
Lalu Dani pun segera menelpon balik Atasannya. Disisi lain, Reksa sudah tampak khawatir karena Dani yang tidak mengangkat panggilan telepon darinya.
Hampir saja Reksa menghubungi polisi setempat, karena mengira Dani terlibat masalah serius atau bahkan di culik.
“Dan, kau dimana? Kenapa belum juga kembali dan kenapa kau tidak mengangkat telepon dariku tadi?” Reksa langsung mencecar Dani dengan berbagai pertanyaan.
“Tuan, sepertinya aku berada masalah sekarang! Bisakah Tuan datang ke rumah sakit untuk membantuku?” ujar Dani yang tentu saja tidak dapat menjawab semua pertanyaan Reksa, sehingga dia mengalihkan topik pembicaraan.
Terdengar Reksa menghela napas panjang, lalu berkata, “Baiklah, kirimkan alamat rumah sakitnya padaku!”
Reksa lalu memutus sambungan teleponnya dan menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat di depannya. Tanpa buang waktu, Reksa menunjukan alamat rumah sakit yang Dani kirimkan padanya melalui pesan singkat.
Dan ternyata jarak rumah sakitnya tidak terlalu jauh, sehingga tidak perlu waktu lama Reksa kini sudah tiba di rumah sakit dan mencari ruangan yang Dani beritahukan.
“Dan, ada apa? kenapa kau masih berada di sini?” tanya reksa yang akhirnya berhasil menemukan sekretarisnya itu.
Oek, … Oek, … Oeeek, ….
Belum sempat Dani menjawab dari dalam ruangan yang ada di hadapan mereka terdengar suara tangis bayi yang membuat Reksa sontak langsung menatap ke sumber suara.
Sedangkan mata Dani tampak berbinar, setelah mendengar suara tangis bayi Kiran yang terdengar begitu sehat. Sementara Dira sengaja bersembunyi dan memperhatikan reaksi Reksa dari jarak jauh.
“Ini sungguh suatu keajaiban! Siapa sangka bayinya langsung lahir begitu kedatangan ayahnya,” gumam Dira yang ikut bahagia setelah mendengar suara tangis Kiran.
“Dan, bayi siapa itu?” tanya Reksa pada sekretarisnya.
“Bayi anda dengan Nyonya Kiran, Tuan!”
Ingin sekali Dani mengatakan itu, tetapi dia teringat akan janjinya kepada Dira untuk merahasiakan tentang Kiran serta bayinya dari Reksa. Sebagai seorang pria Dani harus memegang kata-katanya sendiri, apalagi Dira pasti sedang mengawasinya dari kejauhan.
“Bayi wanita yang saya tolong, Tuan!” jawab Dani pada akhirnya.
“Suara tangisannya terasa tidak asing di telingaku. Mungkin jika aku di beri kesempatan untuk menemani Kiran melahirkan, pasti rasanya seperti ini,” gumam Reksa yang tanpa sadar menyungging sebuah senyuman yang begitu tulus dan penuh kebahagiaan.
__ADS_1
“Sekarang Tuhan sedang memberikan kesempatan itu pada anda, Tuan! Suara tangisan bayi itu memang suara tangisan bayimu.” Lagi-lagi Dani hanya bisa mengatakan hal itu di dalam hatinya.
Sedangkan di ruang operasi Kiran tengah memeluk putrinya yang baru saja terlahir ke dunia. Betapa bahagianya Kiran yang kini bisa melihat, memeluk dan mencium buah hatinya. Hanya air mata yang bisa menggambarkan kebahagiaan Kiran sebagai seorang Ibu.
“Selamat, Kiran! Meski kelahirannya lebih awal dari hari perkiraan lahir, tapi putrimu lahir dalam keadaan sehat, cantik dan sempurna,” ucap Dr. Zara yang membiarkan bayi mungil itu berada di atas dada sang Ibu.
“Terima kasih banyak, Dok!” balas Kiran yang tersenyum bahagia melihat bayi cantiknya itu.
“Kau sudah berjuang begitu keras, Kiran! Lihatlah, putrimu sangat mirip denganmu,” puji Dr. Zara yang jarang melihat bayi secantik bayi Kiran.
“Tapi bibir dan hidungnya lebih mirip seperti ayahnya,” ujar Kiran sembari memperhatikan hidung dan bibir putrinya yang memang lebih mirip dengan milik Reksa.
Dr. Zara pun hanya menanggapi perkataan Kiran dengan tersenyum tipis. Lalu dia kembali mengambil bayi mungil itu untuk di bersihkan oleh perawat yang ada di sana.
Sedangkan Dr. Zara sendiri harus menutup kembali luka operasinya agar tidak terkena infeksi.
“Kiran, apa kau sudah menyiapkan nama untuk putri kecilmu ini?” tanya Dr. Zara setelah selesai dengan tugasnya. Lalu kembali memberikan bayi yang sudah terlihat semain cantik itu kepada Kiran lagi.
“Dokter, bolehkah aku meminta tolong padamu lagi?” Bukannya menjawab Kiran malah mengalihkan topik pembicaraan.
“Apakah di luar ada pria yang bernama Areksa Reano Damarwangsa. Jika dia ada di sana, tolong minta dia untuk menamai bayi ini,"
"Katakan saja bahwa ibunya ingin putrinya di beri nama oleh penolongnya,” ujar Kiran yang membuat Dr. Zara langsung mengerti bahwa pria itu adalah ayah dari anak Kiran.
“Baiklah, aku juga akan membawanya sebentar agar penolongmu itu juga bisa melihat bayi yang suda dia selamatkan.”
...****************...
Dr. Zara langsung menyetujuinya dan kembali mengambil bayi mungil itu dari pelukan Kiran. Setelah itu berjalan keluar dari ruang operasi sambil menggendong bayi mungil dan cantik itu menemui dua pria yang memang tengah menunggu di depan ruang operasi.
Melihat seorang dokter keluar sambil menggendong bayi, Reksa dan Dani pun segera mendekat. Tampak jelas raut wajah Reksa menampakan kebahagian begitu melihat bayi cantik itu yang seolah menatapnya juga.
Hanya dengan melihatnya saja Dr. Zara sebenarnya sudah bisa menebak siapa pria yang Kiran maksud. Tapi untuk lebih memastikannya, Dr. Zara harus menanyakannya secara langsung.
__ADS_1
“Maaf, … Apa kalian keluarga dari pasien?” tanya Dr. Zara pada dua pria di depannya.
“Bukan, Dok! Kami hanya orang yang tidak sengaja menolongnya saja,” jelas Dani.
“Kalau begitu siapa nama anda berdua?” tanya Dr. Zara lagi.
“Saya Danial Saputra, Dok! Dan ini bos saya, namanya Areksa Reano Damarwangsa,” jawab Dani sekalian memperkenalkan Reksa.
“Ouh, … Jadi begini, sang ibu dari bayi ini ingin sekali penolongnya yang memberikan nama pada bayi ini. Apakah kalian berkenan untuk memberikan sebuah nama untuknya?” ujar Dr. Zara sembari menyerahkan bayi mungil itu dalam gendongan Reksa.
Tentunya hal itu membuat Reksa sedikit terkejut, tetapi dia tetap menerimanya dan menimang bayi cantik itu dengan senyuman yang terus merekah di wajahnya.
Sesaat kemudian Reksa tersadar bahwa Dani ‘lah yang menolong mereka, bukan dirinya sehingga dia merasa tidak layak untuk memberikan nama pada bayi kecil dalam gendongannya itu.
“Dan, kau mau memberinya nama siapa?” tanya Reksa.
“E-eeh, … Sebaiknya Tuan saja yang memberikan nama padanya. Bukankah kalau Tuan tidak memerintahkan saya untuk menolong mereka, maka saya pun tidak akan menolongnya. Tuan lebih layak untuk memberikan nama pada bayi cantik ini,” tolak Dani yang mana berani memberikan nama pada anak bosnya sendiri.
“Baiklah!” sahut Reksa sembari memikirkan nama yang cocok untuk bayi mungil yang cantik dalam gendongannya itu.
“Putri yang begitu cantik! Bagaimana kalau namanya Queenesha Reana?"
"Nama belakangnya bisa di tambahkan dengan keluarga ayahnya,” ujar Reksa yang akhirnya menemukan sebuah nama yang cocok untuk putrinya sendiri, meski dia tidak menyadari itu.
Ilustrasi Baby Queenesha, .....
Bersambung, .....
__ADS_1