Love Me Again, My Husband!

Love Me Again, My Husband!
Kegilaan Anya


__ADS_3

Beberapa menit begitu Alka meninggalkan Kiran sendirian di jembatan, tiba-tiba Anya berjalan menghampiri Kiran untuk memamerkan kemenangannya.


Karena para gangster yang di bayarnya tidak berhasil membunuh, maka Anya berniat untuk melakukannya sendiri sekaligus membuat fitnah kejam pada Kiran.


“Selamat Kiran! Atas kekalahan mu ini,” ucap Anya yang tersenyum penuh kemenangan.


“Apalagi maumu sekarang?” tukas Kiran yang tidak ingin berhadapan dengan wanita murahan seperti Anya lagi.


“Menunjukan padamu betapa tidak berartinya dirimu dan anak di dalam kandunganmu itu di dalam hidup Reksa,” bisik Anya yang mendekatkan wajahnya pada Kiran dengan tatapan penuh kebencian.


“Apa maksudmu?” tanya Kiran yang tidak mengerti arah pembicaraan Anya saat ini.


“Apa kau ingat dengan kejadian di Basement beberapa hari yang lalu?”


Tenyata Anya membahas tentang penyerangan para gangster yang Kiran alami beberapa hari yang lalu. Dengan liciknya Anya memberitahu Kiran bahwa semua itu perbuatan Reksa dengan tujuan Kiran membenci Reksa dan pergi sejauh mungkin dari kehidupan Reksa dan keluarganya.


“Reksa sendiri yang merencanakan semua itu untuk membunuh bayi yang ada di dalam perutmu itu. Jangan kau kira bahwa selama ini Reksa tidak mengetahui tentang kehamilan itu, Kiran! Kau salah besar dengan menduga seperti itu,” ujar Anya lagi yang semakin memprovokasi Kiran.


“Kau bohong!” seru Kiran yang sama sekali tidak mempercayai ucapan Anya.


“Jika aku berbohong! Lalu kenapa hari ini Reksa mengajakku untuk datang bersama dengannya?” cecar Anya yang semakin mempermainkan pikiran Kiran.


“Sebab Reksa sudah menduga bahwa hari ini kau akan memberitahu semua orang tentang kehamilanmu ini! Sehingga sebelum kau memberitahukan tentang keberadaan anak itu, maka Reksa lebih dahulu membahas tetang perceraian kalian,” imbuh Anya yang sudah bagaikan bisikan iblis di telinga Kiran.


“Tidak! Tidak mungkin Mas Reksa seperti itu, …”


“Apa kau ingin memastikannya sekali lagi?” potong Anya dengan seringai jahatnya.


“Mari kita buktikan! Apakah perkataanku barusan bisa kau percaya atau aku hanya mengatakan omong kosong belaka!” lanjut Anya yang kini menunjukan senyuman penuh arti.


“Mari kita lihat! Antara kau dan anakmu yang akan Reksa selamatkan atau aku?”


Lalu secara tiba-tiba Anya langsung mendorong tubuh Kiran jauh ke danau. Kemudian menjatuhkan dirinya sendiri dengan jarak di antara keduanya yang cukup jauh.


Baik Anya maupun Kiran memang sama-sama tidak bisa berenang. Dan untuk melancarkan rencananya, Anya terpaksa mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk memfitnah Kiran.

__ADS_1


Byuurrrr, ….


“Kiran!”


Tanpa di sangka Alka, Seno dan Reksa langsung menyebut nama Kiran begitu mendengar suara orang terjatuh ke dalam danau. Tanpa buang waktu ketika langsung berlari kearah danau untuk menyelamatkan Kiran.


Alka dan Seno langsung berenang menghampiri Kiran, sedangkan Reksa akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan Anya yang sudah hampir tenggelam.


Melihat kegaduhan di danau, Papah Ibnu dan Mamah Syifa pun segera bergegas untuk memeriksanya. Dira yang saat itu baru saja kembali setelah mengambil dokumen perceraian yang Kiran minta segera berlari kearah danau untuk melihat apa yang terjadi di sana.


Reksa berhasil membawa tubuh Anya ke darata lebih dahulu, karena posisinya jatuh memang tidak terlalu jauh dari tepi danau. Tak lama kemudian, Seno dan Alka juga menaikan tubuh Kiran ke darat.


Ditengah kepanikan semua orang, Anya kembali melancarkan rencananya untuk membuat nama baik Kiran menjadi buruk di depan keluarga Reksa.


“Uhuuk, … Reksa, aku takut! Kiran tiba-tiba saja mendorongku ke danau!” adu Anya yang tentunya hanya sebuah kebohongan.


“Apa? Itu tidak mungkin!” ujar Reksa yang langsung menyangkal perkataan Anya.


“Kau tidak percaya padaku?” desak Anya yang tidak mau rencananya gagal lagi.


Ketika Seno berniat melakukan nafas buatan, Alka segera mencegahnya karena mengingat Kiran yang tengah hamil muda. Alka lebih menyarankan untuk segera membawa Kiran ke rumah sakit saja.


“Kiran! Bangun Kiran!” Alka berusaha menyadarkan Kiran dengan menepuk pelan wajahnya.


“Kita harus melakukan napas buatan, _....”


“Tidak! Jangan, itu berbahaya untuk keduanya karena kita bukan ahli medis! Sebaiknya kita segera membawanya ke rumah sakit saja!” potong Alka dengan cepat.


“Ouh, … Baiklah!” sahut Seno yang berniat menggendong tubuh Kiran, tapi Alka sudah lebih dulu melakukannya.


“Kau siapkan mobilnya saja sekarang!” perintah Alka pada Seno.


Papah Ibnu, Mamah Syifa dan Dira segera menghampiri Kiran untuk memastikan keadaannya tanpa sedikitpun melirik kearah Reksa dan Anya.


Yang mereka khawatirkan adalah keadaan Kiran, bahkan Reksa sendiri juga ingin ikut pergi untuk memastikan keadaan Kiran tapi kini sudah ada Anya di sampingnya.

__ADS_1


...****************...


Setibanya di rumah sakit, kebetulan sekali ada Dr. Aiden dan Dr. Zara yang berniat pulang bersama. Tanpa pikir panjang keduanya langsung menangani kondisi Kiran sekaligus.


Mereka terus menunggu di luar sampai pemeriksaannya selesai. Bahkan Alka dan Seno tidak peduli bahwa pakaian yang mereka gunakan saat itu masih basah kuyup.


Beruntung tidak terjadi hal buruk baik pada Kiran maupun kandungannya. Namun tetap saja, Kiran harus mendapatkan omelan kembali dari Dr. Zara karena tidak bisa menjaga dirinya dengan baik.


Bahkan D. Zara juga mengatakan bahwa kemungkinan setelah ini bukan dirinya lagi yang akan menjadi dokter spesialis kandungan di ruma sakit tersebut.


“Kau sudah sadar?” tanya Dr. Zara begitu melihat Kiran perlahan membuka matanya dan di dalam ruangan itu juga ada Dr. Aiden.


“Bagaimana dengan keadaan, _....”


“Kandunganmu baik-baik saja! Meski kehamilanmu terbilang lemah, tapi janin mu adalah janin yang kuat. Namun tidak seharusnya kau selalu menempatkan dirimu sendiri dan anakmu dalam bahaya seperti ini,” omel Dr. Zara.


“Haah, … Syukurlah! Bayiku baik-baik saja, kalau bisa memilih aku juga tidak ingin seperti ini terus! Aku berusaha untuk selalu melindunginya,” ujar Kiran penuh dengan kepedihan.


“Sudahlah, lagipula setelah ini aku tidak akan menjadi dokter di rumah sakit ini lagi! Mungkin ini terakhir kalinya kau mendengar omelanku,” ujar Dr. Zara.


“Kenapa? Apakah Dr. Zara akan pergi?” tanya Kiran yang sudah nyaman melakukan pemeriksaan dengan Dr. Zara.


“Emm, … Aku akan di pindah tugaskan ke jerman selama dua sampai tiga tahun,” jawab Dr. Zara.


“Ouhya, … Apa kau masih ingin merahasiakan tentang kehamilanmu ini pada keluargamu yang tengah menunggu di luar itu?” tanya Dr. Zara yang sengaja menunggu Kiran siuman untuk mendapat persetujuannya menyampaikan tentang keadaan Kiran pada keluarganya.


“Jangan, Dok!” jawab Kiran yang tidak pernah di duga oleh Dr. Aiden yang sejak tadi diam.


“Kenapa kau tidak mau mengatakan tentang kehamilanmu pada mereka? Bukankah ini kabar baik yang di tunggu semua orang?” Akhirnya Dr. Aiden bertanya karena tidak tahan dengan rasa penasarannya.


Bersambung, .....



__ADS_1



__ADS_2