Love Me Again, My Husband!

Love Me Again, My Husband!
Keputusan Bercerai


__ADS_3

Benar, mengabaikan adalah cara terbaik bagi Kiran untuk menyembunyikan luka di hatinya ketika melihat suaminya sendiri malah bersama wanita lain setelah berhari-hari tidak pulang atau bahkan menanyakan tentang keadaannya. Kiran tidak mau terlihat lemah, baik di depan Reksa, Anya maupun yang lainnya.


“Syukurlah, dia terlihat baik-baik saja!” batin Reksa yang merasa sedikit lega dalam hatinya ketika melihat Kiran lagi.


“Emm, … Hati-hati di jalan!” sahut Dira sembari melambaikan tangannya.


Setelah memastikan Kiran sudah berjalan jauh dari restaurant itu, Dira masih berdiri di tengah pintu masuk seolah tidak mengijinkan pasangan menjijikan itu untuk mengunjungi restaurant tersebut.


Hal itu membuat Anya dan Reksa sedikit merasa bingung atas perlakuan buruk dari seorang pelayan yang seharusnya melayani dengan baik tamu yang datang berkunjung, Dira malah seolah tidak memberikan mereka jalan.


“Apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau tidak lihat kami datang untuk makan di sini?” bentak Anya yang merasa terhina akan sikap pelayan yang ada di hadapannya.


“Pasangan menjijikan seperti kalian tidak di perbolehkan makan di restaurant ini! Jadi, sebaiknya kalian pergi saja dan cari restaurant lain yang mau menerima pasangan selingkuh seperti kalian berdua,” ejek Dira secara langsung.


“Dasar pelayan tidak tahu diri! Aku akan melaporkan sikapmu ini pada atasanmu agar kau di pecat sekarang juga,” ancam Anya.


“Hahahahaa, … Aku pemiliknya ‘tuh! Lalu bagaimana caranya kau akan memecatku?” Dira semakin mengejek Anya yang sudah terlanjur marah akan sikapnya.


“Anya, sebaiknya kita pergi! Jangan membuat keributan dengan orang yang tidak penting,” ujar Reksa yang mulai angkat suara dan menarik Anya pergi untuk mencari restaurant lain.


Dira pun semakin geram melihat sikap Reksa yang tidak mersa bersalah sedikitpun karena telah menyakiti sahabatnya. Dengan langkah yang lebar Dira langsung menghampiri keduanya yang berniat kembali masuk ke dalam mobil.


“Hay, bajingan!” seru Dira.


“Ap, _....”


Plakk, ….


Sebuah tamparan yang sangat keras Dira layangkan pada wajah tampan Reksa dan lalu berkata, “Ini untuk Kiran yang dengan mudahnya kau lupakan!”

__ADS_1


Duagh, …


Lalu di susul dengan sebuah tendangan yang sangat keras juga pada bagian tulang kering Reksa dan Dira kembali berkata, “Ini balasan karena kau berani meninggalkan Kiran di tempat asing!”


Bughh, …


“Dan ini, karena kau telah berani menyakiti fisiknya Kiran!”


Dan terakhir, Dira menendang area ************ Reksa hingga berhasil membuat Reksa semakin merintih kesakitan sembari memegangi pusakanya yang terasa begitu sakit.


Anya pun panik melihat ke bar-bar an pelayan restaurant itu, apalagi Reksa yang merintih kesakitan. Berbeda dengan Dira yang merasa puas karena berhasil membalaskan apa yang Reksa lakukan pada Kiran.


“Yakh, … Apa kau sudah gila, Hah?” teriak Anya dengan marah.


“Kami akan melaporkan perbuatanmu ini ke polisi!” ancam Anya sembari membantu Reksa.


“Laporkan saja! Sekalian saja laporkan perbuatan bajingan ini yang melakukan KDRT pada istrinya sendiri, hanya karena wanita murahan sepertimu!” Bukannya merasa takut, Dira malah semakin menantang Anya.


Kali ini Dira yang dengan sangat tegas memberikan ancaman pada Reksa dan Anya.


“Benar, sebaiknya kalian bercerai! Melihat kelakuanmu tempo hari saja sudah membuatku merasa muak, apalagi Kiran yang setiap hari hatinya kau sakiti! Ck ck, … Dasar pria bodoh! Membuang sebuah berlian hanya untuk batu kerikil sepertinya,” ejek Dira yang berjalan pergi kembali masuk ke dalam restorannya.


Reksa hanya diam mendengarkan perkataan Dira. Sesungguhnya hatinya juga merasa ragu akan perasaanya kepada Anya sekarang. Sebab kini Reksa sudah mendapatkan perceraiannya dengan Kiran seperti yang dia inginkan sebelumnya.


Dia akan bebas memulai hubungan serius dengan Anya, tetapi rasa kehilangan begitu dia rasakan ketika Kiran sendiri yang meminta untuk bercerai. Bahkan sikap abai yang Kiran tunjukan padanya membuat dadanya merasa begitu sesak, tapi Reksa mengabaikan perasaannya itu.


“Bukankah ini yang aku inginkan? Bercerai dengan Kiran dan memulai hubungan dengan Anya, tapi kenapa dadaku terasa begitu sesak. Ada perasaan kehilangan dan juga sakit di lubuk hatiku! Sebenarnya apa yang hatiku inginkan? Kiran atau Anya?” Reksa terus bertanya-tanya di dalam hatinya.


“Sayang, kau tidak apa-apa?” Pertanyaan Anya menyadarkan Reksa dari lamunannya.

__ADS_1


“Emm, … Sudah jauh lebih baik! Ayo, kita pergi!” ajak Reksa untuk meninggalkan area restaurant itu.


Sepanjang perjalanan Anya terus mengomel dan membicarakan hal buruk tentang Kiran dan Dira. Sedangkan Reksa lebih memilih diam, karena pikirannya terus tertuju pada sosok Kiran.


Perubahan sikap Kiran ketika menatapnya membuat kegelisahan tersendiri di benak Reksa saat itu tapi lagi-lagi dia tidak ingin mengakuinya.


...****************...


Lain halnya dengan Kiran yang menangis sepanjang jalan kembali ke rumahnya. Meski dia berusaha bersikap tegar dan kuat di depan semuanya orang. Akan tetapi, pada kenyataannya hatinya sangat terluka melihat suami yang sangat dia cintai bergandengan tangan dengan mesra bersama wanita lain.


“Mas, jadi selama ini kau tinggal bersama dengan kekasihmu! Kau bahkan tidak menanyakan kabarku sama sekali, setelah perlakuan kasar yang kau berikan padaku! Hiks, … Apakah sungguh tidak ada rasa cinta sedikitpun darimu untukku?” batin Kiran hatinya terasa remuk tak berbentuk lagi.


“Apa anda baik-baik saja?” tanya sang supir taxi yang di naiki oleh Kiran.


Dia seorang pria paruh baya dan tidak tega mendengar suara isak tangis Kiran yang begitu memilukan sepanjang perjalanannya. Kiran tak mampu untuk menjawabnya, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya masih dalam keadaan menangis terisak.


“Apapun masalah yang anda lalui, semoga saja segera menemui jalan keluarnya! Tentu anda boleh menangis, setelah lupakan semuanya! Anggaplah semua masalah itu terbawa oleh air mata yang anda tumpahkan,” ujar sang supir taxi itu.


“Hiks, … Terima kasih, Pak! Dan maaf kalau suara tangisan saya menganggu anda,” ucap Kiran penuh penyesalan.


“Tidak apa, Bapak bisa memakluminya!” balas sang supir taksi.


Tak lama kemudian, Kiran sampai di rumahnya. Siapa sangka Papah Ibnu dan Mamah Syifa sudah menunggunya dengan membawa oleh-oleh yang berasal dari kampung halaman mereka.


Dengan senyuman dan pelukan hangat keduanya menyambut kedatangan Kiran yang baru saja turun dari taxi. Setelah saling melepas rindu, mereka pun masuk ke dalam rumah dan saat itu juga Kiran menyampaikan perihal perceraiannya dengan Reksa.


“Pah! Mah, … Sebelumnya Kiran meminta maaf sebesar-besarnya. Sepertinya Kiran dan Mas Reksa tidak bisa melanjutkan rumah tangga ini. Kiran dan Mas Reksa telah memutuskan untuk bercerai dan menjalani hidup kehidupan masing-masing,” terang Kiran sembari menundukkan wajahnya.


Bersambung, .....

__ADS_1



__ADS_2