Love Me Again, My Husband!

Love Me Again, My Husband!
Tidak Peduli Lagi


__ADS_3

“Haish, … Terserah kau mau berpikir apa tentangku! Aku muak dengan semua ini!” seru Anya yang kemudian pergi begitu saja dengan penuh kemarahan meninggalkan Reksa yang masih mematung di tempatnya.


Kepergian Anya yang terlihat di penuhi kemarahan menjadi gossip hangat lagi bagi setiap karyawan yang melihat kepergiannya. Lisa pun segera pergi menyusul Anya berusaha untuk menenangkan artisnya itu.


Namun kemarahan begitu mendominasi pikiran Anya, sehingga dia memilih mengabaikan semua yang managernya katakan.


Tak lama kemudian, Reksa juga meninggalkan ruangan rapat dengan raut wajah marahnya. Dia bahkan juga meninggalkan perusahaan begitu saja.


Ketika para karyawannya mencoba menyapa dan menanyakan perihal kepergiannya Reksa sama sekali tidak menggubrisnya.


“Tuan Reksa, anda mau kemana?” tanya Dani yang diperintahkan untuk memanggil atasannya itu, tapi keberadaannya saja sudah di abaikan begitu saja.


“Apa yang terjadi dengan Tuan Reksa?” gumam Dani yang menjadi bingung sendiri harus berbuat apa sekarang.


...****************...


Akhirnya Dani pun memutuskan untuk kembali ke ruangan Kiran untuk menyampaikan perihal kepergian Reksa. Benar, orang yang memerintahkan Dani untuk memanggil Reksa adalah Kiran sendiri karena dia perlu menanyakan beberapa hal terkait dokumen perusahaan.


Tok, … Tok, ….


“Masuklah!” perintah Kiran dari balik pintu begitu mendengar suara ketukan yang bisa dia duga berasal dari Dani ataupun Reksa.


“Maaf, Nyonya Kiran! Ketika saya mencoba untuk menemui Tuan Reksa, beliau malah pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun,” terang Dani melaporkan apa yang terjadi.


“Mas Reksa pergi?” gumam Kiran yang akhirnya menghentikan kegiatannya yang sejak tadi tengah memeriksa berkas yang ada di meja kerjanya.


“Kau boleh kembali bekerja, Dan!” ujar Kiran yang tidak ingin membuang waktu Dani.


“Baik, Nyonya! Kalau begitu saya pamit undur diri,” pamit Dani sebelum dia meninggalkan ruangan atasannya itu.


Terlihat konsentrasi Kiran untuk bekerja kini menghilang sudah. Entah mengapa dia merasa khawatir dengan keadaan suaminya sekarang.


Dengan perasaan yang terus gelisah, Kiran tanpa sadar mempermainkan ponsel miliknya. Jujur saja Kiran ingin menghubungi Reksa dan menanyakan keadaannya, tetapi dia juga ragu untuk melakukan itu. hingga sebuah pesan masuk dari seseorang yang tidak dia duga.


Tuan Alka (Alastar Group):


“Kiran, apakah malam ini kau memiliki waktu luang?”


“Jika tidak, tolong luangkan sedikit waktumu untuk menemaniku makan malam,”


“Anggap saja ini sebagai balasan karena waktu itu aku membantumu pulang dengan selamat.”

__ADS_1


“Aku mohon mau ‘yah?”


“Hanya malam ini saja, ….”


“Mungkin?”


Kiran hanya menghela napas panjang begitu melihat pesan masuk yang Alka kirimkan kepadanya. Jujur saja hati dan pikirannya terus tertuju pada suaminya yang sekarang entah berada dimana setelah bertengkar dengan Anya.


“Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku tetap memperdulikan suami yang sebentar lagi akan menceraikan diriku? Atau mencoba membuka lembaran baru dengan orang lain?” gumam Kiran yang dilanda sebuah dilema hebat.


“Benar! Sebaiknya aku mencoba membuka lembaran baru dengan orang lain. Mas Reksa sendiri yang telah memutuskan semua ini sendiri untuk apa aku memperdulikan dirinya lagi. Lagi pula Mas Reksa juga tidak akan peduli pada diriku lagi,” sambung Kiran yang mencoba mengabaikan hati dan pikirannya tentang Reksa.


^^^My First Love:^^^


^^^“Baiklah, kirimkan saja alamat restorannya aku akan menemanimu makan malam sebagai balasan atas bantuanmu tempo hari.”^^^


Akhirnya Kiran lebih memilih untuk menyetujui janji makan malam dengan Alka dan mencoba untuk tidak memikirkan tentang Reksa lagi.


Setidaknya Kiran harus belajar secara perlahan untuk melupakan Reksa agar kelak dirinya bisa bertahan tanpa Reksa disisinya.


“Yess!” seru Alka kegirangan.


“Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk meraih cinta pertamaku lagi.”


Alka sendiri sebenarnya tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang lain, tapi melihat perlakuan kasar Reksa sebelumnya kepada Kiran membuatnya tidak rela melepas Kiran begitu saja.


Alka hanya ingin melihat senyum kebahagiaan di wajah cantik Kiran, meski orang yang menjadi sumber kebahagiaannya bukan dirinya.


Lain halnya dengan apa yang Alka rasakan, dia benar-benar sangat bahagia karena Kiran bersedia untuk memberinya kesempatan untuk mengejar dan mendekatinya.


Rasa kebahagiaan Alka tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata ketika melihat balasan pesan Kiran yang tidak menolak tawaran makan malamnya.


Tuan Alka (Alastar Group):


“Tidak perlu! Biar aku saja yang menjemputmu nanti malam!”


“Dandan yang cantik ‘yah, Kiran!”


“See you tonight!”


^^^My First Love:^^^

__ADS_1


^^^“Baiklah, sampai ketemu nanti malam!” ^^^


Kiran hanya tersenyum tipis dengan balasan pesan yang Alka kirimkan. Kemudian dengan berat hati Kiran kembali meletakkan ponselnya dan memfokuskan dirinya pada pekerjaan yang ada.


Sebisa mungkin Kiran berusaha agar tidak memperdulikan tentang Reksa lagi, meski sangat sulit untuk dirinya melakukan itu.


...****************...


Sementara Reksa sendiri tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Seperti biasa Reksa sama sekali tidak memiliki tujuan ketika dirinya merasa marah atau kecewa kepada seseorang. Dia hanya pergi begitu saja dengan mengendarai mobilnya tanpa arah tujuan yang pasti.


“Aish, … Sialan! Kenapa semuanya berakhir seperti ini!” umpat Reksa sembari memukul stir mobilnya sebagai pelampiasan kemarahannya yang semakin memuncak.


Ttiiiiiiiittt, ….


Namun tiba-tiba terdengar suara klakson panjang yang memekikkan telinga terdengar dari mobil yang berasal dari asah kanannya.


Dengan cepat Reksa segera putar stir dan mengerem laju mobilnya secara mendadak. Kali ini Reksa cukup beruntung, karena tidak terjadi kecelakaan hebat seperti sebelumnya.


“Arghhh, … Akkhhh, ….”


Tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit sampai Reksa merintih kesakitan. Ketika kilasan kejadian kecelakaan yang dia alami sebelumnya kembali bermunculan tanpa bisa dia hentikan.


Padahal kepalanya sama sekali tidak mengalami benturan apapun ketika dia menghentikan mobilnya secara mendadak.


“Arghhh, … Ingatan apalagi ini? Arghhh, …. Rasanya kepalaku seperti akan meledak,” rintih Reksa yang merasakan sakit yang luar biasa di dalam kepalanya, bahkan napasnya suda tidak teratur lagi.


Perlahan semua ingatan tentang Kiran satu persatu mulai bermunculan layaknya potongan film yang terus tersusun menjadi satu.


Saking terasa sakitnya kepala Reksa saat itu, dia bahkan mengabaikan teriakan orang-orang yang mengerubungi mobilnya untuk menyelamatkan dan memastikan keadaannya.


“Arghhh, … Kiran! Haaah, … Haaaa, ….”


Secara perlahan rasa sakit kepala yang Reksa rasakan mulai berkurang. Dengan deru napas yang masih tersengal-sengal, Reksa memaksakan dirinya untuk keluar dari mobilnya agar bisa menghirup udara yang ada dengan lebih baik.


“Tuan apakah anda baik-baik saja?” tanya seorang pria paruh baya.


“Mari saya antarkan anda ke rumah sakit!”


Seorang pria menawarkan bantuan, tetapi Reksa mengabaikan semua itu dan terus berjalan tertatih sembari memperhatikan sekitarnya.


Bersambung, ......

__ADS_1




__ADS_2