
Keesokan harinya Reksa benar-benar mengklarifikasi akan Tuduhan keterlibatan dirinya dalam kasus penganiayaan dan penyekapan terhadap Anya.
Hal itu di benarkan langsung oleh pihak kepolisian bahwa tidak adanya bukti satupun yang membuktikan bahwa Reksa terlibat.
“Sekali lagi saya pertegas bahwa saya tidak pernah sekalipun bertemu atau menemui Anya setelah kepergian istri saya ke London. Bahkan saya lebih banyak menghabiskan waktu saya di sana selama hampir lima tahun ini.”
“Saya turut simpati dengan apa yang menimpanya, tetapi semua itu tidak ada kaitannya dengan saya.”
“Dan untuk Anya sendiri, sebaiknya kau muncul daan menjelaskan secara langsung kepada pihak kepolisian tentang apa yang menimpamu selama ini. Jangan hanya melimpahkan kesalahan pada orang yang tidak melakukan apapun kepadamu.”
Itulah perkataan terakhir yang Reksa ucapkan sebelum menyudahi konferensi persnya. Namun tidak pernah Reksa dan yang lainnya duga bahwa sebenarnya Anya menghadiri acara konferensi pers itu secara langsung.
“Tidak melakukan kesalahan katamu? Jika saja kau tidak mendekatiku lagi saat itu, maka hidupku masih nyaman sebagai seorang model. Bukan seorang pelacur yang murahan yang harus melayani para pria hidung belang,” gumam Anya yang berdiri di bali tembok yang cukup jauh dari keramaian.
“Kehadiranmu yang menghancurkan hidupku, Reksa! Maka sebagai gantinya aku akan menghilangkan kehadiran putrimu untuk membuat hidup kalian semua hancur,” sambung yang lalu berjalan pergi dari tempat itu sebelum di ketahui orang yang berlalu lalang di sana.
“Nona Anya!”
Siapa sangka Dani yang malah mengenali Anya, tapi ketika dia berniat mengejarnya. Langkah kakinya harus terhenti ketika tangan Dira memegang lengannya.
Entah dari mana Dira datang, tapi yang pasti Dani malah harus kehilangan jejak Anya yang menghilang di kerumunan.
“Aish, … Lepaskan!” pinta Dani sambil berusaha menepis tangan Dira.
“Aku ingin bicara hal penting denganmu sekarang juga,” ujar Dira yang tak mau melepaskan Dani.
“Haah, … Aku masih banyak pekerjaan sekarang! Kalau kau bicara katakan saja sekarang di sini,” balas Dani yang memang masih banyak pekerjaan yang menumpuk menanti dirinya.
“Tidak di sini! Bisakah kau ikut denganku sebentar.”
Dira kembali meminta sambil menarik Dani untuk mengikutinya. Dani pun hanya pasrah mengikuti Dira yang ternyata membawanya ke sebuah café yang tidak jauh dari lokasi perusahaan.
Begitu keduanya sudah duduk dan memesan, beberapa saat Dira hanya diam sedangkan Dani masih menunggu apa yang ingin wanita itu katakan padanya.
__ADS_1
“Apa yang ingin kau katakan?” tanya Dani yang sudah tidak sabaran untuk kembali bekerja.
“Dani, aku serius menyukaimu!” ungkap Dira dengan raut wajah seriusnya hingga berhasil membuat Dani langsung terdiam begitu mendengarnya.
“Apakah kau memiliki perasaan yang sama sepertiku?” Lalu Dira balik menanyakan perasaan Dani untuknya.
“Aku hanya menyukai dan mencintaimu, tapi orang tuaku malah menjodohkan aku dengan seorang Dokter yang merupakan anak kenalan mereka. Dan aku tidak ingin menikah dengannya, karena aku hanya ingin menikah denganmu.” Lanjut Dira dan Dani masih tetap diam mendengar setiap ungkapan mengejutkan dari Dira.
“Dani, jawablah!” ujar Dira yang menuntut jawaban saat itu juga.
“Maaf, Dira tapi aku tidak memiliki perasaan yang sama sepertimu. Meskipun aku juga menyukaimu, sebaiknya kau memang bersama pria pilihan orang tuamu. Karena pilihan orang tua selalu mengutamakan yang terbaik untuk anaknya.”
Siapa sangka Dani langsung menolak perasaan Dira dengan mudahnya. Walaupun cara bicara penuh kelembutan seperti biasanya, tapi entah hal itu berhasil membuat air mata Dira jatuh begitu saja.
Dani berniat untuk menghapusnya, tapi dengan cepat Dira menepis tangannya yang hampir menyentuh wajah cantik itu.
“Baiklah, aku mengerti!” ucap Dira dingin dengan berderai air mata.
“Dira, …”
Dani ingin mengatakan sesuatu, tapi Dira sudah berlalu pergi meninggalkannya sambil menangis. Meski sangat ingin mengejarnya, akan tetapi Dani harus menahannya agar Dira berhenti berharap akan balasan cinta darinya.
Dani cukup sadar diri dengan adanya perbedaan kasta di antara mereka berdua, lebih baik seperti ini dari pada Dira hidup menderita jika bersama dengannya.
...****************...
Sedangkan sebuah Mall terbesar, terlihat Papah Ibnu dan Mamah Syifa tengah mengajak cucu kesayangan mereka yaitu Baby Queen membeli mainan yang gadis mungil menggemaskan itu inginkan.
Sedangkan Kiran pergi menemui Reksa di perusahaan untuk menanyakan kabar penyelesaian masalah Anya.
“Waaah, … Kakek tas kelinci!” seru Baby Queen sambil menunjuk pada salah satu etalase toko dengan mata berbinarnya.
“Apa Queen mau?” tanya Papah Ibnu yang gemas sendiri dengan kelakuan cucunya. Apalagi Queen dengan cepat menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
“Baiklah, hari ini Kakek akan membelikan apapun yang Queen mau! Jadi, pilihlah sesuka hati Queen, tapi jangan jalan terlalu jauh ‘yah,” ujar Papah Ibnu, sedangkan Mamah Syifa hanya tersenyum melihat suaminya yang sangat memanjakan cucu pertama mereka itu.
“Yeaay, … Terima kasih Kakek! Nenek!”
Baby Queen langsung berseru senang dan langsung berlari dari toko satu ke toko lainnya dengan penuh semangat.
Papah Ibnu dan Mamah Syifa hanya bisa mengikuti setiap langkah kecil Baby Queen dengan perasaan gemas dan bahagia yang keduanya rasakan.
Hingga seseorang memanggil nama mereka untuk menyapa, sampai membuat perhatian mereka teralihkan pada Baby Queen.
Hanya beberapa menit keduanya menyapa kenalannya itu, tetapi ketika mereka berniat memperkenalkan Baby Queen sebagai cucu pertama mereka.
Baby Queen sudah tidak terlihat sama sekali, cucu mereka tidak terlihat dimana pun. Dan detik itu juga perasaan panik dan khawatir langsung memenuhi hati serta pikiran keduanya.
“Mah, dimana Queen?” tanya Papah Ibnu pada istrinya.
“Tadi Mamah lihat dengan jelas kalau Queen masih berada tidak jauh dari kita, Pah!” jawab Mamah Syifa yang sudah terlihat sangat panik.
“Pah, cepat minta keamanan Mall untuk menemukan cucu kita!” lanjut Mamah Syifa menyarankan.
Papah Ibnu pun segera melakukan saran tersebut, sedangkan Mamah Syifa masih berusaha mencarinya sendiri.
Namun sudah hampir setengah jam tapi Baby Queen belum juga di temukan, bahkan Mall tersebut sudah mengerahkan semua keamanan di sana untuk membantu menemukan.
Mamah Syifa tidak lupa memberitahu Reksa, Kiran dan Seno tentang menghilangnya Baby Queen di Mall. Ketiganya langsung datang untuk ikut mencari, tapi tidak ada satu petunjuk pun yang menunjukan keberadaan Baby Queen.
Bahkan setelah mereka melihat semua cctv yang ada, mereka tidak menemukan satupun petunjuk kepergian Baby Queen.
“Aish, … Sialan!” umpat Reksa melampiaskan kekesalan serta kemarahannya karena tidak bisa menemukan keberadaan putri kesayangannya.
Bersambung, .....
__ADS_1