
Selepas pembicaraan yang sensitive itu, Kiran langsung memutuskan untuk mengakhiri acara makan malam itu. Awalnya Kiran berniat untuk pulang sendirian saja, tetapi Alka memaksa untuk tetap mengantarnya sebagai bentuk tanggung jawab karena dirinya yang meminta Kiran untuk pergi. Meski sepanjang perjalanan pulang keduanya sama-sama diam.
“Terima kasih sudah mau mengantarku,” ucap Kiran begitu sampai di depan pintu rumahnya.
Dimana Alka mengikuti Kiran turun dari mobilnya. Suasana cukup canggung di antara keduanya, tetapi Alka terus mengabaikan dan bersikap seperti biasanya. Berbeda dengan Kiran yang banyak diam dan terus memperlihatkan wajah sedihnya.
“Tidak masalah! Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, karena bersedia memberiku kesempatan untuk mendekatimu,” balas Alka yang hanya di tanggapi dengan anggukan kepala dan senyuman tipis saja dari Kiran.
“Sebaiknya aku masuk sekarang! Aku cukup lelah untuk hari ini,” ujar Kiran yang dengan sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
“Baiklah, kalau begitu aku pamit pergi! Istirahatlah dengan baik dan sampai bertemu besok lagi,” pamit Alka yang sadar bahwa Kiran tengah mengusirnya secara halus.
“Emm, … Hati-hatilah di jalan,” ujar Kiran mengingatkan.
Alka pun segera kembali masuk dan melajukan mobilnya. Setelah tidak melihat keberadaan mobil milik Alka lagi, Kiran pun segera masuk ke dalam rumahnya. Begitu masuk suasana sepi penuh kekosongan seketika Kiran rasakan di rumah mewah itu.
Dengan cepat Kiran langsung menuju ke kamarnya dan Reksa sebelumnya. Dimana Kiran ingin memastikan apakah Reksa benar-benar mengemasi semua barang-barangnya seolah tidak ingin kembali lagi ke rumah itu.
Kiran hanya bisa tersenyum kecut dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya dan bergumam, “Bahkan kau tidak menyisakan satu pun barang agar aku bisa selalu mengingatmu, Mas!”
Malam itu untuk pertama kalinya Kiran benar-benar merasa kehilangan dunianya. Baginya semua yang saat ini Kiran miliki tidak sebanding dengan keberadaan Reksa di sisinya. Jika bisa dirinya memilih, Kiran akan langsung memilih suaminya dan menyerahkan semua harta yang dia miliki saat ini.
“Mas, kau tidak mau berpisah seperti ini! Aku tidak ingin menyerah untuk mempertahankan mu. Hiks, …” gumam Kiran di sela isak tangisnya.
Sama halnya yang di rasakan Reksa, hati dan pikirannya terus tertuju pada Kiran setelah dia meninggalkan rumah itu. Bayangan bagaimana bahagianya Kiran dan Alka malam itu terus bermunculan di kepala Reksa yang berhasil membuat hatinya begitu sakit.
“Berbahagialah, Kiran!” ucap Reksa yang berusaha mengabaikan bayangan kemesraan Kiran dengan Alka malam itu.
__ADS_1
Malam itu, baik Kiran maupun Reksa sama-sama tidak bisa memejamkan mata sama sekali.
...****************...
Hingga hari pun berganti, Kiran yang sekarang memiliki tanggung jawab besar sebagai pemimpin perusahaan tentu saja sudah harus bersiap-siap untuk berangkat ke kantor.
Berbeda dengan Reksa yang ragu untuk kembali bekerja. Jujur saja, Reksa tidak ingin bertemu dengan siapapun lagi, bukan karena masalah yang berkaitan dengan Anya.
Akan tetapi, Reksa hanya ingin menyendiri selama beberapa waktu saja. Namun Reksa tidak tega meninggalkan Kiran begitu saja memimpin perusahaan, apalagi ada beberapa dokumen penting yang belum dia jelaskan pada Kiran.
Akhirnya Reksa memutuskan untuk tetap berangkat bekerja, setidaknya dia harus mengajari Kiran hal-hal penting yang harus di perhatikan sebagai Ceo.
Sehingga jika waktunya tiba bagi Reksa dan Kiran resmi berpisah, maka Reksa tidak perlu mengkhawatirkan tentang Kiran lagi.
Siapa sangka Kiran dan Reksa tiba bersamaan di perusahaan, tetapi Reksa dengan cepat bersembunyi sebelum Kiran menyadarinya. Terlihat Kiran langsung di sambut oleh Dani yang menjelaskan tentang beberapa jadwal penting yang harus Kiran selesaikan.
Reksa sedikit menyunggingkan senyumannya ketika melihat Kiran yang sudah mulai terbiasa dengan posisinya di perusahaan.
“Aish, … Kau mengejutkan aku saja!” protes Reksa sembari memegangi dadanya yang merasa detak jantungnya berdegup kencang tidak seperti biasanya.
“Apa yang Kakak lakukan di sini? Apakah Kakak sedang di kejar-kejar para menagih hutang?” tebak Seno asal dengan tatapan bingung dengan kelakuan aneh Kakaknya.
“Mulutmu itu tidak pernah di sekolahkan ‘yah! Aku memang sudah tidak memiliki apapun, tetapi aku tidak semiskin itu sampai harus berhutang uang pada rentenir,” ketus Reksa yang menatap kesal pada adiknya.
“Hehehee, … Lagian sikap Kakak aneh? Kenapa tidak langsung masuk saja dan malah bersembunyi di sini,” ujar Seno yang menuntut penjelasan dari Kakaknya.
“Sudahlah, jangan di bahas lagi! Sebaiknya kita masuk sekarang,” ujar Reksa yang berjalan mendahului adiknya.
__ADS_1
Sedangkan Seno hanya mengikutinya dengan berbagai pertanyaan yang muncul di kepala akan sikap aneh Kakaknya pagi itu. Reksa langsung berjalan menuju ruangan Kiran, sementara Seno langsung ke ruangannya sendiri.
“Mas, akhirnya kau datang juga! Kemarilah, ada sesuatu yang aku ingin tanyakan padamu tentang dokumen itu,” ujar Kiran yang tersenyum sangat manis ketika melihat kedatangan Reksa.
Reksa sedikit terkejut dengan sikap Kiran hari ini, meski begitu dia tetap berjalan menghampiri Kiran untuk melihat dokumen yang Kiran maksud. Ternyata dokumen itu berisi tentang kerjasama dengan beberapa klien yang salah satunya adalah milik Alka.
Tanpa memandang status mereka sebagai sepasang suami istri yang akan bercerai. Reksa dengan sabar dan hati-hati mengajari Kiran semua tentang perusahaan dan dokumen yang ada.
Kini suasana di ruangan itu tampak berbeda, dimana tidak ada kecanggungan lagi antara Reksa dan Kiran. Dani yang melihatnya pun bisa merasakan hal yang sama, hubungan Kiran dan Reksa sekarang lebih terlihat sebagai rekan kerja yang sangat sempurna.
Tok, … Tok, …
“Masuklah!” perintah Reksa yang tahu bahwa orang yang ada diluar saat ini adalah Dani.
“Tuan! Nyonya, maaf kalau saya mengganggu waktu anda. Akan tetapi, saya perlu memberitahukan pada anda berdua bahwa sebentar lagi waktu pertemuan para klien akan segera di mulai,” ujar Dani mengingatkan.
“Aku akan melanjutkan penjelasannya nanti saja! Sebaiknya kau pergi sekarang kalau tidak ingin menjadi orang yang datang paling akhir dalam pertemuan itu,” terang Reksa seolah dia tidak akan mengikuti Kiran dalam pertemuan kali ini.
“Ayo, kita berangkat bersama!” ajak Kiran yang mulai beranjak dari tempat duduknya dan meraih tangan Reksa.
“Aku tidak perlu ikut dalam pertemuan ini! Karena keberadaan Dani saja di sana sudah cukup untuk membantumu.” Reksa menolak ajakan Kiran secara halus.
“Tapi aku masih membutuhkanmu! Bukankah kau orang yang lebih mengerti dengan pembahasan pertemuan kali ini,” bujuk Kiran berharap bujuk rayunya pada Reksa masih mempan tapi orang yang di bujuk malah diam saja tidak memberikan jawaban apapun.
“Maaf, kalau saya terlalu ikut campur! Namun sebaiknya Tuan Reksa memang harus ikut dalam pertemuan kali ini,” sela Dani.
Bersambung, ....
__ADS_1