Love Me Again, My Husband!

Love Me Again, My Husband!
Jebakan Jahat Anya


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, akhirnya Alka dan Kiran sampai juga di tempat yang menjadi lokasi syuting iklan dan pengambilan gambarnya.


Karena memang lokasinya yang tidak terlalu jauh dari perusahaan Damarwangsa Group. Sebuah gedung berlantai yang bisa di gunakan untuk lokasi syuting dan pengambilan gambar.


“Kak Kiran!”


Siapa sangka Seno yang ternyata juga berada di sana untuk memastikan produk yang di gunakan untuk pembuatan iklannya adalah produk terbaik.


Melihat kedatangan Kiran, Seno langsung saja menghampiri dan memeluk Kakak ipar kesayangannya itu di hadapan semua orang. Hingga berhasil mengalihkan perhatian semua orang terutama Reksa dan Anya yang sejak tadi sedang mengobrol.


“Kau sedang disini juga!” tanya Kiran begitu pelukan mereka terlepas.


“Emm, … Tadi ada kesalahan produk yang di bawa. Jadi, sekalian saja aku mengawasi secara langsung saja daripada terjadi kesalahan lagi,” jelas Seno.


“Lalu Kak Kiran sendiri?” Seno bertanya balik.


“Aku hanya ingin melihat proses syuting dan pengambilan gambarnya saja sebentar,” jawab Kiran sekenanya.


“Kenapa Kak Kiran datang bersamanya? Kenapa tidak bersama dengan Dani saja?” cecar Seno yang membuat Kiran seketika menjadi salah tingkah dan takut terjadi kesalahpahaman di mata adik iparnya itu.


“Tidak perlu di jawab, Kak! Kak Reksa saja juga bersama dengan wanita ular itu, maka tidak salah Kalau Kak Kiran ingin bersama dengan pria yang lebih baik dari Kakakku yang bodoh itu.”


Belum sempat Kiran memberikan jawaban, Seno sudah lebih dulu menyuruhnya mengabaikan semua pertanyaan tadi. Dan terang-terangan menyindir Reksa dan Anya yang tengah berdiri memperhatikan mereka sejak tadi.


“Jangan bicara seperti itu, Seno!”


Itulah yang membuat Seno sangat membanggakan dan menghormati Kiran sebagai Kakak Iparnya. Karena sejahat apapun orang lain menyakitinya, Kiran sama sekali tidak berniat untuk membalasnya.


Meskipun Kiran sangat mampu untuk memberikan balasan yang lebih pada orang yang telah menyakitinya.


Seno hanya menganggukkan kepalanya pelan, lalu detik kemudian Seno membawa Kiran dan Alka untuk memperkenalkan pada semua orang yang ada di sana. Sehingga Reksa, Anya dan Managernya merasa keberadaan mereka tidak di anggap di sana.


“Aish, … Sialan! Kenapa setiap ada dia semua perhatian hanya mau tertuju padanya dan aku di lupakan seperti sampah,” umpat Anya yang kini hanya berdua bersama dengan managernya.

__ADS_1


“Mau kita lakukan sekarang rencananya?” bisik Lisa membuat Anya seketika memikirkan ide jahatnya.


“Boleh! Suruh mereka menunggu di Basement, karena aku akan membuat Kiran melangkahkan kakinya sendiri pada jurang kematiannya,” ujar Anya dengan smirk jahatnya.


“Baiklah, tapi jangan sampai kau melakukan kesalahan yang membuat orang lain curiga.” Lisa mengingatkan Anya untuk bergerak dengan hati-hati.


“Tentu saja! Pergilah dan lakukan tugasmu, sedangkan aku akan melemparkan umpannya,” sahut Anya yang beranjak pergi menghampiri Reksa.


Seperti biasa Anya akan bergelayut manja pada Reksa, hingga membuat semua orang yang saat itu sedang berbicara serius dengan Reksa satu persatu pergi karena merasa risih.


Namun bukan itu tujuan Anya, dia hanya ingin mengambil ponsel milik Reksa untuk dia gunakan memancing Kiran agar mau datang ke basement. Setelah berhasil mendapatkan ponselnya, Anya langsung menjauh dari Reksa dan dengan cepat mengirimkan pesan kepada Kiran.


Mas Reksa:


“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu sekarang!”


“Datanglah ke basement! Aku akan menunggumu di sana.”


Anya tersenyum puas begitu pesan itu telah terkirim. Lalu dengan cepat Anya langsung menghapus pesan yang dia kirimkan kepada Kiran dan segera mengembalikan ponsel Reksa pada tempatnya.


Disisi lain, Kiran terkejut dengan notifikasi khusus yang sudah lama tidak dia dengar dari ponselnya. Benar, notifikasi yang Kiran pasang khusus untuk nomor Reksa.


Dengan perasaan terkejut dann juga penasaran Kiran langsung membuka pesan masuk yang Reksa kirimkan kepadanya.


Sesaat Kiran merasa aneh mengapa Reksa memintanya bertemu di basement bukan tempat yang lebih baik dari itu. apalagi status mereka masih suami istri, bukan selingkuhan. Lalu kenapa Reksa memintanya untuk bertemu di tempat sepi seperti basement.


Kiran sekilas melirik kearah Reksa yang kebetulan juga tengah menatap kearahnya. Alhasil, Kiran pun akhirnya percaya bahwa pesan itu memang Reksa yang mengirimkannya.


Apalagi melihat Reksa yang tiba-tiba keluar meninggalkan ruangan syuting dan pengambilan gambar itu.


“Kiran, ada apa?” Pertanyaan dari Alka menyadarkan Kiran dari pikirannya sendiri.


“Tidak ada! Aku aku akan keluar sebentar untuk menelpon seseorang, di sini sedang terlalu berisik,” ujar Kiran yang menjadikan alasan menelpon seseorang untuk pergi menemui Reksa yang sudah lebih dulu keluar.

__ADS_1


Namun yang sebenarnya terjadi, Reksa hanyalah pergi sebentar untuk memastikan barang yang tertinggal di lobi.


Tapi Kiran malah mengira bahwa Reksa benar-benar sedang menunggunya di basement, sehingga tanpa ragu Kiran melangkahkan kakinya menuju kearah pintu yang menuju ke basement.


...****************...


Sedangkan di basement sendiri sudah menunggu beberapa gangster yang tengah menunggu mangsanya tiba. Mereka bahkan sudah mengamankan area basement agar tidak ada orang yang bisa menyaksikan ketika mereka melakukan aksinya.


“Aish, … Kenapa lama sekali? Apakah wanita itu sedang menipu kita? Apalagi melakukan pembunuhan di siang hari begini dan di tempat yang cukup ramai. Dia memang wanita gila,” gerutu salah satu pria itu.


“Diamlah! Ada suara langkah kaki yang mendekat kemari,” ujar salah satu rekannya.


Dan benar saja, suara langkah kaki itu berasal dari target yang tengah mereka tunggu sejak tadi.


Para pria menyeramkan itu menyeringai jahat ketika melihat sosok Kiran yang mematung dan menatap mereka dengan ketakutan.


Kiran segera berbalik dan berniat melarikan diri sebelum orang-orang itu menangkapnya. Namun sayangnya, tepat ketika Kiran berbalik seorang pria berbadan besar sudah menghadang tepat di depannya.


“Si-siapa kalian? Apa yang kalian inginkan dariku?” tanya Kiran di tengah rasa ketakutannya.


“Kami hanya di perintahkan untuk membunuhmu, tapi boleh juga kalau bermain sebentar denganmu. Apalagi wajah dan tubuhmu sepertinya lumayan juga,” ujar salah satu pria itu yang menatap Kiran penuh nafsu.


Sebisa mungkin Kiran menjaga jarak dari pria menyeramkan itu yang terus berjalan mendekatinya. Air mata Kiran sudah bercucuran, pikiran kacau dan tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan.


Bahkan untuk berteriak minta tolong, suara Kiran sudah tertahan dan hanya bisa berharap Tuhan mengirimkan seorang penolong untuk melindunginya dan bayinya.


“Hiks, … Tolong jangan sakiti aku! Aku akan berikan apapun yang kalian minta, tapi tolong biarkan aku pergi!” pinta Kiran dengan suara bergetar dan air mata yang semakin deras membasahi pipinya.


“Hahahaaa, … Kau sedang mencoba bernegosiasi dengan kami rupanya? Cukup berani juga untuk wanita lemah sepertimu,” ujar salah satu pria yang lainnya.


Bersambung, .....


__ADS_1



__ADS_2