
Saking terkejutnya Anya dan beberapa anggota pertemuan lainnya sampai tanpa sadar berdiri dari tempat duduknya. Kiran duduk dengan tenang menghadapi tatapan mata yang tertuju padanya menuntut penjelasan. Begitu juga tatapan terkejut Anya yang di penuhi kemarahan dan tatapan tidak terima.
“Kenapa dia duduk di kursi yang seharusnya milik Ceo?” seru Anya memecahkan keheningan yang sempat terjadi.
Seno kemudian berdiri dan berjalan menghampiri Kiran berada. Benar, Seno akan dengan senang hati memperkenalkan Kiran sebagai Ceo baru perusahaan Damarwangsa Group.
Sedangkan Reksa hanya bisa pasrah dengan keadaannya yang sudah terlanjur seperti ini. dia bahkan mengabaikan tatapan Anya yang menuntut penjelasan darinya.
“Perhatian semuanya! Mungkin sebagian dari kalian sudah ada yang mengetahui tentang kabar terbaru dari perubahan posisi Ceo di perusahaan Damarwangsa Group!” seru Seno dan sebagian memang tampak tenang melihat Kiran yang duduk dengan santainya di kursi Ceo.
“Mulai hari Tuan Mahesa Ibnu Damarwangsa selaku pemilik sah dari perusahaan Damarwangsa Group menyatakan secara resmi bahwa posisi Ceo akan di gantikan oleh Kiran, menantu kesayangannya!"
"Adapun alasannya, silahkan kalian tanyakan secara langsung pada orang yang bersangkutan. Sebab aku sendiri juga tidak mengetahui alasan pastinya,” terang Seno yang seketika membuat ruangan itu menjadi heboh.
Berbeda dengan Anya yang hanya bisa terdiam sembari menatap kearah Reksa dengan tatapan tajamnya. Sementara Reksa sendiri hanya bisa diam dengan membalas tatapan Anya. Berbeda dengan Kiran yang terus memperhatikan suami dan selingkuhan dari suaminya itu dengan perasaan sedih.
“Mas, aku tidak akan tinggal diam lagi kau di manfaatkan seperti ini oleh Anya. Akan aku tunjukan siapa Anya sebenarnya,” batin Kiran.
“Haaah, … Sudah aku duga! Hari ini memang hari yang sangat sial untukku,” batin Reksa sembari menghela napas dengan berat.
“Sialan! Seharusnya bukan seperti ini akhirnya! Aku berhasil menyingkirkan Kiran sebagai istrinya Reksa, tapi kenapa dia harus pergi dengan membawa semua harta yang seharusnya menjadi milikku ketika kami bersama nantinya,” umpat Anya dalam hatinya.
Kiran masih tetap diam dan membiarkan semua orang untuk saling bergosip sembari dia juga menikmati pemandangan langka dimana Anya yang tampak marah, terkejut dan tidak terima melihat dirinya duduk di tempat yang lebih baik dari Reksa.
“Apakah sudah cukup penjelasannya! Jika memang sudah, mari kita lanjutkan pertemuan ini dengan tenang dan nyaman!” seru Kiran mulai membuka suara yang berhasil membuat orang dalam pertemuan itu kembali duduk di tempat masing-masing.
__ADS_1
“Seno, kau juga kembali ke tempat dudukmu!” ujar Kiran yang menyadari Seno masih berdiri di sampingnya.
“Baik, Kak!” sahut Seno yang kembali ke tempat duduknya.
Setelah memastikan suasana kembali tenang, Kiran memberikan isyarat kepada Dani untuk memulai rapatnya. Dani dengan sigap menyiapkan semua berkas yang di perlukan berikut dengan file presentasi yang akan di gunakan dalam pertemuan kala itu. Tidak lupa semua orang di berikan berkas yang sama untuk di pelajari lebih lanjut.
“Baiklah, pertemuan kali ini bertujuan untuk membahas tentang peluncuran produk baru perusahaan. Dimana melihat model atau artis yang akan menjadi wajah dari produk itu sendiri,” ujar Dani yang mulai membacakan inti dari pertemuan.
“Dan disini sudah ada Nona Anya Priscillia Hadiwijaya yang di tunjuk secara langsung oleh Tuan Reksa sebagai model yang akan mempromosikan produk terbaru kita secara besar-besaran, _....”
“Aku tidak akan menyetujuinya!” potong Seno yang langsung mengutarakan suaranya.
“Tidak bisakah kau menunggu sampai waktunya sesi tanya jawab,” ujar Reksa memberikan peringatan kepada adiknya.
“Kenapa harus membuang waktu untuk mendengarkan hal yang tidak berguna. Sebaiknya kita langsung bahas saja masalah model yang akan kita gunakan. Karena sejak awal bukankah semua itu keputusanmu pribadi yang menunjuknya sebagai model?” Seno dengan berani menekan Kakaknya di depan semua orang.
“Tuan Seno cukup! Tolong sampaikan pendapat anda secara baik-baik dan gunakan bahasa yang sopan,” sela Kiran yang tidak mau membuat nama baik Seno tercemar hanya karena ingin membelanya.
Seno menghela napas panjang untuk menekan amarahnya dan kembali berkata, “Kenapa kau menggunakan nama perusahaan mensponsori model yang selalu terlibat scandal? Apakah kau tidak memikirkan akibatnya bagi perusahaan ketika sifat aslinya muncul lagi?”
“Seno jaga ucapanmu!” bentak Reksa memperingati.
“Apakah kalian sengaja mengundangku dalam pertemuan ini hanya untuk mempermalukan aku seperti ini, HAH?” protes Anya yang tidak terima akan perkataan yang Seno lontarkan.
“Siapa yang sedang mempermalukan dirimu? Tidak ada kerjaan sekali orang yang melakukan itu,” balas Seno dengan tatapan jijiknya yang dengan jelas dia tunjukan kepada Anya.
__ADS_1
“Bukankah kau yang telah mempermalukan dirimu sendiri dengan mengemis pada Kakakku untuk menjadikan dirimu modelnya,” imbuhnya yang menghina Anya di depan semua orang.
“Seno, hentikan cara bicaramu itu!” bentak Reksa yang tidak tahan dengan ucapan yang di lontarkan adiknya.
“Apa Kakak akan membelanya lagi di depan semua orang?” tantang Seno seolah ingin mempermalukan Kakaknya juga.
“Tuan Seno!”
Kiran mengingatkan akan sikap Seno yang menurutnya sudah keterlaluan. Seketika Seno pun terdiam, hingga membuat suasana sesaat berubah hening. Sampai salah satu pemegang saham mulai angkat bicara dan mengutarakan pendapatnya.
“Saya juga tidak setuju tentang model yang Tuan Reksa pilih! Jujur saja, Nona Anya memang model yang memang cukup popular, tetapi dalam membuat skandal dengan berbagai pria. Jadi, sebaiknya kita cari saja model yang lainnya,” ujar Pria bernama Andre, salah satu pemegang saham yang cukup penting dalam perusahaan.
“Kenapa harus di ganti? Bukankah Tuan Reksa sudah menandatangi kontrak kerjasamanya. Di sini jelas tertulis bahwa pembatalan kontrak malah akan menyia-nyiakan uang yang ada! Sebaiknya kita gunakan saja apa yang ada sekarang,” sahut yang lainnya yang telah memeriksa berkas yang sebelumnya di serahkan pada masing-masing orang.
Suasana kemudian kembali ricuh dan para pemegang saham mulai terbagi menjadi dua kelompok. Dimana satu kelompok lebih memilih untuk mengganti modelnya dengan yang lain, karena takut skandal yang akan di lakukan Anya kedepannya akan berdampak pada perusahaan.
Sedangkan kelompok yang satunya menentang pembatalan tersebut mengingat banyaknya uang ganti rugi yang harus mereka keluarkan begitu saja tanpa hasil apapun.
Perdebatan sengit terus terjadi, Kiran masih berdiam diri memberikan waktu bagi semua orang mengeluarkan pendapatnya. Belum lagi Anya yang terus berteriak untuk protes karena namanya terus dijelek-jelekkan oleh semua orang di ruangan itu tanpa memperdulikan perasaannya sedikit pun.
“Nyonya Kiran!” Dani mulai mendekati Kiran yang masih diam mendengarkan pemikiran semua orang.
Bersambung, .....
__ADS_1