
Setelah memastikan mobil yang di naiki Kiran sudah tidak terlihat lagi. Reksa pun segera menuju ke mobilnya untuk pergi ke rumah sakit, karena waktu sudah menunjukan bahwa dirinya sudah terlambat dari waktu yang di janjikan.
Setibanya di rumah sakit, Reksa langsung saja menuju ke ruangan Dr. Aiden. Benar saja kedatangan sudah di tunggu oleh dokter muda itu di ruangan pribadinya, karena yang akan mereka bicarakan adalah malasah pribadi yang berkaitan dengan kondisi Reksa sekarang.
“Anda terlambat hampir satu jam dari jadwal yang di janjikan, Tuan Reksa!” ujar Dr. Aiden begitu Reksa duduk berhadapan dengannya.
“Yang penting aku sudah datang, bukan?” sahut Reksa sekenanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Dr. Aiden pun terkekeh pelan melihat sikap arogan Reksa dan berkata, “Baiklah, saya memang tidak bisa mengubah sikap anda yang seperti ini. Akan tetapi, sepertinya saya sudah bisa mengubah status pasien anda yang awalnya mengalami amnesia disosiatif menjadi di nyatakan sembuh dan ingatannya sudah pulih sepenuhnya.”
“Jika anda sudah tahu sejak awal. Lalu kenapa anda memaksa saya untuk datang dan melakukan pemeriksaan ulang,” ujar Reksa yang secara tidak langsung membenarkan perkataan Dr. Aiden.
“Saya hanya ingin lebih memastikannya! Tapi kenapa anda masih berpura-pura tidak mengenali istri anda? Melihat wajahnya yang semakin tirus sepertinya dia sangat tertekan dengan kondisi anda yang sama sekali tidak bisa mengingatnya,” cecar Dr. Aiden yang sedikit menaruh rasa kasihan pada Kiran.
“Ini masalah rumah tanggaku, jadi aku harap anda jangan ikut campur! Jika sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, maka aku akan pergi sekarang.”
Reksa beranjak dari tempat duduknya dan berniat untuk langsung pergi dari ruangan Dokter itu. Namun langkah Reksa seketika terhenti ketika mendengar perkataan Dr. Aiden yang berhasil mengusik hati dan pikirannya.
“Baiklah, pemeriksaannya untuk hari ini memang sudah selesai. Untuk hasil pemeriksaan terakhirnya saya akan mengirimkannya langsung kepada Nyonya Kiran,” ujar Dr. Aiden yang terdengar seperti sebuah ancaman bagi Reksa.
Reksa tampa menghela napas berat, lalu kembali berkata, “Sebenarnya apa maumu? Kenapa kau terlalu ikut campur dengan urusan pribadiku?”
“Saya tidak berniat ikut campur sedikitpun. Hanya saja saya gemas sendiri melihat kalian yang saling menyakiti, padahal di dalam lubuk kalian berdua masih saling mencintai satu sama lain,” ujar Dr. Aiden karena memang hanya itu alasan.
“Aku melakukan semua ini untuk kebahagiaannya! Karena aku sangat sadar sekarang, bahwa aku tidak mungkin memberikan dia kebahagiaan yang dia inginkan selama ini,” terang Reksa yang kali ini menunjukan raut wajah sedih.
__ADS_1
“Kau boleh bercerita padaku! Siapa tahu aku bisa memberikan solusi terbaik untuk masalah kalian, sebagai dokter dan seorang teman!” ujar Dr. Aiden.
Reksa cukup terkejut dengan perkataan Dr. Aiden, hingga rasa curiga pada dokter tersebut memenuhi pikirannya.
Dr. Aiden yang menyadari kecurigaan di wajah Reksa segera menjelaskan bahwa dia hanya ingin memiliki seorang teman saja selain para dokter dan perawat di rumah sakit, karena Aiden sendiri baru pindah dari luar negeri beberapa minggu yang lalu.
“Tenang saja, aku hanya ingin membantumu dan kalau bisa kita saling berteman. Bagaimana?” tanya Dr. Aiden.
“Aku tidak tertarik! Jika sampai kau menyebarkan tentang kondisku pada orang lain, maka bersiaplah untuk meninggalkan gelar dokter mu itu dan menghabiskan waktumu di penjara.”
Namun pada akhirnya Reksa tidak mau menerima tawaran tersebut dan balik mengancam Dr. Aiden sebelum pergi.
“Aish, … Memang pasien yang merepotkan dan keras kepala. Padahal aku benar-benar tulus ingin berteman dengannya, lagipula siapa suruh dia selalu memang wajah tertekan seperti itu!” gerutu Dr. Aiden yang entah mengapa sangat ingin menjadikan Reksa menjadi teman baiknya.
...****************...
Namun siapa sangka Dira malah sudah menunggu dirinya di depan rumah, sebab gadis itu menduga bahwa sahabatnya pasti akan memutuskan untuk merawat sakitnya orang diri karena tidak ingin merepotkan orang lain.
“Yakh, … Kiran!” panggil Dira yang segera menghampiri Kiran yang baru saja turun dari mobilnya.
“Kenapa kau ada di sini?” tanya Kiran yang terkejut dengan kehadiran Dira di rumahnya.
“Memang apalagi alasannya selain aku mengkhawatirkan keadaanmu! Bahkan kau sama sekali tidak membalas pesanku dan tidak mengangkat telepon dariku!” cecar Dira yang ingin sekali memarahi Kiran saat itu juga, tapi sebisa mungkin dia menahan diri melihat mata sembab Kiran.
“Maaf, kondisiku memburuk hingga akhirnya tertidur di perusahaan. Aku bahkan tidak sempat memeriksa ponselku sama sekali,” jelas Kiran yang tidak ingin Dira salah paham.
__ADS_1
“Ya sudah! Ayo, masuk ke dalam karena kau harus banyak beristirahat,” ujar Dira yang melihat Kiran sudah tampak lemah dan tidak bertenaga.
Dira pun akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah Kiran setelah mengetahui bahwa sahabatnya itu tinggal seorang diri di rumah yang begitu mewah. Bahkan pembantu pun datang hanya di pagi hari sampai sore hari saja.
Dira merawat sahabatnya itu dengan sebaik mungkin. Kiran memang tidak mengalami demam, tetapi dia terus mengeluh sakit pada perutnya dan sangat sensitive terhadap bau yang cukup menyengat.
Hal itu membuat Dira sempat berpikir bahwa sahabatnya itu kini tengah mengandung anaknya Reksa.
“Kiran, sejak kapan sakit perut dan rasa mualmu terjadi?” tanya Dira dengan sangat hati-hati.
“Mungkin dua hari yang lalu, tapi untuk rasa mualnya baru pagi ini,” jawab Kiran sesuai gejala yang di alaminya.
“Apa bulan ini kau sudah mendapatkan tamu bulananmu?”
Dira kembali bertanya dengan sangat hati-hati agar tidak menyungging perasaan Kiran yang selama ini sangat menginginkan seorang anak. Benar saja, mendengar pertanyaan Dira Kiran langsung mengelus dan menatap perutnya yang masih rata.
“Apa kau pikir aku sedang hamil anaknya, Mas Reksa?” tanya Kiran balik yang tersenyum tipis seolah kemungkinan itu tidak akan pernah terjadi.
“Mungkin saja, Kiran! Sebaiknya besok kau memeriksakan keadaanmu ke rumah sakit biar semuanya jelas,” jelas Dira berusaha membujuk sahabatnya itu untuk melakukan periksaan.
“Kejadian seperti ini sudah pernah aku alami dulu, Dira! Saat itu aku juga mengira bahwa di dalam perutku ada sebuah kehidupan buah cinta kami. Namun Dokter malah mengatakan bahwa itu hanya gejala asam lambungku saja yang kambuh karena terlalu stress dan pola makan yang tidak teratur,” terang Kiran yang tersenyum kecut pada dirinya sendiri.
“Mana mungkin sekarang aku hamil di saat Mas Reksa dan Aku saling menyakiti seperti ini. Lagipula sebentar lagi surat cerai yang harus aku tanda tangani akan tiba,” lanjut Kiran dengan memperlihatkan raut wajah sedihnya.
Bersambung, .....
__ADS_1