Love Me Again, My Husband!

Love Me Again, My Husband!
Penyesalan Reksa


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit, Reksa langsung menuju ke ruangan dimana Kiran di rawat sebelumnya. Namun, ruangan itu kini sudah kosong hanya ada seorang perawat yang tengah membereskan ruangan itu.


Seketika pemikiran buruk Reksa pun bermunculan, dimana Kiran memutuskan untuk meninggalkan dirinya dengan sebuah penyesalan.


“Dimana pasien yang bernama Kiran? Pasien yang sebelumnya menempati kamar ini?” tanya Reksa dengan perasaan yang sudah campur aduk.


“Ouh, … Nyonya Kiran sudah di ijinkan pulang beberapa jam yang lalu, Tuan!” jawab perawat itu.


Tanpa buang waktu, Reksa kembali pergi menuju ke rumah mereka. Bahkan Dr. Aiden yang menyapanya pun dia abaikan begitu saja.


Reksa melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil berusaha menghubungi nomor Kiran dan Alka, tapi kedua nomor itu sama sekali tidak bisa di hubungi.


Hal itu semakin membuat Reksa semakin frustasi dan putus asa, mungkin itulah yang Kiran rasakan selama masa hilang ingatannya.


...****************...


Dan setibanya di rumah yang dia tempati bersama dengan Kiran dulu, Reksa langsung saja masuk ke dalamnya. Siapa sangka Papah Ibnu, Mamah Syifa dan Seno juga sudah berada di sana dengan raut wajah yang menunjukan kesedihan yang begitu mendalam.


“Bajingan kau, Kak!”


Bugh, …


Sebuah bogem mentah, umpatan dan tatapan penuh kecewa Seno lontarkan kepada Kakak kandungnya itu. Reksa bahkan sampai terhuyung ke belakan akibat pukulan Seno pada wajahnya yang tidak main-main lagi, hingga berhasil membuat sudut bibirnya berdarah.


Bugh, … Bugh, …


Belum sempat rasa sakit dari pukulan Seno mereda, Papah Ibnu kembali melayangkan dua pukulan lagi di kedua pipinya secara bergantian. Alhasil, Reksa hanya bisa terduduk lemah sembari mengusap darah yang berada di ujung bibirnya.


“Apa kau puas sekarang sudah berhasil menceraikan Kiran dan membuatnya pergi entah kemana, Hah?” bentak Papah Ibnu dengan nada tingginya.


“Pergi? Apa maksud Papah?” tanya Reksa yang mengabaikan rasa sakitnya ketika mendengar Kiran pergi entah kemana.


“Yaa, … Kiran sudah memutuskan pergi menjauh dari hidupmu sesuai dengan apa yang kamu harapkan.”

__ADS_1


Bukan Papah Ibnu yang menjawabnya, tetapi Seno yang sekarang tidak sudi lagi menganggap Reksa sebagai Kakaknya.


Sedangkan Mamah Syifa hanya bisa menangisi kepergian Kiran yang bahkan tidak memberitahu tujuan kepergiannya.


Kiran bahkan hanya pamit melalui surat yang dia titipkan kepada penjaga gerbang di rumah utama keluarga Damarwangsa.


Maka dari itu Papah Ibnu, Mamah Syifa dan Seno segera pergi ke rumah dimana Kiran tinggal untuk mencegahnya pergi. Namun sayangnya semua barang-barang Kiran sudah tidak ada lagi di tempatnya.


“Apa kau bahagia sekarang dengan pilihanmu, Reksa?” tanya Mamah Syifa yang mendekati putranya yang tertunduk lemah penuh penyesalan.


“Kau harus bahagia, Nak! Setelah kau menyakiti wanita sebaik Kiran, wanita yang sempurna untuk mendampingi mu tapi kau malah menceraikannya dengan begitu mudahnya,” lanjut Mamah Syifa.


“Jika kau tidak bahagia, maka kau membuat pengorbanan Kiran yang akhirnya memutuskan pergi dari hidupmu menjadi pengorbanan yang sia-sia,” imbuh Seno dengan nada ketusnya.


“Sudah! Sebaiknya kita pulang dan biarkan anak bodoh ini melakukan apapun yang dia inginkan. Anggap saja anak sulung kita sudah tidak ada, karena percuma saja di nasehati seperti apapun oleh kita sebagai orang tuanya sama sekali tidak di gubris sedikitpun,” ujar Papah Ibnu yang sudah terlanjur sangat kecewa dengan perbuatan Reksa.


Papah Ibnu dan Seno pun merangkul Mamah Syifa untuk pergi dari rumah itu, meninggal Reksa yang terdiam sambil menangisi kebodohannya sendiri.


Setelah kepergian kedua orang tua dan adiknya, Reksa kembali ke mobilnya. Dia melihat map coklat yang berisi tentang perceraiannya dan detik itu juga Reksa merobek map tersebut beserta isi yang di dalamnya.


Namun Reksa tidak ingin menyerah begitu saja, dia pun segera bangkit untuk mencari keberadaan Kiran. Berharap bahwa Kiran hanya pergi ke rumah temannya atau saudaranya.


Meski sebenarnya Reksa tahu bahwa Kiran tidak memiliki saudara lagi dan Dira sahabat satu-satunya tempat Kiran selalu bergantung.


“Kiran kau kemana? Tolong maafkan aku,” gumam Reksa yang tampak sangat terpuruk dan putus asa dengan keadaannya.


Reksa sudah mendatangi restaurant dan apartemen Dira, tapi dia malah menemukan fakta bahwa Dira katanya memutuskan untuk pindah dan mempercayakan restorannya kepada orang lain.


Reksa juga berusaha menanyakan keberadaan Alka, tapi sekretaris Alka tidak mengetahui kemana atasannya itu pergi dan malah melimpahkan semua pekerjaan padanya.


Reksa ingin menghubungi teman-teman Kiran di sosialitanya, tetapi dia sadar bahwa Kiran berteman dengan mereka karena dirinya yang selalu mengajak Kiran untuk menemaninya setiap kali ada pesta dari rekan bisnisnya.


Kini Reksa benar-benar putus asa untuk mencerai keberadaan Kiran, karena hanya Alka dan Dira saja yang mengetahui tentang keberadaan istrinya itu.

__ADS_1


Drrtt, … Drrtt, ….


Disaat Reksa tengah memikirkan dimana lagi tempat dia harus mencari keberadaan Kiran. Tiba-tiba ponselnya berdering menampilkan panggilan masik dari Leo. Tanpa pikir panjang Reksa pun segera menerima panggilan telepon tersebut dengan malas.


“Ada apa?” tanya Reksa tanpa basa basi.


“Datanglah ke lokasi yang aku kirimkan, sepertinya kau harus melihat dan mendengar semua kebenarannya sendiri,” jawab Leo yang setelah itu menutup panggilan teleponnya secara sepihak.


“Aish, … Bocah ini!”


Reksa hanya bisa mendengus kesal akan kelakuan Leo yang menambah beban pikirannya saja. Meski begitu Reksa tetap mengikuti instruksi dari Leo dengan datang ke lokasi yang di kirimkan.


...****************...


Ternyata lokasi yang Leo kirimkan berada di sebuah pabrik tua yang sudah tidak di gunakan lagi dan jauh dari rumah penduduk.


“Leo, apa kau ada di sini?” seru Reksa yang hanya mengandalkan senter ponselnya sebagai penerangan.


Hingga dia membuka sebuah ruangan yang terlihat cahaya menyala, Reksa akhirnya menemukan Leo dan beberapa orang lainnya. Lalu ada beberapa orang pria yang di ikat dengan tali dan di paksa untuk berlutut di hadapan Leo.


Melihat semua itu Reksa cukup tercengang, ketika menangkap sosok Leo yang berbeda dengan Leo sang model dan actor yang dia kenal sebelumnya.


“Ouh, … Kau sudah datang!” Leo langsung menyapa Reksa begitu menyadari kehadirannya.


“Lihatlah, aku berhasil menangkap para bajingan yang berniat melukai istrimu saat itu,” ujar Leo dengan santainya.


“Jika mereka waktu itu tidak melukai tubuhku yang sangat berharga ini. Mungkin aku tidak akan melakukan sejauh ini,” imbuh Leo yang memperlihatkan sisinya yang lain pada Reksa.


“Leo, siapa kau sebenarnya?” tanya Reksa yang sekarang lebih penasaran dengan identitas Leo yang sebenarnya.


Bersambung, ....


__ADS_1




__ADS_2