Love Me Again, My Husband!

Love Me Again, My Husband!
Tidak Sengaja Bertemu


__ADS_3

“Mungkin semua ini terjadi karena kesalahanku sendiri, Bi! Aku terlalu serakah dengan meminta lebih dari yang Tuhan berikan pada sampai saat ini. Seharusnya aku bersyukur memiliki seorang suami yang pengertian dan sangat mencintaiku, tapi aku mendesak ingin memiliki seorang anak padahal Tuhan belum mempercayakan itu padaku,” jawab Kiran yang tidak bisa menyalahkan orang lain.


Bibi Han mencoba memberikan diri memeluk majikannya itu. Sungguh hatinya tidak tega melihat betapa rapuhnya Kiran saat ini yang sendirian menahan rasa sakit pada hati dan tubuhnya. Dia tidak bisa mengatakan apapun lagi, kecuali mencoba sedikit menghibur dan menenangkannya.


Kiran pun tidak keberatan mendapatkan pelukan dari Bibi Han, karena hanya itu yang sia butuhkan untuk sekarang. Tempat yang bisa membuatnya bersandar dan berkeluh kesah walau hanya sesaat. Pelukan hangat yang sangat Kiran dari sosok seorang Ibu yang sudah tidak Kiran miliki lagi.


“Hiks, … Terima kasih, Bi! Hiks, … Karena aku Bibi harus menginap di sini untuk menjagaku,” ucap Kiran dengan setulus hatinya.


“Tidak apa-apa, Nyonya!” balas Bibi Han.


“Nyonya adalah orang yang baik! Saya percaya Tuhan pasti memiliki rencana terbaik untuk kehidupan Nyonya kedepannya,” imbuh Bibi Han.


“Aku juga sangat berharap seperti itu! Jika memang hubunganku dengan Mas Reksa hanya cukup sampai di sini, aku akan ikhlas menerima semuanya,” batin Kiran yang harus melapangkan dadanya menerima semua kenyataan yang ada.


...****************...


Keesokan harinya, Kiran yang sudah mersa lebih baik dan bosan karena selalu mengurung diri kamar akhirnya memutuskan untuk menemui sahabatnya yaitu Dira di tempat kerjanya.


Sebab Kiran harus mulai menata kehidupannya lagi tanpa Reksa di sisinya. Selain melepas kangen dengan Dira, Kiran juga ingin meminta bantuannya untuk mencarikan tempat tinggal dan pekerjaan. Sebab Kiran tidak mungkin tinggal di rumah Reksa lagi begitu mereka resmi bercerai.


“Hay, Dira!” sapa Kiran begitu melihat sahabatnya sedang membereskan piring kotor bekas pelanggan yang datang.


“Kiran! Astaga, kenapa kau bisa kemari? Bukankah kau bilang sudah mulai bekerja sebagai sekretaris suami bajingan mu itu?” cecar Dira sembari memeluk erat sahabatnya itu.


“Sekarang sudah tidak lagi! Aku pengangguran sekarang, jadi apakah kau ada pekerjaan untukku?” ujar Kiran yang di anggap sebagai candaan oleh Dira.


“Woah, … Sejak kapan seorang Kiran membutuhkan pekerjaan pelayan sepertiku ini,” goda Dira yang masih menganggap perkataan Kiran hanya sebuah lelucon seperti biasanya.


“Aku serius kali ini, Dir! Aku membutuhkan pekerjaan dan juga tempat tinggal, meski rumah kos kecil aku juga tidak masalah,” ujar Kiran dengan raut wajah seriusnya bahkan terlihat sangat memohon.

__ADS_1


“Kiran ada apa? Apa yang terjadi denganmu dan Reksa? Apakah dia, _....”


“Emmm, … Aku dan Mas Reksa akan berpisah!” ungkap Kiran membenarkan apa yang ada di benak sahabatnya sambil menahan air matanya kembali berjatuhan.


“WHAT?” seru Dira tak percaya akan pengakuan Kiran barusan.


“Ayo, duduk di sana dan ceritakan semuanya padaku!”


Dira langsung saja menarik Kiran untuk duduk di salah satu meja yang berada di pojok restaurant tersebut. Dia bahkan mengabaikan pekerjaannya dan memerintahkan pelayan lain yang menangani pekerjaannya.


Kiran pun akhirnya menceritakan semuanya, sejak pertengkarannya dengan Reksa yang menyebabkan kecelakaan dan hilang ingatannya Reksa tentang dirinya. Juga tentang bagaimana tega Reksa meninggalkan dirinya di kota lain bahkan perlakuan kasarnya.


“Haish, … Dia benar-benar bajingan! Memang sudah seharusnya kau mengajukan cerai sejak pertama dia tidak mengingatmu sama sekali, Kiran!”


Saking kesalnya Dira mengumpati Reksa begitu saja tanpa memperdulikan para pelanggan yang menatapnya dengan heran.


Dira masih saja melanjutkan umpatan yang dia tunjukan untuk Reksa seolah mewakili para pembaca yang juga merasa geram sendiri akan perlakuan buruk Reksa kepada Kiran.


Sedangkan Kiran hanya tersenyum kecut melihat masih ada sahabatnya yang selalu ada disaat dirinya dalam keadaan terpuruk seperti ini.


“Kiran, kau tenang saja! Kau bisa tinggal bersamaku sampai aku menemukan tempat tinggal yang cocok untukmu. Ingatlah, kau tidak sendirian masih ada aku yang akan selalu berada di sampingmu apapun keadaannya,” ujar Dira menguatkan sahabatnya itu.


“Emmm, … Aku tahu Dira sahabatku ini memang selalu bisa di andalkan, maka dari itu aku mendatangimu sekarang!”


Salah satu yang membuat Kiran merasa beruntung adalah memiliki sahabat terbaik seperti Dira.


“Kapan kau akan keluar dari rumah itu, aku akan membantumu mengemas barang-barangmu dari sana?” tanya Dira, sebab menurutnya semakin cepat Kiran meninggalkan rumah Reksa maka akan semakin baik untuk sahabatnya.


“Aku akan memberitahu semua orang dulu tentang perpisahan ini. Jadi, aku akan menghubungimu jika sudah siap untuk meninggalkan rumah itu,” jawab Kiran yang sebenarnya masih ragu.

__ADS_1


“Baiklah, apapun yang terjadi kau harus menghubungiku. Mengerti?” ujar Dira menekankan pada sahabatnya itu bahwa dirinya pasti akan selalu bisa diandalkan.


“Iya, aku mengerti! Terima kasih, Dira! Karena sudah mau menjadi sahabat terbaikku, menjadi tempat kembali di saat aku tidak memiliki tujuan lagi,” ucap Kiran yang merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti Dira.


“Kau bisa selalu mengandalkan aku, Kiran! Bukankah kita sudah sepakat menjadi saudara.”


Dira beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri dan memeluk Kiran. Benar, Kiran tidak sendirian masih banyak yang menyayanginya.


Meski akan sulit menyampaikan keinginannya untuk bercerai pada keluarga besar Damarwangsa, Kitan akan tetap mencobanya.


“Lepaskan pelukanmu, Dira! Aku harus pulang dan bukankah kau juga harus kembali bekerja,” ujar Kiran di sela pelukan Dira yang semakin erat.


“Tenang saja, tidak aka nada yang berani memecat atau menegurku di sini!” sahut Dira dengan santainya.


“Tapi aku harus pulang untuk mulai mengemas barang-barangku.” Kiran membuat alasan yang berhasil membuat Dira melepaskan pelukannya.


“Baiklah, mau aku antar pakai mobilku?” Dira menawarkan sebuah tumpangan.


“Tidak perlu! Aku juga ingin sekalian mencari udara segar,” tolak Kiran.


Akhirnya Dira pun mengantar Kiran sampai di depan pintu masuk restaurant. Namun di saat yang bersamaan sepasang kekasih yang tidak ingin Kiran lihat, malah berpapasan dengannya di depan pintu. Siapa lagi kalau bukan Reksa dan Anya yang tengah bergandengan mesra.


“Kiran!” gumam Reksa lirih, dia tidak menyangka akan bertemu Kiran seperti ini setelah kejadian malam itu.


“Dira, aku pergi dulu! Nanti aku akan mengabarimu lagi,” pamit Kiran pada sahabatnya dan berusaha mengabaikan keberadaan Reksa dan Anya di sana.


Bersambung, .....


__ADS_1


__ADS_2