
Terdengar tiga suara tembakan sekaligus, lalu suasana menjadi sangat hening. Lalu tiba-tiba tubuh Anya ambruk dengan bersimbah darah pada bagian Dada, sedangkan Reksa masih memeluk putrinya erat. Sampai Kiran menyadari bahwa punggung suaminya juga mulai mengalir darah segar.
“Mas Reksa!” seru Kiran yang langsung berlari menghampiri Reksa yang masih memeluk putri mereka.
Tepat setelah Anya melepaskan satu tembakan yang mengarah Baby Queen dan malah bersarang di punggung Reksa karena berusaha untuk melindungi putrinya.
Di saat itu juga Polisi juga menembak dua peluru sekaligus yang mengarahkan pada Anya.
“Papa!” tangis Baby Queen yang semakin ketakutan dengan suara tembakan tersebut.
“Syukurlah, kali ini Papah tidak terlambat untuk melindungi mu,” ucap Reksa sambil menahan rasa sakit akibat peluru panas yang bersarang di punggungnya.
Detik berikutnya, Reksa langsung menutup kedua matanya. Tepat ketika Kiran sudah berada disampingnya.
Kiran membawa tubuh Reksa dalam pangkuannya dan menangis histeris bersama putrinya. Kini Kiran benar-benar takut kalau Reksa akan meninggalkan dirinya dan putri mereka yang masih kecil.
“Kita harus segera membawa Reksa ke rumah sakit, Kiran!” ujar Dira yang sudah berada di samping Kiran bersama dengan Alka.
Beberapa polisi ikut membantu Alka memindahkan tubuh Reksa ke dalam mobil. Kiran dan Baby Queen selalu menemani Reksa di sisinya, Dira dan Alka pun ikut menemani ketiganya ke rumah sakit.
Sebab mereka yakin bahwa Kiran dan Baby Queen pasti membutuhkan teman bersandar menghadapi situasi mengerikan itu.
Sedangkan Leo dan Seno yang berurusan dengan pihak kepolisian. Dimana beberapa polisi lain mengamankan Viky, sedangkan Anya ternyata meninggal dunia di tempat karena satu peluru sepertinya menembus jantungnya. Setelah memberikan keterangan, Seno dan Leo akan menyusul yang lainnya ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Reksa sudah kehilangan banyak darahnya dan segera di larikan ke ruang operasi untuk mengeluarkan peluru yang tertancap di tubuhnya.
Beberapa jam sudah berlalu, Kiran dan yang lainnya hanya bisa menunggu dengan doa yang tidak pernah berhenti sedikitpun.
Tak lama kemudian, Dokter yang menangani kondisi Reksa keluar dari ruang operasi masih dengan mengenakan pakaian operasi lengkap.
Kiran dan yang lainnya segera menghampiri dokter tersebut untuk menanyakan bagaimana keadaan Reksa sekarang.
“Dok, bagaimana keadaan suami saya sekarang?” tanya Kiran dengan wajah bengkak karena terlalu banyak menangis dan sorot matanya yang begitu mengkhawatirkan Reksa.
__ADS_1
“Anda sekalian sudah bisa tenang sekarang! Karena operasinya berjalan dengan lancar, saya sudah berhasil mengeluarkan pelurunya dan beruntung peluru itu tidak melukai organ vitalnya. Tuan Reksa hanya kehilangan banyak darah, tapi sekarang kondisinya sudah stabil,” jelas Dokter tersebut.
“Kami akan segera memindahkan Tuan Reksa ke ruang perawatan,” imbuhnya yang berhasil membuat Kiran dan yang lainnya menjadi merasa lega begitu mendengarnya.
...****************...
Satu hari penuh Reksa belum sadarkan diri, setelah operasinya di nyatakan berjalan lancar. Hal itu membuat Kiran dan Baby Queen kembali mengkhawatirkan kondisinya.
Kiran dan Baby Queen terus berada di ruang rawat Reksa di temani oleh Papah Ibnu, Mamah Syifa dan Seno.
“Bagaimana kelanjutan dengan kasus Anya?” tanya Papah Ibnu pada Seno.
“Karena tersangka utamanya sudah meninggal dunia, maka hanya pria yang bernama Viky saja yang akhirnya mendekam di penjara. Sedangkan jenazah Anya sendiri sudah di makamkan,” jelas Seno.
“Dia benar-benar wanita gila, makanya Mamah tidak pernah menyukai dia sejak awal!” ujar Mamah Syifa yang masih kesal karena cucunya yang hampir tiada karena keegoisan Anya.
“Apa yang terjadi pada Anya?”
Suara yang sangat pelan seketika mengalihkan perhatian semua orang yang ada di dalam ruang tersebut.
“Reksa, kau sudah sadar?” tanya Papah Ibnu, Mamah Syifa dan Seno serentak dan langsung menghampirinya.
“Papa! Papa sudah bangun!” Kali ini Baby Queen yang berseru kegirangan.
“Perasaan apa ini? Jangan katakan kalau kali ini Mas Reksa bukan hanya melupakan tentangku lagi, tapi juga tentang Queen.”
Sedangkan Kiran hanya bicara di dalam hatinya saja, karena secara tidak langsung mengingat akan masa lalu yang pernah terjadi.
Ternyata bukan hanya Kiran saja yang berpikir bahwa situasi yang tengah terjadi hampir sama persis dengan situasi saat Reksa mengalami kecelakan dan berakhir amnesia.
“Reksa, jangan katakan kalau kau, _....”
“Mas, apa kau tidak mengingat aku lagi?”
__ADS_1
“Dan, … Apakah kau juga tidak mengingat Queen?”
“Jika sampai kau melupakan putrimu sendiri, maka aku tidak akan pernah memaafkan mu lagi selamanya.”
Perkataan Mamah Syifa langsung di potong oleh Kiran yang tidak dapat lagi menahan emosinya. Dengan menyertakan beberapa ancaman, Kiran mencecar berbagai pertanyaan pada Reksa yang baru sadarkan diri itu.
Kiran tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali, apalagi kalau putrinya juga harus merasakan hal yang sama tidak di ingat oleh Papanya sendiri.
“Apa maksudmu, Kiran? Bagaimana mungkin aku akan melupakan istri dan putriku yang cantik seperti kalian berdua,” ujar Reksa yang harus segera meluruskan kesalahpahaman dari Kiran.
“K-kau mengingat kami?” tanya Kiran memastikan.
“Tentu saja! Sebab yang terluka adalah punggungku, bukan kepalaku. Meski kepalaku yang terluka lagi, aku tidak akan pernah melupakan kalian,” jelas Reksa sembari menyunggingkan sebuah senyuman manisnya.
“Hiks, … Kau membuatku takut, Mas! Aku takut kau melupakan kami dan menolak kami seperti dulu,” tangis Kiran yang langsung saja memeluk Reksa dengan erat untuk melampiaskan apa yang dia rasakan.
“Tidak akan, Kiran! Cukup satu kali aku melupakanmu dan membuatmu terluka,” ucap Reksa tepat di telinga Kiran.
“Papa! Queen juga mau peluk!”
Baby Queen tidak mau ketinggalan dia langsung memposisikan diri di antara pelukan kedua. Baik Reksa dan Kiran menyambut putri kecil mereka itu dengan senang hati.
Hingga membuat Papah Ibnu, Mamah Syifa dan Seno turut merasakan kebahagiaan keluarga kecil Reksa yang akhirnya bersatu kembali.
“Hay, jika Kakak tidak hilang ingatan lagi. Lalu kenapa yang pertama kali Kakak tanyakan adalah tentang Anya?” celetuk Seno yang berhasil membuat suasana kembali sedikit menegang.
“Karena aku tadi mendengar pembicaraanmu dengan Papah dan Mamah! Bagaimana pun juga aku merasa bersalah pada Anya, dia terjebak dengan dunia mafia karena aku yang hilang ingatan kembali muncul di hidupnya sambil membawa sebuah harapan padanya,” jelas Reksa yang ketulusannya dapat di lihat dari raut wajahnya yang penuh penyesalan.
“Apa Anya benar-benar sudah meninggal?” tanya Reksa memastikan apa yang dia dengar sebelumnya.
“Iya, Polisi melakukan tindakan dengan menembaknya sebanyak dua kali karena tidak ingin banyak jatuh korban saat kejadian tersebut,” jawab Seno membenarkan.
Bersambung, .....
__ADS_1