
“Sepertinya Sekretaris mu itu,” jawab Kiran yang tersenyum tipis melihat keterkejutan di wajah suami yang tampan itu.
“Maksudmu Dani? Apakah selama ini Dani dan Dira memiliki hubungan di belakang kita semua?” tanya Reksa lagi yang semakin di buat penasaran dengan jawaban dari istrinya.
“Tidak, bukan seperti itu! Hanya saja Dani telah berhasil menaklukan hati seorang Dira dan aku sangat memahami apa yang akan di lakukan sahabatku itu untuk mendapatkan cintanya,” terang Kiran yang hanya di tanggapi dengan anggukan kepada saja oleh Reksa.
“Tunggu! Lalu bagaimana dengan Dani? Apakah dia juga memiliki perasaan yang sama dengan Dira?” tanya Reksa lagi begitu teringat dengan hal terpenting dalam sebuah hubungan.
“Coba tanyakan saja pada sekretaris mu itu. Aku juga penasaran akan jawaban dari pertanyaanmu barusan,” ujar Kiran yang tidak bisa memberikan jawaban pasti kali ini.
“AISH, … Bisakah kalian berdua diam dan berhenti mengikuti ku terus, Hah!”
Suara bentakan Dira bukan hanya berhasil membuat Alka dan Aiden menjadi diam, tapi semua orang pun ikut terdiam bahkan Reksa sampai lupa mau mengatakan apa kepada Kiran tadi.
Saking kerasnya bentakan Dira, Dani bahkan sampai tersentak karena terlalu terkejut melihat sisi Dira yang satu ini.
“Siapa bilang aku setuju menikah denganmu, Hah?” Dira menunjuk pada Alka yang masih terdiam.
“Lalu kau, … Aku aku pernah bilang bahwa aku setuju dengan perjodohan itu? Kalau kau masih bersikeras untuk melanjutkan perjodohan ini, maka silahkan saja kau menikah dengan kedua orang tuaku!” Kali ini Dira menunjuk pada Aiden.
“Karena apapun yang terjadi, aku hanya akan menikah dengan Dani!” Final Dira yang langsung menggandeng dan menggenggam erat tangan Dani yang masih kebingungan di sana.
“Ayo, Dani kita pergi dari sini! Tidak baik merusak pesta pernikahan orang lain,” ujar Dira yang langsung menyeret Dani pergi dari sana.
“Eeeh, … Sadar diri juga dia,” celetuk Seno yang langsung mendapat cubitan keras di perutnya oleh sang istri.
“Tunggu, kita mau kemana?” tanya Dani setelah sadar dari kebingungannya.
“Ke KUA agar bisa mendaftar pernikahan kita!” jawab Dira sekenanya.
“Apa, _...”
“Shhhttt, … Sudah diam saja dan ikut aku dengan tenang,” potong Dira ketika Dani mencoba protes.
Alka dan Aiden tidak begitu saja menerima penolakan Dira. Keduanya pun langsung mengejar kemana Dira dan Dani pergi, setelah itu acara pesta resepsi pernikahannya di lanjutkan seolah tidak terjadi apapun.
Dan sejak saat itu, Alka dan Aiden saling bersaing untuk mendapatkan hati Dira. Namun Dira sendiri malah lebih memilih untuk mengejar Dani yang terkadang memberinya harapan, tapi tak lama kemudian mematahkan harapan tersebut.
...****************...
Satu bulan setelah pernikahan Seno dan Zara, semua berjalan dengan lancar. Reksa dan Kiran memutuskan untuk menempati rumah mereka yang dulu, tentunya dengan membawa putri kecil mereka.
Begitu juga dengan Seno, dia membawa istrinya tinggal berdua di sebuah rumah mewah yang telah dia beli sebelum memutuskan untuk menikah.
Papah Ibnu dan Mamah Syifa yang merasa kesepian, akhirnya sering menginap di tempat Reksa agar lebih dekat dengan cucu mereka yang menggemaskan, siapa lagi kalau bukan Baby Queen.
“Papah! Mamah, boleh Kiran meminta bantuan pada kalian berdua?” pinta Kiran dengan nada suara yang terdengar berbisik pada mertuanya itu.
“Tentu sayang! Apa yang bisa Papah dan Mamah bantu untukmu?” tanya Mamah Syifa dengan senang hati.
Kiran pun langsung menjelaskan bantuan apa yang dia inginkan dari kedua mertua itu. Keduanya pun langsung sepakat untuk membantu Kiran, bahkan akan meminta bantuan Seno dan Zara juga.
Pembicaraan mereka langsung terhenti ketika Reksa dan Baby Queen telah kembali dari aktivitas bermain mereka di taman.
“Kakek! Nenek!”
Baby Queen langsung berseru dan berlari menghamburkan tubuh mungilnya ke dalam pelukan sang Kakek dan Nenek secara bergantian.
__ADS_1
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Reksa yang menyadari ada sesuatu yang sedang Kiran sembunyikan bersama kedua orang tuanya.
“Tidak ada! Hanya sedang membicarakan rencana makan malam bersama untuk besok,” jawab Kiran yang tentu saja berbohong.
“Sejak kapan istri cantikku ini pandai berbohong, Hmm?”
Reksa tahu bahwa Kiran tengah berbohong, tapi Reksa tidak terlalu memperdulikannya. Apalagi mengetahui kalau orang tuanya juga terlibat dalam kebohongan sang istri.
Reksa lalu memeluk Kiran dengan mesranya tanpa memperdulikan keberadaan kedua orang tuanya dan putri kecilnya yang masih di sana.
“Ck, … Kalau mau bermesraan sana di dalam kamar saja! Mengotori mata suci cucuku saja,” protes Papah Ibnu dengan kelakuan putranya sendiri yang tidak tahu malu.
“Bilang saja kalau Papah iri melihatnya!” balas Reksa yang tidak mau kalah debat dengan Papahnya sendiri.
“Aish, … Kau ini memang anak tidak tahu diri! Sudahlah, sebaiknya kau ikut Papah ke kantor sekarang! Ada klien penting yang harus kita temui sekarang juga,” ujar Papah Ibnu yang memulai rencana Kiran.
“Hmmm, … Kenapa Dani tidak memberitahu apapun tentang klien itu?” tanya Reksa yang tampak kebingungan.
“Sudahlah, cepat ganti pakaianmu sana dengan pakaian terbaik yang kau miliki! Kiran bantu suamimu untuk bersiap,” ujar Papah Ibnu yang beralih pada Kiran.
“Baik, Pah!”
Kiran pun langsung memaksa Reksa untuk pergi ke kamar mereka. Kiran langsung memilihkan setelan jas terbaru yang di belinya kemarin.
Reksa sempat penasaran mengapa Kiran memilihkan pakaian terbaik untuk di kenakan nya, tapi Reksa kembali teringat perkataan Papah Ibnu bahwa klien yang akan di temuinya sangat penting.
Selesai mengganti pakaian, Reksa dan Kiran kembali turun. Dan benar saja Papah Ibnu juga sudah mengenakan pakaian terbaiknya. Tanpa buang waktu Papah Ibnu langsung membawa Reksa pergi setelah berpamitan.
Begitu mobil yang membawa keduanya pergi, Kiran mendapat pesan dari sahabatnya bahwa semua persiapan sudah siap.
Kiran dan Mamah Syifa langsung mengganti pakaian mereka juga. Keduanya mengenakan gaun putih yang sangat indah, begitu juga dengan Baby Queen yang semakin membuat gadis mungil itu terlihat sangat cantik dan menggemaskan. Lalu mereka segera menuju ke tempat yang sudah dio persiapkan sebelumnya.
...****************...
“Kau diam saja! Kliennya merubah tempat pertemuannya,” jawab Papah Ibnu sekenanya.
...****************...
Disini ‘lah Reksa sudah mulai merasa aneh dengan jawaban dari Papahnya. Sampai Reksa menyadari bahwa perjalanan kali ini menuju sebuah Danau yang tidak jauh dari Villa keluarganya.
Dapat Reksa lihat dari kejauhan sebuah pesta kecil sudah di siapkan untuknya, hingga membuat dia tersadar bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday Happy birthday
Happy birthday …. Papa
Baby Queen dengan semangat menyanyikan bagian terakhir lirik lagunya. Reksa tak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya. Dia menangis terharu dengan kejutan ulang tahun yang Kiran dan semua orang siapkan untuk dirinya.
“Selamat Ulang tahun suamiku,” ucap Kiran yang mengecup bibir suaminya sekilas, lalu di susul yang lainnya yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya satu persatu.
“Bagaimana dengan hadiahnya?” tanya Reksa yang terdengar tidak tahu diri.
“Tentu sudah di sediakan di sana! Kau mau melihat hadiahnya sekarang?” jawab Kiran sambil menunjuk pada sebuah Papan yang di tutupi kain putih.
__ADS_1
“Emm, … Tentu saja aku tidak sabar untuk melihat hadiah dari istri cantikku ini,” sahut Reksa yang yang langsung berjalan menuju papan tertutup kain itu.
Tanpa ingin membuang waktu lagi, Reksa langsung menarik kain penutupnya. Semua orang menatap tidak percaya akan hadiah terindah yang Kiran siapkan, bahkan Reksa sudah menangis bahagia menatap Kiran.
“Sayang, … Benarkah ini, _....”
“Iya, Mas! Kau akan menjadi Papa lagi dan Queen akan menjadi Kakak.”
Belum sempat Reksa menyelesaikan pertanyaan, Kiran sudah membenarkan kabar gembira tentang kehamilan keduanya itu. Dimana papan yang tertutup kain putih itu berisi foto USG dari anak kedua yang saat ini masih di dalam perut Kiran. Reksa pun langsung memeluk tubuh Kiran erat untuk meluapkan kebahagiaan yang dia rasakan.
Ilustrasi foto USG milik Kiran, ....
“Terima kasih, Sayang! Terima kasih untuk hadiah ulang tahun yang sangat indah ini,” ucap Reksa pada Kiran.
“Iya, Mas! Kali ini kita jalan bersama-sama ‘yah,” balas Kiran.
“Emm, … Maaf, tapi aku juga ingin memberitahu kabar yang sama untuk Mas Seno!” Ucapan Zara mengalihkan perhatian semua orang padanya.
“Zara maksudmu, _...”
“Iya, Mas Seno! Didalam sini ada anak kita,” potong Zara sambil menunjuk pada perutnya yang masih rata.
“Pah! Mah! Kakak! Aku juga akan menjadi seorang ayah! Yeeeaah, …” Seno berseru kegirangan sambil mengangkat tubuh Zara.
“Astaga, Seno! Hati-hati, Zara tengah mengandung jangan seperti itu,” teriak Mamah Syifa akan kelakuan putra bungsunya.
“Hehehee, … Maaf, Seno kelepasan,” ucap Seno sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Ilustrasi foto USG milik Zara, ....
“Terima kasih, Sayang! Meski ini ulang tahun Kakakku tapi kau malah memberikan hadiah juga untukku,” ucap Seno pada istrinya.
“Iya, Mas! Karena aku tidak mungkin memberitahu tentang ini saat kau ulang tahun,” balas Zara yang membalas pelukan suaminya.
“Dir, kau tidak iri dengan mereka? Aku bisa ‘loh memberimu dua anak kembar sekaligus,” tanya Alka pada Dira.
“Aku bahkan bisa memberimu kembar tiga sekaligus.” Aiden selalu tidak mau kalah.
“Aish, … Kalian berdua! Tidak bisakah jangan menggangguku lagi,” bentak Dira yang tidak tahan dengan kelakuan Alka dan Aiden.
“Anakku nanti hanya akan memiliki satu Ayah yaitu Danial. Bukan kalian berdua!” imbuh Dira yang membuat Dani hanya bisa menghela napas dengan pasrah.
Sungguh akhir yang membahagiakan untuk Kiran dan Reksa bagi pernikahan keduanya yang sudah melampaui lima tahun hidup bersama. Dalam pernikahan memang harus di landasi dengan yang namanya kekuatan cinta.
Akan tetapi, cinta saja tidak akan cukup untuk membangun pondasi yang kokoh dalam sebuah ikatan pernikahan.Harus ada yang namanya saling memberi kepercayaan, pengertian, kesetiaan dan masih banyak hal lagi yang akan mempengaruhi kekokohan dari pondasi dalam berumah tangga.
Dan seorang anak adalah anugrah yang di titipkan Tuhan untuk kita jaga, rawat dan lindungi dari saat anak itu masih di dalam perut sang ibu hingga tumbuh dewasa dengan pilihannya nanti. Tuhan lebih tahu dari kita para manusia akan takdir yang telah di tentukannya.
Jika Tuhan belum menghendaki apa yang kita inginkan, maka itu berarti kita memang belum siap untuk menjaga titipannya tersebut. Dan juga Tuhan sudah berkehendak, maka tugas kita adalah menjaga dan merawatnya serta melindunginya dengan sebaik mungkin.
...“Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk setiap hambanya. Maka jika apa yang kamu inginkan belum terwujud, tetaplah berusaha, sabar dan serahkan semuanya kepada Tuhan. Lalu biarkan waktu yang akan menjawab semuanya.”...
...~Phopo-Nira~...
__ADS_1
...◦•●◉✿TAMAT ✿◉●•◦...