_1


Sungguh Kiran sebenarnya tidak mau mengambil semua yang selama ini menjadi milik suaminya, tapi dia juga tidak ingin mengecewakan kedua mertuanya yang mempercayakan posisi itu kepadanya.


Di tambah Kiran juga tidak ingin Anya memanfaatkan Reksa untuk menguras kekayaannya saja.


Hingga tangan Seno menarik tangannya untuk mengikutinya. Sedangkan Reksa sendiri hanya bisa mengikuti keduanya, hingga tibalah di depan pintu ruangan Ceo mereka bertemu dengan Dani yang siap membacakan jadwal yang seharusnya milik Reksa hari ini.


“Selamat pagi, Tuan Reksa! Tuan Seno dan Nyonya Kiran, saya ingin menyampaikan tentang jadwal pertemuan yang, _....”


“Ayo, kita bicarakan di dalam ruangan saja!” potong Seno yang menyadari kebingungan Dani harus memberitahu tentang jadwal pertemuan itu kepada Reksa atau Kiran.


Keempatnya pun masuk ke dalam ruangan Ceo, dimana Seno memaksa Kiran untuk duduk di kursi Ceo yang selama ini di duduki oleh Reksa. Sedangkan Reksa sendiri malah berdiri tidak jauh dari Dani yang menunggu penjelasan lebih lanjut lagi.


“Dani, kau sudah dengar dari pemilik perusahaan ini, Bukan? Bahwa mulai hari ini Ceo kita adalah Nyonya Kiran. Jadi, mulai sekarang kau memberitahukan semua jadwal pertemuan penting kepada Nyonya Kiran?” ujar Seno menekankan sambil menatap sekilas kepada Reksa yang masih diam.


“Benar, Dan! Mulai sekarang bekerjasama ‘lah dengannya, karena aku juga akan sementara tetap di sini sampai Kiran bisa menyesuaikan diri dengan posisinya,” ujar Reksa sembari menepuk pelan pundak untuk menyadarkan Dani yang masih berusaha menerima kenyataan yang baru saja dia dapatkan.


“Kita akan lihat nanti, Dan!” jawab Reksa dengan sikap santainya seolah semua itu bukan masalah besar untuknya.


“Baguslah, kalau kau cukup sadar diri!” sela Seno dengan nada ketusnya.


“Dan, aku percayakan padamu,” ujar Seno yang memang harus mengikuti pertemuan penting lainnya.


“I-iya baik, Tuan Seno!” jawab Dani dengan gugup.


Setelah itu, Seno pun meninggalkan Kiran bersama dengan Reksa dan Dani yang masih berdiri di sana untuk membantunya. Suasana cukup canggung satu sama, apalagi Dani yang di hadapkan dengan pasangan suami istri yang bisa dia lihat dan rasakan hubungannya sudah semakin renggang dari yang sebelumnya.

__ADS_1


“Dan, kenapa kau masih diam saja! Mulai jelaskan padanya tentang jadwal hari ini seperti yang biasa kau lakukan,” ujar Reksa memecah keheningan di antara mereka.


“Aah, … Begini Nyonya untuk hari ini hanya ada sekitar lima pertemuan penting yang harus anda hadiri, salah satunya dengan Ceo Alastar Group. Kemudian dengan model yang akan mempromosikan produk terbaru kita. Selebihnya hanya pertemuan biasa dengan para anggota dewan,” terang Dani yang menjalankan tugasnya seperti biasa.


“Dani, sudah cukup penjelasannya darimu. Sisa aku saja yang akan menjelaskan tentang semuanya, termasuk tentang pembahasan yang akan terjadi dalam setiap pertemuan itu. Kau siapkan saja untuk perjalanannya,” ujar Reksa yang tidak ingin menunda pekerjaan Dani lagi, apalagi ada dia yang bisa memberitahu semua hal yang perlu Kiran ketahui.


“Baik, Tuan Reksa! Nyonya Kiran, kalau begitu saya pamit undur diri lebih dulu,” pamit Dani yang merasa cukup beruntung mendapat atasan pengertian seperti Reksa.


Kiran hanya menanggapinya dengan anggukan kepala dan senyuman manisnya. Setelah itu Dani langsung kembali ke ruangannya. Reksa pun segera mendekati meja kerja Kiran dan meraih beberapa berkah yang ada di atas mejanya.


“Aku akan menjelaskan semuanya secara perlahan! Sebaiknya kau mempelajari tentang hal-hal yang perlu di bahas untuk setiap pertemuan hari ini. Jika masih memiliki waktu lebih, aku akan membantumu untuk mempelajari semua yang perlu kau perhatikan,” jelas Reksa yang mengambil sebuah berkas bertuliskan proposal kerjasama dengan dengan Alastar Group.


“Bukankah ini perusahaan milik Alka? Siapa sangka aku benar-benar akan bertemu lagi dengannya dalam situasi yang berubah seperti ini. Aku yakin dia pasti terkejut melihatku sebagai Ceo menggantikan suamiku sendiri?” batin Kiran yang tanpa sadar malah memikirkan Alka.


“Apa kau tidak mendengarkan penjelasanku?” Pertanyaan Reksa menyadarkan lamunan Kiran dari pikirannya.


“Yaa, … Aku mendengarkannya? Tapi apa maksud dari proposal ini?” tanya Kiran yang melihat sebuah proposal yang tertulis nama Anya di sana.


“Seperti yang kau lihat sendiri! Kami akan bekerjasama dengan Anya untuk menjadi model produk baru kita!” jawab Reksa dengan santainya.


“Kenapa harus dia? Bukankah banyak model yang lebih baik dan lebih terkenal dari dia, kenapa kau malah memilihnya? Jangan katakan kalau kau sudah menjanjikan hal ini padanya?” tanya Kiran menuntut penjelasan dan kejujuran Reksa.


Bersambung, ....


__ADS_1



__ADS_2